Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Khawatir
"Maira!" seru Nisa, teman kantor sekaligus sahabatnya. Gadis itu terkejut setengah mati karena mendengar bahwa kemarin suami sahabatnya itu resmi menikah lagi.
Kacau, Maira! Padahal sebelum cuti, Nisa sudah berpesan padanya agar ia tak terlalu memperdulikan Sita. Dalam benak Nisa, sebaik apapun seorang madu tentu saja tak akan berujung baik apabila menyangkut perasaan.
Lalu sekarang? Baru juga ia masuk kerja, sudah terdengar selentingan kabar bahwa suami Maira jadi menikahi asisten rumah tangga mereka.
"Ada apa, Nis?"
"Kamu udah gila apa gimana, sih? Ya Allah, Maira. Kamu sadar nggak atas hal ini?" Nisa sudah mencak-mencak saking geregetan dengan sahabatnya yang kebaikannya melampaui malaikat. Nisa sampai memijit kepalanya membayangkan kehidupan rumah tangga Maira setelah ini.
"Bisa pelan nggak, sih, ngomongnya, Nis?" protes Maira. Ya walaupun ini masih pagi sekali, tapi tidak enak juga jika ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Iya, sorry!" Nisa membekap mulutnya sendiri.
"Kamu nggak dengerin omongan aku? Bisa-bisanya ngebiarin laki sendiri kawin lagi? Nggak sakit hati apa gimana, sih? Bahaya tau nggak, masukin orang asing ke dalam rumah tangga," cerocos Nisa.
Maira mendesah dengan berat. Ya, benar memang apa yang dikatakan oleh Nisa. Tapi apa mau dikata, ia bukanlah orang yang bisa egois sendiri.
"Kalau aku bilang nggak sakit, itu jelas bohong, Nis. Semua wanita pasti nggak ada yang mau berada dalam posisi sepertiku sekarang. Tapi kan kamu tahu duduk permasalahannya itu seperti apa. Aku kan udah cerita semua sama kamu. Lagipula buktinya juga udah jelas, ada rekaman CCTV nya."
"Iya sih, tapi ... kamu yakin semua akan tetap baik-baik aja kedepannya?" tanya Nisa yang sedikit ragu akan kelanjutan rumah tangga sahabatnya. Membayangkannya saja tidak sanggup rasanya.
"Aku pasrahkan semua pada Tuhan. Lagipula, mas Agam juga janji kalau dia akan setia sama aku," terang Maira. Walaupun ia juga ragu sebenarnya.
"Dan kamu percaya gitu aja?" Nisa menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar.
"Astaga, Maira ... segala sesuatu itu bisa aja kejadian, loh. Aduh ... aku aja nggak berani bayanginnya. Terlalu ngeri tau nggak?" Nisa bahkan sampai bergidik sendiri.
"Jangan bikin aku jadi kalut lagi dong, Nis. Ini aku baru baikan loh sama mas Agam. Aku lagi mencoba buat percaya lagi sama dia, dan keputusanku ini bukan tanpa alasan. Aku kenal dan tau mas Agam sejak lama, bukan satu atau dua tahun lagi tapi sudah bertahun-tahun."
"Iya sih, yaudah lah, Ra ... aku cuma bisa doain aja, semoga kamu dan Agam terus langgeng. Semoga aja hati Agam nggak berubah sampai tiba saatnya dia harus menceraikan Sita." Nisa menepuk bahu Maira dengan lembut, memberikan dukungan karena ia tahu posisi Maira sangat berat saat ini.
"Makasih, ya." Maira bahkan sampai memeluk Nisa. Ia merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Nisa, yang selalu peduli padanya dan bisa diajak simpan rahasia.
"Ehem ... ada apa ini?" Suara bariton terdengar menyapa telinga dua orang wanita yang masih berpelukan di depan meja resepsionis.
Maira dan Nisa buru-buru meleraikan pelukannya dan melihat siapa yang tengah memergoki mereka.
"Eh ... Mas Reza?" Maira menyapa dengan kikuk, namun dalam sekejap kemudian ia bisa menetralkan situasi.
"Mau bertemu pak Hardi?" tanyanya. Sementara Nisa masih terdiam ditempatnya. Matanya tak berkedip melihat sosok yang menurutnya sangat tampan seperti yang biasa digambarkan di dalam novel-novel romantis.
"Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya. Tapi jika Hardi ada ditempat, boleh lah saya bertemu sebentar." Sebuah senyum terbit di sudut bibir Reza.
"Oh ... baiklah, Maira antar ke ruangan beliau saja kalau begitu. Tapi mungkin mas Reza harus nunggu, karena pak Hardi mungkin masih dalam perjalanan."
"Oke, nggak masalah."
Setelahnya Maira memandu dan mengantar Reza menuju ruangan bosnya. Agak canggung juga di dalam lift hanya berdua saja, karena Maira menggunakan lift khusus yang tidak bercampur dengan para karyawan.
"Oh ya, Mas. Tadi Mas Reza bilang tujuan utama Mas Reza datang kemari bukan untuk bertemu pak Hardi, lalu?" Maira mengernyit.
Reza terkekeh sebentar. Ya, dia hanya ingin bertemu Maira dan ngobrol sedikit saja. Ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan Maira yang sekarang. Tapi mengingat Maira sudah bersuami maka ia berpikir jika niat itu sebaiknya ia urungkan saja.
"Iya ... sebenarnya cuma mau mampir saja, Maira, karena hari ini saya lagi nggak ada jadwal. Bosan jika harus berdiam di kantor," kilahnya.
"Bosan? Ehm ... memangnya biasanya selain di kantor Mas Reza nggak ada kegiatan lain?"
"Ada sih, biasanya saya mengunjungi beberapa panti asuhan. Tapi ya ... terkadang ingin juga punya kegiatan lain." Reza menghela nafas.
"Anak istri Mas Reza, kan bisa quality time sama mereka."
Mendengar ucapan Maira, Reza hanya tersenyum tipis. Anak istri siapa yang dimaksud, kekasih saja Reza tidak punya. Standar perempuan yang ia cari kurang lebih yang seperti Maira, cerdas, mandiri, cantik dan juga baik. Tapi selama pencarian tak ada satupun yang memenuhi kriteria Reza.
Terkadang begitu menyiksa bagi Reza karena tidak bisa menghadirkan sosok lain di dalam hatinya. Hati itu telah jatuh untuk pertama kali hanya pada Maira, tapi sayangnya keberuntungan tak berpihak padanya.
Ting ....
"Mas! Kok jadi ngelamun?" tanya Maira bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
"Oh ... nggak. Nggak apa-apa, lagipula pertanyaan kamu bikin saya jadi mikir," jawab Reza sembari keluar lift dan mensejajarkan dirinya mengikuti langkah kaki Maira.
"Mikir?"
"Iya ... anak istri siapa yang kamu maksud? Saya ini masih bujang."
Maira sampai menutup bibirnya karena terkejut. Siapa juga yang tidak terkejut, lelaki mapan sekaligus tampan seperti Reza masih sendiri?
"Kaget?"
"I-iya, Mas. Masa sih Mas Reza belum menikah? Tapi kekasih ada, kan, pastinya?" tanya Maira penasaran. Namun Reza menggelengkan kepalanya dan membuat Maira berpikir, apa jangan-jangan Reza ini belok? Jika iya Reza ini belok, kasihan sekali pastinya. Padahal di luaran pasti banyak wanita yang mau dengan Reza.
"Oh iya, Mas. Itu ruangan pak Hardi. Mas Reza tunggu saja di dalam, dan maaf Maira nggak bisa nemenin karena Maira harus menyiapkan ruangan untuk meeting pagi ini." Maira menunjuk ruangan yang terletak tak jauh dari mereka.
"Iya, terimakasih ya, Maira. Saya tunggu Hardi disana saja kalau begitu. Maaf sudah mengganggu waktu kamu. Selamat bekerja." Reza tersenyum hangat dan melangkah bak seorang model menuju ke ruangan milik Hardi. Sementara Maira kembali pada kesibukannya.
***
Hari itu Maira benar-benar dibuat sibuk karena banyak sekali jadwal bosnya yang harus ia urus.
"Aduh ... gimana ini kerjaan aku belum beres, mana mas Agam janji mau jemput." Maira bergumam di meja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sudah seharusnya ia pulang, tapi di jadwal ia masih harus menemani Hardi menyelesaikan satu lagi pertemuan dengan klien penting.
Tanpa pikir lama, ia pun langsung menelepon suaminya.
"Halo, Mas!" sapanya saat panggilannya tersambung.
"Ya, Sayang. Mas lagi perjalanan ke kantor kamu sekarang." Agam tentu sangat bersemangat menjemput istrinya.
"Mas, maaf, ya! Aku kayaknya nggak bisa pulang tepat waktu karena ini setengah jam lagi masih harus nemenin pak Hardi menemui klien penting," sesal Maira.
"Oh ... nggak apa-apa, Sayang. Ya udah kalau gitu mas langsung pulang aja, ya? Nanti kalau sudah selesai kerjaannya langsung hubungi mas, biar mas jemput."
"Iya, Mas. Ehm ... hati-hati dirumah ya, Mas!" pesan Maira. Tidak tahu kenapa, ia sedikit takut jika Agam harus berdua dirumah dengan Sita. Ia teringat akan ucapan Nisa tadi pagi.
gw intip koq gk ad🙃