NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Pertama

🦋

Hari itu Nadira pulang lebih sore dari biasanya. Langit sudah mulai memudar, warna jingganya berubah ke ungu tua menandakan waktu magrib sebentar lagi tiba. Ada tugas kelompok mendadak, dan ia perlu menyelesaikannya agar nilainya tidak turun. Lagipula, besok ada kuis mendadak dari guru matematika. Nadira tidak boleh kecolongan lagi.

Ia mengendarai motor yang ia pinjam dari Paman Rigel, ayahnya Fero. Motor itu memang selalu dipakai bergantian antara Nadira dan Fero, karena Fero sendiri jarang pergi kecuali bermain hoki dengan teman-temannya. Paman Rigel sudah mengizinkan, bahkan berkata,

"Kalau Fero nggak butuh, kamu pakai aja, Nak."

Karena itu Nadira tidak pernah akan menganggap ada masalah jika Ia memakai motornya.

Namun begitu ia menurunkan standar motor di halaman rumah, suara teriakan laki-laki meledak seperti bom.

"KEMANA AJA KAMU, HAH?!"

Fero berdiri di pintu, tangan berkacak pinggang, wajah penuh amarah seperti baru kehilangan sesuatu yang sangat penting.

Nadira berkedip, terkejut oleh volume suara itu. "Aku… dari sekolah. Ada tugas kelompok makanya pulang telat."

"NGGAK USAH BOHONG!" Fero mendekat sambil menunjuk motor. "KAMU PAKAI MOTOR YANG BUKAN HAK KAMU! Motor itu buat aku, bukan kamu!"

Nadira menelan ludah. "Tapi… Paman Rigel bilang boleh. Aku cuma..."

"BOHONG! KAMU ITU MEMANG NYUSAHIN! KALO MAU SEKO..."

"Fero, aku cuma telat pula..."

Belum sempat Nadira menjelaskan, Fero sudah membentak lagi. Lebih keras. Lebih menusuk.

"ALASAN! KAMU PULANG TELAT! KAMPUNG INI KECIL, NADIRA! ORANG BAKAL NGOMONGIN YANG GAK-GAK! SOK BEBAS KAYA LONT*”

"Fero… cukup!." Nada Nadira mulai bergetar.

Hatinya panas. Dadanya sesak. Tapi ia masih mencoba bicara pelan.

Namun Fero tidak berhenti. Ia terus memaki seperti mesin yang tidak bisa dimatikan, menyebut Nadira anak pemalas, suka seenaknya, tidak tahu diri, bahkan sempat mengungkit hal-hal pribadi yang tidak pantas diucapkan.

Ada sesuatu di dalam diri Nadira yang patah saat itu juga.

Nadira bukan tipe yang suka membantah. Ia tumbuh dalam keluarga yang hangat, ayah dan ibunya tidak pernah sekalipun membentaknya seperti ini. Nadira jarang dimarahi keras. Ia belum pernah benar-benar berdebat, apalagi diserang dengan kata-kata kasar bertubi-tubi.

Karena itu, ketika Fero terus menghujani dirinya dengan makian, tubuh Nadira bereaksi aneh.

Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tenggorokannya tercekat. Tangan kirinya bergetar hebat. Napasnya naik-turun pendek, terputus-putus.

Ia ingin menjawab. Ia ingin membanting pintu dan pergi. Ia ingin berteriak bahwa Fero tidak punya hak merendahkannya.

Tapi suara itu tidak keluar. Yang keluar justru amarah yang membuncah tanpa arah.

"Aku bilang cukup, Fero!" Nadira membentak, suaranya pecah.

Ia berjalan cepat menuju dapur, berniat mengambil minum dan menenangkan diri, mencari pengalihan apa saja agar tidak Ia tidak makin meledak.

Namun Fero mengikuti dari belakang. Masih memaki. Masih mengomel. Tidak memberi ruang sekecil apa pun bagi Nadira untuk bernapas.

Setiap kata yang keluar dari mulut Fero terasa seperti cambuk. Seperti seseorang yang sengaja menusuk luka lama yang tidak terlihat.

Dan ketika Nadira membuka lemari dapur untuk mengambil gelas, Fero masih saja berteriak di belakangnya.

"KAMU ITU NYUSAHIN! KALO MASIH MAU TINGGAL DI SINI, KAMU IKUTIN ATURAN! JANGAN SESUKA HATI! DASAR..."

PRANG!

Tanpa sadar, Nadira membanting gelas itu dengan keras ke lantai.

Gelasnya pecah. Serpihan kaca berhamburan. Suara pecahannya memantul ke seluruh ruangan, membuat suasana mendadak sunyi sejenak.

Nadira berdiri kaku. Dadanya naik turun dengan liar. Matanya merah.

"FERO! Aku bilang DIAM! Berhenti bicara yang gak-gak ke aku kayak gitu, KAMU NGERTI BAHASA MANUSIA GAK SIH!"

Untuk pertama kalinya Nadira berteriak pada seseorang. Dan untuk pertama kalinya, Fero mematung.

Namun hanya satu detik.

Kemudian ia mencibir. "Kamu gila, ya? Nggak bisa dengar omongan orang? Baru dibentak dikit aja udah Drama! Aku bakal bilang ke kakek kalo kamu susah di atur"

Nadira mengatupkan rahang. Air matanya mulai naik, tapi ia tahan mati-matian. "Aku cuma… capek. Berhenti mencari masalah Fero."

"Nah tuh! Nyusahin lagi! Pecahin gelas, bikin sampah, nanti aku juga yang disuruh bersihin!"

Nadira tidak lagi mendengarkan. Ia jongkok dan mulai memunguti pecahan beling itu satu per satu. Tangannya gemetar hebat, tapi ia tetap memungut. Ia hanya ingin membereskan kekacauan dan pergi dari situ secepat mungkin.

Tapi Fero tetap saja bicara. Tetap menghina. Tetap melukai. Dan tidak berhenti berkata kasar dan semua kebun binatang keluar dari mulutnya.

Dan sesuatu di dalam kepala Nadira seolah meledak. Seketika, tanpa kendali, tanpa logika, tanpa suara peringatan.

Tangan Nadira melayang ke sebuah serpihan beling besar yang tergeletak di lantai. Ia menggenggamnya terlalu kuat, terlalu cepat.

BRUK!

Ia meninju beling itu, memukul lantai yang penuh serpihan dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Rasa sakitnya seperti kilat. Panas, menyengat, lalu mati rasa dan dingin.

Darah langsung mengucur dari buku jarinya, mengalir di antara pecahan kaca. Percikan merah itu mengenai beling-beling bening, menciptakan pemandangan yang begitu kontras dan begitu mengerikan.

Fero membeku. "DIRA?!"

Nadira memandang tangannya yang berdarah tanpa ekspresi. Seakan tubuhnya sudah tidak terhubung lagi dengan pikirannya. Seakan rasa sakit fisik itu lebih mudah ditanggung daripada sakit emosional yang sudah menumpuk sejak ia tinggal di rumah ini.

"Kamu gila! Kamu, kamu ngapain ninju beling?!" Fero mundur dua langkah.

Nadira membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.

Ia hanya melihat darah. Semakin banyak. Semakin deras. Dunia seakan berputar. Kepalanya pusing. Pandangannya kabur.

"Dira! HEY! KAMU DENGER AKU NGGAK?!" Fero mendekat panik, suaranya bergetar. "Jangan kayak gini, jangan bikin aku kena masalah!"

Tapi sebelum Fero selesai dengan kalimatnya, tubuh Nadira melemah.

Kakinya tertekuk. Kedua matanya melayang. Dan dalam satu detik, ia tumbang di lantai dapur, tepat di samping pecahan beling dan genangan darahnya sendiri.

"NADIRA!!"

Suara Fero semakin jauh… semakin kecil…

Sampai akhirnya hilang.

Nadira tumbang ke lantai, tubuhnya jatuh tepat di samping pecahan beling yang basah oleh darahnya sendiri.

Ia tenggelam dalam gelap yang anehnya terasa jauh lebih hangat daripada hidup yang baru saja memukulnya.

Itu adalah luka pertamanya. Luka yang bukan berasal dari orang asing, bukan dari musuh, tapi dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman.

Dan Nadira belum tahu… bahwa luka itu hanyalah awal dari rentetan mimpi buruk yang akan menghancurkan sisa masa remajanya.

Luka yang membuat Nadira tumbuh menjadi seseorang yang berbeda, lebih kuat, tapi juga lebih patah.

Namun malam itu…

Ia hanya seorang gadis yang ingin pulang ke rumah, tapi malah menemukan neraka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!