"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."
Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.
"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."
Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.
"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."
"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."
Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGIGAU YANG MENYAKITKAN
Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas ujung pisau.
Sakit, menakutkan, dan penuh ketidakpastian.
Kondisi Arsenio makin hari makin tidak stabil. Ada hari di mana ia terlihat cukup segar, bisa mengobrol sedikit dan tersenyum. Tapi ada juga hari-hari di mana ia hanya bisa terbaring lemas, matanya terpejam rapat, napasnya terdengar berat dan berisik seperti ada cairan di dalam paru-parunya.
Warna di wajahnya benar-benar sudah memudar.
Ia kini terlihat seperti patung porselen yang indah namun sangat rapuh, seolah-olah jika disentuh sedikit saja akan hancur berkeping-keping.
Malam itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Rumah yang besar itu sunyi senyap. Hanya terdengar suara desiran angin di luar jendela dan suara napas Arsenio yang terdengar putus-putus di dalam kamar.
Keyla tidak tidur.
Seperti biasa, ia duduk di kursi kecil tepat di samping ranjang, kepalanya ia sandarkan di tepi kasur, sambil menggenggam tangan suaminya erat-erat. Matanya terus terjaga, memantau setiap gerakan kecil pria itu.
Tiba-tiba...
"Key... Key..."
Arsenio mulai meracau. Matanya tetap terpejam, tapi tangannya bergerak-gerak gelisah di udara, seolah mencari sesuatu.
"Aku di sini, Sayang. Aku di sini," Keyla segera bangun, mengusap tangan dingin itu pelan. "Apa kamu haus? Atau mau ganti posisi?"
Arsenio tidak menjawab. Ia mengigau.
"Jangan pergi... Jangan tinggalin aku sendirian... Gelap... di sini gelap sekali..." bisiknya pelan, suaranya bergetar ketakutan.
Jantung Keyla serasa diremas kuat-kuat. Ia langsung memeluk tangan pria itu dan menempelkan pipinya ke sana.
"Enggak gelap kok, Arsen. Ada aku. Aku ada di sini. Terang benderang kan karena ada aku?"
Arsenio mendadak membuka matanya lebar-lebar.
Pandangannya kosong, kabur, dan tidak fokus. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan ketakutan.
"Lihat... banyak cahaya... terang sekali... Ada yang memanggil aku, Key..." isaknya pelan. "Mereka bilang aku harus ikut... tapi aku nggak mau. Aku mau sama kamu."
Air mata Keyla langsung meluncur deras. Ia tahu, itu adalah tanda. Tanda bahwa jiwa suaminya sudah mulai siap untuk pergi, meski raganya masih bertahan.
"Jangan dengerin mereka!" seru Keyla parau, memegang wajah pucat itu dengan kedua tangannya gemetar. "Kamu nggak boleh kemana-mana! Kamu harus di sini sama aku! Kamu janji bakal temenin aku sampai napas berhenti kan? Masih lama! Masih banyak waktu!"
Arsenio memutar kepalanya pelan, perlahan pandangannya mulai fokus pada wajah istrinya yang basah oleh air mata.
"Kau menangis lagi... Jangan nangis dong... Hati aku ikut sakit lihatnya..." bisik Arsenio, tangannya yang sangat berat dan dingin terulur, menyeka air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Aku nggak kuat, Arsen... Aku nggak kuat kalau kamu kayak gini..." tangis Keyla pecah, ia menjatuhkan dirinya ke dada bidang itu, memeluk tubuh kurus itu erat-erat di bawah selimut tebal. "Tolong sembuh ya... Kita obati lagi ya... Kita cari dokter lagi..."
"Sudah... sudah cukup, Sayangku..." Arsenio mengelus rambut Keyla pelan sekali, gerakannya sangat lambat, sangat lelah. "Aku sudah berjuang sekuat tenaga. Lihat nih tangan aku... sudah nggak ada tenaga sama sekali. Kaki aku juga berat sekali rasanya."
Arsenio menatap wajah istrinya dalam-dalam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku capek, Key... Capek sekali. Rasanya pengen tidur panjang. Tapi aku takut... aku takut kalau aku tutup mata, nanti aku nggak bisa buka lagi dan lihat wajah kamu."
"Kalau capek, tidur ya... Tidur yang nyenyak. Aku jagain kamu. Aku pegang tangan kamu terus. Nanti kalau kamu bangun, aku pasti masih ada di sini."
"Janji ya?"
"Janji."
Suasana menjadi hening kembali.
Tapi kali ini, Arsenio tidak lagi mengigau. Ia terlihat lebih tenang.
Ia menggenggam tangan Keyla dengan sisa kekuatan yang tersisa. Jari-jarinya yang dingin mengelus punggung tangan istrinya, seolah ingin menghafal setiap lekukannya untuk yang terakhir kalinya.
"Key..."
"Ya... aku dengar."
"Aku mau cerita sesuatu. Rahasia besar."
"Apa itu? Cerita dong."
Arsenio menarik napas panjang, napas yang terdengar sangat berat dan berbunyi 'ah... ah...' di setiap helanya.
"Dulu... sebelum aku tahu aku sakit parah, aku pernah punya pikiran jahat. Aku pikir hidup itu nggak ada gunanya. Kerja keras cuma buat numpuk harta, terus mati ninggalin semua. Aku jadi orang yang kejam, galak, dan nggak punya hati."
Arsenio berhenti sebentar, menelan ludah yang terasa pahit.
"Tapi Tuhan baik... Tuhan kirim kamu. Di saat yang paling akhir. Kamu datang bukan buat nyiksa aku, tapi buat nyelamatin aku. Kamu ajarin aku cara bahagia. Kamu ajarin aku rasanya dicintai. Karena kamu... detik-detik terakhirku ini jadi indah sekali. Jadi berharga sekali."
Keyla menangis tersedu-sedu mendengarnya. Ia tidak sanggup berkata apa-apa, hanya bisa mengangguk kuat-kuat.
"Jadi... kalau nanti aku sudah tidak ada... tolong bangga sama diri kamu sendiri. Kamu sudah melakukan pekerjaan yang sangat sempurna. Kamu sudah membuat pria yang paling menyedihkan ini mati dengan senyuman."
"JANGAN BILANG MATI!" Keyla memekik pelan, memeluk kepala pria itu lebih erat. "Belum! Belum waktunya! Masih ada banyak bab lagi! Kita masih harus cerita banyak!"
"Iya... iya... belum sekarang." Arsenio tersenyum lemah, menenangkan istrinya. "Tapi aku cuma mau kamu tahu. Aku sayang kamu. Sangat sayang. Lebih dari kata-kata bisa jelasin."
Arsenio menundukkan wajahnya, menyentuh dahi Keyla dengan dahinya sendiri.
Dua kepala bersandar satu sama lain.
Dua napas bercampur menjadi satu.
"Malam ini... biarkan aku tidur ya? Peluk aku terus ya..."
"Iya... tidur. Aku peluk erat-erat."
"Sayang kamu, istriku..."
"Sayang kamu juga, suamiku..."
Mata indah itu perlahan mulai terpejam.
Tapi kali ini, bukan tidur biasa.
Rasa kantuk itu terasa sangat dalam, sangat memanggil.
Arsenio tersenyum damai.
Dan perlahan, genggaman tangannya menjadi semakin longgar, semakin dingin.
Tapi Keyla tidak melepaskan.
Ia tetap memegang erat-erat.
Ia tetap berdoa dalam hati.
Meminta waktu berhenti sebentar, meminta Tuhan memberi mereka waktu lebih lama lagi sebelum halaman terakhir di mana itu tiba.
'Tidur yang nyenyak, Cintaku.
Tidur yang lelap tanpa mimpi buruk.
Aku ada di sini.
Aku tidak akan ke mana-mana.'