NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: RETAKAN DI DINDING KACA

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi bagi seseorang yang memikul beban sebuah dinasti. Di lantai 32 Gedung Hardianto, Larasati masih terduduk di balik meja kerjanya. Cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela kaca raksasa memantul di permukaan meja marmernya, menciptakan bayangan yang menari-nari seperti hantu masa lalu. Di depannya, surat pengunduran diri Baskara dari proyek CSR sekolah itu tergeletak bisu.

"Dia benar-benar melakukannya," bisik Larasati. Suaranya serak, seolah ada duri yang mengganjal di tenggorokannya. "Dia melepaskan satu-satunya pegangan hidupnya demi posisiku."

Aditama masuk tanpa mengetuk pintu, membawa dua cup kopi panas yang aromanya kuat. Ia meletakkan salah satunya di depan Larasati. "Dia pria yang keras kepala, Laras. Tapi dia melakukannya karena dia tahu, jika dia tetap di sana, Tuan Kusuma akan menggunakannya untuk menjatuhkanmu di RUPS bulan depan. Baskara tidak ingin menjadi peluru yang membunuh kariermu."

Larasati menyesap kopinya, pahitnya cairan itu terasa pas dengan suasana hatinya. "Apa gunanya tahta ini, Adit, jika aku harus mengorbankan satu-satunya orang yang memahamiku saat aku bukan siapa-siapa? Aku merasa seperti kembali ke sepuluh tahun lalu, saat Ayah dipaksa memilih antara harga diri atau keselamatan keluarga. Bedanya, sekarang akulah yang memegang pisau itu."

"Kamu tidak memegang pisau, Laras. Kamu sedang memegang perisai," bantah Aditama tegas. "Tapi perisaimu punya retakan. Dan retakan itu bernama Maya."

Larasati mendongak, matanya yang lelah seketika berkilat tajam. "Kamu sudah menemukan sesuatu?"

Aditama mengangguk. Ia membuka laptopnya dan memutar sebuah rekaman suara yang sangat rendah kualitasnya. "Pastikan Tuan Kusuma menerima foto-foto itu sebelum jam makan siang. Aku ingin dia merasa terancam..."

Suara itu. Larasati mengenalnya bahkan dalam mimpi buruknya yang paling dalam. Suara Maya.

"Bagaimana mungkin? Dia ada di panti rehabilitasi dengan pengawasan ketat!" seru Larasati, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih.

"Uang bisa membuka pintu yang paling rapat sekalipun, Laras. Sepertinya ada orang dalam di panti itu yang dibayar oleh pihak ketiga. Seseorang yang memiliki kepentingan agar Hardianto Group tidak stabil. Seseorang yang ingin melihatmu jatuh agar saham perusahaan turun, lalu mereka bisa membelinya dengan harga murah," jelas Aditama.

Keesokan paginya, Larasati tidak pergi ke kantor. Ia mengenakan pakaian kasual—celana jins gelap, kaos hitam, dan jaket kulit—lalu memakai kacamata hitam besar. Ia mengendarai mobil tua yang dulu ia gunakan saat masih menyamar sebagai Gendis. Ia butuh jawaban, dan ia tahu hanya ada satu tempat untuk mendapatkannya.

Panti Rehabilitasi Kasih Mulia terletak di daerah pegunungan yang sejuk, namun bagi Larasati, tempat itu terasa seperti lubang buaya. Ia masuk melalui pintu belakang, berkat bantuan seorang kontak lama yang berhutang budi pada ayahnya.

Di taman belakang yang sepi, ia melihat Maya. Wanita itu duduk di kursi roda, menatap pegunungan dengan pandangan kosong. Rambutnya yang dulu selalu tertata mewah kini dibiarkan terurai berantakan. Namun, saat Larasati mendekat, ia melihat seringai tipis di bibir Maya.

"Aku tahu kamu akan datang, Istri Kedua," ucap Maya tanpa menoleh. Suaranya dingin, seperti es yang menyentuh kulit.

Larasati berhenti tepat di belakangnya. "Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Maya. Permainanmu sudah berakhir dua tahun lalu. Kenapa kamu masih mencoba mengusik hidupku?"

Maya memutar kursi rodanya, menatap Larasati dengan mata yang penuh dengan kegilaan yang terpendam. "Berakhir? Tidak, Larasati. Selama kamu masih menghirup udara di rumah ayahku, selama kamu masih menyentuh suamiku, permainanku tidak akan pernah berakhir. Kamu pikir dengan mengambil hartaku, kamu bisa mengambil segalanya? Kamu lupa, aku punya sesuatu yang tidak akan pernah kamu miliki."

"Apa? Kebencianmu yang berkarat itu?" sindir Larasati.

Maya tertawa pelan, suara tawanya memecah kesunyian taman. "Rahasia, Larasati. Rahasia tentang malam di mana ayahmu meninggal. Kamu pikir dia meninggal karena serangan jantung karena stres? Kamu pikir Tuan Pratama adalah satu-satunya orang di ruangan itu?"

Jantung Larasati seolah berhenti berdetak. Ia melangkah maju, mencengkeram lengan kursi roda Maya. "Apa maksudmu? Bicara yang jelas!"

Maya mendekatkan wajahnya ke telinga Larasati, membisikkan kata-kata yang membuat dunia Larasati runtuh seketika. "Tanya pada Tuan Kusuma... tanyakan padanya, kenapa dia ada di sana malam itu. Tanyakan padanya, siapa yang mematikan alat bantu napas ayahmu saat dokter sedang tidak ada."

Larasati melepaskan cengkeramannya, ia mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi. "Bohong! Tuan Kusuma adalah sahabat Ayah! Dia yang membantuku mengambil kembali perusahaan ini!"

"Sahabat?" Maya tersenyum licik. "Dalam bisnis, tidak ada sahabat, Larasati. Hanya ada sekutu sementara. Dia membantumu karena dia ingin menyingkirkan ayahku yang mulai serakah. Dan sekarang, dia ingin menyingkirkanmu karena kamu mulai sulit dikendalikan. Dia menggunakan aku untuk mengirim foto-foto itu agar kamu hancur secara mental."

Larasati merasa bumi di bawah kakinya bergoyang. Jika apa yang dikatakan Maya benar, maka ia selama ini telah memelihara monster yang jauh lebih mengerikan daripada Tuan Pratama.

Larasati pulang dengan pikiran yang hancur. Ia tidak pergi ke kantor, ia juga tidak pergi ke apartemennya. Ia pergi ke lokasi proyek sekolah tempat Baskara bekerja.

Hari sudah sore, para kuli sudah pulang. Baskara sedang duduk di atas tumpukan semen, menatap matahari terbenam sambil memegang botol air mineral. Begitu melihat Larasati datang dengan wajah yang kacau, Baskara segera berlari menghampirinya.

"Laras! Ada apa? Kamu menangis?" tanya Baskara panik, ia ingin memeluk Larasati namun ia ragu karena bajunya penuh debu.

Larasati tidak peduli. Ia menghambur ke pelukan Baskara, menangis sejadi-jadinya di dada pria itu. Aroma debu dan keringat Baskara terasa jauh lebih nyata dan jujur daripada aroma parfum mahal di ruang rapat direksi.

"Baskara... aku tidak tahu siapa lagi yang bisa kupercaya," isak Larasati. "Duniaku penuh dengan kebohongan. Ayahku... Ayahku mungkin dibunuh oleh orang yang selama ini kupanggil paman."

Baskara memeluk Larasati erat-erat, mengusap punggungnya dengan tangan yang kasar namun penuh kasih sayang. "Sshh... tenanglah, Laras. Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana. Jika dunia ini penuh dengan kebohongan, maka biarkan pelukanku ini menjadi satu-satunya kebenaran untukmu."

Di tengah kesunyian lokasi proyek, di bawah langit yang berubah menjadi ungu, Larasati menceritakan semuanya. Tentang ancaman dewan komisaris, tentang pertemuannya dengan Maya, dan tentang pengkhianatan Tuan Kusuma yang mengerikan.

Baskara mendengarkan dengan saksama. Matanya berkilat penuh tekad. "Laras, dengarkan aku. Jika mereka ingin bermain kotor, maka kita akan bermain lebih cerdik. Kamu bukan lagi Gendis yang lemah. Kamu adalah pemimpin Hardianto Group. Gunakan kuasamu untuk mencari bukti. Jangan serang mereka secara terang-terangan dulu. Biarkan mereka merasa menang."

"Tapi bagaimana denganmu? Mereka ingin aku menjauhimu," ucap Larasati pelan.

Baskara tersenyum, ia mengecup dahi Larasati. "Biarkan mereka mengira kita sudah berpisah. Aku akan membantumu dari balik layar. Aditama adalah orang baik, gunakan dia. Aku akan mencari informasi di lapangan tentang masa lalu Tuan Kusuma. Kita akan menjatuhkan mereka bersama, Laras. Bukan sebagai istri dan suami, tapi sebagai satu tim."

Larasati menatap mata Baskara. Di sana ia menemukan kekuatan yang ia butuhkan. Siasat manis istri kedua kini telah bertransformasi menjadi Siasat Berdarah Sang Ratu.

Malam itu, Larasati kembali ke rumahnya dengan rencana baru. Ia menghapus air matanya, memoles wajahnya dengan riasan yang sempurna, dan mengenakan topeng kedinginannya kembali.

Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Tuan Kusuma. "Tuan Kusuma, saya sudah memikirkannya. Anda benar. Baskara adalah masa lalu yang harus saya buang. Saya sudah memutuskan hubungan dengannya hari ini. Mari kita fokus pada RUPS bulan depan."

Larasati menaruh ponselnya di meja. Senyumnya kini tidak lagi manis. Senyumnya adalah senyum seorang pemburu yang sedang memasang perangkap.

"Mari kita lihat, Paman Kusuma... siapa yang akan mematikan 'napas' siapa di ruangan itu nanti," gumam Larasati dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!