Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Perubahan Yang Tersembunyi"
Hari-hari berlalu dengan lambat. Setelah pembicaraan dengan ibunya, Arif seolah-olah benar-benar berubah. Dia tidak pernah lagi berjudi—sesuatu yang dulu sering membuatnya marah dan menghabiskan uang. Setiap pagi, dia bangun pagi untuk bekerja, dan sore hari, dia selalu pulang dengan makanan kesukaan Dewi: kue klepon yang manis, sate ayam yang harum, atau bubur ayam yang hangat.
“Hai, Dewi. Aku bawa klepon nih, yang kamu suka dari toko di sudut jalan,” ujar Arif dengan senyum yang lemah, meletakkan tas makanan di meja. Dewi berdiri di sudut kamar, melihatnya tanpa ekspresi. Dia mendekati meja, mengambil satu klepon, dan memakannya dalam keheningan. Arif tersenyum puas, merasa bahwa ini adalah langkah pertama menuju perbaikan.
Tidak hanya itu—Arif juga tidak pernah lagi marah pada Dewi. Bahkan ketika Dewi tetap diam seharian, tidak mau berbicara, dia hanya mengangguk dan tidak memaksanya. Dia mencoba berbicara tentang hal-hal kecil: cuaca yang cerah, pekerjaannya yang baik, atau berita yang dia dengar. Tapi Dewi hanya mendengarkan diam-diam, tidak pernah memberikan tanggapan.
Suatu hari, Arif pulang dan melihat tumpukan baju yang sudah terlalu menumpuk di sudut kamar—sampai tak ada ruang untuk berjalan. Dia ingin mencucinya sendiri, tapi kemudian melihat Dewi berdiri di dekatnya. Tanpa berkata apa-apa, Dewi mengambil tumpukan baju itu, membawanya ke bak cuci, dan mulai mencucinya. Arif berdiri diam, mata penuh harapan. “Dewi… terima kasih ya,” ujarnya dengan suara yang bergetar.
Tapi Dewi hanya diam, tangan terus bergerak mencuci baju. Dia mengerjakannya dengan cepat dan rapi, tapi ekspresinya tetap kosong. Setelah selesai, dia menggantung baju di teras, lalu kembali ke kamar dan duduk di sudutnya. Arif merasa hati sedikit hancur—meskipun Dewi membantu pekerjaan rumah, sikapnya yang dingin masih tidak berubah.
Minggu demi minggu, Arif terus melakukan hal yang sama. Dia tetap rajin bekerja, tetap membeli makanan kesukaan Dewi, tetap tidak marah. Dia bahkan mencoba mengajaknya keluar ke taman, berjalan-jalan sambil melihat bunga yang mekar. “Yuk, Dewi. Udara luar bagus banget. Bisa rileks sedikit,” ujarnya dengan senyum. Dewi hanya mengangguk, dan mereka berjalan di taman dalam keheningan. Arif berbicara tentang bunga yang cantik, burung yang terbang, tapi Dewi hanya melihat jalan yang bergulir di depan.
Saat itu, seorang wanita tua yang sedang berjalan dengan cucunya melihat mereka. “Wah, pasangan yang menyayangi ya. Suamimu baik banget, nak,” ujar wanita tua dengan senyum. Dewi hanya mengangguk, tidak mau berbicara. Arif tersenyum, tapi di dalam hatinya, dia merasa sedih—wanita tua itu tidak tahu betapa jauhnya hubungan mereka.
Malam itu, Arif duduk di teras, melihat langit yang penuh bintang. Dia memikirkan Dewi, yang sedang tidur di kamar. Dia telah melakukan segalanya yang bisa dia lakukan untuk berubah. Dia tidak berjudi lagi, tidak marah lagi, selalu memperhatikan kebutuhan Dewi. Tapi mengapa sikap Dewi yang dingin masih tidak berubah? Apakah dia sudah terlalu terlambat? Apakah semua yang dia lakukan tidak akan pernah cukup?
Di kamar, Dewi juga tidak bisa tidur. Dia berdiri di depan jendela, melihat langit yang penuh bintang. Dia melihat Arif yang duduk di teras, wajahnya terlihat lelah dan sedih. Dia tahu bahwa Arif sudah berubah—benar-benar berubah. Dia melihat semua usaha yang dia lakukan, semua perhatian yang dia berikan. Tapi dinginnya yang sudah meresap di hatinya terlalu kuat untuk dihilangkan.
Dia ingat semua masa lalu: ketika Arif membohongi keluarga, ketika paman-paman nya memaksanya, ketika dia merasa terjebak dan hilang. Semua itu telah membuat hatinya membeku seperti es, dan meskipun Arif mencoba meluluhkan dengan kebaikan, lapisan es itu masih tebal. Dia tidak bisa merasakan cinta, tidak bisa merasakan kebahagiaan, tidak bisa merasakan apapun selain dingin yang tak terhindarkan.
Hari-hari terus berlalu. Arif tetap berubah, tetap melakukan hal yang baik. Dewi tetap memakan makanan yang dia beli, tetap membantu pekerjaan rumah kadang-kadang, tapi tetap dingin dan diam. Mereka hidup bersama di rumah yang sama, tapi seolah-olah hidup di dunia yang berbeda. Arif selalu berharap bahwa suatu hari, Dewi akan kembali ke dirinya yang lama. Tapi Dewi hanya merasa lelah—lelah dengan harapan, lelah dengan perjuangan, lelah dengan semua yang telah terjadi.
Suatu malam, Arif mendekati Dewi yang berdiri di depan jendela. Dia memegang tangannya dengan lemah, tangan nya bergetar. “Dewi… aku sudah berubah, kan? Aku sudah melakukan segalanya untukmu. Apakah kamu tidak bisa merasa sesuatu pun untukku? Apakah aku tidak pernah akan cukup?” tanya dia dengan suara yang lemah dan seperti akan menangis.
Dewi melihatnya, mata nya tetap kosong. Dia ingin berkata ya, ingin mengatakan bahwa dia melihat perubahannya, ingin merasakan cinta yang dulu ada. Tapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Dia hanya berdiri diam, tangan yang dipegang Arif terasa dingin dan tidak berdaya.
Arif melepaskan tangannya, air mata menetes di pipinya. Dia keluar dari kamar, meninggalkan Dewi sendirian di depan jendela. Dewi melihatnya pergi, mata masih kosong. Dia memandang langit yang penuh bintang, dan di dalam hatinya, dia juga bertanya: apakah perubahan sikap Arif mampu mengubah perasaan Dewi yang dingin?
Setelah beberapa bulan, kehidupan seolah-olah kembali "baik-baik saja" di depan mata Dewi. Arif tetap memberikan perhatiannya: membeli makanan kesukaan, membantu pekerjaan rumah, dan tidak pernah marah. Dia bahkan katakan telah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik, sehingga mereka bisa hidup lebih nyaman. Rumah mereka terlihat rapi, penuh dengan kebutuhan sehari-hari—seolah-olah semua masalah sudah berlalu.
Tapi ada sesuatu yang tidak beres. Arif yang katanya bekerja setiap hari, tapi Dewi tidak pernah melihat dia membawa gaji atau surat dari tempat kerja. Dia juga tidak pernah mau memberitahu di mana dia bekerja, cuma bilang "tempat yang jauh." Yang lebih aneh, meskipun Arif tidak keluar malam lagi seperti dulu, tapi jam pulang Arif selalu semakin terlambat, biasanya kalau hari hari sebelumnya Arif selalu pulang sebelum jam 5 sore namun makin kesini dia sering pulang jam 6 atau jam 7 malam, Dewi tak pernah bertanya kenapa namun Arif selalu bilang entah dia singgah di warung, atau ketemu teman sebentar.
Dewi melihat semua itu dari kejauhan, mata masih kosong. Dia tidak bertanya apa-apa—tidak peduli lagi apa yang Arif lakukan. Tapi di balik keheningannya, ada rasa yang muncul di hati dia: rasa penasaran yang samar.
Apa yang sebenarnya Arif lakukan setiap hari? Mengapa dia harus menyembunyikan hal itu dari Dewi?