NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Backstreet

Suara kicauan burung mengisi pagi yang sunyi dan sejuk.

Asap dapur membumbung melalui celah jendela kayu sebuah rumah sederhana yang dihuni oleh empat orang anggota keluarga.

"Rani... bantu bangunkan bapak mu" pinta bu Sukma dari arah dapur.

Gadis bernama Maharani atau akrab dipanggil Rani bergegas kekamar utama.

"Bapak sudah bangun... kamu siap-siap saja, kita sarapan bersama..." seru lelaki paruh baya berusia sekitar 50 tahunan dengan rambut yang memutih separuhnya yang berdiri diambang pintu kamar.

Rani tersenyum manis. "Aku bangunin Bagas dulu yah..." ujarnya melangkah ke arah ruang tengah dimana remaja laki-laki berusia 17 tahun yang masih tidur nyenyak tanpa terganggu suara riuh rumah kecil itu.

"Bagas... kamu nggak sekolah? Ayo bangun, nanti terlambat, distrap sama pak Dion nanti" ucap Rani hingga membuat sang adik langsung bangkit tanpa bantahan.

Rani kemudian bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap karena ia harus tiba lebih awal dibanding yang lain.

Maharani adalah pekerja kebersihan di kantor kepala desa.

Dengan ijazah SMA yang ia miliki, mustahil ia memperoleh pekerjaan layak dengan gaji besar dan berpenampilan layaknya wanita karir yang selalu Rani impikan.

Ingin sekali ia bekerja keluar desa mengikuti jejak rekan-rekan sebayanya tapi apa daya, ia tidak diperbolehkan merantau jauh oleh ayahnya.

Hari sudah menunjukkan pukul 06.20 pagi.

Rani sudah rapi dengan seragam kerjanya serta rambut panjang yang dikuncir kuda.

"Bu... Rani berangkat dulu, takut telat" ucap Rani yang sudah siap dengan tas selempang yang tersampir dibahunya.

"Bawa bekalmu... jangan telat makan... ini sudah ada pisang rebus dan telur rebusnya..." cegat ibu menyerahkan satu kotak berisi sarapan untuk putrinya.

"Makasih bu... kalau gitu, Rani berangkat ya.." pamit Rani mulai mengayuh sepedanya.

"Hati-hati...." seru ibu dari arah teras rumah.

"Bapak juga mau berangkat... mau mampir kerumah pak Yono buat ambil pupuk..." pamit Rahman pada istrinya.

"Pak... tunggu... Bagas bareng bapak ya...?" teriak Bagas dari arah dapur dengan langkah tergesa.

"Makanya kalau tidur itu jangan kemalaman... paginya telat bangun" omel ibu yang disahut cengiran dari Bagas.

"Dengerin ibumu kalau ngomong... lagian udah tahu sekolah, masih aja begadang nggak jelas!" pak Rahman ikut mengomeli putra bungsunya.

"Iya pak... lainkali Bagas tidurnya pagi aja"

"Bocah gendeng... dinasehati malah ngejawabnya gitu... durhaka kamu" timpal ibu memukul lengan putranya.

"Sudah.. Sudah... ayo, nanti kamu terlambat" tutur bapak melerai keduanya.

"Bagas pamit bu" ucap Bagas mencium punggung tangan ibunya.

"Bapak juga pamit, ibu hati-hati dirumah. Jangan kerja yang berat-berat dulu. Pinggang ibu masih belum sembuh" Rahman mengulurkan tangannya untuk dicium oleh istrinya seraya mengingatkan bu Sukma agar tidak terlalu lelah.

Kedua ayah dan anak itu bergegas pergi mengendari motor butut hasil hibah dari salah satu tetangganya yang berkecukupan. Mereka kasihan melihat pak Rahman yang setiap hari mengayuh sepeda tuanya saat mengangkut hasil panen atau ke pasar membeli pupuk untuk sawahnya.

Keluarga pak Rahman memiliki tiga petak sawah hasil warisan kedua orangtua pak Rahman serta juga hasil jerih payahnya semasa muda merantau ke kota sebagai buruh pabrik.

Warga desa mengenal keluarga Rahman sebagai keluarga yang harmonis yang santun. Bu Sukma selain ibu rumah tangga, ia juga membuka jasa mencuci pakaian para tetangga mereka yang berkelebihan. Akan tetapi, sejak beberapa bulan lalu, bu Sukma harus bersabar berada dirumah setelah mengalami kecelakaan saat hendak pulang dari pasar.

Ia tak sengaja ditabrak oleh sebuah motor hingga menyebabkan pinggangnya mengalami pergeseran ligamen.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Rani... nanti tolong antarkan surat ini keruangan pak Andrean ya... bilang, nanti tolong diteruskan ke pak Herman" pinta Lusi, salah satu karyawan kelurahan.

"Baik mbak... ada lagi mbak?"

"Nggak itu aja..."

"Oh.. okey mbak..." ucap Rani bergegas menuju lantai dua dimana ruangan Andrean berada.

Senyum manis terpatri di bibir Rani.

Sejenak, ia bercermin untuk merapikan penampilannya.

Ruang kepala infrastrukur desa menjadi tujuan Rani dimana disana ada laki-laki manis bernama Andrean yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

Suara ketukan mengalihkan perhatian Andre, panggilan akrabnya.

"Selamat sore pak, ada titipan dari bu Lusi" ucap Rani berjalan masuk.

"Oh... letakkan disana. Nanti saya baca" ucap Andre masih fokus pada lembaran kertas didepannya.

"Baik pak... Apa adalagi yang bisa saya kerjakan pak?" tanya Rani masih berdiri diseberang meja Andrean.

Andrean mengangkat kepalanya dan tersenyum.

"Tutup pintunya dan kunci..." titahnya dalam nada rendah.

"Tapi masih ada beberapa petugas dibawah mas..."

"Cepat tutup, aku lagi kangen kamu" perintah Andrean tak mengindahkan kekhawatiran Rani.

Rani menurut dan berjalan menutup pintu ruang kerja Andre.

Laki-laki itu sudah berjalan kearah Rani dan memeluknya erat dari belakang.

Andre membalik badan Rani dan mencium rakus bibirnya hingga menyudutkannya ke dinding.

"Mas... kalau ada yang lihat gimana? Aku takut..." cicit Rani dengan nafas tersengal.

"Nggak akan ada yang lihat... Aku mau ini Ran... Punya kamu buat aku selalu rindu... coba sentuh, 'adikku' juga kangen kamu"Andrean mengarahkan tangan Rani pada kejantanannya yang sudah bangkit.

Tangan laki-laki itu terus meremas bukit kembar Rani yang menyembul dari sela kemeja yang kancingnya terbuka.

Suara ketukan dipintu memaksa mereka berhenti.

Rani berlari menuju meja kerja Andre untuk bersembunyi dikolongnya, sementara Andrean merapikan penampilannya sebelum membuka pintu.

"Siapa?" tanya Andrean dengan tangan menyentuh handle pintu.

"Aku, Bimo...!" seru laki-laki seusia Andrean.

Andre berdecih kesal sembari membukakan pintu.

"Ngapain pakai dikunci segala.... kayak ada yang aneh" rutuk Bimo.

"Mau apa?" tanya Andre tanpa menjawab pertanyaan Bimo barusan.

"Mau ajak kekota weekend ini. Temanin aku menghadiri pestanya Ruth. Aku nggak ada temannya.."

"Ye elah... bilang aja kau mau ajakin aku dugem.."

"Itu salah satunya. Bisakan?"

Andre berpikir sejenak.

"Nggak bisa aku..." ucapnya kemudian.

"Kenapa?Kau mau pacaran dengan Meri?Emang dia udah balik?" seru Bimo

"Sssttt... berisik kau!" Andre membungkam mulut Bimo agar laki-laki itu tidak berisik.

"Apasih... Lagian nggak ada yang dengar. Yang lain udah pada pulang... " kesal Bimo melepas bekapan tangan Andre.

"Ya tetap aja jangan berisik... udah sana pulang... Aku juga mau siap-siap" usir Andre sembari berpura-pura merapikan mejanya.

Sudut matanya terus melirik meja kerjanya dimana ada Rani disana bersembunyi.

"Ya udah, aku balik... jangan lupa kunci kantor...!"

"Berisik!" ketus Andre sok sibuk.

Setelah memastikan Bimo benar-benar pergi, barulah Andre menuju kearah meja kerjanya dan mendapati Rani yang cemberut.

"Kamu kenapa?" tanya Andre.

"Kamu ada hubungan apa dengan Meri anak juragan Kardi?" cecar Rani.

"Kamu dengar?"

"Mustahil aku nggak dengar mas... Mas Bimo aja suaranya mengalahkan toa kelurahan"

Andre tersenyum dan langsung memeluk Rani.

"Nggak usah peluk-peluk.... Aku nggak sudi kamu peluk" rajuk Rani mendorong dada Andre ogah-ogahan.

"Hai lihat aku..." pinta Andre memegang kedua pipi Rani.

"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Meri. Kan kamu tahu, dia dari dulu suka sama aku tapi aku suka sama kamu.. Karna kamu lebih legit" ucap Andre membisikan kalimat terakhirmya di kuping Rani.

bersambung....

note:

Hai-hai... aku balik lagi, tapi kali ini dengan cerita yang berbeda ya..

Lagi mau explorer imajinasi ku tentang horor...

Novel ini ada unsur 21+ ya, jadi harap bijak dalam memilih bacaan.

Tolong jangan sangkut pautkan dengan agama, ras, serta suku manapun ya... Ini hanya imajinasi penulis semata dan tidak ada sangkut pautnya tentang kejadian di suatu daerah.

Dan jangan berdebat di kolom komentar..

Selamat menikmati, enjoyed

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!