Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 Pertemuan Pertama
Malam turun menyelimuti langit kota, ketika Tamara baru keluar dari mobil bersama papanya.
Ia menatap bangunan restoran di depannya. Tempat itu berdiri elegan, lampu-lampu kekuningan memancarkan sinar hangat dari balik jendela kaca.
Rudi berdiri di dekatnya, senyumnya mengambang memperhatikan penampilan putrinya—dress semi formal, rambut panjangnya jatuh rapi, dengan riasan anggun tanpa berlebihan.
"Kamu sudah seperti gadis yang benar-benar siap untuk dilamar, Tata." Pria paruh baya itu menyeletuk ringan.
Tamara menoleh, mendengus pelan. "Papa apa-apaan sih. Aku cuma nurutin keinginan Papa ya, yang nyuruh aku berpakaian sopan."
Rudi tergelak ringan. Wajahnya santai, jauh dari kesan tegas penuh wibawa seperti ketika berada di ruang pribadinya.
"Papa cuma minta kamu berpakaian yang sopan. Tapi, kamu dandan lebih cantik dari biasanya. Lebih anggun."
Nada bicaranya sedikit menggoda, membuat suasana hubungan bapak dan anak itu lebih hangat.
Tamara sedikit merapikan rambut di sisi wajahnya, agak tersipu. "Duh, Pa. Ini tuh udah kebiasaan mutlak, tiap aku mau ketemu sama siapa pun."
Rudi mengangguk-angguk singkat. "Ya, anggap saja malam ini kamu dandan khusus buat ketemu calon suami kamu."
Pria itu lalu mengajaknya melangkah masuk, tapi Tamara terburu menahan. "Pa... " katanya pelan.
Rudi menoleh, dahi Tamara tampak berkerut halus.
"Kalau nanti aku ngerasa nggak cocok, aku boleh menolak kan?" tanya Tamara, nyaris berbisik.
Rudi mengernyit. "Boleh saja," jawabnya.
Sorot matanya sedikit menantang. "Asal, kamu siapkan argumentasi yang paling bisa Papa terima," imbuhnya.
Tamara mengerucutkan bibir. "Itu sih, sulit buat aku. Secara, aku nggak pernah bisa menang lawan Papa," ujarnya agak ketus.
Sebagai CEO, mematahkan argumen para direksi dan karyawan di perusahaan sudah seperti makanannya sehari-hari. Tapi kalau sama papanya, ia hampir selalu kalah telak.
"Ya udah, kamu ketemu aja dulu," kata Rudi, lalu melanjutkan langkah.
Tamara berjalan di samping papanya, wajahnya nyaris seperti anak kecil yang takut tersesat.
"Pa, dia masih muda kan?" tanya Tamara lagi, ketika langkah mereka memasuki area restoran lebih dalam.
Rudi menoleh singkat. "Kamu meragukan pilihan Papa?"
"Ya... Gimana ya," Tamara tampak berpikir, "Kenalan dan kolega Papa kan, rata-rata circle bapak-bapak semua."
Rudi menahan tawa, langkah mereka tiba di area semi terbuka restoran yang menyuguhkan nuansa elegan dan hangat.
Tamara masih belum puas bertanya, "Maksud aku, Papa nggak akan asal jodohin aku, kan? Aku punya standar sendiri loh, Pa."
Pikirannya sudah kemana-mana, takut laki-laki yang akan dikenalkan itu tak sesuai keinginannya. Ia... tidak menyukai tipe laki-laki kaku.
Tapi wajah papanya terlalu santai, senyumnya seperti sengaja menyimpan rahasia kecil. "Dia seorang profesor," katanya.
Tamara menoleh cepat, matanya melebar. "Hah? Profesor? Kayak Papa?"
Suaranya meninggi karena kaget, melebur di antara alunan musik lembut dan suara pengunjung lain.
Tapi reaksinya jelas tidak senang bercampur takut. Dalam pikirannya, terlintas bayangan sosok seperti yang pernah membimbing tesisnya dulu.
Profesor? Galak? Tua? Apa sosok kayak gitu yang mau Papa kenalin? batinnya menggelegak.
Tamara menatap protes. "Pa, yang bener aja?"
Rudi tertawa kecil, menggeleng pelan melihat wajah putrinya memelas.
"Kamu nggak usah khawatir, Tata. Papa juga nggak asal pilihkan jodoh untuk kamu. Yang pasti, dia lebih dewasa dan bisa membimbing kamu," ujarnya.
"Dewasa apa udah tua?" sungut Tamara, kesal melihat wajah papanya penuh senyum kemenangan.
Langkah mereka tiba di depan meja yang sudah di reservasi. Tampaknya mereka datang lebih awal, Tamara jadi semakin gelisah.
Sebelum menuju tempat duduk, suara seseorang terdengar dari arah belakang.
"Prof. Rudi," sapa pria sepantaran Rudi.
Kedua bapak dan anak itu kompak berbalik. Rudi langsung menyambutnya, sementara Tamara hanya diam menyaksikan keakraban mereka.
Kedua pria itu bahkan saling memeluk singkat, mengobrol ringan sekadar bertanya kabar.
Pria itu tersenyum ke arah Tamara, lalu bertanya kepada Rudi. "Jadi ini, yang namanya Tamara?"
Rudi mengiyakan, sambil merangkul sebentar pundak Tamara. "Putriku satu-satunya."
Tamara tersenyum kaku. Ia mengangkat alis, menatap penuh penilaian. Seolah berkata, nggak mungkin bapak ini kan?
Hingga Rudi menggamit lengannya. "Tata, sapa Om Arman."
Tamara terperangah ringan. "Oh... Om Arman?" suaranya penuh kelegaan, disusul senyum ramah.
Selesai menyalimi pria itu, ia segera membuang muka ke samping, wajahnya memerah karena malu sendiri.
Hingga Arman menoleh ke sebuah arah. "Nah, ini Arvin sama mamanya," katanya.
Tamara ikut menoleh, pandangannya langsung menangkap dua orang yang baru tiba menyusul.
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun dan bersahaja, tersenyum ramah saat menyapa.
Di samping wanita itu—laki-laki tinggi, rapi, dengan setelan kemeja membingkai sempurna bahu bidangnya, ikut menyapa dengan sopan.
Tamara nyaris tak berkedip memperhatikan lebih lama. Wajah itu memiliki rahang tegas, dengan tampilan terawat di setiap sisi.
Sorot matanya memancarkan ketenangan bersih dan cerdas, aura manusia dengan intelektual yang tidak perlu banyak gaya untuk terlihat menonjol.
Caranya berdiri dan berbicara, tenang, stabil, percaya diri tanpa agresif—sikap yang cukup membuat Tamara hampir hilang keseimbangan saat berdiri di dekatnya.
Hingga tatapan Arvin berpindah ke arahnya, mata mereka bertemu—singkat, tapi justru membuat jantung Tamara langsung terasa bergerak naik turun lebih cepat.
Arvin tersenyum tipis, ramah. "Malam," sapanya lembut.
Lalu mengulurkan tangan ke depan. "Arvin," katanya memperkenalkan diri.
Tamara sempat menatap tangan itu ragu, sebelum akhirnya menyambutnya.
"Tata... " ujarnya saat jemari mereka saling bersentuhan, lalu buru-buru membetulkan, "Eh, Tamara maksudnya."
Rudi menahan tawa melihat wajah putrinya tampak gugup, hal yang bahkan jarang terjadi pada Tamara.
Ia menepuk ringan pundak Arvin. "Tata itu nama panggilan kecilnya," ujar Rudi.
Arvin mengangguk singkat. Sementara Tamara langsung menarik kembali tangannya, merapikan ujung rambut yang sebenarnya tidak perlu dirapikan.
Oh my God! Ini udah nggak normal... apa yang terjadi denganku? Tamara menggerutu dalam hati, sambil merasakan pipinya mulai memanas.
Pandangannya sedikit menunduk, bergerak gugup mencari arah. Ia bahkan tidak sadar kalau Arvin masih memperhatikannya.
Sorot mata laki-laki itu tetap profesional dan sopan. Tapi, bibirnya melengkung samar ketika mengamati perempuan di depannya lebih lama—berdiri dengan bahu tegak, pesona CEO cantik yang tak tergoyahkan, meski wajahnya sedikit memerah.
Elva—mamanya Arvin, menyenggol lengan putranya. Gerakan alisnya sengaja menggoda Arvin yang sempat terpaku memandangi Tamara.
Sampai wanita itu langsung memecah suasana. "Wah, biasanya melihat wajah Tamara Hadinata di majalah wanita dan bisnis, ternyata aslinya lebih cantik ya."
Senyumnya penuh keibuan. "Senang sekali bisa bertemu dengan kamu, Tamara," ucapnya.
Tamara hanya mengangguk sopan, lalu menyambut perkenalan wanita itu dengan baik.
Pembawaan Elva yang ramah dan menyenangkan, membuat Tamara mendadak jadi perempuan kalem dan lemah lembut malam itu. Padahal biasanya ia seperti badai, terutama ketika di meja rapat.
Rudi lantas mengajak mereka untuk duduk, memesan makanan, dan berbincang santai.
Obrolan ringan itu beradu dengan denting peralatan makan, membaur di antara pengunjung lain.
Tamara duduk seperti anak penurut di samping papanya. Ia memilih banyak diam, sesekali mengamati situasi, kadang memperhatikan Arvin sekilas.
Ia sudah berusaha cuek. Sialnya, aura laki-laki itu seperti medan magnet yang terus menariknya.
Jika biasanya Tamara yang membuat kebanyakan laki-laki tak berkutik, tapi kali ini takdir seolah mengerjainya balik.
Pembicaraan orang tua mereka mulai menemukan ritme, dari sekadar basa basi, membahas kabar keluarga, hingga topik seputar lingkungan kerja—yang membuat Tamara merasa asing sendiri.
Arvin yang duduk di seberang meja, sesekali terlibat pembicaraan ketika mendapat lemparan pertanyaan.
Cara bicaranya terkontrol, dengan kalimat terukur. Sikapnya super tenang, seolah tak ada hal apapun yang mengganggu dunianya.
Sesekali ia menoleh ke arah Tamara, yang bahkan terlihat lebih banyak mengangkat gelas daripada pada ikut bicara. Benar-benar seperti anak pendiam.
Di sisi lain, Tamara sedang tidak sadar kalau ia diperhatikan. Pandangannya sedikit tertunduk, kaki sudah bergoyang ringan, pikirannya sibuk sendiri menunggu momen ini cepat berlalu.
Satu tangan masih memegang gelas yang bahkan sudah kosong, ia baru sadar saat akan meminumnya. Namun, sebelum sempat malu sendiri, sudut matanya menangkap Arvin yang ternyata sedang memandangnya sambil menahan senyum.
Matanya melebar, sembari menahan napas. Tamat sudah harga diriku...
Ia sangat ingin rasanya, langsung sembunyi ke kolong meja detik itu juga.
Akhirnya dengan wajah yang merah padam, Tamara kembali meletakkan gelas di atas meja. Mencoba duduk tegak dengan kepercayaan diri yang tersisa.
Arvin segera memanggil seorang pelayan restoran, lalu memesankan minuman yang sama untuk Tamara.
Sementara itu, Rudi tersenyum penuh arti melihat tingkah putrinya yang sesekali ia amati dari tadi.
Ia sedikit mendekat, lalu berbisik, "Jangan terlalu tampak kalau sedang gugup, Ta. Kamu kelihatan salah tingkah."
Senyumnya sedikit nakal, lalu berkata lagi lebih pelan. "Arvin itu profesor psikologi, dia bisa baca gerak gerik kamu bahkan saat kamu hanya diam."
Tamara langsung membeku di tempat tanpa suara, menatap papanya tak percaya.
Rudi menegakkan punggung. Ia memulai inti pembicaraan, mengenalkan tentang Arvin, sehingga Tamara sedikit tahu tentangnya.
Selain pernah menjadi anak didik papanya, Arvin merupakan seorang profesor muda di Universitas Bina Bangsa, kampus yang tidak asing lagi bagi Tamara.
Sebuah perguruan tinggi negeri bergengsi dan terkemuka di pusat kota, tempat ia pernah mengenyam pendidikan beberapa tahun silam.
Tamara memang tidak terlalu tahu dengan dunia papanya, bahkan tidak menyangka kalau papanya sudah lama memiliki kedekatan hubungan dengan keluarga Arvin.
"Nah, karena sudah berkenalan. Kalian tinggal bangun komunikasi yang lebih intens, biar saling tahu lebih banyak." Arman yang tampak bersemangat, memberi komentar.
Elva mengangguk sepakat. "Sering-sering ketemu, misalnya," tambahnya.
Rudi ikut menimpali, "Kalau saya sih... Asal Arvin sudah setuju, saya malah nggak keberatan untuk langsung tentukan tanggal pernikahan."
Ia menatap ke arah putrinya. "Tamara juga pasti akan langsung setuju, kan?" ujarnya, setengah menggoda.
Para orang tua itu tertawa pelan, jelas menyambut baik arah hubungan mereka. Sedangkan Arvin hanya senyum samar, masih dengan wajah yang super tenang yang sulit dibaca.
Sementara Tamara membeku di tempat, tak habis setelah papanya menjebaknya hidup-hidup seperti ini.
Kalimat itu terdengar ringan, namun justru menghantam keras dadanya: antara ingin protes keras dan tetap menjaga sikap.
Ia bahkan hanya bisa mengangguk saat papanya dan orang tua Arvin meninggalkan mereka, dengan alasan mereka perlu diberi waktu berdua.
Tamara sudah membaca niat papanya, apalagi saat pria itu dengan sopan meminta pada Arvin. "Titip putri saya, ya."
Namun, di antara situasi canggung itu—tanpa ia sadari dari sebuah sudut area restoran, sepasang mata sedang memperhatikan dari kejauhan.
Di salah satu meja pengunjung restoran yang sama, Andra duduk bersama beberapa orang.
Sesekali ia terlibat obrolan, namun pandangannya lebih banyak fokus mengamati ke arah Tamara.
Jarinya mengetuk-ngetuk meja, gelisah melihat perempuan yang ia rindukan dan masih ia harapkan sedang bersama laki-laki lain.
BERSAMBUNG...
Wah si mantan lagi mutar otak tuh...
Kira-kira dia bakal mantau aja? Atau bakal langsung tancap gas nyamperin ya?
Ikuti kelanjutannya ya~
tapi hari ini kayaknya kalah ruh sama emak2 bawel /Chuckle/