Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahta yang dicuri
Selama Dion berada di Singapura, Tamara tidak membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia. Ia melepaskan gaun sutra yang anggun, menggantinya dengan setelan blazer hitam yang membalut tubuhnya bagaikan baju zirah. Dan hari ini, ia datang bukan untuk meminta, tapi untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Langkah kaki Tamara bergema keras di lorong marmer Perusahaan Wiratama, memecah keheningan yang menakutkan. Di belakangnya, barisan pengacara dan petugas berwajib berjalan dengan tegas, bayang-bayang keadilan yang siap menuntut balas.
Tanpa mengetuk, Tamara mendobrak pintu ruang rapat utama dengan kasar. Suara pintu yang terbanting memekakkan telinga, memotong tawa Giyandra yang sedang berbicara dengan angkuh di hadapan para dewan direksi. Seluruh ruangan hening seketika.
"Tamara! Apa yang kau lakukan di sini?!" Giyandra meloncat berdiri, matanya menyala penuh permusuhan.
"Permainan selesai, Giyandra!" suara Tamara menggelegar, dingin bagaikan es, namun tajam mematikan.
"Maksudmu apa? Berani sekali kau mengacaukan rapat ini! Ruangan ini hanya untuk orang-orang penting, bukan untuk pelayan rendahan sepertimu!" cibir Giyandra, suaranya penuh penghinaan.
Ucapan itu disambut gelak tawa mengejek dari beberapa orang yang memihak pada Giyandra. Namun Tamara tak bergeming. Wajahnya datar, tanpa emosi.
"Tertawalah sepuasnya. Aku jamin, tawamu akan mati di tenggorokan setelah melihat ini."
Dengan gerakan cepat, Tamara melemparkan setumpuk tebal dokumen ke atas meja rapat besar itu. Suara bantingannya membuat Giyandra tersentak hebat. Wajahnya yang tadi merah padam karena kesombongan, kini berubah pucat pasi dalam sekejap mata.
"Ini..." Tamara menunjuk berkas-berkas itu dengan jari telunjuknya, "adalah bukti nyata penggelapan dana, pemalsuan tanda tangan Ayahku, dan skema pengalihan aset ilegal yang keluargamu rancang lima belas tahun yang lalu."
Suasana berubah mencekam. Para direksi saling berpandangan, napas mereka tertahan.
"Tidak! Ini bohong! Ini semua fitnah!" Giyandra berteriak panik, tangannya gemetar mencoba meraih dokumen itu seolah ingin menyobeknya, tapi bukti yang terhampar terlalu kuat, terlalu nyata untuk disangkal.
"Ibu Giyandra, silakan ikut kami. Ini surat perintah penangkapan anda." ujar salah satu petugas polisi dengan nada tegas, sambil menunjukkan surat resmi.
"Tidak! Lepaskan aku! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku!" Giyandra memberontak, suaranya melengking memecah keheningan. Namun petugas tak bergeming. Tangannya ditarik ke belakang, dan klik!
Borgol besi yang dingin melingkar sempurna di pergelangan tangan Giyandra.
"Tamaraaa! Aku tidak terima! Awas kau! Aku akan membalasmu! Ingat itu!" teriak Giyandra histeris saat diseret paksa keluar ruangan. Jeritannya perlahan menghilang, tertelan oleh dinding tebal gedung yang dulu pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Kini, hanya tersisa Tamara yang berdiri tegak di tengah ruangan, memancarkan aura wibawa yang menakutkan. Ia menatap tajam ke arah para direksi yang kini menunduk takut.
"Pilihannya sederhana," ucap Tamara dingin. "Jika kalian masih memihak pada pengkhianat dan pencuri seperti Giyandra, kalian bisa angkat kaki dari ruangan ini sekarang juga. Tapi jika kalian memihak pada kebenaran dan perusahaan ini... tetaplah duduk di tempat kalian."
Tak ada satu pun yang beranjak. Meski di hati banyak yang masih ragu, bahkan menolak, menyerahkan tampuk kepemimpinan pada wanita muda seperti Tamara, terasa mustahil. Namun, bukti dan kekuatan ada di sisi Tamara. Mereka terpaksa tunduk.
"Baik. Rapat akan kita lanjutkan," ucap Tamara singkat, lalu mulai memaparkan visi dan misi baru untuk menyelamatkan Perusahaan Wiratama dari kehancuran.
***
Sore harinya, Tamara berdiri di balkon kantor utama yang luas, ruangan yang dulu menjadi kerajaan sang ayah. Matanya menatap hamparan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan, namun pandangannya kosong.
Di belakang wanita itu, Gideon sang investor terbesar dan sahabat karib mendiang ayah Tamara berdiri dengan wajah sendu.
"Dulu, saat ayahmu masih hidup, perusahaan ini adalah mercusuar, Tamara," ujar Gideon pelan, suaranya berat. "Tapi lihat sekarang... Mereka menghancurkannya. Menghisap habis nyawa perusahaan ini sampai tinggal tulang."
Gideon mendekat, matanya berkaca-kaca menatap putri sahabatnya itu. "Om sangat lega kau kembali. Melihatmu berdiri di sini... rasanya seperti melihat ayahmu hidup kembali. Darah Wiratama mengalir deras di nadimu, Nak. Perusahaan ini pasti akan bangkit lagi."
Tamara perlahan berbalik. Namun, tak ada kilat ambisi di matanya. Hanya ada kelelahan mendalam yang menyelimuti wajah cantiknya.
"Tapi Om... aku tidak datang untuk menetap," jawab Tamara pelan, namun tegas.
Gideon tertegun, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Maksudmu?"
"Aku hanya ingin membersihkan kotoran ini. Memastikan orang-orang jahat itu membayar dosa mereka. Setelah ini... aku akan pergi jauh," ujar Tamara, suaranya bergetar menahan rintih. "Berkembang atau mati kembali perusahaan ini, itu bukan lagi tanggung jawabku. Itu tergantung pada Om dan kalian semua."
"Tapi, Tamara! Ini warisan ayahmu! Dia membangun perusahaan ini dengan keringat dan air mata! Ini hakmu!" seru Gideon, suaranya meninggi karena cemas.
Tamara menggeleng pelan, senyum pahit terukir di bibirnya. "Bagi Om, ini adalah aset dan kekuasaan. Tapi bagiku... tempat ini penuh dengan racun, pengkhianatan, dan luka lama. Kenangan indah tentang Ayah ada di hatiku, Om, bukan di gedung beton yang dingin ini."
Tamara berjalan menyentuh meja kerja tua ayahnya yang kini berdebu. "Lagipula... aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini. Aku ingin menyembuhkan lukaku. Aku ingin hidup damai... jauh dari semua kebohongan dan kepalsuan ini."
Pikirannya melayang pada sosok Dion. Pria yang pernah ia percaya, namun ternyata menyembunyikan rahasia besar yang menghancurkan hatinya. Pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya.
Gideon terdiam lama. Melihat keteguhan yang tak tergoyahkan di mata Tamara, ia akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk pasrah.
"Baiklah... Om tidak akan memaksamu. Jika kedamaian adalah apa yang kau cari, Om akan mendukungmu."
Tamara kembali menatap ke luar jendela. Langit di luar semakin gelap, awan hitam mulai bergulung tebal, seakan mencerminkan gejolak di dalam dadanya.
Bersambung...