NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: DI HADAPAN SANG RAJA MACAN

Gedung Aurora berdiri tegak di jantung Jakarta, sebuah menara kaca yang seolah-olah membelah langit malam yang hitam pekat. Bagi orang awam, tempat ini adalah simbol kemewahan korporat, namun bagi mereka yang bergerak di bawah bayang-bayang, Aurora adalah takhta kekuasaan klan-klan tua.

Arka melangkah keluar dari Maybach-nya tepat di depan lobi utama. Suasana sunyi. Tidak ada tamu berlalu-lalang, tidak ada suara musik. Hanya ada barisan pria bersetelan hitam dengan earpiece yang berdiri kaku setiap tiga meter. Mereka tidak bergerak, tapi mata mereka mengikuti setiap inci pergerakan Arka.

"Tuan Muda Arka, silakan. Tuan Besar sudah menunggu di observatory," ucap seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintang di dagunya. Dia membungkuk, namun auranya sangat tajam—pria ini adalah seorang praktisi bela diri tingkat tinggi.

Arka tidak menyahut. Dia hanya mengangguk kecil, membiarkan energi Mata Dewa-nya tetap aktif dalam mode pasif. Dia bisa melihat aliran energi di dalam gedung ini; semuanya mengarah ke satu titik di puncak menara.

Lift meluncur ke atas dengan kecepatan luar biasa. Begitu pintu terbuka di lantai paling atas, Arka disambut oleh pemandangan Jakarta yang memukau dari ketinggian. Dinding kaca melengkung memperlihatkan kelap-kelip lampu kota yang tampak seperti taburan permata di atas kain beludru hitam.

Di ujung ruangan, di sebuah kursi kayu jati yang diukir sangat detail, duduk seorang pria tua. Rambutnya putih perak, tapi wajahnya tidak menunjukkan kerutan layaknya orang seusianya. Kulitnya kencang, dan matanya... matanya seperti mata macan yang sedang mengintai mangsa di tengah semak-semak.

Inilah Tuan Besar Yan. Pria yang namanya hanya dibisikkan dalam ketakutan oleh para miliarder kota ini.

Di atas meja kecil di sampingnya, sebuah cerutu menyala, mengirimkan asap tipis yang berputar-putar di udara yang dingin karena AC.

"Duduklah, Arka," suara Tuan Besar Yan terdengar berat, namun berwibawa. Bukan perintah, tapi sebuah ajakan yang tidak bisa ditolak.

Arka berjalan mendekat, setiap langkahnya mantap. Dia duduk di kursi kulit di depan Yan. Dia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, meskipun dia bisa merasakan tekanan aura yang sangat besar keluar dari tubuh pria tua itu—sebuah tekanan yang sanggup membuat orang biasa pingsan di tempat.

"Kamu punya nyali yang besar, Anak Muda," Yan tersenyum tipis, memperlihatkan gigi-giginya yang masih kuat. "Menghancurkan empat pengawal elitku di depan umum, lalu mempermalukan keluarga Kevin di balai lelang... Kamu benar-benar tidak suka mengikuti aturan main, ya?"

Arka menyandarkan punggungnya, matanya menatap lurus ke dalam pupil Yan. "Aturan dibuat oleh mereka yang takut kehilangan kekuasaan. Saya tidak punya kekuasaan yang harus saya jaga, jadi saya tidak butuh aturan Anda."

Yan tertawa kecil, suara tawanya kering seperti daun jatuh. "Sombong. Tapi aku suka. Kebanyakan orang datang ke sini sambil gemetar, mencoba menjilat sepatuku hanya untuk mendapatkan sedikit sisa kontrak bisnis. Tapi kamu? Kamu datang ke sini seolah-olah kamu yang memiliki gedung ini."

Yan mengambil plat emas yang tadi dikirimkan kepada Arka—yang sekarang sudah bengkok di tangan Arka. Dia meletakkannya di meja.

"Mari bicara jujur," Yan condong ke depan. "Kamu bukan kurir biasa. Mata itu... itu bukan mata manusia. Aku sudah hidup cukup lama untuk tahu bahwa ada kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan sains. Kamu membawa sesuatu yang hilang dari dunia ini selama ratusan tahun."

Arka mematikan mode pasif matanya, membiarkan pupil emasnya menyala terang dalam kegelapan ruangan itu. "Dan apa yang Anda inginkan? Kekuatan ini tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun yang Anda miliki."

"Uang hanyalah kertas bagi orang sepertiku, Arka," Yan melambaikan tangannya. "Aku menginginkan stabilitas. Klan Macan Putih telah menguasai kota ini selama tiga generasi. Namun, ada badai yang datang dari luar. Klan-klan dari utara mulai mengincar pasar kita. Mereka membawa praktisi-praktisi gelap, orang-orang yang bisa membunuh tanpa menyentuh."

Yan menatap Arka dengan serius. "Aku butuh 'Mata' yang bisa melihat musuh sebelum mereka menyerang. Aku butuh seseorang yang bisa melihat racun di dalam wine-ku, atau pengkhianatan di dalam hati bawahanku. Jadilah tangan kananku, Arka. Dan aku akan memberikanmu segalanya. Wanita, wilayah, kekayaan... bahkan aku bisa membantumu menemukan siapa yang sebenarnya membantai keluargamu sepuluh tahun lalu."

Kalimat terakhir itu membuat suasana ruangan mendadak membeku. Arka mengepalkan tinjunya di bawah meja.

"Anda tahu soal keluarga saya?" tanya Arka, suaranya kini sangat rendah dan berbahaya.

"Aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan," Yan mengambil sebuah foto tua dari sakunya dan menggesernya ke arah Arka.

Foto itu menunjukkan sebuah lambang kuno: seekor naga emas yang melilit pedang hitam. Lambang klan asli Arka.

"Keluargamu bukan korban kecelakaan pesawat biasa. Pesawat itu jatuh karena ada serangan energi tingkat tinggi yang menghancurkan mesinnya di udara. Dan pelakunya... bukan orang dari negara ini," lanjut Yan.

Arka menatap foto itu. Ingatan tentang api, teriakan ibunya, dan rasa dingin di udara malam itu kembali membanjirinya. Matanya berdenyut hebat. Dia bisa merasakan kemarahan yang sudah lama dia kubur mulai meluap.

"Kenapa Anda memberitahu saya sekarang?"

"Karena kamu sudah cukup kuat untuk tahu," jawab Yan. "Tapi kamu belum cukup kuat untuk membalas dendam. Bergabunglah denganku. Gunakan sumber daya Klan Macan Putih untuk melatih kekuatanmu. Aku akan menjadi perisaimu, dan kamu akan menjadi pedangku."

Arka terdiam cukup lama. Dia memproses setiap kata yang diucapkan Yan. Di satu sisi, ini adalah jalan pintas untuk menemukan kebenaran. Di sisi lain, dia tahu bahwa bersekutu dengan Macan Putih sama saja dengan menjual jiwanya pada iblis.

"Tawaran yang menarik, Tuan Besar Yan," Arka berdiri. "Tapi saya punya satu prinsip. Saya tidak pernah menjadi pedang milik siapa pun. Jika kita bekerja sama, itu adalah kemitraan yang setara. Tidak ada bos, tidak ada bawahan."

Yan menatap Arka dengan tajam. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Para pengawal di sudut-sudut ruangan sudah siap menarik senjata mereka hanya dengan satu isyarat dari Yan.

Detik-detik berlalu seperti jam.

Tiba-tiba, Yan tertawa terpingkal-pingkal. "Kemitraan yang setara?! Dengan anak muda berusia 20 tahun?! Benar-benar gila!"

Yan berhenti tertawa dan menatap Arka dengan rasa hormat yang baru. "Baiklah. Mari kita lihat seberapa 'setara' kamu bisa bertahan. Aku punya satu tugas pertama untukmu. Jika kamu berhasil, maka kita adalah mitra. Jika tidak... maka plat emas itu akan menjadi nisanmu."

"Apa tugasnya?" tanya Arka tanpa ragu.

"Di bawah tanah Jakarta, ada sebuah pelelangan gelap yang disebut 'Pasar Hantu'. Malam ini, sebuah item yang disebut 'Nadi Naga' akan dilelang. Itu adalah batu energi murni yang bisa meningkatkan kekuatan kultivasi seseorang secara drastis," Yan menjelaskan. "Masalahnya, Klan Macan Putih dilarang masuk ke sana oleh konsorsium internasional. Tapi kamu? Kamu adalah pemain baru. Masuklah ke sana, dapatkan batu itu, dan bawa padaku."

Yan memberikan sebuah kartu undangan berwarna hitam pekat tanpa tulisan apa pun.

"Hati-hati, Arka," tambah Yan saat Arka mulai berjalan pergi. "Di Pasar Hantu, uang tidak selalu menjadi pemenang. Seringkali, nyawa adalah mata uang yang paling laku."

Arka berhenti di depan pintu lift. Dia menoleh sedikit ke arah Yan. "Tuan Besar, pastikan Anda menyiapkan teh terbaik saat saya kembali. Karena harga batu itu tidak akan murah."

Arka masuk ke dalam lift dan menghilang.

Tuan Besar Yan kembali menyulut cerutunya. Di kegelapan ruangan, muncul seorang wanita cantik dengan pakaian ninja modern—Ying, yang sudah pulih dari lukanya.

"Tuan Besar, apakah Anda yakin mempercayakannya padanya? Dia sangat liar," bisik Ying.

"Liar adalah sifat asli kekuatan, Ying," jawab Yan sambil menatap Jakarta dari balik kaca. "Biarkan dia mengamuk di Pasar Hantu. Jika dia selamat, kita punya senjata terkuat di dunia. Jika dia mati... setidaknya kita tahu batas kemampuannya."

Arka keluar dari Gedung Aurora. Hujan mulai turun dengan deras, membasahi bumi Jakarta. Dia masuk ke dalam mobilnya dan menatap kartu hitam di tangannya.

"Pasar Hantu..." gumam Arka. "Sepertinya malam ini akan menjadi sangat panjang."

Dia memejamkan mata, memfokuskan energi Mata Dewa-nya. Dia bisa merasakan getaran energi yang sangat jauh di kedalaman kota—sebuah energi yang haus dan gelap.

Arka menyeringai. Dia bukan lagi kurir yang takut akan badai. Dia adalah penguasa badai itu sendiri.

Arka memasuki dunia bawah tanah Jakarta yang sebenarnya—Pasar Hantu. Di sana, dia tidak hanya bertemu dengan pedagang barang antik ilegal, tapi juga monster-monster manusia yang memiliki kekuatan serupa dengannya. Dan yang paling mengejutkan, dia melihat seseorang dari masa lalunya yang seharusnya sudah meninggal, berdiri di panggung lelang sebagai salah satu 'barang dagangan'.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
asik juga nih
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!