Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI DAN SAKIT HATI
Hari weekend tiba, Farhan memenuhi janjinya mengajak dua buah hatinya bermain di taman bermain. Sinta memilih tak ikut, Farhan juga melarangnya.
Selain mereka bukan lagi mahram, Sinta menghormati wanita yang kini jadi istri mantan suaminya itu.
Leo dan Adrian bersenang-senang hari ini bersama ayahnya. Melepas kerinduan. Farhan berusaha memenuhi apa yang dua jagoannya inginkan.
"Ayah, apa Ayah benar-benar tak bisa memaafkan Bunda?" tanya Adrian polos.
Farhan terdiam, matanya masih menatap Leo yang bermain roller coaster. Adrian belum cukup tinggi, sementara Farhan memilih menemani Adrian.
"Bunda tidak ada salah kok ke Ayah," jawab Farhan sebisanya.
"Kalau dimaafkan. Kenapa Ayah menceraikan Bunda?" tanya Adrian lagi. Lalu ia melambai begitu juga Farhan pada Leo yang melambaikan tangan pada mereka.
"Nak, ada hal-hal dewasa yang kalian tidak mengerti. Kami sudah tidak sejalan, Bunda punya mimpi dan ambisi yang Ayah tidak bisa ikuti. Begitu juga Bunda," jawab Farhan menjelaskan.
"Intinya kami sama-sama tak sejalan," jawab Farhan.
Leo selesai bermain, wajahnya memerah, senyumnya terukir lebar di wajahnya.
"Kakak puas?" tanya Farhan senang melihat Leo yang senang.
"Iya, Ayah!" angguk Leo semangat.
"Ayo mau main apa lagi?" tanya Farhan.
"Aku lapar, Yah," sahut Adrian.
"Ya udah, kita makan, lalu kita pulang!" ujar Leo.
"Kok pulang. Adek belum puas loh mainnya. Gimana habis makan, kita naik bianglala!" ujar Farhan menawarkan.
Adrian menatap kakaknya, ia masih mau bermain. Leo pun tak tega, tapi mereka sudah hampir lebih dua jam bermain.
"Baiklah. Habis ini kita pulang ya. Kasihan Bunda," ujar Leo mengerti.
"Yeey! Makasih Kak!' sahut Adrian senang.
Akhirnya mereka pun pergi ke salah satu tempat makan di wahana itu. Selesai makan, seperti janji Farhan. Mereka naik bianglala, banyak momen yang diabadikan Farhan di sana.
"Nak, Ayah cuma mau bilang," ujar Farhan setelah mereka turun dari mainan kincir angin besar itu.
"Apa Yah?" sahut keduanya menatap Farhan.
"Mungkin, Ayah akan jarang sekali mengajak kalian bermain. Ayah banyak proyek dan pekerjaan yang harus diselesaikan. Ayah harap, kalian mengerti ya," pinta Farhan.
Leo dan Adrian mengangguk, walau hati mereka sedih karena kebersamaan dengan ayah mereka hanya sebentar.
"Terus, kapan kita main lagi?" tanya Adrian sedih.
Farhan mengusap kepala putra bungsunya. Ia mengecup pelan, sangat tahu kenapa putranya seperti itu.
"Ayah usahakan yang terbaik untuk kalian. Memastikan kalian pulang dengan aman dan tepat waktu. Sekolah kalian, baju-baju dan seluruh kebutuhan kalian Ayah janji tak akan melewatkan satu pun!" sumpah Farhan.
"Tapi jika nanti Ayah sedikit lalai. Mohon maklumi ya," lanjutnya meminta.
Leo dan Adrian mengangguk, Farhan menghela nafas panjang. Lalu ketiganya keluar dari wahana dan kembali pulang.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Farhan berkali-kali bertanya pada kedua putranya. Tapi baik Leo dan Adrian hanya menjawab sekenanya.
Ketika sampai gerbang, Leo memutuskan turun.
"Loh, Nak?"
"Ayah langsung pulang saja. Nggak usah antar kita sampai depan pintu!" ketus bocah pra remaja itu.
"Leo?" Farhan tak suka perkataan putranya itu.
"Udah, nggak apa-apa. Takut nanti waktu ayah terbuang!" Leo lalu berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah.
Pintu gerbang terbuka secara otomatis. Farhan menghela nafas panjang. Ia tetap memasukkan mobilnya ke dalam. Adrian duduk diam saja.
Setelah sampai, Adrian pun turun begitu juga Farhan. Sinta berdiri di depan pintu. Wajahnya cemas karena Leo masuk sambil menangis
"Ada apa dengan Leo. Kamu nggak apa-apa kan Adrian?" tanya Sinta khawatir.
"Aku nggak apa-apa," jawab Adrian dengan kepala tertunduk. Menahan air mata yang hampir jatuh.
Tetapi ketika Sinta memeluknya, tangisan Adrian pecah. Tentu wanita itu kaget begitu juga Farhan.
"Mereka kenapa?" tanyanya bingung.
"Mereka hanya marah karena aku mengatakan akan jarang bersama mereka ...."
"Mas. .. Kan kamu bisa nggak bilang itu dulu!" protes Sinta kesal.
"Tapi aku nggak mau bohong, Sin. Aku nggak mau mereka terlalu berharap Kau tau kan, dari dulu juga aku begitu?" seru Farhan meminta pengertian.
Sinta diam, Farhan selalu bicara pada anak-anak ketika ia tak bisa punya waktu luang untuk mereka.
"Tapi mereka tidak sesedih ini dulu. ..." sahut Farhan lirih.
"Itu karena dulu, kau bersamaku!" sahut Sinta.
"Kau tetap pulang. ... Dan memeluk mereka ...," airmatanya pun jatuh.
Farhan diam, ia memang tau. Jika perceraian ini korbannya adalah anak-anak.
Lalu ponselnya berdering, Farhan mengambil dari saku. Sebuah notifikasi pesan dari Rani, istrinya.
Rani Cintaku.
(Mas ... Kapan pulang. Aku dan Claudia sudah di rumah.)
"Maaf. .. , nak percayalah. Kalian adalah segalanya bagi Ayah. Tapi Ayah ingin kalian juga mengerti," ujar Farhan lirih.
Pria itu pun naik ke mobilnya, lalu kendaraan itu pun melaju mundur. Adrian masih terisak dipelukan sang ibu.
Lalu ketika kendaraan itu keluar pagar. Adrian melepaskan pelukannya dan berlari mengejar mobil ayahnya.
"Ayah. .. Jangan pergi Ayah. ... Ayah!" pekiknya.
Sinta terkejut Ikut mengejar, Farhan tak melihat karena Adrian berlari di titik buta. Kendaraan itu menghilang, tangisan Adrian pecah begitu juga Sinta. Sementara Leo yang ada di kamarnya menangis di jendela menatap kejadian itu.
"Aku membencimu Ayah!"
Sementara di mobil, Farhan tak kuasa menahan tangisnya. Ribuan penyesalan pun datang. Tapi ibarat nasi sudah jadi bubur. Ia tak bisa hidup bersama Sinta, karena hatinya sudah tak ada lagi perempuan itu.
"Maafkan Ayah ... maafkan Ayah ...,"
Kembali ke kediaman Sinta, perempuan itu berhasil membawa Adrian ke dalam rumah. Keduanya masih menangis pilu.
"Ayah nggak sayang lagi ya sama kita ... Hiks ... Hiks!"
Suasana di ruang tamu itu terasa begitu menyesakkan. Tangisan Adrian bukan sekadar tangisan bocah yang ingin mainan, melainkan jeritan rindu seorang anak yang merasa perlahan-lahan kehilangan sosok pelindungnya.
Sinta memeluk Adrian sangat erat, membiarkan baju rumahan yang ia kenakan basah oleh air mata bungsunya. Di atas, terdengar suara pintu kamar yang dibanting—Leo sedang mengunci diri bersama amarahnya.
"Bunda... kenapa Ayah harus punya keluarga lain? Kenapa kita nggak bisa kayak dulu saja?" tanya Adrian sesenggukan.
Sinta terdiam. Pertanyaan itu adalah belati yang paling tajam. Ia tidak mungkin menjawab bahwa egonya dan ego ayahnya yang menghancurkan semuanya. Ia tidak mungkin bilang bahwa ambisinya di toko dulu telah memberi celah bagi wanita lain untuk masuk ke hidup Farhan.
"Ayah tetap Ayah kalian, Sayang. Ayah hanya... sedang belajar membagi waktu," hanya itu kalimat yang mampu keluar dari bibir Sinta, meski ia tahu itu terdengar sangat hambar.
"Kenapa sih ... kalian bercerai?"" teriak Adrian lalu ia pun berlari naik ke kamarnya.
Sinta tak bisa mencegah, airmatanya luruh, dadanya sesak oleh seribu penyesalan.
"Maafkan Bunda ... Hiks ... Hiks!"
bersambung.
Ah ... 😭
Next?