NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Di Atas Keabadian

Di tempat tertinggi.

Bukan sekadar puncak gunung. Bukan pula langit ketujuh yang pernah dicatat dalam kitab kuno. Tempat ini berada di atas segalanya—bahkan di atas konsep “atas” itu sendiri.

Ia disebut Dunia Surgawi Atas.

Sebuah ranah di mana eksistensi yang melampaui dewa berdiri sebagai hukum, sebagai poros, sebagai penentu keseimbangan. Di sini, waktu mengalir seperti sungai yang jinak. Ruang berlipat-lipat seperti tirai yang bisa disibakkan sesuka hati. Keabadian bukan lagi tujuan—melainkan titik awal.

Di tepi sebuah tebing yang menggantung di atas samudra awan tak berbatas, seorang pria berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.

Jubah putihnya beriak perlahan meski tak ada angin.

Tatapannya lurus menembus cakrawala.

Aura di sekelilingnya tenang—terlalu tenang. Seperti permukaan danau sebelum badai besar turun. Sesekali, sajak-sajak Dao berpendar samar di udara, membentuk karakter kuno yang berputar lalu menghilang. Setiap huruf memuat hukum alam yang bisa menghancurkan bintang jika dilepaskan.

Namun ia berdiri tanpa niat untuk melepaskannya.

“Kalau menghitung harinya…” gumamnya pelan.

Suaranya tidak keras, namun bergema jauh, seakan semesta sendiri mendengarkan.

“Bukankah ini sudah waktunya?”

Saat kalimat itu terucap, ruang di belakangnya beriak lembut.

Ia tidak menoleh.

Namun senyum tipis terlukis di sudut bibirnya.

“Adik Keempat. Adik Ketujuh.”

Dua sosok muncul dari kehampaan, berjalan keluar dari celah ruang yang menutup perlahan.

Seorang wanita berambut perak panjang dengan mata sebening kristal berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya cantik, namun menyimpan aura tajam yang sanggup membelah dimensi. Dialah Adik Keempat.

Di sampingnya, seorang pria bertubuh besar dan kekar menyeringai lebar. Bahunya selebar gerbang kota fana, dan tawanya—bahkan ketika belum dilepaskan—terasa seperti guntur yang tertahan. Dialah Adik Ketujuh.

“Kakak Tertua,” wanita itu berbicara lebih dulu, suaranya mengandung getaran kegembiraan yang sulit disembunyikan. “Kami merasakannya.”

Pria kekar di sampingnya tertawa keras, suaranya mengguncang awan di bawah tebing.

“Hahaha! Aku pikir musim dingin telah tiba! Ternyata itu hanyalah Qi milik Tuan yang menyapu seluruh Dunia Surgawi Atas!”

Kakak Tertua mengangguk perlahan. Matanya sedikit menyipit, menatap kejauhan.

“Semua orang sudah berkumpul?” tanyanya.

“Sudah,” jawab Adik Ketujuh. “Di kaki Gunung Dao. Di depan gerbang tempat Tuan berkultivasi tertutup. Tak satu pun berani absen.”

Adik Keempat menambahkan dengan nada penuh hormat, “Mereka menunggu dengan cemas… dan bersemangat.”

Kakak Tertua menarik napas panjang.

Baiklah.

“Kita tidak boleh membuat mereka menunggu lebih lama.”

Dalam satu langkah—

Dunia berubah.

Tiga sosok itu lenyap dari tepi tebing, meninggalkan ruang yang retak sejenak sebelum pulih kembali.

Gunung Dao berdiri seperti tombak yang menusuk inti semesta.

Di kaki gunung itu, berdiri sebuah gerbang raksasa berwarna hitam keemasan. Tingginya menjulang menembus kabut surgawi, dan di permukaannya terukir rune-rune kuno yang bersinar emas. Setiap rune adalah hukum. Setiap hukum adalah realitas.

Di depan gerbang itu, ribuan sosok berdiri.

Manusia.

Ras kuno.

Binatang suci dengan tubuh sebesar pegunungan.

Makhluk dari neraka yang aura gelapnya mampu memadamkan bintang.

Namun tak satu pun berbicara sembarangan.

Tak satu pun berani bergerak sembarangan.

Aura mereka mengguncang ruang. Jika salah satu dari mereka turun ke dunia fana, satu tatapan saja cukup untuk memusnahkan kerajaan.

Namun kini… mereka menunggu.

Dengan cemas.

Dengan harap.

Dengan rasa hormat yang bahkan tak pernah mereka berikan pada langit.

Kilatan cahaya muncul di udara.

Tiga sosok mendarat dengan ringan di barisan depan.

Saat mereka terlihat—

Seluruh kerumunan bergerak serentak.

Mereka menangkupkan tangan. Beberapa bahkan menundukkan kepala dalam.

“Kami memberi salam pada Kakak Tertua!”

Suara itu menggema seperti gelombang pasang.

Kakak Tertua—Sang Pilar Pertama—mengangguk perlahan.

Namanya adalah Cang Xuandi.

Tatapannya menyapu kerumunan, lalu berhenti pada gerbang raksasa yang berdiri sunyi.

“Setelah sekian abad…” gumamnya.

Jantungnya—yang telah berdetak selama ribuan tahun tanpa pernah goyah—kini bergetar.

“Tuan… telah mendapatkan pencerahan terakhir.”

Seolah menjawab ucapannya—

Rune di gerbang itu tiba-tiba menyala lebih terang.

Satu.

Dua.

Lalu seluruh permukaan gerbang dipenuhi cahaya emas menyilaukan.

Tanah bergetar.

Bukan sekadar gempa—melainkan getaran yang mengguncang struktur realitas.

Beberapa eksistensi di kerumunan tersentak, hampir terjatuh.

Langit terbelah.

Sebuah cahaya emas menembus ke atas, melampaui awan, melampaui dimensi, melampaui batas dunia.

Di dalam cahaya itu—

Siluet ribuan naga emas berputar, mengitari pusatnya.

Mengaum tanpa suara.

Namun setiap orang merasakan getarannya di jiwa mereka.

Cang Xuandi terbelalak.

Ini…

Tekanan itu.

Bukan tekanan yang memaksa tubuh.

Namun tekanan yang menghimpit jiwa.

Tekanan dari sesuatu yang berada… di atas pemahaman.

“Mustahil…” bisiknya.

“Tak kusangka… Tuan benar-benar menembus ranah yang bahkan dianggap mitos.”

Ranah yang disebut dalam kitab kuno sebagai—

Puncak yang tak memiliki nama.

Cahaya itu tiba-tiba menyusut.

Langit yang terbelah perlahan menutup.

Dan dalam satu detik yang terasa seperti keabadian—

Semua naga emas menghilang.

Keheningan turun.

Lalu…

Gerbang itu bergetar pelan.

Dengan suara berat yang mengguncang jiwa, gerbang raksasa mulai terbuka perlahan.

Asap tebal mengalir keluar, berwarna keemasan bercampur putih.

Setiap helai asap membawa Dao.

Setiap helaian membuat para eksistensi di luar gerbang gemetar.

Langkah.

Satu langkah terdengar dari dalam.

Hanya satu.

Namun cukup membuat jantung ribuan makhluk berhenti berdetak.

Sebuah kaki melangkah keluar dari balik kabut.

Kulitnya putih bersih. Langkahnya ringan.

Namun saat telapak kaki itu menyentuh tanah—

Boom!

Gelombang tak terlihat menyapu seluruh area.

Para eksistensi yang tadi berdiri tegak, kini merasakan tekanan yang membuat lutut mereka melemah.

Bukan karena paksaan.

Melainkan karena insting.

Insting untuk tunduk.

Satu per satu—

Mereka berlutut.

Manusia.

Ras kuno.

Binatang suci.

Monster neraka.

Tak ada pengecualian.

Karena mereka tahu.

Sosok yang keluar dari gerbang itu—

Adalah pusat segalanya.

Cang Xuandi menggertakkan gigi, menahan getaran dalam tubuhnya. Ia memaksa dirinya tetap berdiri sepersekian detik lebih lama—

Namun akhirnya ia pun berlutut, menangkupkan tangan dengan tegas.

Suaranya menggema lantang, penuh kebanggaan dan hormat.

“SAYA, SANG PILAR PERTAMA, CANG XUANDI—”

“MEMBERIKAN SELAMAT PADA TUAN AGUNG!”

Seolah menjadi pemicu—

Seluruh kerumunan meraung serentak.

“KAMI MEMBERIKAN SELAMAT PADA TUAN AGUNG!”

Suara itu mengguncang langit.

Mengguncang waktu.

Mengguncang takdir.

Kabut perlahan menghilang.

Dan sosok itu akhirnya terlihat sepenuhnya.

Seorang pria.

Wajahnya tampan dan berwibawa. Bukan ketampanan yang lembut, melainkan ketampanan yang membuat orang tak berani menatap terlalu lama.

Rambut hitam panjangnya jatuh anggun hingga pinggang, terikat oleh mahkota kecil berwarna emas yang bersinar lembut.

Jubahnya elegan—putih dengan garis emas yang mengalir seperti sungai cahaya.

Namun yang paling menggetarkan bukanlah penampilannya.

Melainkan—

Tatapannya.

Tenang.

Dalam.

Tak berbatas.

Seolah ia bisa melihat masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas.

Ia menatap ribuan makhluk yang berlutut di hadapannya.

Lalu—

Ia tersenyum tipis.

Senyum sederhana.

Namun membuat jantung semua orang bergetar lebih hebat daripada cahaya naga emas tadi.

Cang Xuandi mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah pria itu dengan mata yang berkilat.

“Tuan Zhao Tianyu,” ucapnya, suaranya kini lebih lembut, namun tetap penuh hormat.

“Selamat… karena telah berdiri di atas segalanya.”

Keheningan turun sekali lagi.

Zhao Tianyu.

Nama itu kini bukan sekadar nama.

Melainkan simbol.

Simbol dari puncak yang telah ditembus.

Ia menatap Cang Xuandi, lalu menatap yang lainnya.

Tatapannya tidak sombong.

Tidak dingin.

Melainkan… seperti seseorang yang baru bangun dari tidur panjang.

“Xuandi,” ucapnya pelan.

Hanya satu nama.

Namun membuat mata Sang Pilar Pertama memerah.

“Tuan.”

Zhao Tianyu mengangkat wajahnya, menatap langit yang tadi sempat terbelah.

“Akhirnya,” katanya lirih.

“Selesai.”

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!