Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kenyataan pahit ( 2 ).
"Siap. Kami usahakan konsultasi dengan dokternya, Dan. Tapi untuk bagian repr*duksi, seperti yang saya bilang kemarin... kerusakannya cukup menonjol pada area panggul dan organ pentingnya. Saat itu Dokter yang menanganinya menduga ada kemungkinan besar beliau sulit bahkan hampir tidak bisa memiliki keturunan secara alami." jawab Serda Hafiz pelan namun jelas terdengar sampai ke telinga Bang Rinto.
"Benarkah tidak ada harapan sama sekali??" tanya Ronald lagi, suaranya terdengar putus asa.
"Menurut beliau saat itu sangat kecil kemungkinannya, Dan. Beberapa bagian organ vitalnya mengalami kerusakan yang tidak bisa di katakan sepele. Jadi untuk masalah keturunan, sepertinya memang..... Maaf.. agak sulit, Dan." Jawab Serda Hafiz.
Bang Rinto yang mendengarnya langsung tersandar lemas, kakinya serasa sulit untuk menapak, hatinya hancur berkeping. Kata 'tidak bisa punya anak' terus melekat berat dan begitu terasa dalam benaknya.
"Kalau aku tidak bisa punya anak. Lalu anak siapa yang sedang dikandung Anye saat ini???" Gumamnya mulai ada menyadari suatu hal yang terasa semakin menyayat perasaan.
Jemari Bang Rinto terkepal kuat, amarahnya meluap seakan hendak meledakan jantung. Matanya merah padam merasakan Anye telah mengkhianati dirinya, istrinya itu telah menerima laki-laki lain dalam hidupnya.
'Kenapa saat itu aku tidak mati saja??????? Bukanlah lebih terhormat jika aku gugur di medan pertempuran.'
//
Rasa kaget Anye tak hanya sampai disitu. Bang Ali menatap kedua matanya, tajam.. Tapi tidak menyakiti.
"Malam kamu begitu nyenyak dalam tidurmu, Abang memulainya. Awalnya malam itu kamu terus mengigau, terus terang hal yang tidak biasa. Jadi..........."
Anye menangis, ia berontak dan memukuli dada Bang Ali. Perasaannya campur aduk tak karuan. Isakan tangis terdengar sesak seolah ikut mengungkapkan isi hatinya.
Saat itu Bang Ali hanya bisa diam dan menerima amarah sang istri, jangankan untuk membalas, ada rasa marah pun tidak. Pikirannya melayang jauh. Ia ingat betul kejadian malam itu, sebelum Anye benar-benar tertidur dalam waktu yang cukup lama, ia memang mendengar Anye mengigau. Setiap gerak dan ocehan Anye perlahan cukup menggoda naluri dan keteguhan imannya sebagai pria. Akhirnya, ia sungguh 'mengunci' istrinya dan menitipkan benihnya sendiri.
Sekelebat kala itu, pemikiran inteligen nya memang mencurigai ada yang tidak beres dengan sang istri, bahkan saat itu ia tidak menemukan jejak apapun, hanya saja ia segera menepisnya. Tapi di hari ini, kecurigaannya terjawab sudah. Pasti saat itu Anye sempat bertemu dan menghabiskan waktu dengan Bang Rinto. Mungkin juga, ada kemungkinan besar mereka pernah 'menjadi satu'.
Jujur hati Bang Ali merasa sangat sakit, cemburu jelas membuatnya begitu hancur.
'Ini jelas anak ku, kan??'
Tapi di balik rasa sakit itu ia kembali menepis pikiran dan perasaannya yang sedang berperang hebat.
'Tidak peduli siapa ayah biologisnya. Selama anak ini lahir dari rahim Anye dan saat status Nyonya Ali masih melekat padanya, aku yang merawat dan menjaga mereka... anak ini adalah anakku. Aku yang akan mendidiknya, aku yang akan memberinya nama, dan aku akan selalu menjadi ayahnya.'
Sekuatnya Bang Ali memendam perasaan, ia lalu mengecup kening Anye sekali lagi. "Jangan banyak pikiran, apapun itu.. Cukup anteng di rumah dan jaga anak Abang baik-baik, terutama yang di perut."
//
Kesal, sesal, marah dan benci bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana takdir bisa menghancurkannya sampai seperti ini. Di saat hatinya sudah bahagia melambung tinggi hingga ke angkasa namun Tuhan langsung membantingnya ke bumi. Anye dan anak itu bukan miliknya, wajahnya seakan tertampar sangat keras.
"Jadi.. Untuk apa selama ini aku berjuang??aku bertahan hidup melawan maut, aku kembali hanya untuk kamu saja... Apa benar Tuhan memintaku kembali hanya untuk melihat istriku hamil anak laki-laki lain?" Nada suara Bang Rinto mulai pecah, isak tangisnya tertahan hingga membuatnya sulit bergumam.
Air mata Bang Rinto berlinang, memerah, memancarkan kekecewaan yang luar biasa menyakitkan. Pengorban yang ia lakukan, luka yang ia rasakan, rindu yang ia tahan... semuanya terasa begitu sia-sia. Ia merasa menjadi pria paling gagal dan tak punya harga diri.
Dengan segenap kekuatan yang ada, ia berjalan meninggalkan rumah sakit.
...
Anye gemetar saat melihat Bang Rinto masuk ke dalam rumahnya, perasaannya begitu campur aduk. Ia mencintai pria di hadapannya itu, tapi juga tidak sanggup menyakiti hati Bang Ali lebih dalam lagi.
"Kamu sudah berpindah ke pelukannya, kamu memberiku harapan palsu, padahal kau sudah membahagiakan orang lain? Kalau kamu tidak bisa melawan tenaga ku, setidaknya mulutmu bisa bicara atau teriak yang buat aku sadar kalau hatimu memang tidak pernah ada tempat untuk ku." Ucap Bang Rinto tanpa basa basi. Rasa sakit itu berubah menjadi amarah yang membara. Hatinya hancur lebur, remuk redam tak bersisa. Rasa cintanya untuk Anye hanyalah perjuangannya seorang diri.
Anye menangis melihat keadaan Bang Rinto, pria itu seperti membawa raga tanpa nyawa di hadapannya.
"Kita bicara dulu, Bang..!!" Ajak Anye meskipun hatinya sangat takut.
"Untuk apa??? Melihat kelemahanku??? Menertawakan kegagalanku sebagai laki-laki?? Melihat betapa b*****tnya Rinto sudah meng*auli istri orang??? Bejatnya Rinto yang meminta istri orang memuaskannya???? Kau ingat, Anye.... Sepuluh Anye pun bisa kudapatkan, tapi aku membenci makhluk berjenis wanita. Hanya saja, terima kasih kamu sudah berjuang dan bersedia melahirkan Al Huda untuk ku."
Bang Rinto pun meninggalkan rumah, ia tidak tau bahwa saat itu Bang Ali sudah mendengar semuanya. Ia menengadah menahan rasa sakit yang ia pendam dalam bentuk yang berbeda. Ia pahami, kesalahan ini hanya masalah 'waktu' dan keadaan yang mempermainkan mereka, ia juga tau posisi Bang Rinto sangat sulit.
'Tolong jangan khilaf lagi, Bang. Saya tau Abang tidak seburuk itu.'
Secepatnya ia mengambil ponsel dan mengirim pesan suara. "Tolong kau ikuti Dantonmu..!! Segera..!!!!"
:
Bang Ronald kelabakan mencari sahabatnya kesana kemari bahkan Danki sampai turun tangan mencarinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?? Kenapa Rinto bisa pergi tanpa jejak???" Tanya Bang Rico.
"Siap salah.. Ijin.. Kurang pengawasan, Bang. Saya tadi sedang menemui Serda Hafiz di ruang obat."
"Aduuhh.. Cepat cari, Abang takut Rinto nekat." Perintah Bang Rico sambil memberi arahan lanjutan disana sini.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu
💪💪