NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4: Logika Dingin di Ruang Gelap

Chapter 4: Logika Dingin di Ruang Gelap

Bau apek dan debu yang menyesakkan menyambut kedatangan kami di dalam gudang logistik mall yang pengap. Cahaya senter dari ponselku menyapu tumpukan kardus yang tersusun rapi hingga ke langit-langit. Di luar sana, suara garukan kuku di pintu besi dan erangan parau mayat-mayat hidup itu masih terdengar jelas, menciptakan simfoni kematian yang tidak kunjung berhenti.

“Sialan, hampir saja,” bisik Kurumi. Napasnya terengah-engah, bahunya naik turun dengan cepat. Sekop kesayangannya ia dekap erat, masih ada sisa cairan kental kehitaman yang menetes dari ujung besi tajam itu—bukti bisu dari pertarungan singkat kami di lorong tadi.

Aku tidak menjawab. Mataku terus waspada memindai setiap sudut ruangan. Di dunia yang sudah hancur ini, menarik napas lega adalah kesalahan fatal. Aku berjalan menuju pintu besi, memastikan grendelnya terkunci rapat, lalu menggeser sebuah rak besi berat untuk mengganjalnya. Keamanan adalah prioritas, dan sedikit kecerobohan berarti maut.

“Zidan, kamu dengar aku gak?” Kurumi menghampiriku. Wajahnya yang cantik tampak kotor oleh debu dan keringat, namun matanya memancarkan kemarahan yang tertahan.

“Aku dengar,” jawabku pendek tanpa menoleh. Aku sibuk memeriksa sisa baterai ponselku.

“Tadi itu apa?! Kamu hampir meninggalkan bapak-bapak itu di lorong! Kalau aku nggak balik buat menarik dia, dia sudah jadi santapan mereka!” Kurumi memukul pundakku dengan gagang sekopnya. Tidak keras, tapi cukup untuk menunjukkan rasa frustrasinya yang meluap.

Aku berbalik, menatapnya dengan mata yang dingin. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa bersalah di sana. “Dia sudah tergigit, Kurumi. Kamu lihat sendiri lengannya sobek. Menolongnya cuma bakal membuang-buang waktu dan energi kita. Kamu mau mati cuma gara-gara satu orang yang sudah punya tiket ke neraka?”

Kurumi terdiam sejenak, matanya membelalak tak percaya. “Tapi dia masih manusia! Kita nggak bisa main hakim sendiri soal siapa yang layak hidup atau mati!”

“Di luar sana, moralitas itu sudah mati bareng sama zombi-zombi itu,” balasku dengan nada datar namun menusuk. “Logikanya sederhana: jika satu orang yang terinfeksi masuk ke grup kita, maka seluruh grup akan hancur dari dalam. Aku nggak naif, dan aku saranin kamu mulai buang jauh-jauh rasa kemanusiaanmu yang berlebihan itu kalau mau selamat.”

“Kamu… kamu bener-bener gak punya hati ya?” Kurumi mundur selangkah, menatapku seolah aku adalah monster yang lebih mengerikan daripada yang ada di luar.

“Hati nggak bisa dipakai buat menangkis gigitan zombi,” aku berjalan melewatinya, menuju tumpukan persediaan makanan. “Kita di sini untuk mengambil logistik, bukan untuk jadi pahlawan kesiangan. Fokus, Kurumi. Pilih: mau menangisi orang asing atau mau hidup untuk melihat matahari besok?”

Kurumi menggertakkan giginya. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya menusuk punggungku. Dia memang tsundere yang keras kepala, tapi aku tahu jauh di lubuk hatinya, dia sadar kalau kata-kataku benar. Hanya saja, egonya sebagai manusia normal masih terlalu besar untuk menerima kenyataan pahit bahwa dunia ini sudah tidak lagi mengenal kata 'kasihan'.

Kami mulai membongkar beberapa kardus dalam diam. Suasana gudang yang gelap hanya diterangi oleh dua sumber cahaya kecil dari ponsel kami yang diletakkan di atas meja. Di tengah keheningan itu, rasa canggung mulai menyelimuti. Aku bisa mendengar Kurumi sesekali menghela napas panjang, mencoba menenangkan emosinya yang masih tidak stabil.

Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari arah ventilasi di atas. Bruk!

Sontak aku mengangkat pipa besiku, sementara Kurumi langsung memasang posisi kuda-kuda dengan sekopnya. Kami berdiri bersisian di tengah kegelapan, saling membelakangi untuk menutupi titik buta masing-masing.

“Zidan… itu apa?” bisik Kurumi, suaranya sedikit bergetar.

“Jangan gerak,” perintahku pelan. Aku mematikan lampu senter ponselku untuk sesaat agar tidak menjadi sasaran empuk. Di kegelapan total, indra pendengaran kami menjadi satu-satunya tumpuan.

Srak… srak…

Suara sesuatu yang merayap di atas plafon terdengar semakin dekat. Aku bisa merasakan punggung Kurumi menempel di punggungku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat merambat lewat pakaian kami yang lembap oleh keringat. Untuk sesaat, aku merasa ada ketergantungan yang aneh di sini. Dia butuh logikaku yang dingin, dan aku butuh ketangkasannya yang luar biasa.

“Kalau sesuatu jatuh dari atas, kamu urus yang kanan, aku yang kiri,” bisikku tepat di samping telinganya.

“Aku tahu, nggak usah mengatur!” balasnya ketus, tapi dia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya yang menempel erat padaku.

Detik-detik berlalu seperti jam yang berputar lambat. Ketegangan ini membuat setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai terasa seperti suara ledakan. Aku tidak boleh naif. Jika makhluk di atas itu jatuh dan menyerang Kurumi, aku harus bertindak cepat. Bukan karena aku mulai menyukainya—setidaknya itu yang kukatakan pada diriku sendiri—tapi karena dia adalah partner paling berharga yang kupunya saat ini.

Tiba-tiba, seekor tikus besar jatuh dari ventilasi dan berlari cepat melewati kaki kami.

“AAAAAKH!” Kurumi hampir saja mengayunkan sekopnya secara membabi buta kalau aku tidak segera berputar dan menangkap pergelangan tangannya.

“Cuma tikus! Jangan berisik!” Aku segera membekap mulutnya dengan telapak tanganku sebelum teriakannya mengundang perhatian makhluk di luar.

Tubuh Kurumi membeku. Napas panasnya menerpa telapak tanganku secara beraturan. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma samar sampo stroberi yang entah bagaimana masih tersisa di rambutnya, kontras dengan bau busuk mayat hidup di sekitar kami. Matanya yang besar menatapku lekat-lekat dalam kegelapan remang, ada kilatan amarah sekaligus rasa malu yang bercampur jadi satu.

Aku melepaskan bekapanku setelah yakin dia tidak akan berteriak lagi. Dia langsung mendorong bahuku pelan dan memalingkan wajah. Wajahnya yang tadi pucat kini merona merah padam, terlihat jelas bahkan dalam remang cahaya senter.

“Aku… aku cuma kaget! Siapa juga yang takut sama tikus!” ketusnya sambil membetulkan posisi seragam sekolahnya yang sedikit berantakan akibat gerakan mendadak tadi.

“Terserah kamu,” aku kembali mengambil satu kaleng kornet dan memasukkannya ke dalam tas.

“Intinya, kendalikan emosimu. Teriakanmu tadi bisa mengundang seluruh zombi di mall ini ke depan pintu gudang kita.”

“Iya, iya! Dasar cowok kulkas nyebelin!” gerutu Kurumi pelan, tapi dia mulai membantu memasukkan makanan ke tas dengan lebih serius, seolah ingin menutupi rasa malunya.

Melihatnya yang mulai tenang, aku sedikit melonggarkan kewaspadaanku, meski hanya sedikit. Gadis ini memang merepotkan, tapi entah kenapa, eksistensinya yang penuh emosi ini menjadi satu-satunya hal yang membuatku merasa masih "manusia" di tengah dunia yang sudah mati secara moral.

“Zidan,” panggilnya pelan tanpa menoleh ke arahku.

“Apa?”ucapku

“Terima kasih… sudah menahan tanganku tadi. Kalau nggak, mungkin rak itu sudah rubuh kena sekop ku dan kita bakal terjebak selamanya.”

Aku terdiam sejenak, lalu kembali ke mode dinginku. “Aku nggak mau kita mati konyol gara-gara kecerobohanmu. Itu saja.”

Kurumi mendengus. “Tetap saja, kamu itu nyebelin banget tahu nggak? Nggak bisa apa sekali-kali bilang 'sama-sama' atau apa gitu?”

“Nanti saja, kalau kita sudah benar-benar keluar dari sini hidup-hidup,” balasku pendek.

Kami kembali bekerja dalam keheningan yang sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Di luar sana, dunia mungkin sudah kiamat. Tapi di dalam gudang gelap ini, antara logika dingin dan emosi yang meledak-ledak, sebuah ikatan aneh mulai terbentuk. Sebuah ikatan yang mungkin akan menjadi satu-satunya alasan bagiku untuk tetap menjaga kewarasan ini di tengah lautan kegilaan.

Terima kasih sudah membaca! Bagaimana pendapat kalian tentang Zidan yang selalu menggunakan logika dinginnya? Di dunia yang sudah hancur, naif adalah musuh terbesar. Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar jika kalian menyukai interaksi Zidan x Kurumi! Update bab selanjutnya setiap hari!

[To Be Continued...]

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!