NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:570
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amukan Sang Monster

Suara retakan itu bermula pelan, seperti ranting kering yang diinjak di tengah hutan sunyi. Namun, bagi telinga-telinga yang peka di dalam rombongan itu—termasuk Varian dan Putri Aeliana—bunyi itu terdengar sekeras ledakan meriam. Itu adalah bunyi keputusasaan yang berubah menjadi amarah murni.

​Di atas kereta kuda militer yang memimpin iring-iringan, kerangkeng besi hitam yang dialiri sihir penekan bergetar hebat. Besi-besi Adamantite yang seharusnya tidak bisa dihancurkan kini melengkung ke luar, mendesis kepanasan akibat tekanan energi korosif dari dalam.

​"Mundur! Semuanya mundur!" teriak Komandan Pengawal, suaranya pecah karena panik. Kuda-kuda perang meringkik liar, mata mereka membelalak putih, berusaha melepaskan diri dari kekang saat merasakan kehadiran predator puncak.

​Varian berdiri diam di tengah jalan berlumpur, tangan kanannya menggenggam pedang suci Excalibur yang baru saja dicabutnya dari tanah. Di balik kacamata sihirnya, mata iblisnya menyipit, menikmati detik-detik sebelum bencana.

​Meledaklah, batin Varian. Hancurkan topeng kemanusiaanmu, Leon.

​BOOOOM!

​Ledakan itu terjadi seketika. Gelombang kejut energi hitam bercampur merah darah meletus dari pusat kerangkeng. Jeruji besi setebal lengan orang dewasa meledak berkeping-keping, berubah menjadi proyektil mematikan yang menyapu area sekitar. Atap kereta terlempar ke udara, berputar-putar seperti daun kering sebelum menghantam tanah dengan dentuman keras.

​Debu, serpihan kayu, dan asap hitam mengepul tebal, menciptakan kabut yang menutupi pandangan. Bau ozon dan belerang menyengat hidung, menggantikan aroma segar hutan.

​Dari balik tirai asap itu, sepasang mata merah menyala terlihat. Tidak ada pupil, tidak ada iris. Hanya dua kolam darah yang mendidih karena kebencian.

​Sesosok makhluk perlahan bangkit berdiri di atas puing-puing kereta yang hancur.

​Itu Leon. Namun, Leon yang mereka kenal—pemuda berambut emas dengan senyum hangat—telah mati.

​Sosok di hadapan mereka tingginya mencapai tiga meter. Tubuhnya membengkak dengan otot-otot yang tidak wajar, kulitnya telah sepenuhnya tergantikan oleh sisik abu-abu metalik yang kasar dan tajam. Tulang punggungnya menonjol menembus kulit, membentuk barisan duri yang mengerikan. Wajahnya memanjang, rahangnya retak dan terbentuk ulang menjadi moncong reptil yang dipenuhi gigi taring setajam pisau cukur. Sepasang sayap naga yang belum sempurna, masih basah oleh lendir dan darah, merobek punggungnya dan terbentang lebar, menutupi sinar matahari.

​"ROAAAAARRRR!!!"

​Raungan itu bukan suara dari dunia ini. Itu adalah jeritan jiwa yang tercabik-cabik. Gelombang suara fisik meledak dari mulutnya, menciptakan angin kencang yang melempar para murid di barisan depan hingga jatuh bergulingan ke lumpur. Kaca-kaca jendela kereta logistik di belakang pecah berantakan.

​"MONSTER ITU LEPAS! FORMASI PERTAHANAN! LINDUNGI PARA MURID!" teriak para guru sihir, berusaha merapal mantra pelindung dengan tangan gemetar.

​Leon melompat. Kecepatannya tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu. Tanah di tempatnya berpijak amblas.

​Dalam sekejap mata, dia sudah berada di depan barisan pertahanan. Dua ksatria berbaju zirah tebal mencoba menahannya dengan tombak dan perisai yang dialiri mana.

​"Demi Dewi Cahaya!" teriak ksatria itu.

SLASH!

​Itu adalah pembantaian sepihak. Leon mengayunkan cakar kanannya. Tombak baja itu patah seperti tusuk gigi. Cakar Leon terus melaju, menembus baju zirah, menembus daging, dan membelah dua ksatria itu menjadi potongan-potongan mengerikan. Darah menyembur deras seperti air mancur, memandikan wajah para murid yang berada di dekatnya.

​Jeritan histeris pecah.

​"KYAAAAAA!"

"LARI! SEMUANYA LARI!"

"DIA MEMAKAN MEREKA! DIA MEMAKAN MEREKA!"

​Kekacauan total terjadi. Formasi barisan hancur lebur. Murid-murid berlarian panik ke dalam hutan, menginjak teman mereka sendiri yang terjatuh.

​Putri Aeliana terpaku di tempatnya. Kakinya lemas seperti jeli, lututnya beradu. Dia tidak bisa lari. Matanya terbelalak menatap monster yang sedang mengamuk itu.

​Monster Leon menoleh. Hidungnya mengendus udara. Di tengah bau darah dan ketakutan, dia mencium aroma yang sangat dia kenal. Aroma bunga lili dan vanilla.

​Aeliana.

​Mata merah itu menatap sang Putri. Monster itu berhenti sejenak, napasnya menderu kasar. Ada secercah pengenalan di sana—ingatan samar tentang gadis berambut perak yang pernah dicintainya, gadis yang memberinya harapan di saat tergelap.

​Tapi kemudian, ingatan lain muncul tumpang tindih. Wajah gadis itu yang menolaknya di menara. Wajah gadis itu yang memandangnya dengan jijik dan takut.

​Kau pembawa sial...

Kau palsu...

​Rasa sakit hati itu diterjemahkan oleh otak monsternya menjadi amarah yang membakar.

​Pengkhianat... Kau sama saja dengan mereka...

​Monster itu meraung lagi, kali ini lebih keras, dan melompat tinggi ke arah Aeliana. Cakarnya terangkat tinggi, siap mencabik gadis yang menghancurkan hatinya.

​"Tidak!" Aeliana menjerit, menutup matanya dengan tangan, pasrah akan kematiannya.

​TRANG!

​Bunyi logam beradu yang sangat nyaring terdengar, diikuti gelombang angin yang kencang yang mengibarkan rambut perak Aeliana.

​Dia tidak merasakan sakit. Tidak ada cakar yang merobek kulitnya. Perlahan, dia membuka matanya.

​Di depannya, Varian berdiri tegak seperti benteng yang tak tergoyahkan.

​Varian menahan cakar raksasa Leon menggunakan pedang Excalibur. Posisi kuda-kudanya kokoh, meski tanah di bawah kakinya retak berbentuk jaring laba-laba karena menahan berat serangan monster seberat setengah ton itu. Otot-otot lengan Varian menegang di balik seragam akademinya yang mulai robek, urat-uratnya menonjol.

​"V-Varian?!" Aeliana ternganga. Air matanya menetes. Dia melihat punggung Varian sebagai pelindung terkuat di dunia.

​Varian tidak menoleh. Dia menatap lurus ke dalam mata merah monster Leon dari jarak dekat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Varian bisa mencium bau napas busuk Leon.

​"Lari, bodoh," bisik Varian pelan, sangat pelan hingga hanya telinga sensitif Leon yang bisa mendengarnya di tengah kebisingan itu. "Jika kau tetap di sini, Grand Mage akan datang dan membunuhmu. Lari ke hutan. Sembunyi. Bertahan hidup. Jadilah mimpi buruk mereka."

​Itu bukan saran. Itu adalah perintah dari seorang Raja kepada pionnya.

​Leon terdiam sesaat. Kata-kata itu menembus kabut kegilaannya. Dia mengenali suara itu. Suara satu-satunya "teman" yang dia miliki.

​Varian kemudian berteriak keras agar didengar orang lain, mengubah nadanya menjadi heroik dan penuh perjuangan. "AKU AKAN MENAHANNYA! BAWA PUTRI PERGI! CEPAT! AKU TIDAK BISA BERTAHAN LAMA!"

​Varian mengalirkan Mana Void yang disamarkan menjadi cahaya ke dalam Excalibur, lalu mendorong pedangnya ke depan dengan ledakan kekuatan fisik yang brutal.

​DUAGH!

​Leon terdorong mundur beberapa langkah, terhuyung karena kekuatan yang setara dengannya. Insting binatangnya menyadari bahwa dia dikelilingi musuh dan pria di depannya ini berbahaya—terlalu berbahaya untuk dilawan sekarang.

​Leon meraung sekali lagi sebagai tanda dominasi, lalu berbalik.

​Dia tidak menyerang lagi. Dia melompat tinggi, mencengkeram batang pohon raksasa, dan melesat masuk ke dalam kegelapan pepohonan di sisi Utara jalan. Dia memilih kabur daripada bertarung mati-matian di tempat terbuka.

​"DIA KABUR! DIA KABUR KE DALAM HUTAN!" teriak salah satu guru yang baru saja sadar dari syok.

​Varian menurunkan pedangnya, menancapkannya ke tanah seolah dia kehabisan tenaga. Napasnya sengaja dibuat terengah-engah berat. Keringat palsu membasahi dahinya. Dia menoleh ke arah pasukan pengawal yang tersisa dengan wajah tegas.

​"Jangan biarkan dia lolos! Dia baru saja membunuh orang! Dia berbahaya bagi desa-desa di sekitar sini!" teriak Varian dengan wibawa seorang pemimpin alami di tengah krisis. "Komandan, bawa pasukanmu mengejar! Guru, lindungi murid-murid yang terluka! Aku akan memimpin tim depan!"

​Tanpa sadar, semua orang—termasuk Komandan Pengawal yang lebih tua dan berpengalaman—menuruti perintah Varian. Dalam kekacauan, manusia secara alami mencari sosok pemimpin yang kuat dan tenang, dan Varian—yang baru saja menahan monster itu sendirian dengan pedang suci—adalah sosok tersebut.

​"Ke arah sana!" Varian menunjuk dengan tegas ke arah tebing curam di Barat. "Aku melihatnya lari ke arah tebing! Kita bisa memojokkannya di sana!"

​Padahal, Leon jelas-jelas lari ke Utara.

​Varian sengaja menyesatkan tim pengejar utama ke arah yang salah, memberikan Leon waktu berharga untuk menghilang ke dalam kegelapan hutan liar yang tak terjamah.

​"Tunggu aku, Varian!" teriak Aeliana, mencoba bangkit untuk ikut, meski kakinya masih gemetar. "Aku mau ikut! Aku harus memperbaikinya!"

​Varian berbalik, menatap Aeliana dengan tajam namun penuh perhatian. Dia menggelengkan kepala. "Tidak, Putri. Kau tetap di sini. Kau terlalu berharga untuk terluka. Jaga yang lain. Biar aku yang menanggung beban ini."

​Varian mencabut pedang Excalibur, lalu berbalik dan berlari memimpin pasukan pengawal ke arah Barat, meninggalkan Aeliana yang menatap punggungnya dengan rasa kagum, syukur, dan cinta yang semakin dalam dan obsesif.

​Sementara itu, jauh di sisi lain hutan, Leon Gremory berlari dengan empat kakinya seperti binatang buas, menabrak semak belukar, air mata darah menetes dari matanya, meninggalkan kemanusiaannya selangkah demi selangkah menuju kegelapan abadi.

1
neko
karya ini bagus banget seru jugak cocok kalau lagi bosan, coba baca sendiri deh
neko
Varian serem banget dah udah op pinter memanipulasi lagi
Frank muhamad alafadilah
Rencana Varian sedikit kejam seperti biasa😅
pengemar novel
Novel ini bagus (walau ada beberapa hal yang di luar dugaan😅) tapi bagus ni aku rekomendasikan😁
pengemar novel
Gareth nyebelin banget 😡
aku jugak penasaran apa rencana Varian selanjutnya ya🤔
pengemar novel
wih... kuat banget
pengemar novel
endingnya di luar dugaan di kirain bakal berpetualang bersama adiknya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!