NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Senin pagi di Maheswara Corp terasa… berbeda.

Biasanya bisik-bisik mengiringi langkah Zara di koridor.

Hari ini?

Hening.

Bukan karena tidak ada yang melihat.

Justru karena semua melihat.

Dan sekarang mereka tahu satu hal.

Zara bukan lagi “asisten yang katanya cari muka”.

Zara adalah calon cucu menantu pemilik Maheswara Corp.

Status yang beratnya bisa bikin lantai marmer retak.

Di dalam mobil sebelum turun, Zara menarik napas panjang.

“Pak, kita ulang lagi.”

Kenzy yang duduk tenang menoleh.

“Ulang apa?”

“Aktingnya. Supaya natural.”

Kenzy mengangkat alis.

“Kamu yang lebih berpengalaman soal drama.”

Zara mendelik.

“Pak ini serius. Kita harus kelihatan… ya… kayak pasangan.”

“Profesional,” jawab Kenzy.

“Ya tapi jangan terlalu profesional. Nanti dikira hubungan kontrak.”

Kenzy terdiam sebentar.

“Baik. Apa saja aturannya?”

Zara mulai menghitung dengan jari.

“Pertama, di luar ruangan kerja jangan panggil saya ‘Zara’ dengan nada bos ke karyawan. Lebih… lembut.”

“Contohnya?”

Zara menelan ludah.

“Ya… kayak… ‘Sayang’ misalnya.”

Kenzy hampir tersedak napasnya sendiri.

“Itu terlalu jauh.”

“Ya ampun Pak ini cuma contoh!”

Kenzy menghela napas.

“Baik. Saya akan menyesuaikan nada.”

“Kedua,” lanjut Zara, “kalau ada yang kasih selamat, kita senyum bareng. Jangan ekspresi rapat direksi.”

Kenzy mengangguk.

“Ketiga?”

Zara ragu sebentar.

“Kalau perlu… pegangan tangan.”

Sunyi.

Kenzy menatapnya.

Zara langsung defensif.

“Cuma kalau perlu! Bukan sepanjang hari!”

Kenzy membuka pintu mobil.

“Kita lihat situasinya.”

Zara menggerutu kecil.

“Ini lebih tegang daripada presentasi investor.”

Begitu mereka masuk lobby.

Semua mata menoleh.

Tangan Kenzy menggandeng tangan Zara.

Refleks...semua mata melihatnya.

Tapi kali ini bukan sinis.

Melainkan… gugup.

 Beberapa yang dulu paling rajin gosip justru menunduk duluan.

Salah satu staf HR yang pernah berkomentar pedas mendekat dengan senyum dipaksakan.

“Pagi, Bu Zara….”

Zara tersenyum manis.

“Iya…Pagi….”

Nada suaranya ringan.

Tidak menyindir.

Tidak menyombongkan diri.

Justru itu yang bikin si HR makin malu.

“Maaf kalau kemarin ada… salah paham.”

Zara hanya tersenyum.

“Sudah selesai kok.”

Kalimat sederhana.

Tapi cukup untuk membuat si HR merasa kecil sendiri.

Di lift, suasana lebih lucu lagi.

Biasanya orang berdempetan.

Hari ini?

Mereka memberi ruang otomatis.

Seolah Zara membawa aura VIP.

Zara berbisik pelan ke Kenzy.

“Pak… saya merasa kayak lagi bawa kartu unlimited.”

Kenzy menahan senyum.

“Itu efek status.”

Zara meliriknya.

“Bapak nggak keberatan?”

Kenzy menatap lurus ke depan.

“Saya lebih keberatan kalau ada gossip murahan.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi membuat Zara diam beberapa detik.

Lift terbuka.

Dan drama belum selesai.

Di ruang kerja.

Beberapa manajer datang memberikan laporan.

Biasanya mereka hanya bicara pada Kenzy.

Hari ini?

Mereka juga menyapa Zara dengan hormat.

“Selamat pagi, Bu Zara.”

Zara hampir menoleh ke belakang.

Bu siapa?

Tapi ia cepat sadar.

“iya…Pagi...”

Kenzy memperhatikan reaksi itu.

Lalu saat satu manajer terlalu lama menatap Zara dengan canggung, Kenzy tiba-tiba berkata santai,

“Zara, tolong catat revisinya.”

Nada suaranya lebih lembut dari biasanya.

Zara meliriknya cepat.

Oh. Akting dimulai.

“Iya…baik….”

Senyumnya sedikit lebih hangat.

Mereka berdua seperti sedang memainkan peran yang tidak pernah mereka latih sepenuhnya.

Dan anehnya,

Semakin dijalani, semakin terasa… natural.

 Tapi puncaknya bukan di dalam gedung.

Melainkan di luar.

Kabar pertunangan itu menyebar cepat ke kalangan rekan bisnis.

Investor.

Partner lama.

Direktur perusahaan lain.

Siang itu, saat mereka menghadiri meeting eksternal.

Baru duduk saja, salah satu pengusaha senior sudah tersenyum lebar.

“Pak Kenzy! Selamat ya!”

Kenzy berhenti sejenak.

Zara langsung pasang senyum standar.

“Terima kasih, Pak.”

Pengusaha itu tertawa.

“Wah kami sampai ketinggalan berita. Tidak ada acara pertunangan, jadi kami tidak tahu.”

Zara dan Kenzy saling melirik sepersekian detik.

Acara?

Oh iya.

Mereka bahkan belum memikirkan detail itu.

“Maaf, Pak,” jawab Kenzy tenang. “Masih sederhana, hanya untuk keluarga.”

Pengusaha itu bercanda lagi.

“Baru saja saya mau kenalkan putri saya ke Anda. Ternyata sudah ada yang mengisi duluan.”

Tawa meledak di ruangan.

Zara ikut tertawa kecil.

Kenzy tersenyum sopan.

Senyum yang dipaksa mengembang di bibir mereka.

Di bawah meja.

Tangan Zara mengepal kecil.

Bukan marah.

Tapi sadar.

Ini bukan lagi gosip internal kantor.

Ini sudah jadi berita bisnis.

Status mereka bukan cuma tameng.

Tapi identitas publik.

Setelah meeting selesai dan mereka masuk lift pribadi hotel, Zara langsung bersandar ke dinding.

“Huft…Pak.”

“Ya.”

“Ini sudah terlalu jauh.”

Kenzy menatapnya.

“Kamu takut?”

Zara menggeleng pelan.

“Bukan. Cuma… saya takut kita kebablasan.”

Kenzy terdiam.

Lift berdenting pelan.

“Kalau kamu ingin berhenti, kita berhenti.”

Zara menatapnya.

“Dan Bapak siap jelaskan ke semua rekan bisnis kalau ini cuma pura-pura?”

Kenzy tidak langsung menjawab.

Zara tertawa kecil.

“Lihat kan? Kita sudah terjebak.”

Kenzy mendekat satu langkah.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup membuat jarak terasa berbeda.

“Kita tidak terjebak.”

“Lalu?”

“Kita memilih.”

Hening.

Zara menatapnya lama.

“Memilih apa?”

Kenzy menahan tatapannya.

“Untuk menjaga satu sama lain.”

Jantung Zara berdetak sedikit lebih keras.

Ia memalingkan wajah lebih dulu.

“Pak… jangan ngomong kayak gitu. Nanti saya lupa ini akting.”

Kenzy tersenyum tipis.

“Kalau lupa… memangnya kenapa?”

Zara langsung salah tingkah.

“YA KENAPA-KENAPA!”

Lift terbuka.

Mereka kembali profesional dalam satu detik.

Tapi sesuatu berubah.

Akting mereka mungkin dimulai sebagai strategi.

Namun perasaan?

Itu tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan.

Dan di kantor Maheswara,

Orang-orang yang dulu berani berbisik kini hanya bisa diam.

Karena sekarang mereka tahu,

Zara bukan gadis yang mencari posisi.

Ia adalah perempuan yang berdiri sejajar dengan orang yang mereka hormati.

Dan Kenzy…

Untuk pertama kali dalam hidupnya

Tidak merasa keberatan berjalan berdampingan dengan seseorang.

Bukan sebagai bos.

Bukan sebagai cucu pemilik perusahaan.

Tapi sebagai… pasangan.

Walau sementara.

Atau mungkin,

Tidak lagi sementara.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!