Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
PEMBUNUH?! BENAR-BENAR ADA PEMBUNUH?!
MEREKA BERANI MENYERANG PUTRA MAHKOTA?!
Ini bukan lagi kecelakaan biasa! Ini adalah pemberontakan dan percobaan pembunuhan terhadap pewaris tahta!
Di kapal nomor dua, tepat di belakang situ, Pangeran Wen menyaksikan segalanya dengan mata yang membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ia melihat kakaknya, Putra Mahkota, dalam bahaya maut! Dan ia melihat arah kapal itu...
KE ARAH JEMBATAN!!
Jika dibiarkan, kapal besar itu akan menabrak pilar jembatan dengan kecepatan penuh! Bisa hancur lebur dan semua orang di dalamnya pasti mati!
Tanpa berpikir panjang, tanpa takut sedikit pun, Pangeran Wen langsung berteriak keras memerintah anak buahnya.
"SEMUA ORANG KERAS KERJA! PUTAR KEMUDI KEKANAN PENUH! HALANGI DIA!"
"TUJUAN KITA ADALAH MENGHALANGI DAN MENGHENTIKAN KAPAL ITU SEKARANG JUGA!"
Pangeran Wen rela menabrakkan kapalnya sendiri demi menyelamatkan nyawa kakaknya dan mencegah bencana lebih besar!
Malam ini, darah dan air mata akan bercampur dengan cahaya lentera!
Shen Yu yang berdiri di atas jembatan menyaksikan segalanya dengan mata yang berubah tajam dan dingin.
'Apa-apaan ini?! Baru saja suasana hatinya membaik, malah ada yang mau bikin onar dan membunuh?' batinnya meledak kesal.
Melihat orang jahat berbuat seenaknya membuat darah Shen Yu mendidih. Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung bertindak!
Hap!
Dengan lompatan ringan, ia melompat turun dari jembatan dan mendarat di atap-atap rumah yang berjejer di sepanjang pinggiran sungai.
Sambil berlari cepat, tangan kanannya bergerak, dan seketika muncul sebuah ketapel besi yang kokoh dan kuat di tangannya. Ia sudah memuat sebuah batu bulat yang keras dan berat sebagai peluru.
Shen Yu melompat dari satu atap ke atap lainnya dengan kecepatan kilat, menuju posisi yang lebih tinggi dan strategis tepat di atas dan sedikit ke arah hulu sungai di mana kapal Putra Mahkota sedang oleng parah.
Matanya memindai setiap sudut kapal dengan ketajaman luar biasa. Ia mencari siapa pelakunya.
Dan tidak butuh waktu lama...
DI SANA!
Di bagian buritan kapal yang agak gelap, terlihat sosok seorang pria berpakaian gelap seluruhnya. Wajahnya tertutup kain hitam, hanya terlihat sepasang mata yang licik dan kejam.
Pria itu baru saja melempar pisau membunuh pelayan kecil tadi, dan sekarang... tangannya sudah menggenggam belati panjang lain, siap untuk melompat masuk ke ruang utama dan membunuh Putra Mahkota!
"Dasar bajingan!" geram Shen Yu pelan.
Tanpa berpikir dua kali, Shen Yu menarik tali ketapelnya sekuat tenaga sampai melengkung sempurna. Matanya terfokus tajam, mengunci pergerakan musuh itu.
SLETTT!!
Batu bulat itu melesat keluar dengan kecepatan dan tenaga yang mengerikan! Seperti kilatan cahaya yang tak terlihat mata telanjang!
Batu itu melayang tepat menuju tangan kanan si pembunuh yang sedang memegang pisau!
"AKHHH!!"
Suara jeritan kesakitan melengking tinggi!
Pria bertopeng hitam itu terkejut bukan main. Tangannya terhenti di udara, belati di tangannya terlepas dan jatuh ke sungai karena rasa sakit yang luar biasa saat batu itu menghantam pergelangan tangannya dengan keras!
"SIAPA?!! SIAPA YANG BERANI?!" teriak si pembunuh panik, memegang tangannya yang terasa remuk. Ia menatap panik ke sekeliling mencari siapa yang menyerangnya.
Shen Yu di atas atap hanya menyeringai puas.
"Main-main denganku..." bisiknya dingin. "Nah, sekarang urusan jadi lebih menarik!"
Si pembunuh utama baru saja merasakan sakit yang luar biasa di tangannya, namun Shen Yu tidak memberinya waktu untuk bersantai atau memanggil kawan-kawannya.
Matanya yang tajam terus memindai dek kapal yang gelap dan kacau itu.
"Satu... dua... tiga... oh, ternyata kalian datang berbondong-bondong?" bisik Shen Yu dingin.
Terlihat beberapa sosok lain yang juga mengenakan pakaian gelap mulai keluar dari persembunyian. Mereka awalnya berniat menyerang Putra Mahkota dengan diam-diam, tetapi sekarang rencana mereka terbongkar dan mereka mulai panik.
Namun, Shen Yu tidak akan memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri atau melukai siapa pun lagi.
SLETT! SLETT! SLETT!
Satu per satu batu keras melesat keluar dari ketapel Shen Yu dengan kecepatan kilat!
Shen Yu menembak dengan presisi yang luar biasa. Ia tidak menembak sembarangan. Setiap lemparannya selalu tepat mengenai titik-titik lemah tubuh musuh:
- Pergelangan tangan: Agar mereka melepaskan senjata dan tidak bisa memegang pisau lagi.
- Siku: Agar lengan mereka lemas dan tidak bisa mengayunkan serangan.
- Lutut: Agar kaki mereka lemas dan mereka jatuh berlutut atau duduk di tempat, tidak bisa lari atau menyerang.
- Bahkan ada yang tepat mengenai bahu atau leher bagian bawah, membuat mereka langsung kaku dan tak berdaya seketika!
"AKHH!! TANGANKU!!"
"APA INI?! DARI MANA SERANGAN INI DATANG?!"
"LUTUTKU PECAH!! AKU TIDAK BISA BERDIRI!!"
Satu per satu para pembunuh itu berteriak kesakitan dan jatuh bergelimpangan di atas dek kapal dalam hitungan detik!
Mereka sama sekali tidak melihat siapa yang menyerang mereka. Serangan itu datang dari atas, cepat, dan sangat menyakitkan. Rasanya seperti ditabrak palu besi raksasa!
Dalam waktu kurang dari satu menit, seluruh penyerang yang ada di dek luar sudah tumbang semua, merintih kesakitan dan tidak bisa bergerak sedikit pun.
Senjata-senjata tajam mereka bertebaran di lantai kayu.
Di atas kapal, suasana yang tadinya mencekam dan berbahaya kini berubah seketika.
Para pengawal Putra Mahkota yang tadinya panik dan sibuk menahan musuh, kini hanya bisa berdiri ternganga melihat para penjahat itu tiba-tiba semua jatuh tanpa tahu sebabnya.
"Mereka... mereka kenapa tiba-tiba semua jatuh?!" teriak seorang pengawal bingung.
"Seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang memukul mereka satu per satu!"
Dan tentu saja, di balik semua keajaiban itu...
Shen Yu berdiri di atas atap rumah yang tinggi, napasnya sedikit memburu namun wajahnya tenang dan dingin. Ia memutar-mutar ketapelnya di jari dengan santai.
"Sudah selesai," gumamnya pelan. "Jangan sampai menarik perhatian..."
Ia menoleh sebentar ke arah kapal Pangeran Wen yang sedang berusaha keras mengerem laju kapal Putra Mahkota agar tidak menabrak jembatan.
Berkat tindakan cepat Pangeran Wen, kapalnya berhasil menabrak dan menahan laju kapal Putra Mahkota tepat sebelum menabrak pilar jembatan.
DUG!!
Benturan keras terdengar, kayu-kayu berderit nyaring, namun akhirnya kapal besar itu berhasil dihentikan dan dikendalikan kembali.
Para pengawal elit dari kapal Pangeran Wen segera melompat menyeberang ke kapal Putra Mahkota dengan pedang terhunus.
"SEMUA ORANG KEPALA BAWAH! JANGAN BERGERAK!" teriak mereka keras.
Mereka dengan cepat mengamankan seluruh area. Dan apa yang mereka temukan? Para penyerang yang tadi gagah perkasa kini sudah semua tergeletak di lantai, merintih kesakitan dengan tangan dan kaki yang lumpuh seketika!
Mereka bingung tetapi tidak membuang waktu. Segera mereka mengikat tangan dan kaki para penjahat itu erat-erat.
Putra Mahkota sendiri ternyata hanya terluka ringan di lengannya dan sedikit kaget, namun nyawanya selamat berkat pertolongan cepat ini.
"Cepat! Bawa Yang Mulia Putra Mahkota kembali ke Istana segera! Dan bawa juga tahanan-tahanan ini!" perintah Pangeran Wen dengan wajah murka.
Namun, saat dalam perjalanan kembali atau saat hendak diinterogasi...
"GUK... GUK...!!"
Satu per satu para pembunuh itu tiba-tiba kejang-kejang hebat! Wajah mereka membiru, busa keluar dari mulut, dan dalam hitungan detik mereka semua mati mengerikan!
Para pengawal terkejut dan cepat memeriksa mulut mereka.
"Yang Mulia! Mereka... mereka menelan racun!" lapor seorang pengawal dengan wajah pucat.
"Ada racun tersembunyi di bawah lidah mereka! Begitu rencana gagal atau tertangkap, mereka langsung meminumnya untuk bunuh diri!"
Pangeran Wen mengepal tangannya kuat-kuat sampai urat-urat tangannya menonjol.
"Sungguh terencana dengan sempurna..." geramnya pelan penuh amarah.
"Bahkan tidak ada satu pun yang tersisa untuk dimintai keterangan. Ini bukan kerjaan penjahat jalanan biasa. Ini adalah organisasi rahasia yang sangat berbahaya!"
Berita ini tentu saja sampai dengan sangat cepat ke telinga Kaisar yang sedang berada di Istana.
Saat Kaisar melihat putra sulungnya—Putra Mahkota—datang dengan wajah pucat dan luka di badan, serta mendengar bahwa nyawa putranya nyaris melayang...
"BAJINGAN!" Suara auman kemarahan Kaisar bergema hingga ke luar tembok istana!
Seluruh ruangan terasa mengguncang!
"BERANI-BERANINYA MEREKA MENGACAU KETENTRAMAN NEGERI! BERANI-BERANINYA MENGANCAM NYAWA PUTRA MAHKOTA!!" teriak Kaisar dengan mata memancarkan api murka.
Apalagi saat tahu bahwa semua pelaku sudah mati bunuh diri dan tidak ada informasi sedikit pun yang bisa didapat, kemarahan Kaisar makin memuncak.
"Siapa?! Siapa dalang di balik semua ini?!" Kaisar memukul meja dengan keras hingga piring-piring berantakan.
"Aku perintahkan! CARI TAHU SELURUH JEJAKNYA! SIAPAPUN ITU, AKU AKAN HUKUM DENGAN BERAT!"
Malam yang seharusnya penuh kebahagiaan Festival Musim Gugur itu berubah menjadi malam yang mencekam dan penuh tekanan bagi seluruh penjuru kota.