NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9:Hanya Bayangan yang aku hirup

Pintu lift terbuka dengan denting halus, membawa kami turun menuju lobi yang sudah sepi. Aku melangkah dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, merasa seperti raga yang berjalan tanpa jiwa. Debat kusir dengan Danendra benar-benar menyedot habis seluruh energiku.

Sesampainya di parkiran bawah tanah, Danendra membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk tanpa sepatah kata pun, menyandarkan punggungku pada kursi kulit yang dingin. Suasana di dalam kabin mobil seketika terasa mencekam namun juga sunyi di saat yang bersamaan.

Begitu Danendra masuk ke kursi kemudi dan mesin mulai menderu halus, aku hanya memalingkan wajah ke arah jendela. Aku terlalu lelah untuk sekadar bertanya ke mana dia akan membawaku, atau mengapa dia masih menyimpan gantungan kunci bintang itu. Mataku terasa panas, namun air mata enggan keluar; mereka seolah ikut mengering bersama tenagaku yang terkuras.

Danendra menjalankan mobilnya perlahan keluar dari gedung kantor. Ia tidak menyalakan musik, tidak juga mencoba memulai percakapan. Ia seolah paham bahwa saat ini, satu kata saja darinya bisa membuatku meledak atau hancur berkeping-keping.

Di bawah temaram lampu jalanan Kota J, aku memejamkan mata sejenak. Aku benci kenyataan bahwa setelah enam tahun, aroma dan kehadirannya tetap menjadi satu-satunya hal yang terasa familiar di tengah keterasinganku. Aku benci bahwa zirah yang kubangun selama ribuan hari bisa hancur hanya dalam satu malam karena "pemaksaan" manisnya.

"Istirahatlah, Zal. Perjalanan ke kost-mu masih lima belas menit lagi," suaranya terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan yang menenangkan.

Aku tidak menjawab. Aku tetap diam, membiarkan tubuhku tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan ini. Untuk malam ini saja, aku membiarkan diriku kalah. Aku membiarkan diriku dijaga oleh pria yang dulu kuusir dengan paksa. Tenagaku benar-benar habis, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berhenti mencoba untuk menjadi kuat.

Mobil terus melaju menembus malam, membawa dua orang yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, menuju sebuah tujuan yang entah akan berakhir menjadi penyembuhan atau luka baru yang lebih dalam.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi tinggi yang sudah sangat kukenali. Aku membuka mata perlahan, menatap keluar jendela, dan seketika rasa kantukku hilang digantikan oleh rasa heran yang menusuk.

Ini gerbang kostku.

Aku menoleh ke arah Danendra dengan kening berkerut. "Kamu... tahu dari mana aku tinggal di sini?" tanyaku dengan suara serak. "Seingatku, aku nggak pernah kasih tahu alamatku ke kantor, apalagi ke kamu."

Danendra mematikan mesin mobil, membuat kesunyian di antara kami terasa berkali-kali lipat lebih berat. Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.

"Valerie," jawabnya singkat. "Dan sedikit bantuan dari data karyawan magang di meja kerja Bagas."

Aku mendengus pelan, nyaris tertawa getir. "Ternyata benar, ya. Kamu memang nggak pernah membiarkan aku punya ruang pribadi."

Danendra akhirnya menoleh. Di bawah temaram lampu jalanan yang masuk melalui kaca mobil, matanya tampak begitu dalam. "Bukan bermaksud lancang, Zal. Aku cuma perlu tahu kalau kamu pulang ke tempat yang aman setiap malamnya. Hanya itu."

Aku terdiam, tidak punya tenaga lagi untuk mendebat alasan "perlindungan" yang selalu ia agungkan itu. Aku meraih tas kerjaku, bersiap untuk keluar dari ruang sempit yang sejak tadi membuat dadaku sesak. Namun, saat tanganku menyentuh gagang pintu, suara kunci otomatis berbunyi. Klik.

Danendra mengunci pintunya.

"Nen, buka pintunya. Aku mau istirahat," ucapku tanpa menoleh.

"Sebentar saja, Zal," pintanya. Suaranya tidak lagi memerintah seperti di kantor, melainkan terdengar sangat rapuh. "Enam tahun aku nunggu momen ini. Nunggu bisa duduk sedekat ini sama kamu tanpa perlu takut kamu lari lagi."

Ia mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh punggung tanganku yang dingin di atas pangkuan. Aku tersentak, ingin menariknya, tapi genggamannya kali ini terasa sangat hangat dan memohon.

"Aku nggak tahu apa yang terjadi empat tahun lalu sampai kamu benar-benar memutus semua akses dariku. Aku nggak tahu luka apa lagi yang aku buat tanpa aku sadari," bisiknya pedih. "Tapi malam ini, biarkan aku egois sebentar. Biarkan aku ngerasa kalau kamu masih ada di sini, nyata, bukan cuma bayangan yang aku kejar setiap malam."

" Aku capek nen,sangat capek, stop untuk semua ini pergilah nen,cari wanita lain yang pantas untuk berada di sisimu,wanita yang benar-benar mencintai kamu dengan sepenuh hatinya ,wanita yang mampu membuat kamu hangat,wanita yang selalu menatapmu dengan penuh cinta,bukan wanita dengan tatapan dingin seperti aku,kamu pantes mendapatkan yang lebih dari aku,lupakan aku stop mengejar bayangan itu Danendra " ucapku lirih dan kosong

Sayangnya, mataku cuma mau menatap wanita dingin ini, Zal. Dan hatiku cuma mau dihangatkan oleh kamu," sahutnya dengan suara yang pecah.

Danendra tidak melepaskan genggamannya. Justru, ia mempereratnya seolah jika ia melemah sedikit saja, aku akan menguap seperti embun. Ia menundukkan kepala, membiarkan dahinya bersandar di atas tangan kami yang saling bertaut. Aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur, sarat akan beban yang ia pikul sendirian selama ini.

"Kamu bilang aku pantas mendapatkan yang lebih baik? Kamu salah," bisiknya pedih. "Yang lebih baik bagiku adalah kamu yang jujur sama perasaanmu sendiri. Aku nggak butuh wanita lain yang menatapku penuh cinta kalau orang itu bukan kamu."

Aku memalingkan wajah, menatap kosong ke arah deretan toko yang sudah tutup di seberang jalan. "Cinta nggak cukup buat mempertahankan kita, Nen. Aku cuma bakal terus menyakiti kamu. Kamu lihat sendiri, kan? Enam tahun berlalu dan aku masih tetap sama. Aku masih Azzalia yang akan mendorongmu pergi setiap kali kamu mencoba mendekat."

"Maka biarkan aku yang bertahan, Zal! Biarkan aku yang terluka, asal itu karena kamu!" Suaranya naik satu oktav, penuh desakan yang menyayat hati. ia akhirnya mengangkat kepalanya, menatapku tepat di manik mata. Ada kilatan amarah yang bercampur dengan kasih sayang yang luar biasa besar di sana.

"Lupakan kamu? Berhenti mengejar bayangan?" Danendra tertawa getir, air mata kini jelas terlihat menggenang di pelupuk matanya. "Aku sudah mencoba, Zal. Sumpah, aku sudah mencoba ribuan kali di setiap malam yang sunyi. Tapi bayanganmu itu lebih nyata dari napas yang aku hirup. Menyerah darimu itu sama saja dengan menyerah untuk hidup."

Aku tertegun. Lidahku kelu melihat kerapuhan pria yang tadi siang begitu berkuasa di ruang rapat. Zirah besiku yang sudah hancur kini terasa seperti debu yang tertiup angin. Aku lelah bersikap kejam, tapi aku juga takut untuk kembali luluh.

"Buka pintunya, Nen. Aku mau pulang," ucapku akhirnya, kali ini tanpa emosi. Hanya ada kekosongan yang amat sangat.

Danendra menatapku lama, mencari sisa-sisa kehangatan di wajahku yang membeku. Setelah keheningan yang terasa seperti selamanya, ia mengembuskan napas panjang dan melepaskan tanganku. Suara kunci otomatis berbunyi lagi. Klik.

"Selamat istirahat, Azzalia," ucapnya lirih, kembali ke mode formal yang dingin namun suaranya tetap bergetar. "Besok jam sembilan pagi. Aku tidak terima alasan apa pun untuk keterlambatanmu."

Aku segera membuka pintu mobil dan keluar tanpa menoleh lagi. Aku berjalan cepat masuk ke dalam gerbang, namun tepat sebelum gerbang itu tertutup, aku sempat mendengar suara mesin mobilnya yang masih diam di tempat. Aku tahu dia masih di sana, memastikan aku benar-benar masuk ke dalam gedung kost dengan aman.

Malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci rapat, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena marah, tapi karena aku sadar, Danendra benar. Sejauh apa pun aku berlari, aku tidak akan pernah bisa benar-benar pergi dari pria yang sudah menjadikan namanya sebagai bagian dari napasku.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!