Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Dalam Drama Antagonis
Saat ia mengerjapkan mata, ia tidak lagi berada di jalan raya yang remang. Mobilnya berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua dengan arsitektur Eropa abad pertengahan yang ganjil. Papan namanya berayun tertiup angin--- "The Echo Of The Journey".
Claire keluar dari mobil dengan langkah goyah. Dinginnya udara di sana berbeda--- rasanya seperti menusuk hingga ke tulang. Ia mendorong pintu kayu berat itu.
Kring! Lonceng kuningan berdenting nyaring.
Seorang pria tua dengan setelan jas abu-abu yang tampak seolah terbuat dari debu berdiri di balik konter, sedang mengelap sebuah kaset.
Suara Claire gemetar namun tetap tajam. "Di mana ini? Siapa yang membayar kalian untuk melakukan prank ini?"
Penjaga Toko berkata tanpa mendongak. "Anda menekan tombolnya, Nona Claire. Anda setuju untuk 'masuk'. Di sini, kami tidak mengenal jalan kembali, hanya ada jalan cerita."
"Jangan bicara omong kosong! Aku baru saja... aku baru saja menyelesaikan urusan ku. Kenapa aku bisa pindah tempat dalam satu detik!"
Penjaga Toko tersenyum tipis, menunjuk deretan kaset di dinding. "Logika adalah barang mewah yang tidak laku di sini. Lihatlah rak itu. Setiap kaset memiliki judul. 'The Betrayed Queen', 'The Silent Executioner', dan yang Anda tonton tadi... 'The Antagonist's Trap'."
Claire mendekat ke rak, matanya menyipit membaca label-label kaset yang tampak berdenyut pelan."Judul-judul ini... kenapa semuanya terdengar seperti nasib buruk?"
Penjaga Toko tertawa kecil. "Karena di toko ini, kami hanya menjual akhir cerita untuk mereka yang merasa perannya sebagai Protagonis telah direbut. Bukankah Anda merasa seperti Antagonis malam ini? Dengan tongkat bisbol itu?"
Claire terdiam. Ia mengepalkan tangan, merasakan sisa getaran amarah yang tadi ia luapkan. "Lalu apa drama trailer itu? Mengapa hanya ada satu orang yang tidak punya wajah?"
"Wajah nya datar karena dia menunggu Anda, Nona. Dia adalah wadah. Begitu Anda memilih kaset itu, wajah Anda akan menjadi milik nya, dan nasib nya... akan menjadi hidup Anda yang baru.. The Antagonist's Trap... itu judul yang sempurna untuk apa yang kau lakukan hari ini, Claire."
Claire terdiam, masih tenggelam dalam fantasi yang tidak masuk akal menurut nya.
" Kau telah menghancurkan dua hati dengan logam di tanganmu. Kau berperan sebagai Protagonis yang tersakiti, tapi di sini... di toko ini... kita tahu kau lebih suka peran yang lain," suara itu kembali terdengar, diiringi bunyi gesekan kaset yang ditarik dari rak. "Kau ingin menontonnya? Menonton bagaimana akhir dari jebakan yang kau buat sendiri?"
Claire mengepalkan tangannya, mencoba menguasai rasa takutnya. "Siapa kau sebenarnya? Dan bagaimana kau tahu apa yang terjadi di hotel itu?"
"Aku hanya penjaga arsip," sosok itu melangkah sedikit ke depan, wajahnya terlihat misterius. "Dan kaset ini adalah naskah hidupmu. Tekan 'Play', dan kau akan mengerti bahwa balas dendam hanyalah bab pembuka."
Claire mendengus. "Cukup omong kosongnya. Berikan kasetnya padaku, atau aku akan memastikan toko tua ini berakhir sama berantakannya dengan wajah selingkuhan kekasihku."
Penjaga Toko tersenyum simpul. "Sangat berani. Baiklah, silakan ambil. Tapi ingat satu hal, di dalam drama ini, sang antagonis tidak selalu memiliki akhir yang indah. Kadang, jebakan itu justru dibuat oleh dirimu sendiri... namun kau memiliki kesempatan untuk mengubah alur nya."
Saat jemari Claire menyentuh permukaan kaset yang dingin itu, cahaya putih menyilaukan meledak dari sela-sela rak buku. Pandangannya kabur, tubuhnya terasa ringan seperti jatuh ke dalam sumur tanpa dasar.
Claire tersentak bangun. Ia terduduk di tempat tidurnya. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Kamarnya sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Napas Claire terengah. "Mimpi? Tidak mungkin... itu terasa sangat nyata."
Ia mencoba menenangkan diri, namun matanya tertuju pada meja rias di depannya. Di sana, di samping parfum mahalnya, terletak sebuah kaset video tanpa label, kecuali tulisan tangan dengan tinta merah darah: "The Antagonist's Trap - Part 1".
Claire terpaku. Ia menoleh ke sudut ruangan, di mana tongkat bisbolnya bersandar. Tongkat itu masih menyisakan noda merah yang mengering.
"Jadi... ini baru dimulai?"
Layar televisi memendarkan cahaya remang saat Claire menekan tombol putar, memulai sebuah drama berjudul The Antagonist’s Trap yang sejak detik pertama telah menyelimuti atmosfer dengan aura kelam. Episode perdana dibuka dengan menampilkan sang Antagonis tanpa wajah—sebuah teknik sinematografi yang sengaja menyembunyikan identitas untuk menekankan pada penderitaan universal sang antagonis.
Berbeda dengan toko lain nya yang memiliki wajah jelas, namun bukan Actor/Actress yang di kenal Claire.
Di tengah kemelaratan yang mencekik, sosok yatim piatu itu digambarkan merangkak di antara hinaan dan cemoohan dunia, memupuk dendam yang membara di balik baju-baju kumalnya.
Tekad untuk membalikkan nasib menuntunnya pada sebuah skema keji--- ia menjerat seorang pengusaha muda kaya raya ke dalam perangkap nafsu yang dikendalikan oleh obat perangsang, memaksa benih kehidupan tumbuh di rahimnya sebagai tiket emas menuju kemewahan.
Padahal, pria itu telah terikat janji suci dengan tunangannya, sang Protagonis yang murni, namun realita pahit kehamilan memaksa sebuah pernikahan tanpa cinta terjadi. Bagi sang pria, pernikahan itu hanyalah status formalitas demi menjaga nama baik calon pewarisnya, sementara hatinya tetap tertinggal sepenuhnya pada kekasih sejatinya.
Penolakan emosional yang dingin ini akhirnya mengubah ambisi sang Antagonis menjadi frustrasi yang mendarah daging, melahirkan badai amarah yang kini salah sasaran, meluap dengan kejam kepada sepasang anak kembar berusia empat tahun yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, namun justru menjadi sasaran pelampiasan atas cinta yang tak pernah ia miliki.
Puncak kegelapan terjadi saat rasa benci mengalahkan akal sehatnya--- ia menghabisi nyawa sang Protagonis dalam sebuah aksi pembunuhan yang begitu brutal hingga membuat Claire yang menontonnya bergidik ngeri, merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi berdarah. Sang suami, yang kini dikuasai dendam dan amarah yang meledak, menjadi algojo bagi istrinya sendiri. Drama itu berakhir tragis, meninggalkan jejak kematian di tangan orang yang paling ia dambakan, sebagai harga mati atas jerat yang ia anyam sendiri.
" Benar-benar sebuah jebakan... dia membuat pilihannya sendiri, dan dia mati karena pilihannya itu. Aku tidak akan bisa tidur malam ini."
Claire duduk meringkuk di atas sofa, cahaya biru dari layar televisi memantul di wajahnya yang pucat. Ia bergidik ngeri melihat adegan terakhir saat Toko Prianya mengangkat senjatanya ke arah sang Antagonis—wanita yang menghancurkan hidupnya sendiri demi cinta yang beracun.
"Mengerikan..." gumam Claire lirih. "Obsesi benar-benar bisa membunuh manusia sebelum ajal yang sebenarnya menjemput."
Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana rasanya menjadi Antagonis yang malang namun kejam. Perlahan, kelelahan menyelimuti kesadarannya. Suara dialog dari televisi mulai terdengar samar, menyatu dengan detak jantungnya yang melambat.
Televisi masih menampilkan credit scene drama tersebut, memancarkan cahaya redup ke seluruh kamar yang sunyi. Claire tidak lagi mendengar jeritan di layar. Kepalanya terkulai ke samping, napasnya menjadi teratur, dan ia pun jatuh terlelap ke dalam kegelapan, tepat saat layar menampilkan pesan: "The End".
Keesokan paginya, Claire mengucek mata, rambut berantakan, melangkah gontai keluar kamar. "Aduh, kepalaku berat sekali... Gara-gara nonton drama itu sampai pagi. Mana haus banget lagi..."
Tiba-tiba, suara pecahan keramik terdengar dari arah meja makan. Seorang bocah perempuan mungil berdiri gemetar di sana.
Suara cadel, gemetar ketakutan. "Eh... Mo-Mommy kandung laca Mommy tili... cudah bangun?"
Claire terlonjak kaget, matanya melotot. "Hah?! Siapa kamu? Kok ada anak kecil di rumahku? Dan apa tadi kamu panggil aku? Mommy?!"
Wajah Michel memucat, air mata mulai menggenang, dia mundur hingga menabrak kursi. "Ma-maap Mommy... Micel ndak cengaja pecahin mangkok. Jangan pukul Micel lagi... Micel janji bakal jadi anak baik... hiks..."
Claire berhenti bernapas sejenak. Dia melihat sekeliling. Furnitur emas, lukisan besar seorang pria tampan yang dingin di dinding, dan gaun sutra yang dia kenakan. Kesadaran menghantamnya.
"Tunggu... ini bukan rumah ku. Anak ini... sebutan 'Mommy kandung laca Mommy Tili... Jangan-jangan..." Claire bicara pada diri sendiri dengan panik. "Aku masuk ke dalam drama semalam? Aku jadi pemeran sang Antagonis?! Antagonis yang mati dibunuh suaminya sendiri?!"
Michel semakin ketakutan melihat Claire bicara sendiri. "Mommy... Mommy cakit? Micel... Micel panggilin Bibi pelayan ya? Tolong jangan malah..."
Claire tidak menjawab, wajah nya masih terlihat bingung."Apa aku sedang bermimpi? Jika benar.. ini mimpi buruk!"
Tiba-tiba terdengar langkah kaki berat dan dingin dari arah pintu depan. Suara bariton yang penuh kebencian menggema.
Pria itu, Julian. "Sedang apa kau, Claire? Belum puas kau menyiksa anak-anakku semalam sampai mereka ketakutan setengah mati? Jangan berani-berani menyentuh Michel dengan tangan kotormu itu."
Claire menoleh dan tertegun melihat pria yang sangat mirip dengan aktor di drama yang dia tonton semalam. "Julian...?"
Wajah Julian mengeras."Jangan sebut namaku. Ingat perjanjian kita, kau punya status sebagai istri karena anak-anak ini, tapi kau tidak akan pernah punya hatiku. Jika sekali lagi aku melihat anak-anak menangis karenamu, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun."
Claire menjerit dalam hati. "Gila... ini benar-benar episode awal setelah pernikahan paksa itu. Kalau aku nggak mengubah alurnya sekarang, aku bakal mati tragis di tangan pria ini!"
•
•
•
BERSAMBUNG