“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Kedua
PT Hasby Property Development.
Kening Sekar berkerut. Ia membuka map itu dan beberapa lembar kertas langsung terjatuh ke lantai. Ia membungkuk memungut lembaran-lembaran itu lalu meletakkannya di atas meja.
Surat Perjanjian Jual Beli.
“Mas Raka membeli apartemen?” gumamnya pelan. “Tapi kapan? Buat apa?”
Ia menarik dokumen itu lalu membacanya lebih teliti. Matanya bergerak cepat menelusuri setiap baris: alamat apartemen, luas ruangan, nomor unit.
Lalu pandangannya berhenti pada tanggal transaksi pembelian unit tersebut. Sekar membeku. Tanggal yang tertera menunjukkan apartemen itu dibeli tepat setahun lalu.
Ia mengambil beberapa lembar kertas lain yang ikut terjatuh tadi. Beberapa di antaranya adalah tagihan fasilitas apartemen—bukti pembayaran Wi-Fi, listrik, dan iuran pengelolaan—semuanya untuk unit yang sama.
Namun satu hal yang menarik perhatian Sekar. Sebuah kartu anggota dari sebuah klub kebugaran khusus perempuan. Tidak ada nama. Di sana hanya tertulis:
Aurelia Pilates Studio
VIP Member Access
Member ID: 110220
Lengkap dengan kode barcode di bagian bawah.
Sekar merasa sesak oleh satu asumsi yang perlahan muncul di kepalanya. Apartemen itu bukan sekadar investasi. Ada seseorang yang menggunakan tempat itu. Seseorang yang sama yang menjadi anggota VIP pilates.
“Kalau apartemen ini dibeli setahun yang lalu …,” gumamnya lirih, kalimatnya menggantung. “itu artinya kalian berhubungan sejak saat kita belum menikah, Mas? Atau bahkan kita baru saling mengenal?”
Tangannya mengepal erat. Senyum getir perlahan muncul di bibirnya.
“Papa kamu jahat banget, ya, Dek,” bisiknya pelan, menepuk perutnya yang masih rata.
Sekar kembali menatap dokumen di tangannya. Ia tertawa pelan, tetapi tidak ada sedikit pun rasa lucu dalam suara itu.
“Jadi selama ini kamu bermain di belakangku, Mas? Ternyata bukan dia perempuan kedua. Akulah perempuan kedua itu.”
Air mata jatuh tanpa ia sadari. Sekar mengusapnya kasar, lalu menatap dokumen di tangannya. Tumpukan kertas itu kini terasa seperti pengakuan diam-diam yang menghancurkan hati.
‘Kalau memang kamu sudah punya kekasih waktu itu, untuk apa memilihku, Mas? Kenapa kamu menawarkan cinta dan janji pernikahan di saat kamu sudah memiliki seseorang?’
Pikiran-pikiran itu membuat dada Sekar terasa semakin nyeri. Ia mengembuskan napas panjang. Dengan tangan yang masih gemetar, ia memasukkan bukti-bukti itu ke dalam tasnya, lalu merapikan kembali beberapa barang di meja seperti semula.
Dengan langkah gontai ia keluar dari ruangan.
Bagas buru-buru berdiri saat melihatnya. Pria itu menundukkan kepala, seolah tidak berani menghadapi tatapan Sekar.
“Sejak kapan kamu tahu kalau Mas Raka selingkuh?” tanya Sekar tanpa basa-basi. “Apa sejak awal kamu masuk ke perusahaan?”
Bagas tidak langsung menjawab. Kepalanya justru semakin menunduk.
Sekar mengembuskan napas panjang. Ia menggeleng pelan, lalu terkekeh miris.
“Saya pikir kamu sama seperti Bapak kamu, Mas,” ucapnya lirih. “Kalau almarhum Ayah tahu kamu menyakiti putrinya satu-satunya, kamu tahu betapa kecewanya beliau?”
Bagas tetap diam.
“Saya menghormati kamu selama ini,” lanjut Sekar. “Ayah bahkan membiayai seluruh kuliah kamu karena beliau percaya pada kamu. Pak Amin orang yang sangat setia sama Ayah.”
Sekar menatap Bagas lurus.
“Dan ini balasan kamu, Mas?”
Bagas tidak menjawab. Wajahnya memerah. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Langit duduk di sebuah kursi tunggu tak begitu jauh dari gerbang sebuah kindergarten. Ia setia menunggu sambil sesekali memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian seorang bocah laki-laki berlari cepat ke arahnya.
“Papa!” teriaknya senang begitu melihat Langit yang duduk menunggunya.
“Zayn, jangan lari!” seru Langit gemas. Namun pria kecil itu tak menggubris. Ia justru tertawa lebar lalu menghambur ke pelukan Langit.
“Papa, Zayn kangen.” Bocah itu merajuk sambil memeluk leher Langit. “Papa ke mana aja? Papa ingkar janji. Katanya kemarin mau jenguk Zayn.”
Langit tersenyum tipis. Ia masih belum terbiasa dipanggil seperti itu, tapi setiap kali Zayn melakukannya, hatinya selalu menghangat.
“Maaf, ya. Papa lagi banyak kerjaan akhir-akhir ini. Tapi … sebagai gantinya, kita jalan-jalan sekarang. Gimana, mau?”
Zayn langsung mengangguk sambil bersorak gembira.
“Sama Bunda, kan?”
Langit terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kita berdua aja dulu, ya. Bunda kamu kerja hari ini, jadi jalan-jalannya sama Papa aja. Oke?”
“Yaah ….” Zayn kembali merajuk. “Padahal kita sudah lama nggak jalan-jalan bareng.”
Langit terkekeh pelan.
“Kapan-kapan kita jalan-jalan bertiga. Papa janji.” Ia menepuk lembut punggung bocah itu. “Sekarang kita main berdua dulu. Zayn mau ke mana? Timezone?”
Zayn mengangguk antusias.
“Good. Kita pulang dulu, izin sama Bunda, ganti baju, ambil obat kamu, terus baru berangkat.”
Langit menggendong Zayn, lalu berjalan menuju mobilnya.
Tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan halaman sekolah, menuju sebuah rumah yang letaknya tidak begitu jauh dari sana.
Begitu tiba di rumah, Zayn kembali berlari masuk sambil berteriak memanggil ibunya.
“Bundaaa …!”
Seorang wanita muncul dari dalam rumah sambil tersenyum.
“Jangan lari-lari, Sayang.”
Ia menyambut putranya itu lalu menggendongnya. Tatapannya kemudian beralih pada Langit yang baru masuk dari pintu depan. Ia tersenyum tipis sambil mengangguk.
“Bun, hari ini Papa ajak Zayn jalan-jalan. Boleh, kan, Bun? Zayn janji nggak nakal, kok.”
Kania kembali tersenyum, tetapi kemudian menghela napas pelan.
“Zayn, Bunda sudah berkali-kali bilang jangan panggil seperti itu.”
“Biarkan saja. Jangan dilarang,” potong Langit datar.
Zayn menoleh kembali pada ibunya.
“Boleh, kan, Bun? Kata Papa hari ini Bunda kerja.”
Kania mengangguk.
“Boleh. Tapi jangan capek-capek, ya. Terus jangan bikin repot Papa.”
Zayn mengangguk cepat. “Janji.”
Setelah itu ia berlari menuju kamarnya, meninggalkan keduanya di ruang tamu.
“Maaf, ya, Mas. Saya merepotkan,” ucap Kania pelan. “Bik Maya lagi nggak enak badan, jadi dia nggak bisa datang hari ini. Sementara saya masuk shift siang.”
Langit mengangguk.
“Nggak masalah. Kamu tenang saja. Biar Zayn sama saya. Nanti malam kamu bisa jemput di apartemen saya.”
Perempuan itu mengiyakan.
“Kalau begitu saya bantu Zayn bersiap dulu.”
Ia kemudian meninggalkan Langit menuju kamar anaknya.
Langit berdiri sejenak di ruang tamu sambil menatap sekeliling. Tidak ada yang berubah. Semua masih sama seperti dulu.
Senyum kecil terukir di bibirnya saat pandangannya berhenti pada sebuah foto di dinding. Di sana terlihat dirinya sedang menggendong seorang bayi kecil, berdiri di samping seorang dokter.
Bayi kecil yang dulu begitu mungil.
Bayi kecil yang sekarang tumbuh menjadi anak yang ceria, meskipun fisiknya sedikit lebih lemah dari anak-anak seusianya.
“Papa, Zayn siap!”
Bocah itu kembali muncul dari kamar dengan tas kecil di punggungnya.
“Obat kamu sudah dibawa?” tanya Langit.
Zayn mengangguk senang.
“Yuk, Pa. Berangkat.” Ia menoleh ke arah Kania. “Ma, Zayn berangkat dulu, ya.”
Kania memeluk putranya lembut. “Jangan nyusahin Papa, ya. Ingat jangan lupa obatnya diminum.” Wanita itu menatap Langit. “Saya titip Zayn, ya, Mas.”
Langit membalas dengan anggukan kepala, lalu menggandeng lengan Zayn.
“Come on, boy. Kita berangkat sekarang.”
Mobil Langit berlalu meninggalkan Kania yang masih termangu. Ia menghembuskan napas panjang seolah melepas beban yang selama bertahun-tahun ia pendam sendiri.
***
Di tempat lain, isak tangis Sekar sesekali terdengar. Maisya, sepupunya yang juga seorang dokter, hanya mengelus tangannya lembut.
“Aku bodoh banget, ya, Mbak. Ternyata kamu benar. Dia bukan laki-laki yang baik,” kata Sekar, matanya memancarkan luka yang dalam.
“Ternyata aku yang kedua, Mbak. Bukan perempuan itu, tapi aku .... Kenapa dulu aku nggak dengar nasihat kamu? Aku bodoh, Mbak,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Maisya menarik napas panjang. Sejak awal, ia memang sudah memperingatkan Sekar tentang Raka. Tapi Sekar mengabaikannya. Sekarang, ketakutan yang paling ia hindari menjadi kenyataan.
“Sekar, tenang dulu, ya … Jangan begini. Kasihan janinmu,” ucap Maisya dengan hati-hati.
Sekar tak langsung merespons. Perlahan, ia mengusap air matanya yang mengalir deras.
“Kamu tahu rasanya, Mbak. Sakit … sakit banget waktu aku dengar dia bilang lebih puas dengan perempuan lain daripada aku—istrinya sendiri. Hati aku hancur, Mbak. Pria yang selama ini aku banggakan, aku kagumi, aku cintai … ternyata cuma menganggap aku tempat sampah.”
Sekar menoleh ke arah Maisya, matanya menatap penuh harap.
“Tolong aku, Mbak … Aku nggak mau pria itu menyentuh aku lagi. Tolong … buatkan aku surat atau apapun itu yang jelas dia nggak bisa mendekatiku. Aku jijik, Mbak,” desahnya, suara bergetar.
Maisya mengerutkan kening. “Maksudmu, surat keterangan palsu?”
Sekar mengangguk cepat.
“Aku tahu ini terdengar konyol … Tapi demi Allah, aku nggak kuat, Mbak. Kamu tega melihat aku kena penyakit dari dua orang kotor itu? Nggak, Mbak, aku nggak mau! Aku jijik! Bahkan membayangkannya saja aku mual.”
Matanya menyala, tapi juga penuh luka. Ia menggenggam tangan Maisya lebih erat.
“Tolong, setidaknya untuk trimester pertama … buatkan surat keterangan yang bisa jadi alasan supaya aku bisa menolak Raka. Aku nggak sudi melayani laki-laki yang sudah selingkuh sana sini.”
Maisya menatap sepupunya dengan berat. Ia menarik napas panjang.
“Sekar … Mbak bukannya nggak mau. Tapi Mbak nggak punya wewenang buat itu. Mbak juga bukan spesialis obsgyn yang menangani hal semacam ini.”
Sekar menunduk, suaranya lirih. “Tolonglah, sekali ini aja, Mbak …”
Maisya terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Gini … Mbak kenal salah satu dokter obsgyn. Nanti Mbak antar kamu ke sana, kamu bisa konsultasi langsung. Nanti Mbak bantu bilang ke dokternya.”
Sekar menatap Maisya dan mengangguk perlahan. Ia memeluk sepupunya dengan hangat.
“Makasih, ya, Mbak. Tolong jangan bilang sama Om Lutfi tentang semua ini, ya. Aku nggak mau om jadi kepikiran.”
Maisya melepaskan pelukannya. Ia mengangguk pelan.
“Lalu keputusan kamu mau gimana sekarang?” tanyanya setelah Sekar mulai tenang.
Hening. Sepupunya itu tak langsung menjawab, ia hanya menunduk sambil memainkan jemarinya seolah menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu.
“Mbak … sebenernya ada yang mau aku omongin selain ini,” ucap Sekar lirih. Ia mendongak menatap Maisya.
Maisya menatapnya, menunggu. Sekar menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengungkapkan,
“Mas Langit mau membantu mengungkap perselingkuhan Mas Raka … tapi dengan syarat aku harus bercerai dan nikah sama dia.”
“Apa?!”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂