NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Belajar Memeluk Peran

Menjadi kakak, Rivena bilang, bukan soal tahu segalanya.

Tapi soal bersedia tinggal sedikit lebih lama di ruang yang membuatmu canggung.

Varrendra mempelajarinya dari hal-hal kecil.

Dari caranya menahan napas setiap kali Rivena tiba-tiba berhenti di tengah koridor rumah hanya karena “bau sabun lantai hari ini aneh.”

Dari caranya menahan komentar ketika Rivena berubah pikiran soal makanan tiga kali dalam satu jam—dari ingin sup bening, lalu mie pedas, lalu menangis karena keduanya membuatnya mual.

Dari caranya belajar tidak membenarkan, hanya menemani.

“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Rivena bertanya suatu pagi, ketika Varrendra berdiri di dapur dengan cangkir teh yang sudah dingin di tangannya.

“Belajar sabar,” jawab Varrendra jujur.

Rivena tertawa kecil. “Bagus. Latihan.”

Gevano yang duduk di meja makan hanya menghela napas panjang, lalu menepok jidatnya sendiri. “Kalian berdua bersekongkol, ya?”

Rivena menoleh dengan senyum polos. “Kami keluarga.”

Kata itu masih terasa baru. Bukan asing—tapi belum sepenuhnya menyatu. Dan Varrendra merasakannya di dadanya, hangat dan berat bersamaan.

Ia sudah menikah.

Sebulan lalu.

Dengan Selvina.

Tidak ada pesta. Tidak ada gaun putih. Tidak ada sorak.

Hanya tanda tangan yang rapi, saksi yang terbatas—Raisa, dua pemimpin fraksi lain yang netral, dan satu wakil Varrendra yang paling setia. Pernikahan itu sunyi, hampir rahasia. Tapi sah.

Selvina tetap Selvina yang tenang dan terukur.

Varrendra tetap Varrendra yang belajar pelan-pelan.

Kadang, di sela rutinitas, Varrendra masih terkejut dengan fakta itu. Bahwa ia adalah suami—di usia di mana ia juga sedang bersiap menjadi kakak.

Dan malam itu, Rivena memanggilnya ke kamar.

“Setelah makan malam, masuk ke sini,” katanya singkat.

Nada suaranya tidak mendesak. Justru terlalu tenang. Membuat Varrendra berdiri canggung di depan pintu kamar ibunya beberapa menit kemudian, mengetuk pelan.

“Masuk.”

Lampu kamar temaram. Rivena duduk di tepi ranjang, mengenakan pakaian rumah longgar. Usia kandungannya sudah empat bulan. Perutnya belum besar, tapi kehadirannya terasa—seperti janji yang sedang dibentuk.

“Ada apa, Ma?” tanya Varrendra.

Rivena menepuk sisi ranjang. “Duduk.”

Ia menurut.

Lalu Rivena berkata dengan nada yang nyaris kasual, “Coba sentuh.”

Varrendra membeku. “Apa?”

“Perutku,” ulang Rivena. “Aku mau kamu merasakannya.”

Jantung Varrendra berdetak terlalu cepat. Otaknya penuh pertanyaan—takut, canggung, bingung. Ia menatap tangan sendiri seolah benda asing.

“Kalau kamu tidak siap—”

“Aku siap,” potongnya cepat, lalu terdiam. “Maksudku… aku mau mencoba.”

Rivena tersenyum kecil. Ia menarik tangan Varrendra perlahan, menuntunnya ke perutnya. Sentuhan pertama itu ragu—seperti menyentuh sesuatu yang rapuh dan sakral sekaligus.

Hangat.

Itu yang pertama kali ia rasakan.

Lalu—gerakan kecil. Hampir tak terasa, tapi nyata.

Varrendra terkejut dan menarik tangannya sedikit. “Itu…?”

“Dia,” jawab Rivena lembut.

Hening menyelimuti mereka. Varrendra menelan ludah, lalu meletakkan tangannya kembali. Kali ini lebih mantap. Lebih berani.

Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya saat itu.

Bukan euforia. Bukan ketakutan.

Melainkan kesadaran.

“Aku… kakakmu,” bisiknya.

Rivena mengangguk. “Kau akan jadi kakak yang baik.”

“Aku belum tahu caranya.”

“Tak apa,” katanya. “Tak ada yang benar-benar tahu. Tapi kau mau belajar. Itu yang penting.”

Varrendra menghela napas panjang. “Aku takut salah.”

Rivena menatapnya—lama, penuh. “Dengarkan aku baik-baik. Kau boleh takut. Tapi jangan menjauh. Adikmu tidak butuh pahlawan. Ia butuh seseorang yang tetap ada, bahkan saat ragu.”

Tangan Varrendra masih di sana. Dan untuk pertama kalinya, rasa canggung itu berubah menjadi ikatan.

Di ambang pintu, Gevano berdiri tanpa suara.

Ia melihat pemandangan itu—anaknya yang selama ini keras kepala, kini duduk diam, belajar menyentuh kehidupan baru dengan hormat. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Bukan bangga yang meledak-ledak. Tapi lega.

Ia tidak masuk. Tidak ingin merusak momen.

Beberapa hari berikutnya, Rivena makin “menguji.”

Meminta Varrendra menemaninya berjalan hanya untuk berhenti lima langkah kemudian.

Menyuruh Gevano membelikan sesuatu lalu menolak saat sudah datang.

Mengeluh lelah tapi menolak tidur.

“Kau sengaja, ya?” Gevano bertanya suatu sore.

Rivena menatapnya polos. “Aku hamil.”

Varrendra tertawa kecil—tertawa yang lepas, tanpa beban. Dan di momen itu, Gevano sadar: anaknya tumbuh.

Malam-malam Varrendra kini terbagi. Antara sekolah, fraksi, Selvina—istrinya yang kuat dan sunyi—dan rumah yang makin hidup.

Kadang ia dan Selvina duduk berdampingan tanpa bicara, memahami bahwa pernikahan mereka tidak butuh diumumkan untuk menjadi nyata.

Kadang ia pulang dengan kepala penuh, lalu mendapati Rivena tertidur di sofa dengan tangan di perutnya, dan Gevano yang menyelimuti pelan.

Di saat-saat itu, Varrendra mengerti:

menjadi kakak bukan soal mengambil alih.

Tapi menjadi ruang aman.

Dan ia siap belajar—

pelan-pelan,

dengan tangan yang kini tak lagi ragu.

-Bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!