NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Teater Kehancuran

Lobi Talandra Group sudah dikepung oleh jurnalis ekonomi dan paparazzi sejak fajar. Berita tentang bebasnya Javian telah menjadi topik terpanas di semua portal berita. Di tengah kerumunan itu, Hendrick Vance berdiri di lantai mezanin, memperhatikan pintu putar kaca dengan senyum yang tersembunyi di balik cangkir kopinya.

Sebuah taksi tua—bukan limosin, bukan mobil mewah—berhenti di depan lobi. Javian keluar dari sana.

Penampilannya sudah diatur sedemikian rupa: kemeja yang sedikit kusut, tanpa dasi, dan wajah yang tampak kelelahan. Ia tidak terlihat seperti singa; ia terlihat seperti sisa-sisa kejayaan yang memudar.

Kamera meledak dengan lampu kilat. Mikrofon disodorkan ke wajahnya. Javian mengabaikan mereka semua, melangkah masuk ke lobi dengan langkah yang disengaja tampak goyah.

"Tuan Javian! Apakah Anda ke sini untuk mengambil kembali posisi Anda?"

"Tuan Javian, bagaimana tanggapan Anda soal mosi tidak percaya dewan?"

Javian berhenti di depan meja resepsionis. "Saya ingin bertemu Zerya," suaranya cukup keras untuk ditangkap oleh mikrofon jurnalis di dekatnya.

Tepat saat itu, pintu lift eksklusif terbuka. Zerya keluar, dikawal oleh empat petugas keamanan bertubuh besar. Ia mengenakan setelan merah darah yang sangat mencolok, melambangkan dominasi dan keberanian.

Lobi mendadak hening. Hanya suara jepretan kamera yang terdengar.

"Zerya," panggil Javian, suaranya terdengar serak. Ia melangkah maju, namun dua petugas keamanan segera menghadangnya. "Kita perlu bicara. Perusahaan ini—"

"Berhenti di sana, Tuan Javian," potong Zerya. Suaranya dingin, jernih, dan tidak memiliki setitik pun empati. Ia tidak mendekat; ia tetap berdiri di balik barikade keamanannya.

"Zerya, dengarkan aku—"

"Panggil saya Nona Omerly," tukas Zerya tajam. "Atau CEO Omerly. Anda tidak punya hak lagi memanggil nama saya di gedung ini."

Javian tampak terpukul secara fisik. Ia mundur satu langkah. "Setelah semua yang kulakukan untukmu... kau membuangku seperti ini?"

"Anda tidak melakukan apa pun untuk saya, Javian," Zerya melangkah maju satu langkah, menatap lurus ke mata Javian dengan kebencian yang dipoles sempurna. "Anda hanya menggunakan saya sebagai tameng untuk dosa-dosa Anda di dunia. Talandra sudah bergerak maju. Kami tidak punya ruang untuk beban hukum seperti Anda."

Zerya menoleh ke kepala keamanan. "Pastikan orang ini tidak pernah melewati pintu itu lagi. Jika dia mendekat dalam radius seratus meter, panggil polisi. Saya tidak ingin sejarah kotornya menempel pada laporan tahunan kita."

Zerya berbalik, berjalan kembali menuju lift tanpa menoleh sedikit pun.

Javian berdiri mematung di tengah lobi. Ia menunduk, bahunya bergetar—bagi dunia, dia tampak menangis karena hancur. Namun, bagi Javian yang sedang menatap lantai marmer, itu adalah getaran menahan tawa kemenangan.

Di Lantai 24.

Hendrick Vance menarik diri dari pagar mezanin. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat kepada kontak misteriusnya.

"Zerya sudah memutus talinya. Dia sendirian sekarang. Jalankan tahap dua."

Hendrick tidak menyadari bahwa di sudut lobi, di balik salah satu pilar besar, seorang pria bertopi rendah dengan kamera lensa panjang tidak memotret Javian. Pria itu memotret reaksi Hendrick.

Satu Jam Kemudian, Apartemen Menteng.

Javian masuk ke apartemen, langsung melempar jasnya dan duduk di depan laptop. Zerya sudah di sana, wajahnya pucat. Ia sedang gemetar, namun kali ini bukan karena sandiwara.

"Itu... itu terlalu berat," bisik Zerya, menatap tangannya yang masih dingin. "Aku merasa seperti benar-benar membunuhmu di depan semua orang."

Javian bangkit, mendekati Zerya dan meletakkan tangan di bahunya. "Kamu melakukannya dengan sempurna, Zerya. Tatapan matamu tadi... itu akan membuat Vanguard dan Hendrick merasa mereka punya kendali penuh atas dirimu. Mereka akan berpikir kamu adalah pemimpin yang emosional dan dendam."

"Lalu apa?"

"Lihat ini," Javian menunjukkan layar laptopnya. Itu adalah foto Hendrick Vance di mezanin tadi, sedang mengetik pesan saat adegan pengusiran terjadi. "Pria bertopi di lobi tadi adalah orang yang kusewa secara independen. Dia bukan jurnalis."

Javian memperbesar foto itu. "Hendrick tidak mengirim pesan ke Julian Vane. Dia mengirim pesan ke sebuah nomor dengan kode area Swiss. Nomor itu milik firma hukum yang mengelola dana pensiun buruh di Eropa—salah satu pemegang saham minoritas Talandra yang selama ini diam."

Zerya menyipitkan mata. "Dia sedang menggalang kekuatan di luar Vanguard?"

"Persis," jawab Javian dengan mata berkilat.

"Hendrick ingin Vanguard menghancurkanku, lalu dia akan menggunakan pemegang saham minoritas untuk menjatuhkanmu dengan alasan 'ketidakstabilan manajemen'. Dia ingin menjadi penyelamat tunggal."

Zerya menarik napas panjang, kekuatannya kembali. "Jadi, kita punya dua front sekarang. Vanguard dari depan, dan Hendrick dari belakang."

"Dan mereka berdua tidak tahu," Javian tersenyum tipis, "bahwa hantunya sudah punya mata di setiap sudut ruangan."

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!