Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian yang di sepakati
"Apa kau setuju untuk itu?" tanya Glen dengan antusias.
"Masuk lah," ucap Amara tanpa ingin menjawab pertanyaan Glen, Dia masih perlu memikirkan banyak hal, terlebih tugas dan pekerjaan nya di sini banyak sekali.
Glen hanya mengikuti wanita itu masuk ke dalam Mansion, saat sudah berada di dalam dia bertemu dengan Rado sepupunya.
"Rado, pinjamkan bajumu untuk nya," ucap nya pada Rado, yang terlihat bingung dia tidak bisa membedakan mana Amara mana Amira, namun pria itu tidak banyak bertanya langsung berjalan ke arah kamarnya.
"Terima kasih," ucap Glen setelah memakai pakaian Rado, karena sebenarnya dia membawa pakaian cuma iya tinggal di bandara karena terburu-buru tadi.
"Santai aja brader, sebentar lagi kan Lo, jadi kakak ipar sepupu juga kan," jawab Rado sambil tersenyum tipis.
"Ayo bicara," suara Amara yang dingin, membuat Glen mengurungkan niatnya untuk bicara banyak dengan Rado.
Pria itu pun mengikuti Amara ke sebuah ruangan di lantai tiga. Ruangan itu ternyata adalah kamar Amara, di dalam kamar itu ternyata ada sebuah ruangan seperti ruang kerja dan ada juga sofa dan meja di depan nya TV .
Amara mempersilahkan Glen untuk duduk, pria itu hanya menatap sekeliling dengan heran dan sedikit merinding dengan ruangan itu, karena ruangan itu memiliki hawa mistik terlebih ada gambar tengkorak di dinding nya.
"Jangan pedulikan sekitar, cukup katakan saja, apa keuntungannya jika Gue bersedia menjadi pengganti," ucap Amara dengan dingin, nada bicaranya seperti sebuah peringatan untuk Glen.
"Apa saja, selain membantu kaki Nenek mu, kau bisa meminta apapun yang kau inginkan," jawab Glen dengan luwes apa adanya, karena merasa Dia tidak punya apapun untuk di pamerkan, wanita di hadapannya itu sudah punya segalanya.
"Pria ini sepertinya lupa sesuatu," batin Amara sambil mengingat-ingat apa yang pernah pria itu katakan di masa lalu.
"Oya, Btw perkenalkan nama ku Glen Jonson, Nama mu Amara kan atau biasa di panggil Ama?" ucap Glen memperkenalkan diri karena wanita di hadapannya diam saja.
"Bukan lagi, Kau cukup panggil Aku Sasa, atau apalah yang jelas jangan panggil Gue dengan panggilan seperti itu," jawab wanita itu dingin, nada bicaranya seperti sebuah ancaman bagi Glen.
"Kenapa? bukan kah itu nama mu?" tanya Glen dengan bingung.
"Lo, cukup diam dan jangan banyak bertanya," jawab Amara dengan dingin.
"Oke." Glen akhirnya menurut dia tidak mau jika wanita di hadapannya berubah pikiran.
"Jadi kontrak pernikahan ini hanya berjalan selama 100 hari, selama menikah kita harus saling membantu satu sama lain, dalam hal apapun, kau juga harus berpura-pura menjadi Amira saat di luar rumah," lanjut nya panjang lebar menjelaskan dengan detail.
"Jika Amira sadar sebelum 100 hari, apa Lo langsung menghempaskan Gue begitu saja?" tanya Amara dengan dingin, merasa tidak terima dengan apa yang pria di hadapannya itu katakan.
"Kontrak tetep berjalan selama 100 hari tidak kurang tidak lebih, jika Amira sadar atau tidak itu tidak akan merubah apapun, karena yang ku nikahi dirimu," jawab Glen sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"Cih, dasar buaya darat tidak tahu diri," ejek Amara sambil membuang muka nya ke sembarang arah.
"Bagaimana setuju tidak? Di jamin menikah dengan ku tidak akan merugikan mu? Kalo setuju kita nanti malam langsung terbang ke Indonesia, karena besok sudah tidak ada waktu?" tanya Glen dengan tatapan mengiba membuat Amara berpikir keras.
"Oke, 100 hari tidak kurang tidak lebih, tidak ada sentuhan tidak ada perasaan?" jawab Amara sambil menganggukkan kepalanya setuju, bukan tanpa alasan dia hanya mengingat di masa lalu pria itu pernah menolong nya, meskipun pria di hadapannya tidak mengenal dirinya atau bahkan lupa.
"Terima kasih, Aku tidak akan mengecewakan mu," ucap Glen tanpa sadar langsung memeluk Amara karena saking senangnya.
"Tidak ada sentuhan, tidak ada perasaan," hardik Amara sambil menghempaskan tubuh Glen ke sofa, karena pria itu lupa dengan kesepakatan tadi.
"Maaf Aku terlalu bersemangat," ucap Glen sambil tertunduk merutuki kebodohan dirinya.
"Kali ini Gue maafkan, jika terjadi lagi kita batalkan saja," jawab Amara sambil berjalan keluar.
"Gue mau pergi dulu, nanti malam kita ketemu di bandara," lanjut nya melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Glen seorang diri.
Wanita itu langsung berjalan keluar dari Mansion Kakek buyutnya, Dia bahkan tidak sedikit pun menjawab saat Rado bertanya, wanita itu kini mengendarai mobil nya meninggalkan Pekarangan Mansion, menuju markas nya yang tadi pagi iya tinggalkan dengan tergesa-gesa.
Kebetulan hujan sudah reda.Sepanjang perjalanan wanita itu terus memikirkan banyak hal, ada rasa khawatir dan ketakutan yang menyelimuti hatinya.
Hingga akhirnya mobil sudah sampai di depan markas nya, yang iya lihat beberapa anak buah nya sudah terkapar bersimbah darah, dan ada ambulan yang membawanya, Dia menjadi geram sendiri.
"Ingat pulang juga kau? Apa yang membuat mu tergesa-gesa sampai meninggalkan tawanan?" Suara Ferdi kakak angkatnya terdengar dingin dan penuh intimidasi.
"Apa yang terjadi kak?" Amara malah bertanya balik, karena merasa penasaran.
"Jon kabur, ada yang menyelamatkan nya, sepertinya bukan orang biasa, terlihat dari cara dia menyerang hingga anak buah sudah banyak yang mati," jawab Ferdi panjang lebar dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat merasa marah.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku? Kau tahukan Dia sangat berbahaya, jika lepas maka, klen kita yang terancam, Dia gak akan biarkan kita begitu saja setelah apa yang terjadi," lanjut nya menatap Amara dengan menyelidik.
"Ini salah ku, Nenek tadi di culik, makanya Aku sangat panik sampai lupa memberitahu mu, maaf," jawab Amara tertunduk merasa bersalah, wanita itu hanya akan bersikap begitu di hadapan orang terdekat nya saja.
"Oke kali ini tidak masalah, tapi bagaimana dengan Nenek apa Dia baik-baik saja?" ucap pria itu berusaha untuk tidak memperpanjang masalah, sambil menatap adik angkatnya merasa ikut khawatir.
"Sudah baik, ternyata cuma seorang pria yang butuh bantuan saja, dan memancing ku dengan menculik Nenek," jawab Amara sambil merasa kesal dengan Glen, karena gara-gara pria itu hidup nya tidak tenang.
Amara duduk di samping kakak nya, lalu mengambil rokok dan menyalahkan nya, menghisap nya perlahan sehingga asap rokok itu menyebar ke bagian ruangan.
"Ada masalah apa?" tanya Ferdi dengan heran, karena jika adiknya merokok pasti suasana hati nya sedang tidak baik.
"Aku harus pulang ke Indonesia, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab," jawab Amara sambil menghisap rokok nya mengeluarkan asapnya perlahan.
"Tugas apa? Bukan nya kau ingin melupakan tentang Indonesia?" tanya pria itu dengan menyelidik, karena setahu nya adik angkatnya sangat begitu membenci keluarga nya.
"Menjadi Pengantin pengganti, untuk pria yang sudah pernah menyelamatkan ku, sebelum kita bertemu," Jawab Amara panjang lebar, menerawang ke masa lalu.
"Apa kau mencintainya? Apa cinta membuat mu lemah lagi?" Ferdi bertanya dengan wajah yang tampak marah, bukan tanpa alasan tapi Dia tidak ingin adiknya mengalami hal buruk lagi.
"Tidak, Aku bukan Amara Argadinata yang lemah karena cinta itu, Aku Queensa Wolker yang kuat dan pemberani, tidak ada cinta dalam hidup nya selain dendam dan ambisi untuk memusnahkan musuh," jawab Amara panjang lebar penuh tekad yang kuat.
"Aku cuma sekedar balas budi saja, boleh yah? cuma 100 hari, setelah itu Aku akan kembali menjadi adik mu yang penurut," lanjut nya dengan manja, wanita itu seketika sudah berubah drastis seperti orang yang berbeda, itulah Amara wanita yang dingin di luar tapi hangat pada orang yang dia sayangi.
BERSAMBUNG