sambungan season 1,
Bintang kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan kuliahnya, tiba-tiba omanya berubah. ia menentang hubungannya dengan Bio
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan yang Kembali
Klinik hewan itu kembali sunyi setelah hujan reda. Bau tanah basah masih tersisa, bercampur dengan aroma disinfektan yang lembut. Lampu-lampu putih menyala tenang, seolah memberi ruang bagi dua orang yang masih berdiri saling berhadapan, sama-sama terjebak di antara masa lalu dan perasaan yang baru mereka sadari.
Sheila duduk di bangku kayu kecil dekat jendela, tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah dingin. Rama masih berdiri, ragu untuk duduk terlalu dekat—takut merusak momen yang terasa rapuh tapi jujur.
“Aneh ya,” Sheila akhirnya membuka suara. “Ternyata hidup bisa muter sejauh ini, terus berhenti tepat di titik yang sama.”
Rama tersenyum kecil. “Kayak luka ini,” katanya sambil menunjuk lengannya. “Nggak pernah benar-benar hilang, cuma… pelan-pelan jadi bagian dari kita.”
Sheila mengangguk. Ia menatap bekas luka itu lagi, kali ini tanpa gemetar. Ingatannya kembali pada hari-hari SMA—dirinya yang keras kepala, suka cari perhatian, dan selalu merasa dunia nggak adil. Ia ingat Bio, Bintang, dan Rama sebagai lingkaran kecil yang selalu bersama. Tapi hari itu—di gang sempit—ia sendirian. Hingga Rama datang.
“Gue dulu nggak pernah bilang terima kasih,” kata Sheila lirih. “Karena gue nggak tau harus ke siapa.”
“Sekarang lo tau,” jawab Rama lembut. “Dan gue di sini.”
Keheningan jatuh lagi, tapi tidak lagi canggung. Ada kenyamanan yang tumbuh, pelan tapi pasti.
Rama akhirnya duduk di bangku seberang. “Lo tau,” katanya, “gue sempat kesel sama lo waktu SMA.”
Sheila terkekeh kecil. “Gue tau. Semua orang kesel sama gue.”
“Bukan itu,” Rama menggeleng. “Gue kesel karena lo kelihatan nggak peduli sama apa pun. Kayak… lo nutup sesuatu.”
Sheila terdiam. Matanya menatap lantai. “Karena gue takut. Gue nggak tau cara jadi lemah tanpa kelihatan bodoh.”
Rama mengangguk, memahami. “Gue juga gitu.”
Mereka saling tersenyum—senyum kecil, tapi jujur.
Hari-hari setelah itu, Rama sering datang ke klinik. Awalnya dengan alasan mengecek kucingnya, lalu membantu hal-hal kecil: mengangkat kandang, membelikan makan siang, atau sekadar duduk menemani saat klinik sepi. Sheila tidak pernah menolak. Kehadiran Rama terasa familiar, seperti teman lama yang akhirnya pulang.
Suatu sore, Sheila menyodorkan foto lama dari laci mejanya. Foto buram itu menampilkan sekelompok siswa SMA di halaman sekolah—Bintang tersenyum cerah, Bio berdiri di sampingnya, dan Rama di belakang dengan ekspresi datar. Di pojok foto, Sheila terlihat setengah memalingkan wajah, tertawa lepas.
“Gue nemu ini waktu beres-beres,” kata Sheila. “Lucu ya, kita semua pernah sedeket itu.”
Rama menatap foto itu lama. “Banyak yang berubah.”
“Dan banyak yang tetap,” jawab Sheila pelan.
Ia menatap Rama. “Termasuk lo.”
Rama tersenyum, sedikit malu. “Lo juga. Cuma sekarang… lebih tenang.”
Sheila tertawa kecil. “Mungkin karena gue akhirnya berdamai sama diri gue sendiri.”
Suatu malam, Rama mengantar Sheila pulang setelah klinik tutup. Jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota. Mereka berjalan pelan, bahu nyaris bersentuhan.
“Rama,” Sheila berhenti. “Kalau gue bilang… gue pengen mulai lagi. Pelan-pelan. Tanpa ngebawa masa lalu sebagai beban. Lo keberatan?”
Rama menatapnya, matanya lembut. “Gue nggak pernah nganggep masa lalu lo sebagai beban.”
Sheila tersenyum. “Gue takut lo cuma kasihan.”
“Kalau gue kasihan,” Rama menggeleng, “gue nggak akan ada di sini tiap hari.”
Sheila tertawa, kali ini lebih lega.
Di sisi lain kota, Bintang duduk di kamarnya, mendengarkan cerita Rama lewat telepon. Ia tersenyum saat mendengar nama Sheila disebut dengan nada yang berbeda—lebih hangat.
“Kayaknya lo seneng,” kata Bintang.
Rama terdiam sejenak. “Gue… ngerasa tenang.”
“Berarti bagus,” jawab Bintang. “Lo pantas bahagia.”
Malam itu, Rama menatap langit dari balkon apartemennya. Ingatannya kembali pada hari di gang sempit—teriakan, rasa takut, dan keputusan spontan untuk melindungi seseorang. Ia tak pernah menyangka keputusan itu akan membawanya ke titik ini.
Sementara Sheila, di kamarnya, membuka lengan bajunya dan menatap bekas luka yang sudah lama ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa malu atau marah. Ia merasa… diterima.
Ingatan itu kembali, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menyatukan.
Dan di antara langkah-langkah kecil, tawa sederhana, serta kehadiran yang konsisten, mereka mulai dekat kembali—bukan sebagai dua anak SMA yang terluka, tapi sebagai dua orang dewasa yang memilih untuk saling menemani.
Tanpa janji besar.
Tanpa tergesa.
Hanya keberanian untuk mengingat—dan melangkah maju bersama.
...****************...