Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAIN PUTIH YANG TERCEPAT
Murni adalah seperti butir beras yang baru disiangi matahari – setiap seratnya terpapar cahaya, tidak tahu bahwa tanah di bawahnya menyimpan bayangan belerang yang tak terlihat. Rambutnya hitam seperti malam tanpa bintang, namun wajahnya bersinar seperti bulan purnama yang menggenangi hamparan sawah. Di pabrik makanan ringan tempat dia menjaga mesin pengemas keripik singkong, tangannya yang ramping selalu bergerak dengan irama yang sama – teratur, penuh rasa hormat pada setiap biji hasil bumi yang melewati cakar besi logam.
Khem, lelaki yang telah menjadikan hati Murni sebagai rumahnya, bekerja di pabrik besi dan baja yang berdiri seperti raksasa batu di sebelahnya. Tubuhnya beserta seperti bilah pisau yang sering dia asah, tangannya penuh dengan bekas luka yang menjadi bukti cinta pada besi yang ia bentuk menjadi bagian rumah dan jembatan. Setiap sore, mereka akan bertemu di gerbang kecil yang menghubungkan dua pabrik – jalan tanah yang ditumbuhi rumput liar seperti syair yang tak pernah selesai ditulis. Khem selalu membawa permen kelapa yang dibungkus daun pisang, dan Murni akan membukanya dengan senyum yang membuat matahari seolah ingin bersembunyi karena rasa bersihnya.
Namun bayangan Aksa seperti kabut pagi yang perlahan-lahan menyelimuti hamparan hati Murni. Pria itu datang seperti angin yang menghembuskan aroma bunga liar yang menawan – wajahnya licin seperti plastik yang baru dikeluarkan dari kemasan, setiap senyumnya diukur dengan presisi yang membuatnya tampak lebih baik dari kenyataan. Dia berkata bahwa ia juga bekerja di pabrik tetangga, membawa berita bahwa mesin di pabrik makanan ringan akan segera mengalami perbaikan besar. Murni, yang selalu melihat kebaikan di setiap sosok yang tersenyum padanya, menerima setiap kata Aksa dengan hati yang terbuka lebar – seperti lautan yang menyambut setiap tetesan hujan tanpa meminta izin.
"Murn tahu tidak?" ujar Aksa satu hari, saat mereka berjalan di sepanjang selokan yang mengalir di belakang pabrik. Suaranya lembut seperti debu yang turun pada malam hari. "Banyak orang yang ingin merusak kesuksesan pabrik kita. Aku hanya ingin melindungi kamu saja."
Murni mengangguk, matanya penuh dengan keyakinan. Dia tidak mengatakan kepada Khem tentang pertemuan-pertemuan itu – bukan karena dia menyembunyikan sesuatu, tapi karena dia merasa tidak ada yang salah dalam bersahabat dengan orang baik seperti Aksa. Ia berpikir, teman adalah anugerah yang harus diterima dengan tangan terbuka, seperti menerima udara yang kita hirup setiap detik.
Hari demi hari, wajah Aksa semakin sering muncul di sekitar Murni. Ia membawa makanan ringan yang dikemas dengan cantik, berkata bahwa itu hadiah dari atasan. Ia membantu Murni membersihkan mesin saat jam istirahat, tangannya yang lembut menyentuh bagian-bagian yang Murni sulit jangkau. Namun di balik plastik wajah yang selalu tersenyum itu, mata Aksa menyimpan kilatan yang seolah-olah sedang mengukur nilai setiap butir keripik yang keluar dari mesin – seolah Murni sendiri adalah bagian dari barang yang akan diperjualbelikan.
Suatu malam, setelah jam kerja berakhir, Aksa mengajak Murni untuk datang ke sebuah tempat yang katanya bisa memberikan informasi penting tentang masa depan pabrik. "Di tengah kota ada klub malam besar, tempatnya aman dan banyak orang penting yang bisa membantu kita," katanya dengan tatapan yang membuat Murni merasa harus mempercayainya.
Murni ragu sejenak. Dia tahu Khem tidak menyukai tempat-tempat yang ramai dengan musik keras dan cahaya yang berkelip-kelip. Namun suara hati yang selalu melihat kebaikan membuatnya mengangguk. Ia berpikir, ini adalah hal yang baik untuk pabrik dan teman-temannya di sana. Tanpa memberi tahu Khem, ia mengikuti langkah Aksa yang semakin cepat, seperti arus sungai yang mengantarnya menjauh dari daratan yang ia kenal.
Di jalan menuju kota, malam mulai menyelimuti langit seperti kain hitam yang ditutup perlahan. Cahaya lampu jalan menerangi wajah Aksa sebentar, dan dalam sekejap itulah Murni melihatnya – wajah asli yang tersembunyi di balik plastik kemasan itu. Wajahnya yang sebenarnya penuh dengan garis-garis kejam, mata yang menyala seperti bara api yang sedang mencari korban. Tapi sebelum Murni bisa berpikir lebih jauh, Aksa sudah menoleh dan tersenyum lagi dengan wajah yang licin seperti sebelumnya.
"Kamu tidak perlu takut, Murni," ujarnya, menggenggam tangan Murni dengan erat. "Segala sesuatu akan baik-baik saja. Cukup percaya pada aku saja."
Murni merasakan kedinginan yang menyebar dari ujung jari hingga ke tulang rusuknya. Hati yang selama ini seperti kain putih yang bersih mulai terasa seperti akan terpotong oleh sesuatu yang tajam. Ia ingin berteriak nama Khem, tapi suaranya terperangkap di dalam tenggorokan seperti ikan yang terlempar ke darat. Di kejauhan, suara mesin pabrik besi dan baja masih terdengar seperti denyut jantung kota – tapi rasanya semakin jauh, seolah-olah dunia yang ia kenal sedang menghilang di balik kabut malam yang semakin tebal.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Klub malam itu muncul seperti monster besar yang berdiri di tengah kota – cahaya neon berkelip-kelip seperti lidah api yang bergoyang, musik keras mengguncang tanah hingga membuat telinga Murni berdenging. Aksa menarik tangannya dengan lebih erat, mengarahkan langkahnya melalui pintu besar yang terbuka lebar seperti mulut raksasa yang siap menelan.
"Dalam sini, Murni," ujarnya dengan nada yang tak bisa ditolak, plastik wajahnya kini terlihat mengkilap di bawah cahaya neon. "Kamu harus membantu aku bekerja di sini. Tanpa bantuanmu, aku akan kehilangan pekerjaan – dan kamu tahu bukan? pabrikmu juga akan terkena dampaknya."
Murni menggeleng perlahan, matanya penuh dengan ketakutan yang baru saja muncul seperti bunga yang mekar di tengah malam. "Tapi... aku tidak bisa, Aksa. Aku bekerja di pabrik, aku tidak tahu apa-apa tentang tempat seperti ini."
Aksa berhenti, menoleh padanya dengan wajah yang perlahan-lahan terkelupas seperti kulit pohon yang mengelupas. Wajah aslinya yang kasar dan penuh dengan ketajaman kini terbuka lebar, menatapnya dengan pandangan yang menusuk seperti jarum. "Tidak ada pilihan, Murni. Kamu sudah tahu terlalu banyak tentang aku – tentang pekerjaan yang sebenarnya kulakukan di luar pabrik palsu itu. Atau maukah aku memberitahu semua orang di pabrikmu bahwa kamu sengaja membantu aku merencanakan sesuatu yang tidak baik untuk mereka?"
Kata-katanya seperti batu yang dilempar ke dalam kolam yang tenang, menghancurkan kejernihan air yang selama ini Murni jaga dengan hati-hati. Ia merasa tubuhnya menjadi lemah seperti rumput yang terkena hujan deras, semua keyakinan tentang kebaikan orang lain hancur berkeping-keping seperti kaca yang jatuh ke lantai.
"Aku tidak pernah berniat menyakiti siapapun," bisik Murni, air matanya mulai menetes seperti embun pagi yang jatuh dari daun.
"Kau tidak perlu menyakiti siapa pun," ujar Aksa dengan suara yang kembali menjadi lembut, meskipun mata nya tetap tajam seperti bilah pisau. "Cukup lakukan apa yang kukatakan. Kamu hanya perlu menyapa tamu-tamu, memberikan mereka minuman – itu saja. Dan ingat, jangan pernah memberitahu siapapun tentang ini, termasuk Khem. Jika tidak, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada dirimu dan pada pacarmu yang bekerja di pabrik besi itu."
Ia menarik Murni ke dalam ruangan yang lebih dalam, di mana kursi-kursi besar berjejer seperti batu besar di tengah hutan. Seorang wanita dengan riasan tebal menghampiri mereka, tatapannya dingin seperti es yang belum pernah mencair. "Ini dia yang kamu bilang, Aksa?" tanyanya dengan nada yang kasar.
"Ada saja, Bu Lina. Dia akan mulai bekerja malam ini," jawab Aksa dengan senyum yang kini terasa menusuk seperti jarum.
Murni melihat sekeliling, merasakan dunia yang ia kenal semakin menjauh. Suara mesin pabrik sudah tidak terdengar lagi – yang ada hanya musik yang mengguncang dada dan tawa orang-orang yang ia tidak kenal. Ia merasakan diri seperti daun yang terbawa angin jauh dari pohonnya, terjatuh ke tempat yang tidak pernah ia duga akan sampai. Di dalam hatinya, nama Khem terus bergema seperti doa yang tak bisa diucapkan – seolah hanya dengan menyebut namanya, dia akan menemukan jalan kembali ke dunia yang penuh dengan cahaya matahari dan aroma permen kelapa yang dibungkus daun pisang.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Matahari telah memanjat tinggi di atas atap pabrik makanan ringan ketika Khem berdiri di gerbang kecil yang selalu menjadi tempat mereka bertemu. Tangan yang biasanya kuat seperti besi kini menggenggam bungkusan permen kelapa yang sudah hangat karena panasnya sinar matahari. Dia telah menunggu selama lebih dari satu jam, tapi sosok Murni yang selalu datang dengan senyumnya yang bersih tidak pernah muncul.
Rasa cemas mulai merayap seperti semut di atas kulitnya. Dia berjalan cepat menuju pabrik, bertanya pada rekan kerja Murni di bagian pengemas mesin. "Murni tidak masuk hari ini, Khem," kata Ratih, salah satu pekerja yang selalu bekerja bersamanya. "Kita sudah mencari dia di mana-mana, tapi tidak ada kabarnya."
Khem langsung mengambil teleponnya, menekan nomor yang sudah tercetak dalam ingatannya seperti pola pada besi yang ia bentuk. Suara nada dering terdengar lama, tapi tidak ada yang menjawab. Keringat mulai menetes di dahinya – bukan karena panas matahari, tapi karena rasa takut yang mulai menyelimuti hatinya. Tanpa berpikir dua kali, dia berlari meninggalkan pabrik, menuju kontrakan kecil yang menjadi rumah Murni.
Dinding kontrakan itu tipis seperti daun pisang, dan dari luar sudah bisa dia dengar suara napas yang sesak dan tidak teratur. Khem mengetuk pintu dengan keras, suara mengetukan itu seperti guntur yang mengguncang kesunyian pagi. "Murni! Murni, kamu ada dalam sana tidak?"
Setelah beberapa saat, pintu terbuka perlahan. Murni muncul dengan wajahnya pucat seperti kapas yang baru dipetik, bibirnya kering seperti tanah yang kekurangan air, dan matanya merah seperti buah delima yang belum matang. Tubuhnya bergoyang seperti tumbuhan yang terkena angin kencang, sebelum akhirnya hampir jatuh ke lantai – jika bukan Khem yang cepat menangkapnya.
"Wahai Tuhan, Murni..." ucap Khem dengan suara yang penuh dengan rasa sakit. Tubuhnya terasa panas seperti besi yang baru dikeluarkan dari tungku. Dia segera menggendongnya dengan lembut, seperti membawa barang yang paling rapuh di dunia, dan berlari menuju klinik terdekat yang terletak di sudut jalan raya.
Di klinik kecil yang berbau obat dan alkohol, Murni terbaring di atas ranjang dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Khem berdiri di sisi ranjang, tangan nya menggenggam tangan Murni yang dingin seperti es batu. Dokter memeriksa suhu tubuhnya dengan termometer, wajahnya penuh dengan keseriusan.
"Suhu nya sangat tinggi, hampir mencapai 40 derajat," kata dokter sambil mencatat di buku catatan. "Ada tanda-tanda kelelahan yang parah dan mungkin juga efek stres yang berat. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya? Apakah dia bekerja terlalu keras atau mengalami sesuatu yang membuatnya tertekan?"
Khem menoleh ke arah Murni, matanya penuh dengan kekhawatiran yang dalam seperti lautan. "Murni, sayang... apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu tidak masuk kerja dan kok sampai sakit seperti ini?"
Murni melihatnya dengan mata yang sudah mulai kabur karena demam. Lidahnya seperti terasa kaku seperti kayu, dan setiap kali ia ingin membuka mulut untuk berkata benar, suara Aksa yang mengancam selalu muncul di telinganya seperti bisikan iblis. "Jangan pernah memberitahu siapapun tentang ini, termasuk Khem. Jika tidak, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada dirimu dan pada pacarmu yang bekerja di pabrik besi itu."
"Aku... aku hanya terlalu lelah, Khem," gumamnya dengan suara yang lemah seperti angin sepoi-sepoi. "Baru-baru ini pekerjaan di pabrik cukup banyak, jadi aku lelah dan akhirnya sakit."
Khem melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta dan juga keraguan. Dia tahu Murni seperti buku terbuka yang bisa ia baca dengan mudah – setiap kali dia berbohong, matanya akan berkedip lebih cepat dan tangan nya akan menggenggam selimut dengan erat seperti itu sekarang. Tapi dia tidak ingin memaksanya berbicara. Dia hanya mengulurkan tangannya, menyentuh dahinya yang masih panas dengan lembut.
"Baiklah, sayang. Kamu tidak perlu berpikir tentang apa-apa sekarang," ujarnya dengan suara yang lembut seperti kapas. "Yang penting kamu sembuh dengan baik. Aku akan selalu ada di sini untukmu."
Saat Khem berbalik untuk berbicara dengan dokter tentang obat dan perawatan yang perlu diberikan, Murni menutup matanya. Air mata mengalir di bawah kelopak matanya yang lelah, menyebar di atas pipinya yang pucat seperti sungai kecil yang mengalir di atas tanah kering. Ternyata aku benar-benar sepolos itu, gumamnya dalam hati, rasa bersalah seperti duri yang menusuk-nusuk hatinya. Aku terlalu mudah mempercayai orang lain, sampai akhirnya aku terjebak dalam dunia kegelapan yang tidak pernah aku duga akan ada. Dan aku bahkan tidak berani memberitahu Khem yang selalu mencintaiku dengan tulus. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Dokter memberikan obat penurun panas dan memberitahu Khem bahwa Murni perlu istirahat yang cukup selama beberapa hari. Khem membayar biaya perawatan, kemudian menggendong Murni kembali ke kontrakan nya. Dia membersihkan dahinya dengan kain basah, memasang kompres dingin di kepalanya, dan memasak bubur ayam yang lembut untuknya. Setiap gerakannya penuh dengan perhatian yang tulus, seperti seorang tukang besi yang merawat karya terbaiknya dengan hati-hati.
Saat malam mulai datang lagi, Murni terbangun sebentar. Dia melihat Khem yang sedang berjongkok di sisi ranjang, matanya yang lelah tetap memperhatikannya dengan cinta yang tak pernah pudar. Di luar jendela, suara mesin pabrik besi dan baja terdengar lagi seperti denyut jantung kota – tapi kali ini rasanya dekat, seolah-olah memberikan rasa aman yang selama ini dia cari.
"Aku minta maaf, Khem," bisik Murni dengan suara yang masih lemah.
Khem mengangkat wajahnya, memberikan senyum yang hangat seperti sinar matahari pagi. "Kamu tidak perlu minta maaf untuk apa-apa, sayang. Yang penting kamu baik-baik saja. Dan jika ada sesuatu yang kamu rasakan, sesuatu yang membuatmu kesusahan... ingat ya, aku selalu siap mendengarmu. Kita adalah satu pasangan, kita harus saling membantu satu sama lain."
Murni mengangguk perlahan, matanya kembali tertutup karena rasa kantuk yang menghampirinya. Tapi di dalam hatinya, sebuah keputusan mulai terbentuk seperti benih yang mulai tumbuh di tanah yang subur. Dia tahu bahwa dia tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran selamanya – bahwa dunia kegelapan yang Aksa ciptakan tidak akan pernah hilang jika dia terus diam. Dan mungkin, dengan cinta dan dukungan Khem, dia akan memiliki keberanian untuk menghadapi semua itu dan menemukan jalan kembali ke dunia yang penuh dengan cahaya dan harapan.
...