NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke rumah

Satu minggu sudah kembar pergi bersama nenek dah kakeknya. Rumah terasa sangat sepi, tidak ada teriakan Zidan dann rengekan Naila kalau pagi.

Rania sangat merindukan keduanya, walaupun setiap malam mereka selalu saja video call, tapi rasanya sangat berbeda. Bu Arini pun merasakan hal yang dengan kedua cucunya. Mereka yang biasanya selalu saja membuat keributan namun sudah satu minggu ini rumah sepi. Dan hari ini mereka akan kembali ke rumah.

"Jam berapa mereka akan datang Ran? "

"Sekitar setengah jam lagi bu, mereka masih di pesawat. "

"Ibu rasanya sudah tidak sabar menunggu mereka pulang. Satu minggu mereka tahun dak ada di rumah. Terasa sangat sepi sekali. " ujar bu Arini.

"Apalagi Rania bu, biasanya kalau pulang dari kerja, mereka akan berebut bertanya mamah bawa apa, nah sekarang seminggu sudah mereka tidak ada, Ran sangat malas membawa sesuatu. " Rania berkata

Keduanya terdiam dalam kebeningan, menunggu kembar yang sebentar lagi akan pulang, rumah akan kembali ramai dengan celotehan mereka. Satu minggu terasa satu tahun. Dan hari ini mereka pulang. Ada rasa bahagia akan kembali berkumpul dengan kembar.

Suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah Rania, tidak lama kemudian suara klakson berbunyi. Rania segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar.

"Mamah..... " Kembar berjalan ke luar dari mobil bersamaan.

"Sayangnya mamah akhir nya pulang juga. Mamah kangen banget dengan kalian berdua." Rania mencium kedua anaknya yang terlihat kulit nya lebih gelap.

"Loh kok kulit kalian lebih gelap, apa di sana berjemur terus? " tanya Rania.

"Iya Ran, saat di pantai mereka terus saja bermain istana pasir, kalau saja perut mereka tidak merasa lapar mungkin mereka tidak akan mau pulang ke hotel, ya beginilah hasilnya. " jelas nyonya Erlina.

"Kalau anak anak memang seperti itu jeng, kita bicara terus di sangkanya cerewet. " Bu Arini menimpali ucapan nyonya Erlina.

"Kalian pasti lapar, ayo makan dulu, mamah sudah masak makanan kesukaan kalian. " Ajak Rania.

"Oya mamah kita memang lapar. " Jawab keduanya.

"Papah dan mamah juga, ayo makan dulu, setelah itu istirahat pasti kalian lelah setelah perjalanan jauh. " Ajak Rania kembali

Tuan Aditama dan istrinya tidak bisa menolak ajakan Rania, karena masakan Rania sangat enak dan sesuai dengan lidah mereka. Semuanya makan dalam hening, hanya suara sendok dan garpu yang bersuara.

"Mamah, ila udah kenyang. " ujar Naila yang makannya tidak sebanyak Zidan yang pasti akan tambah makanan.

"Idan belum kenyang mamah, Idan masih mau tambah. " Ujar Zidan yang memang nafsu makannya lebih banyak, sehingga tubuhnya lebih besar dari Naila.

"Cucu kakek makannya pinternya, ayo nak makan yang banyak biar cepat besar bisa ganti kan kakek urus perusahaan. " ujar tuan Aditama memberi semangat cucu laki lakinya.

"Pah, masa seperti itu, kasihan Idan kalau harus di bebankan perusahaan. Biar nanti dia punya perusahaan sendiri, kita tinggal suport." ujar nyonya Erlina.

"Papah mau Zidan meneruskan perusahaan papah dan kalau mau punya usaha sendiri ya silahkan papah tidak akan melarang, pasti akan papah suport dengan investasi yang sangat besar. " jawab tuan Aditama dengan semangat.

"ila juga mau punya perusahaan.... " Celetuk Naila.

"Oh sayangnya nenek mau punya perusahaan sendiri, nenek kira mau lanjutkan butik nenek biar lebih besar. "

"Memang ila mau buat perusahaan apa sayang? " tanya bu Arini.

"ila mau punya perusahaan kosmetik, biar semua wanita Indonesia memakai produk ila, jadi mereka akan sangat cantik seperti ila. " jawab Naila mengedipkan mata.

"Bagus itu, nanti kakek akan suport juga dengan menanam saham di perusahaan ila. " sahut kakeknya dengan penuh semangat.

Rania hanya diam tidak terlalu menanggapi ucapan kakek dan neneknya kembar, Rania hanya meng Aminkan ucapan kembar yang ingin punya perusahaan sendiri.

Makan siang akhirnya selesai juga, kembar yang selesai makan merasa mengantuk, berjalan ke pantai dua di ikuti kedua pengasuh nya. Sedangkan tuan Aditama dan juga nyonya Erlina berbincang du ruang tengah bersama Rania dan juga bu Arini.

Sambil minum kopi kental hitam yang masih mengepulkan asapnya dan teh hangat dengan camilan.

"Ran, papah harap kamu bisa berjodoh dengan anak papah, kasian kembar seperti nya mereka membutuhkan kasih sayang dari papah nya. " ujar tuan Aditama.

"Ran belum kepikiran ke arah sana pah. Ran masih ingin sendiri mengurus kembar. " jawab Rania.

"Menurut mamah juga sependapat dengan usulan papah, maaf ya Ran bukan karena Leon adalah anak kami, tapi jika anak anak tidak ada papah nya, kami khawatir kalau sekolah nanti mereka akan di bully oleh teman teman nya karena tidak punya papah. "

"Iya Ran, ibu juga sependapat dengan tuan Aditama dan juga nyonya Erlina. Kamu tidak akan sendiri menghadapi kehidupan ini, ibu tidak tahu sampai kapan ibu menemani kamu dan kembar. " ujar bu Arini dengan mata yang berkaca kaca.

"Ran sudah nyaman seperti ini, Ran belum bisa menerima kehadiran papah nya kembar, masih ada rasa trauma dalam diri Ran. "

"Kami tidak memaksa kamu Ran, hanya saja mungkin bisa kamu pertimbangkan usulan kami berdua untuk kebaikan tumbuh kembang kembar. " tuan Aditama.

Rania hanya terdiam menyimak semua perkataan tuan Aditama dan istrinya serta ibunya sendiri, memang apa yang dikatakan mereka ada benar nya, tapi saat ini hatinya belum bisa menerima kehadiran Leon dalam kehidupan nya.

Karena hari sudah menjelang sore, tuan Aditama dan nyonya Erlina pamit pulang, sebenarnya Rania sudah menawarkan agar mereka menginap saja di rumah nya, namun karena alasan sudah lama meninggalkan rumah, Rania tidak bisa berkata apa apa lagi.

Mereka pulang dengan mobil yang di bawa supir, yang sebelum nya menjemput mereka di bandara saat meteka baru datang dari gunung Bromo jawa timur.

Jalanan tampak sangat macet mungkin karena jamnya pulang kantor, sehingga kendaraan keluar semua memenuhi jalanan ibukota yang tidak pernah berhenti bergerak.

Sekitar empat puluh lima menit, akhirnya meteka sampai di rumah, tampak mobil Leon sudah ada di carport, kemudian mobil tahun an Aditama terpakir tepat di sebelah mobil Leon.

"Akhirnya sampai rumah juga ya pah, mamah kangen banget suasana rumah. " ujar nyonya Erlina.

"Iya pah, kita sampai juga di rumah. "

Keduanya turun dari mobil, koper yang ada fi bagasi di di keluarkan oleh supir di bantu pak satpam dan juga art yang membawa masuk koper milik majikannya ke dalam rumah.

"Leon sudah ada di rumah, di mana dia sekarang? " tanya nyonya Erlina pada art nya yang lewat sambil membawa koper.

"Tuan Leon ada di ruang kerjanya nyonya. " sahut art.

"Oh ya sudah, saya ke kamar dulu, kami siapkan saja makan malam, setelah selesai panggil Leon ya bi. "

"Baik nyonya. "

Keduanya naik ke lantai dua menggunakan lift, karena jika menggunakan tangga mereka sangat lelah.

Sampai di kamar, tuan Aditama masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket, karena perjalanan jauh yang sudah mereka lalui. Selesai membersihkan badan, nyonya Erlina kelaur dari kamar untuk makan malam karena memang sudah waktunya makan malam.

Ternyata di ruang makan, Leon sudah duduk menunggu orang tau mau sambil memainkan ponselnya.

"Hai sayang, maaf ya menunggu lama."

"Ga apa apa mah, Leon juga baru turun kok, bagaimana liburan nya seru? " tanya Leon yang sebenarnya dirinya pun baru sampai rumah karena ikut berlibur dengan putrinya tanpa sepengetahuan siapapun.

"Sangat menyenangkan, bisa merefresh otak papah sehingga lebih segar. " jawab tuan Aditama yang tidak ingin anaknya tahu kalau mereka pergi bersama kembar saat liburan.

"Iya, walau liburan. Papah tetap saja tidak mau lepas dari laptopnya. Ga di rumah, di kantor bahkan saat liburan saja masih berhadapan dengan laptop. " ujar nyonya Erlina dengan nada kesal.

"Kan sambil menyelam minum air, sambil liburan kita juga bisa mendapatkan uang, jadi uang yang sudah keluar untuk biaya liburan bisa terganti kan dong mah. " sahut suaminya dengan santai.

"Sudah sudah, kita makan malam dulu, kalau terus berdebat kapan kita akan makan malam nya. " Leon menengahi perdebatan kedua orang tuanya.

Di meja makan sudah banyak jenis makanan yang tersedia di atas meja makan dan semuanya terlihat lezat. Setelah perdebatan mereka, akhirnya mereka makan malam dengan tenang.

Semuanya makan dalam hening, Leon tidak banyak makan, karena menjaga pola makan nya. Saat sedang makan, terdengar suara notifikasi dari ponsel Leon. Karena sedang makan, Leon hanya diam menunggu selasi makan.

"Seperti nya ada pesan masuk dari ponsel kamu dari tadi bunya terus kalau sudah selesai makannya cepat kamu balas. " ujar Nyonya Erlina.

"Iya mah, Leon duluan, karena peut Leon juga seperti nya sudah terasa penuh. " alasan Leon.

"Sayang, kalau urusannya sudah selesai, kamu ke ruang tengah ya, mamah ingin bicara sama kamu. '

" Iya, maj mudah mudahan urusan nya tidak memakan waktu. "Leon melangkah ke ruang kerja nya.

Di dalam ruang kerja, Leon membuka pesan di aplikasi hijau. Ternyata Naila yang mengirim kan pesan menggunakan ponsel pengasuhnya.

" Papah ini ila, pakai ponsel mba Tini. "

"Ila sudah ada di rumah, maaf ya pah ila bari kirim pesan sama papah sekarang. Tadi ila ngantuk banget jadi ila bobo dulu. "

Leon merasa sangat gemas dengan pesan yang di kirim putrinya, ingin rasanya memeluk dan mencium Naila, selama beberapa hari bersama dengan putri nya terasa membawa perubahan besar dalam diri Leon. Walaupun hanya sebentar di setiap pertemuan dengan putrinya.

"Iya sayang ga apa apa, princess papah sedang apa sekarang? " tanya Leon

Pesan centang abu abu dua, tak lama kemudian centang biru, tak lama kemudian terlihat Naila sedang mengetik pesan. Kemudian pesan datang dari Naila.

"Ih papah, kan ila lagi kirim pesan sama papah. "

Leon tertawa sendiri membayangkan wajah putri nya yang sedang merajuk. Kemudian Leon membalas pesan Naila.

"Oh iya sayang, papah lupa, kalau princess nya papah lagi berbalas pesan dengan papah., kakak kamu sudah tidur belum? "

Pesan terkirim, langsung centang biru. "Idan lagi di kamar nya lagi main laptop, mamah lagi di bawah sama nenek Arini, ila sekarang lagi di kamar ila, nanti sebentar lagi ila bobo di kamar mamah. "

"ila bobonya sama mamah, ga bobo sendiri? "

"Mamah ga mau bobo sendiri kalau malam malam, minta di temenin sama ila sama Idan."

"Sayang, papah ingin sekali bertemu lagi sama princess, kapan papah akan bertemu lagi. "

"Ila ga tahu papah. nanti aja ila kasih tahu ya, mamah udah panggil untuk tidur di kamar mamah. Dah papah Love U banyak banyak sekebon pisang pa rt. " memakai emoticon love

"Iya sayang, bobo mimpi papah ya. "

Leon tertawa sendiri ternyata putrinya sudah pintar membalas pesan dan berkata seperti orang dewasa.

Naila dan Zidan sudah pintar baca tulis dan menghitung saat keduanya berusia dua tahun, mungkin karena gen Leon sangat dominan pada otak kembar sehingga apapun bentuk nya akan cepat di serap oleh keduanya.

Selesai berbakat pesan dengan putri nya, Leon ke ruang tengah bertemu dengan mamahnya, yang ingin berbicara dengan dirinya, entah apa yang ingin di bicarakan dengan mamahnya.

Kedua orang tuanya sedang minum teh dan camilan yang di sediakan art, Leon duduk di sofa tunggal berhadapan dengan kedua orang tuanya.

"Sudah selesai urusan nya? " tanya mamahnya.

"Sudah mah, mamah ada yang mau di bicarakan? " tanya Leon penasaran.

"Iya sayang, mamah hanya ingin agar kamu segera menikah dengan siapapun, kalau kamu sudah punya pasangan, bawa kemari kebaikan dengan mamah. " nyonya Erlina bertanya pada Leon.

Leon tidak langsung menjawab pertanyaan mamahnya, Leon menghirup atmosfer fi sekitar nya agar dadanya tidak terlalu sesak dengan pertanyaan mamahnya yang sangat mendadak.

"Kenapa sayang, apa kamu tersinggung atau keberatan dengan pertanyaan mamah? "

"Nggak mah, Leon ga tersinggung atau pun keberatan dengan pertanyaan mamah, hanya saja untuk saat ini Leon belum berpikir untuk segera menikah mah, Leon masih ingin bertemu dengan anak Leon. " ujar Leon dengan gurat sedih di wajahnya.

"Apa kamu sudah menemukan keberadaan mereka? " papahnya yang bertanya dengan serius.

"Bagaimana Leon bisa bertemu dengan kedua anak Leon kalau papah yang melindungi mereka, unting saja Naila bisa menemukan ku di hotel, jadi aku bisa tahu mereka ada dimana. " Bathin Leon.

"Belum pah Leon belum menemukan mereka, mereka seperti di telan bumi, Leon sudah mengerahkan anak buah Leon tapi tidak satupun yang bisa menemukan di mana mereka tinggal. " Jawab Leon.

"Bagus, berarti selama ini Leon tidak tahu kalau aku menyembunyikan mereka. " dalam hati tuan Aditama.

"Berusaha lah dengan giat, kalau kamu tidak menemukan mereka, terpaksa papah akan kembali menjodohkan kamu dengan wanita pilihan kami. " ujar mamah.

"Tapi mah, Leon tidak ingin mamah menjodohkan lagi Leon, apa mamah tidak kapok dengan Stela yang di jodohkan papah untuk Leon. "

"Maka dari itu, cari mereka sampai dapat, biar mamah dan papah dapat satu paket. "

"Maksudnya? "

"Maksudnya, mamah dan papah dapat menantu langsung dapat cucu juga, begitu aja kamu tidak tahu. " Cibir papahnya yang tersenyum sendiri.

...****************...

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!