Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
***
Tiga bulan telah berlalu sejak tangisan Arshaka pertama kali memecah kesunyian di rumah dinas Sukamaju. Kehidupan Bagas dan Laras telah menemukan ritme barunya. Bagas kini bukan lagi sosok "penguasa" yang hanya tahu pulang untuk dilayani; ia telah bertransformasi menjadi ayah yang cekatan mengganti popok di tengah malam dan suami yang paham kapan istrinya butuh waktu untuk sekadar bernapas.
Pagi itu, udara Sukamaju terasa segar. Bagas tampak sibuk menyiapkan perlengkapan di dalam mobil dinasnya.
"Ras, sudah siap? Shaka sudah minum?" tanya Bagas sambil melongok ke dalam kamar.
Laras sedang merapikan jilbabnya di depan cermin. Wajahnya tampak lebih segar, rona kebahagiaan yang dulu sempat hilang kini telah kembali seutuhnya. "Sudah, Mas. Tas perlengkapan Shaka juga sudah di depan. Tapi beneran nggak apa-apa kita ajak Shaka ke kota? Panas lho, Mas."
Bagas menghampiri Laras, memegang kedua bahunya dari belakang dan menatap pantulan wajah istrinya di cermin. "Nggak apa-apa. Kita pakai mobil, AC-nya dingin. Mas mau cari beberapa keperluan bayi yang katanya di desa nggak ada. Sekalian... Mas mau ajak kamu jalan-jalan. Kamu sudah terlalu lama terkurung di rumah."
Laras tersenyum tipis. "Ya sudah, Laras panggil Gilang sama Arka dulu."
"Nggak usah, Sayang. Gilang sama Arka sudah Mas titipkan ke Bu Lik kamu. Mereka mau main di kebun jeruk katanya. Hari ini, cuma kita berdua dan Shaka," bisik Bagas sambil mengecup kening Laras.
Laras merasa ada yang aneh. Suaminya tampak terlalu bersemangat, namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.
**
Perjalanan menuju kota kabupaten memakan waktu sekitar satu jam. Di dalam mobil, Shaka tertidur pulas di dalam car seat belakang. Bagas sesekali melirik Laras yang tampak menikmati pemandangan di luar jendela.
"Ras, ingat nggak dulu waktu awal kita nikah?" tanya Bagas memecah keheningan.
Laras menoleh. "Ingat, Mas. Kenapa?"
"Dulu Mas pernah bilang, tugasmu cuma urus rumah dan urus Mas. Mas pernah melarangmu buat lanjut kursus menjahit yang kamu suka itu," Bagas menghela napas, tangannya satu memegang kemudi, satunya lagi meraih jemari Laras. "Mas merasa berdosa setiap kali ingat betapa egoisnya Mas dulu."
"Mas... kan sudah minta maaf. Laras sudah lupakan itu," jawab Laras lembut.
"Mas tahu. Tapi minta maaf saja nggak cukup buat Mas. Mas ingin menebus waktu lima tahun yang Mas curi darimu."
Mobil perlahan memasuki area pertokoan yang cukup strategis di pinggiran kota, dekat dengan akses menuju desa-desa sekitar. Bagas memelankan laju mobilnya dan berhenti di depan sebuah ruko kecil berlantai dua yang catnya masih tampak baru.
"Kok berhenti di sini, Mas? Toko perlengkapan bayinya di sebelah mana?" Laras bingung melihat ruko yang pintunya masih tertutup rapat itu.
"Turun dulu, yuk. Mas mau lihat-lihat sebentar," ajak Bagas.
Bagas menggendong Shaka yang mulai menggeliat bangun, sementara Laras mengekor di belakang dengan perasaan penuh tanda tanya. Bagas mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya, memutar lubang kunci pintu ruko, dan mendorong pintu besi itu hingga terbuka.
Di dalamnya masih kosong melompong. Ruangannya cukup luas, dengan lantai keramik putih yang bersih dan pencahayaan yang bagus. Namun, mata Laras tertuju pada sebuah papan kayu estetik yang bersandar di dinding sudut ruangan.
Di sana tertulis dengan ukiran yang sangat indah: "Kursus & Butik Larasati".
Laras menutup mulutnya dengan tangan. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Bagas yang kini berdiri di sampingnya dengan senyum bangga.
"Mas... ini apa?" suara Laras bergetar.
"Ini duniamu, Ras," jawab Bagas mantap.
"Mas sudah sewa ruko ini untuk dua tahun ke depan. Di lantai atas, Mas sudah siapkan ruangan yang bisa jadi tempat istirahat Shaka kalau kamu lagi di sini. Di bawah ini, nanti akan ada mesin jahit, manekin, dan tumpukan kain yang kamu suka."
Laras menggelengkan kepala, air matanya mulai menetes. "Tapi Mas... Laras bahkan belum lulus kursus dasar. Laras nggak tahu apa-apa soal butik."
Bagas merangkul pinggang Laras, mendekatkan tubuh mereka. "Itu langkah pertamanya. Lihat ini."
Bagas merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya terdapat bukti pembayaran lunas untuk Kursus Menjahit & Desain Mode Profesional di sebuah lembaga ternama di kota itu.
"Kursusnya mulai bulan depan, dua kali seminggu. Mas sudah cek jadwalnya, nggak akan ganggu waktu istirahatmu. Dan yang paling penting..." Bagas menatap mata Laras dengan sangat serius. "Setiap hari kamu kursus, Mas yang akan jaga Shaka, Gilang, dan Arka. Mas akan pulang kantor lebih awal. Mas ingin membuktikan ke orang-orang, terutama ke warga desa, kalau istri Kepala Desa itu bukan cuma pajangan di acara PKK."
"Mas beneran nggak malu?" bisik Laras. "Dulu Mas bilang, kalau Laras kerja, nanti orang pikir Mas nggak sanggup kasih makan keluarga."
Bagas tertawa getir, ia mengusap air mata di pipi istrinya. "Itu Bagas yang dulu, Ras. Bagas yang sombong dan bodoh. Sekarang Mas sadar, melihatmu bahagia dengan karyamu itu adalah kebanggaan terbesar buat Mas. Mas ingin kamu jadi contoh buat ibu-ibu di Sukamaju. Mas ingin mereka lihat kalau perempuan itu bisa mandiri, bisa punya prestasi, tanpa harus meninggalkan perannya sebagai ibu."
Laras memeluk Bagas dengan sangat erat, mengabaikan Shaka yang mulai merengek kecil di antara mereka. Rasa bangga dan haru membuncah di dadanya. Ia tidak pernah menyangka, pria yang dulu memenjarakannya dalam aturan kaku, kini justru menjadi orang yang membukakan pintu penjara itu dan memberinya sayap untuk terbang.
"Mas percaya sama Laras?" tanya Laras di sela isaknya.
"Mas bukan cuma percaya, Ras. Mas akan jadi pendukung nomor satumu. Mas mau nanti, baju-baju dinas Mas, atau baju lebaran anak-anak, semuanya labelnya 'Larasati Fashion'. Gimana? Kamu siap?"
Laras mendongak, menatap ruko kosong itu yang kini di matanya tampak penuh dengan warna-warni kain dan suara deru mesin jahit. "Siap, Mas. Laras siap."
Pagi itu, di depan ruko kecil yang akan menjadi saksi bisu mimpi-mimpinya, Laras merasa ia tidak lagi hanya memiliki sebuah nama. Ia memiliki masa depan. Dan Bagas, sang Kepala Desa yang dulu ia takuti, kini telah menjadi takhta tempatnya bersandar—takhta yang dibangun bukan dari kekuasaan, melainkan dari cinta dan penghormatan yang tulus.
***
Bersambung
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.