"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Rahasia di Balik Video Tua
"Jangan lepaskan tanganku, Nata. Malam ini terasa terlalu sunyi, aku takut kesunyian ini hanya awal dari badai yang lain."
Suara Airine berbisik pelan saat mereka melangkah memasuki selasar luas kediaman Rubyjane. Langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai marmer menciptakan gema yang sepi. Nata tidak menjawab dengan kata-kata; ia hanya mempererat genggamannya pada jemari Airine yang masih terasa sedingin es. Di sekeliling mereka, beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam—tim pengamanan "khusus" kiriman teman kakek Nata—berdiri mematung di sudut-sudut strategis.
"Kamu aman di sini, Airine. Aku sudah memastikan setiap inci rumah ini bersih," ucap Nata setelah mereka sampai di depan pintu kamar utama. Ia menatap wajah istrinya yang tampak sangat lelah, cahaya lampu kristal di langit-langit membuat bayangan hitam di bawah matanya terlihat makin jelas.
Airine mendongak, menatap Nata dengan sisa-sisa kekuatannya. "Kamu akan menemaniku sampai aku tertidur, kan? Aku tidak mau bangun dan mendapati sisi tempat tidur ini kosong lagi."
Nata tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dipaksakan untuk menutupi gejolak di dadanya. "Aku tidak akan ke mana-mana. Mandilah dulu, aku akan menunggumu di sini."
Begitu Airine masuk ke kamar mandi dan suara kucuran air terdengar, wajah Nata berubah seketika. Kelembutan suaminya menguap, digantikan oleh ketajaman seorang Komandan Arnold Dexter. Ia melangkah cepat menuju balkon kamar yang gelap, mengeluarkan ponsel satelit dan kartu memori yang ia temukan di gudang.
Ia memasang earpiece kecil dan menyalakan video yang sudah didekripsi oleh timnya.
Layar ponselnya menampilkan rekaman tua yang sedikit bergetar. Tanggal di pojok video menunjukkan tahun 1998. Di sana, di sebuah laboratorium bawah tanah yang tampak sangat familiar bagi Nata, berdiri Edward Jane—kakek Airine—sedang berdebat sengit dengan seorang pria yang wajahnya disamarkan oleh bayangan.
"Kita tidak bisa terus memproduksi ini, Edward! Ini bukan lagi obat, ini racun yang bisa mengendalikan saraf manusia secara permanen!" teriak pria dalam bayangan itu.
Edward Jane di video itu tampak lebih muda, namun matanya memancarkan ambisi yang mengerikan. "Kamu tidak mengerti! Jika kita tidak menguasai formula ini, pihak asing akan melakukannya lebih dulu. Aku hanya ingin memastikan perusahaan kita adalah yang terkuat!"
Nata mematikan video itu saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Jadi, perusahaan farmasi Rubyjane dibangun di atas formula ilegal yang sangat berbahaya? Inilah alasan Tuan Shen begitu terobsesi. Bukan sekadar warisan, tapi formula "Cobra-9" yang ternyata adalah warisan gelap Edward Jane.
"Nata? Kenapa kamu di balkon? Dingin sekali di luar," panggil Airine. Ia sudah mengenakan gaun tidur sutra putih, rambutnya yang basah tergerai indah di bahunya.
Nata segera menyembunyikan ponselnya. Ia berbalik, mencoba memasang wajah setenang mungkin. "Hanya mencari udara segar. Kamu sudah selesai?"
Airine berjalan mendekat, aroma sabun mawarnya menyeruak, membuat Nata sejenak lupa akan video mengerikan tadi. "Apa yang kamu pikirkan? Wajahmu tegang sekali."
"Hanya memikirkan soal pengamanan besok," bohong Nata lagi. Ia menuntun Airine menuju tempat tidur. "Ayo, kamu harus istirahat. Besok adalah hari pertamamu benar-benar memegang kendali penuh di rumah sakit tanpa gangguan Ayahmu."
Airine berbaring, menarik selimut hingga ke dadanya. "Nata, duduklah di sini sebentar." Ia menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.
Nata menurut, ia duduk di sana, membiarkan Airine menjadikan lengannya sebagai bantal.
"Tadi di kantor... saat aku melihatmu bertarung," bisik Airine pelan. "Aku menyadari sesuatu. Kamu bukan sekadar cucu jenderal yang meminta bantuan. Kamu bergerak seolah-olah kamu sudah melakukannya ribuan kali. Apa kamu pernah... membunuh orang, Nata?"
Pertanyaan itu membuat suasana kamar menjadi sangat sunyi. Nata menatap mata Airine yang jernih, mencari apakah ada ketakutan di sana. "Di dunia tempat aku tumbuh, Airine... garis antara membunuh dan dibunuh itu sangat tipis. Aku melakukan apa pun untuk tetap hidup."
"Berjanjilah padaku satu hal," Airine meraih tangan Nata, mencium buku jarinya yang sedikit memar. "Jangan pernah biarkan dirimu menjadi monster hanya untuk melindungiku. Aku lebih baik kehilangan rumah sakit ini daripada kehilangan jiwamu."
Nata merasakan tenggorokannya tercekat. Ia teringat rekaman kakek Airine. Jika dia tahu kakeknya adalah monster yang sebenarnya, apakah dia sanggup menanggungnya?
"Aku berjanji," ucap Nata, meski suaranya sedikit serak. "Tidurlah, Airine. Aku akan menjagamu."
Airine memejamkan matanya, perlahan napasnya menjadi teratur. Kesunyian kembali menyelimuti kamar itu. Namun bagi Nata, kesunyian ini adalah perang batin yang menyiksa. Ia berdiri pelan, memastikan Airine benar-benar terlelap, lalu kembali ke balkon.
Ia menekan tombol komunikasi di jam tangannya. "Lapor. Rekaman 'Heritage' berisi data formula Cobra-9 yang dikembangkan Edward Jane. Target Tuan Shen adalah mengambil alih laboratorium pusat untuk memproduksi massal formula tersebut. Aku butuh tim audit kimia paling rahasia besok pagi. Dan satu lagi..."
Nata berhenti sejenak, melirik ke arah istrinya yang tertidur pulas.
"Hancurkan semua jejak keterlibatan Edward Jane di masa lalu sebelum Airine menemukannya. Aku tidak ingin dia tahu bahwa kakeknya adalah alasan ibunya terbunuh."
"Tapi Komandan, itu adalah bukti utama untuk menjerat Tuan Shen..."
"Aku tidak peduli!" desis Nata. "Gunakan cara lain. Aku tidak akan membiarkan kebenaran ini menghancurkan wanita yang baru saja mulai percaya padaku. Itu perintah."
Nata menutup komunikasi dengan kasar. Ia menatap langit malam yang mendung. Di bawah sana, di halaman luas rumah itu, ia melihat bayangan seseorang yang bergerak cepat di balik semak-semak.
Mereka sudah di sini, batin Nata. Ia meraih pisau lipat taktisnya. Malam ini, di rumah megah ini, ia tidak akan menjadi Bang Nata yang manis. Ia akan menjadi eksekutor Dexter yang paling berdarah jika ada satu orang pun yang berani melangkah melewati ambang pintu kamar istrinya.
...****************...