NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: PECAHNYA PERANG SURGA

Kata-kata terakhir Nyxarion belum sepenuhnya lenyap bergema di sudut-sudut aula, namun kesabaran Kaelthar telah habis ditelan amarah. Tidak ada lagi negosiasi, tidak ada lagi perdebatan kata-kata. Hanya ada hukum besi yang telah dilanggar, dan hukuman yang harus dibayar.

“Kau mengkhianati segalanya!” raung Kaelthar.

Suaranya meledak seperti guntur yang membelah langit. Dalam sekejap mata, sosok kokoh itu lenyap dari posisinya, meninggalkan hanya gelombang kejut yang membuat tirai cahaya di aula itu berkibar hebat. Ia melesat dengan kecepatan yang melampaui batas pikiran, tombak besar di tangannya bersinar biru pekat, memancarkan energi pertempuran yang murni dan ganas.

Ujung tombak itu ditujukan tepat ke jantung Nyxarion, sebuah serangan yang seharusnya mampu menembus pertahanan apa pun, membelah bahkan batu adamantinum sekalipun.

Namun… hal aneh terjadi.

Nyxarion tidak bergerak mundur. Ia tidak mengangkat senjata. Ia bahkan tidak menutup matanya.

Saat tombak mematikan itu tinggal beberapa inci lagi menghujam dadanya, tubuh Nyxarion… berubah.

Bukan menghindar. Bukan juga memblokir.

Tubuhnya yang padat dan nyata seketika menjadi kabur, seperti tinta yang jatuh ke dalam air, lalu… lenyap.

Wush!

Tombak Kaelthar menembus tempat di mana Nyxarion berdiri sedetik yang lalu, menghantam lantai kristal dan menciptakan retakan bintang yang memancarkan percikan api energi. Sang jenderal terpaksa memutar tubuhnya untuk menahan momentum serangannya, terkejut oleh apa yang baru saja ia lihat.

“Dia menghilang?” geram Kaelthar, matanya menyapu ruangan dengan cepat, mencari jejak musuhnya.

“Bukan menghilang,” suara Seraphel terdengar tegang dan panik. Penjaga waktu itu dengan cepat mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Roda-roda mekanis di atasnya berputar liar, berdecit keras seolah bekerja melawan beban yang tak tertahankan. “Aku akan membekukan waktu! Selama tiga detik saja! Itu cukup untuk menangkapnya!”

Seraphel mengucapkan mantera kuno. Kekuatan waktu yang dahsyat dilepaskan.

Di sekitar mereka, segalanya berhenti. Partikel debu yang melayang membeku di udara. Aliran energi berhenti bergerak. Bahkan nyala cahaya di pilar-pilar aula pun mati sejenak. Seluruh dunia di dalam ruangan itu terperangkap dalam kebisuan abadi.

Semua, kecuali satu titik gelap di tengah ruangan.

Nyxarion masih bergerak.

Ia berjalan santai, melangkah melewati Kaelthar yang membeku, melewati Altharion yang terpaku, seolah hukum waktu yang diciptakan Tuhan sendiri tidak berlaku baginya lagi. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan kesombongan yang dingin.

“Tidak mungkin…” bisik Seraphel, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Usahanya memaksakan kekuatan membuat tubuhnya gemetar hebat. “Bagaimana bisa…?”

“Dia berada di luar sistem!” teriak Seraphel akhirnya, melepaskan mantranya karena tidak sanggup lagi menahan beban itu. Waktu kembali berjalan normal, namun kepanikan kini merajalela.

Sebelum yang lain sempat bereaksi, Vaelion sudah bertindak.

“Jika dia bermain dengan ruang, maka aku akan menguncinya!” seru Vaelion.

Tangan kanannya bergerak cepat, melukis simbol-simbol rumit di udara. Segera, dinding-dinding hitam pekat muncul dari ketiadaan, menutup setiap celah, setiap sudut, setiap kemungkinan jalan keluar. Ia menciptakan sebuah kotak dimensi yang tertutup rapat, sebuah penjara di mana tidak ada yang bisa masuk maupun keluar kecuali ia mengizinkannya.

“Kau terperangkap, Nyxarion!” seru Vaelion. “Di sini, kau tidak punya tempat untuk pergi!”

Nyxarion berhenti. Ia menatap dinding hitam di sekelilingnya, lalu menatap Vaelion dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kau pikir dinding bisa menahan aku?” tanyanya pelan.

Tanpa menunggu jawaban, Nyxarion melangkah maju. Ia tidak mencoba menghancurkan dinding itu. Ia tidak meledakkannya dengan kekuatan. Ia hanya… berjalan melewatinya.

Tubuhnya menembus materi keras penghalang itu seperti asap menembus kain kasa. Tidak ada suara, tidak ada perlawanan. Bagian depan tubuhnya sudah berada di luar kotak, sementara bagian belakangnya masih terlihat di dalam. Ia benar-benar telah menjadi satu dengan kehampaan itu sendiri.

“Dia bukan lagi bagian dari realitas penuh…” gumam Vaelion, suaranya bergetar menyadari bahaya yang sesungguhnya. “Dia telah memutuskan ikatannya dengan dunia ini. Menyerangnya seperti mencoba memukul bayangan dengan tongkat.”

Kekacauan semakin menjadi-jadi. Altharion segera menggerakkan kekuatannya, memancarkan cahaya bintang yang terang benderang untuk menerangi setiap sudut gelap, mencoba menandai keberadaan Nyxarion. Namun musuh mereka kini bergerak secepat pikiran, muncul di sini, lenyap di sana, menjadi hantu yang nyata namun tak tersentuh.

Namun di tengah kekacauan pertempuran yang baru saja meletus itu, ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang terjadi di luar sana.

Krak!

Suara itu bukan berasal dari benturan senjata.

Suara itu berasal dari langit.

Semua mata—baik milik para Seraph yang bertarung maupun yang sedang bertahan—serentak menoleh ke arah kubah besar Aula Cahaya yang tembus pandang menuju angkasa luar.

Warna langit Elarion yang biasanya indah bergradasi ungu dan biru, kini berubah menjadi gelap gulita. Bukan karena malam, melainkan karena ada sesuatu yang menutupinya.

Dan tepat di tengah langit itu, garis tipis yang sebelumnya hanya terlihat seperti benang halus… kini merekah.

Membesar.

Menjadi celah yang menganga lebar, seperti luka yang robek secara paksa. Dari celah itu, bukan cahaya yang keluar, melainkan ketiadaan mutlak, sebuah kehitaman yang begitu pekat hingga mata sakit untuk memandangnya.

Retakan itu tidak hanya membesar, ia… bernapas.

Dan dari balik kegelapan yang mengerikan itu… sesuatu bergerak.

Sesuatu yang besar.

Sesuatu yang hidup.

Suara gemuruh rendah mulai terdengar, bukan melalui udara, melainkan langsung bergetar di dalam tulang-tulang mereka, di dalam inti jiwa mereka masing-masing. Itu adalah suara kelaparan. Suara keinginan untuk menelan segalanya.

Pertarungan antara mereka terhenti sejenak. Bahkan Nyxarion pun diam, menatap celah itu dengan mata yang berbinar aneh, seolah sedang menyaksikan kelahiran sesuatu yang ia nanti-nantikan.

“Sudah terlambat…” bisik Nyxarion, dan suaranya terdengar penuh kemenangan sekaligus keputusasaan. “Pintu telah terbuka.”

Langit yang menjadi singgasana mereka kini telah retak parah. Dan dari balik celah itu, mimpi buruk terbesar sepanjang sejarah mulai melangkah masuk ke dalam dunia mereka.

Perang saudara di antara mereka kini terasa begitu kecil, tidak berarti, dibandingkan dengan malapetaka yang baru saja memulai aksinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!