Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Yang Hadir Kembali
Di bengkel kecil milik pak Bos Johan di Jakarta Timur, Rizky duduk di atas kursi bekas di pojok ruangan kerjaannya. Jam menunjukkan pukul 14.30 WIB, tapi ia tidak punya mood untuk bekerja sama sekali. Tangannya masih penuh bekas oli dan kotoran mesin, tapi dia tidak peduli matanya hanya terpaku pada foto kecil yang terpasang di atas lemari besi bekas.
Foto itu diambil saat mereka pergi ke taman bulan lalu Rini tersenyum lebar dengan tangan kanannya menyentuh perut yang membuncit, sementara Rizky berdiri di sebelahnya dengan tangan yang merangkul pinggang istri. Cahaya matahari di foto membuat wajah mereka tampak begitu bahagia.
Ia menghela napas panjang, mata mulai berkaca-kaca. "Kenapa semuanya harus terjadi begitu cepat ? Aku belum siap kehilangan kamu ..."
Di sebelah kanannya, tepat di belakang kursi yang dia tempati, sosok Rini berdiri dengan tenang. Ia mengenakan baju putih dengan rambut terurai dan bayi Rini yang tenang di dalam pelukannya. Tangannya ingin merentang untuk menyentuh bahu suaminya, tapi dia tahu bahwa Rizky belum bisa melihatnya.
Rini menatap wajah Rizky dengan penuh cinta dan kesedihan. Dia mengangkat tangan kanannya perlahan, menyentuh bagian belakang kepala Rizky dengan lembut—meskipun tidak bisa diraba, Rizky merasakan getaran hangat yang membuatnya sedikit terkejut.
"Aku ada di sini sayang," ucap Rini dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. "Aku selalu ada di sebelahmu..."
Rizky mengerutkan kening dan melihat ke arah belakangnya, tapi tidak melihat seorang pun. Ia menghela napas dan menggelengkan kepalanya. "Mungkin aku terlalu merindukanmu saja," bisiknya sambil kembali menatap foto itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki wanita terdengar dari pintu bengkel. "Rizky?"
Rizky menoleh dengan terkejut dan melihat seorang wanita mengenakan baju kerja kantor berwarna biru muda berdiri di sana—Sarah, mantan pacarnya yang sudah beberapa tahun tidak bertemu. Dia membawa tas makan berwarna merah dengan tangan kanannya.
"Sarah? Kamu ada di sini?" tanya Rizky dengan suara sedikit kaget.
Sarah mendekat perlahan, wajahnya penuh rasa simpati. "Aku baru tahu tentang Rini kemarin sore... aku langsung datang ke sini setelah kerja." Dia mengangkat tas makan yang dibawanya. "Aku bikin makan siang untukmu. Kamu pasti belum makan kan?"
Rizky menggeleng perlahan dan mengangkat tangan untuk menolak. "Maaf Sarah, aku tidak punya selera makan. Terima kasih sudah berusaha, tapi aku tidak bisa makan apa-apa sekarang."
Sarah mengangguk, lalu menurunkan tas makan ke atas meja kosong di sebelahnya. "Maaf ya Rizky... aku tidak bisa datang ke pemakaman Rini kemarin. Ada proyek penting di kantor yang tidak bisa aku tinggalkan," ucapnya dengan suara penuh penyesalan. "Aku sungguh menyesal mendengar kabar ini. Rini adalah orang yang baik..."
"Baiklah... kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku ya. Aku selalu ada untukmu,Rizky".
Saat berbicara, matanya menyelinap ke wajah Rizky yang pucat dan lelah. Di dalam hati, dia berpikir: Sekarang dia sendirian... dia butuh seseorang untuk merawatnya dan menemani dia melewati masa sulit ini. Seperti dulu, aku bisa jadi orang itu.
Di benaknya muncul kenangan lama—saat mereka masih bersama dulu, bagaimana Rizky selalu menjaganya dengan baik, bagaimana mereka sering pergi makan malam bersama dan berbagi cerita hingga larut malam. "Kita begitu cocok dulu, kenapa harus berpisah?" ucapnya pelan .