Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Rezeki dan kebaikan
"Baiklah, pelajaran berakhir di sini. Sebelum kalian pulang, Bapak ingatkan lagi bahwa ujian kelulusan akan dilaksanakan seminggu lagi. Jadi semua tanggungan segera diselesaikan ya," ucap seorang guru laki-laki di depan kelas sambil merapikan bukunya.
Setelah berdoa singkat, para murid mulai keluar dari kelas satu per satu dengan ramai.
"Hei Alvaro, setelah ini enaknya kita ke mana?" tanya seorang pemuda berbadan kekar sambil mendekati Alvaro yang sedang memasukkan buku ke tasnya.
"Oh, kayaknya aku mau ke ruang administrasi dulu. Mau melunasi SPP dan uang gedung yang belum lunas," jawab Alvaro sambil memandang pemuda di sampingnya — Leon, sahabatnya.
"Terus pulangnya?" tanya Leon lagi.
Alvaro terdiam sejenak. "Hmm…"
"Bagaimana kalau melihat apartemen yang Anda dapatkan, Tuan?"
tiba-tiba Veronica berbicara di dalam kepalanya.
"Ah, ide bagus," gumam Alvaro tanpa sadar.
Leon mengerutkan kening bingung. "Apanya?"
"Eh, maksudku… gimana kalau kita ke apartemenku saja?" tanya Alvaro sedikit kaget sendiri.
"Apartemen?" Leon menunjuk Alvaro dengan ekspresi tak percaya. "Kamu?"
"Apaan sih nada tak yakinmu itu?" balas Alvaro sambil menepis telunjuk Leon.
"Eh bukan itu, maksudku…"
"Udah-udah, ayo kalau mau ikut. Kalau nggak ya sudah," potong Alvaro sambil langsung berjalan keluar kelas.
Leon menggelengkan kepala tapi akhirnya mengikuti dari belakang tanpa banyak kata lagi.
...----------------...
Sesampainya di ruang administrasi, Alvaro langsung mendekati meja pelayanan.
"Baiklah, saya kurang berapa totalnya, Mbak?" tanya Alvaro sopan.
"Atas nama siapa dan kelas berapa?" tanya wanita di balik meja.
"Saya Alvaro Wibisono, kelas 12-3, Mbak."
"Oh, baik. Totalnya sekitar 10 juta ya. Tapi ada pesan dari kepala sekolah, untuk beberapa siswa beasiswa hanya perlu membayar 5 juta saja," ucap wanita itu setelah mengecek data.
Alvaro menggeleng pelan. "Saya bayar semua saja, Mbak. Nggak apa-apa kok."
Ia mengeluarkan segepok uang senilai 10 juta dan meletakkannya di meja dengan tenang.
Wanita itu serta beberapa orang di ruangan langsung melongo tak percaya. Alvaro yang biasanya terlihat sederhana tiba-tiba mengeluarkan uang puluhan juta dengan begitu enteng.
"Bisa langsung diproses, Mbak?" tanya Alvaro menyadarkan wanita itu.
"Eh iya, bentar ya," jawabnya tergagap.
Proses pembayaran berjalan cepat. Setelah selesai, Alvaro langsung berbalik hendak keluar ruangan.
"Selanjutnya!" panggil wanita itu melalui pengeras suara.
Seorang siswi berjalan mendekat dengan langkah lesu. Wajahnya pucat dan matanya tampak lelah.
"Emm… Mbak, saya mau tanya dulu," ucap siswi itu pelan.
"Iya, silakan. Ada apa?"
"Kalau saya tidak bisa lunas, apa yang terjadi, Mbak?" tanya siswi itu dengan suara gemetar.
Alvaro yang sudah hampir keluar ruangan langsung menghentikan langkahnya.
"Kalau belum lunas, menurut aturan kamu tidak bisa mengikuti ujian dan ijazah juga tidak akan keluar," jawab wanita itu.
"Ka-kalau boleh tahu, saya kurang berapa, Mbak?" tanya siswi itu lagi.
"Coba saya cek… kamu kurang sekitar 15 juta. Setelah bantuan dari kepala sekolah, cukup bayar 7,5 juta saja."
Siswi itu langsung gemetar. Air matanya mulai menetes.
"I-itu masih terlalu banyak, Mbak… Ibu saya sekarang masuk rumah sakit, jadi uangnya harus dipakai untuk perawatan ibu. Saya juga harus mengurus adik saya yang masih SD, sedangkan ayah saya menderita gangguan jiwa dan dirawat di rumah sakit jiwa…"
Ruangan langsung hening. Wanita administrasi terdiam, begitu pula orang-orang lain yang mendengar cerita menyedihkan itu.
Alvaro berdiri diam di tempat. Dadanya terasa sesak.
"Biar saya yang bayar saja," ucap Alvaro tiba-tiba.
Semua orang di ruangan langsung menoleh kepadanya dengan ekspresi terkejut.
"Ma-maksudnya?" tanya siswi itu tergagap.
Seorang laki-laki rekan wanita administrasi langsung menyahut ketus, "Alvaro, tolong jangan merumitkan. Kalau sudah selesai urusanmu, silakan keluar."
Alvaro menggeleng tegas. "Tidak. Saya benar-benar ingin membayarnya."
Ia mengeluarkan beberapa gepok uang dari tasnya. "Sekalian tolong total semua tagihan siswa-siswi yang ada di ruangan ini."
Ruangan kembali hening. Dengan enggan, wanita dan rekannya mulai mendata tagihan satu per satu.
"Total semuanya 22,5 juta. Ditambah 7,5 juta tadi, jadi 30 juta," ucap laki-laki itu sambil menatap Alvaro dengan seringai tipis, seolah menantang.
"Veronica, bisa kamu pindah 30 juta ke dalam tas ku?" tanya Alvaro dalam hati.
"Baik, Tuan," jawab Veronica singkat.
"Ting…
Memindahkan uang sebesar 30 juta. Saldo Anda tersisa 25.500.000."
Beberapa gepok uang baru muncul di dalam tas Alvaro.
"Bisa dipercepat?" desak laki-laki itu lagi.
"Ris, udah ah," bisik wanita itu mencoba menghentikan rekannya.
"Dia sendiri yang sok," balas laki-laki itu kesal.
...----------------...
"Sabar dong, sulit nih ngeluarinnya," ucap Alvaro sambil mengeluarkan beberapa gepok uang dari tasnya.
"A-ap..."
"Anjir, berapa uang tuh?!" celetuk salah satu siswa.
Bukan hanya siswa itu, semua orang di ruangan kembali melongo tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Alvaro.
"Yah, ini seharusnya cukup. Kalau begitu silakan diproses. Saya pamit dulu, ada urusan," ucap Alvaro setelah meletakkan uang itu di meja. Ia langsung berjalan keluar ruangan tanpa menunggu reaksi lebih lanjut.
"Krieeett…"
"Lama banget, ngapain aja?" tanya Leon yang sudah menunggu di luar.
"Ah sabar dong, kan gantian tadi," balas Alvaro santai.
"Yaudah yuk kita langsung," ajak Leon yang dibalas anggukan oleh Alvaro.
......................
Parkiran siswa sudah mulai sepi karena jam pelajaran memang sudah selesai beberapa saat lalu.
"Mana motormu, Al?" tanya Leon sambil mencari-cari motor legendaris Alvaro yang biasa.
"Noh," ucap Alvaro sambil menunjuk ke arah motor sport barunya.
"Mana?" tanya Leon lagi, masih tidak mengerti.
"Yaelah, motor di sana cuma satu doang, gak liat?" tanya Alvaro sambil tersenyum jahil.
"Mana sih? Di sana cuma ada motor spo—" ucapan Leon tiba-tiba terhenti.
Ia langsung terpaku melihat motor sport hitam elegan yang ditunjuk Alvaro. Leon menoleh ke Alvaro yang hanya manggut-manggut sambil tersenyum.
"Serius lo?" tanya Leon tak percaya.
"Lah, ngapain aku bohong?" balas Alvaro sambil mengeluarkan kunci motor.
Saat Alvaro menekan tombol di kunci, lampu motor sport hitam itu langsung menyala dengan aksen ungu yang menyala lembut.
"Brruummm…"
Deru mesinnya terdengar menggelegar saat Alvaro menarik gas sedikit.
"Bjirr… keren banget parah! Serius ini?!" seru Leon yang masih tak percaya. Ia langsung mengelilingi motor itu dengan mata berbinar penuh kagum.
"Alahh, kamu juga punya gitu kok. Gak usah lebay dah," ucap Alvaro sambil tersenyum lebar.
"Mana bisa disamakan! Dilihat dari modelnya saja ini motor sport mahal!" tolak Leon tak terima.
...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...
kritik dan saran boleh kokk