Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Tahun Silam
Cahaya lampu gantung yang hangat menyiram ruang keluarga malam itu, Laras melangkah pelan, menghampiri Bapak dan Ibu yang sedang bersantai. Ada sedikit keraguan di wajahnya, namun semangat program OSIS tadi siang masih menyala di dadanya.
"Pak, Bu... Laras mau kasih tahu, di sekolah ada program baru dari OSIS namanya Peer-to-Peer Mentoring," buka Laras perlahan.
Bapak meletakkan korannya, menatap putri kesayangannya. Laras menjelaskan programnya dengan mata berbinar.
"Wah, bagus itu, Nduk," kata Bapak.
Laras menarik napas panjang, lalu tersenyum bangga.
"Ehm... Laras terpilih jadi mentor Matematika dan Ekonomi, Pak, Bu."
"Iya, enggak apa-apa, Nduk. Bapak bangga kalau kamu bisa bantu teman yang lain," jawab Bapak mantap.
Namun, senyum Laras sedikit menyusut. Ada satu ganjalan yang membuatnya merasa tidak enak.
"Tapi... kalau jadi mentor, Laras nanti pulangnya jadi terlambat karena harus sesi belajar dulu. Apa boleh, Pak?" tanyanya dengan suara yang sedikit mengecil.
Ibu yang tadinya asyik merajut, menghentikan gerakan jarum rajutnya sejenak. Beliau menatap Bapak, seolah sedang berbicara lewat pandangan mata. Keheningan sesaat itu membuat jantung Laras berdegup lebih kencang.
Bapak kemudian mengangguk kecil.
"Nduk, enggak apa-apa. Laras kan sudah izin dengan baik. Lagian ini kegiatan positif," lanjut Bapak dengan nada bijak.
Laras seketika merasa lega. Beban di pundaknya seolah terangkat. Ia langsung menghambur dan memeluk Bapak dengan erat.
"Makasih ya, Pak."
Namun, sedetik kemudian Laras teringat sesuatu. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Bapak dengan cemas.
"Tapi... Eyang gimana, Pak? Bapak tahu kan Eyang disiplin banget soal jam pulang Laras?"
Bapak tertawa kecil, mengusap kepala Laras dengan sayang.
"Sudah, jangan dipikirkan. Nanti Bapak yang bicara sama Eyang. Eyang pasti mengerti kalau ini urusan pendidikan."
Laras mengangguk mantap, hatinya kini benar-benar tenang. Dengan restu dari rumah, ia merasa siap menghadapi enam bulan penuh tantangan sebagai mentor.
"Ada apa?" suara itu muncul tiba-tiba, memutus kehangatan di ruang keluarga. Eyang Putri melangkah pelan namun berwibawa, sorot matanya yang tajam langsung menangkap gelagat pembicaraan serius antara Laras, Bapak, dan Ibu.
Eyang Putri duduk perlahan di sebelah Ibu.
"Kok bisa itu lho? Anak perempuan kok pulangnya sore-sore," tanya Eyang sambil menatap Laras lekat-lekat.
"Enggak sampai Maghrib kok, Eyang," tambah Laras lagi, mencoba memberikan jaminan.
"Laras janji sudah sampai rumah sebelum senja benar-benar turun."
Bapak kemudian menjelaskan dengan sabar mengenai program Peer-to-Peer Mentoring yang baru saja dicanangkan OSIS. Beliau memaparkan bagaimana Laras terpilih menjadi mentor Matematika dan Ekonomi untuk membantu teman-temannya yang kesulitan menjelang ujian sekolah.
Eyang terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat di tengah denting jarum rajut Ibu yang sempat terhenti.
"Ya terserah kamu, kamu kan bapaknya," ucap Eyang akhirnya, menyerahkan keputusan pada Bapak meski raut sangsinya belum sepenuhnya hilang.
"Tapi beneran belajar kelompok, kan? Enggak keluyuran toh?"
"Mboten, Eyang. Saestu..." sahut Laras cepat, berusaha meyakinkan sang nenek dengan nada paling tulus.
Ia tahu betapa Eyang sangat menjaga tata krama dan ketepatan waktu. Eyang Putri tidak langsung menyahut. Matanya beralih, menatap sebuah foto tua di dinding—foto Eyang Kakung yang nampak gagah dalam balutan beskap. Tatapan Eyang melunak, namun ada nada peringatan yang sangat serius dalam suaranya saat beliau kembali bicara.
"Ya sudah kalau begitu. Eyang cuma mengingatkan... sebagian orang ada yang tidak suka sama keluarga kita," ucap Eyang lirih sambil terus memandangi foto almarhum suaminya.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
(Tiga tahun yang lalu)
Keheningan rumah keluarga Widjaya hancur dalam satu dering telepon yang menyayat.
Kring... kring...
Mbak Ina mengangkat gagang telepon, "Halo... keluarga Widjaya di sini."
Detik berikutnya, wajah Mbak Ina pias. Matanya membelalak ngeri.
"Astaghfirullah! Baik, Pak. Terima kasih, kami akan segera ke sana!"
Telepon ditutup dengan kasar. Mbak Ina panik, ia berlari menyusuri koridor rumah yang biasanya tenang, suaranya menggelegar memecah kesunyian yang sakral.
"Bapak! Ibu! Kanjeng Eyang Putri!"
Suasana rumah yang tadinya hening seketika berubah tegang. Pintu-pintu kamar terbuka serempak. Bapak, Ibu, dan Eyang Putri keluar dengan raut wajah penuh tanya dan kecemasan.
"Iki opo toh yo? Kok bengok-bengok?" tanya Eyang Putri, suaranya bergetar, firasat buruknya mulai bekerja.
"Niku... Kanjeng Eyang Kakung kecelakaan"
Mendengar kabar itu, kaki Eyang Putri seolah kehilangan tulang. Dunia di bawah kakinya terasa runtuh. Namun, dengan sigap, Bapak langsung menangkap tubuh ringkih itu sebelum menyentuh lantai. Tanpa banyak bicara lagi, suasana rumah yang megah itu berubah menjadi medan kepanikan. Mereka sekeluarga bergegas menuju rumah sakit. Di dalam mobil, hanya ada doa yang dirapalkan dalam diam.
Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat Eyang Kakung terbaring lemah, namun sorot matanya tetap tajam, menyiratkan sisa-sisa kewibawaan yang tak luntur oleh rasa sakit.
Beruntung, Tuhan masih memberikan napas bagi pemimpin keluarga Widjaya itu, meski keadaannya tergolong parah.
Siang harinya, seorang petugas kepolisian datang membawa kabar yang mengejutkan. Berdasarkan olah TKP, kecelakaan itu dinyatakan murni akibat kelalaian mekanik yang menangani mobil korban.
"Bapak enggak percaya, Le," suara Eyang Kakung parau, namun tegas.
Beliau menatap Bapak Laras yang duduk di sisi ranjang.
"Bapak sudah kenal lama sama Seno. Dia orangnya kompeten. Kejadian ini... Bapak rasa pasti ada sangkut pautnya sama Pakdhemu."
Firasat Eyang Kakung memang jarang meleset. Sebagai pewaris keluarga Widjaya, beliau melewati banyak badai persaingan, ia bisa mencium aroma pengkhianatan di balik kecelakaan ini.
"Tapi pripun, Pak? Polisi sendiri yang bilang begitu berdasarkan bukti teknis," balas Bapak Laras dengan nada bingung sekaligus cemas.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka kasar. Seorang wanita dengan pakaian sederhana masuk dengan wajah sembap. Isak tangisnya pecah seketika saat ia bersimpuh di lantai rumah sakit.
"Jangan penjarakan suami saya, Pak... Saya mohon," ratap wanita itu sambil terisak hebat.
"Suami saya enggak sengaja, Pak... Tolong..."
"Loh, loh, loh... iki opo toh?" sahut Eyang Putri, wajahnya mengeras karena amarah yang bercampur rasa trauma.
"Kalau salah ya dipenjara! Nyawa suamiku itu taruhannya!"
Wanita itu justru semakin rendah bersujud, tangannya gemetar mencoba meraih ujung kain jarik Eyang Putri.
"Ampuni suami saya, Bu..."
Bapak menghela napas panjang, menatap wanita yang masih bersimpuh lemas di lantai marmer rumah sakit itu dengan tatapan iba.
"Bu, mari kita bicara di luar saja," ajaknya lembut, berusaha menjaga ketenangan di dalam ruang perawatan yang penuh alat medis tersebut. Namun, sebelum langkah Bapak mencapai pintu, suara serak Eyang Kakung terdengar memanggil. Beliau berusaha sedikit menegakkan punggungnya yang masih terbalut perban.
"Jangan penjarakan Seno, Le," pesan Eyang Kakung pendek namun penuh penekanan. Sorot matanya yang bijak seolah sudah membaca lapisan kebenaran yang tidak terlihat oleh mata awam. Bapak tertegun sejenak, lalu mengangguk mantap.
"Inggih, Pak."
Namun, takdir berkata lain.
Ijin mampir🙏