"Kau akan dibunuh oleh orang yang paling kau cintai."
Chen Huang, si jenius yang berhenti di puncak. Di usia sembilan tahun ia mencapai Dou Zhi Qi Bintang 5, tetapi sejak usia dua belas tahun, bakatnya membeku, dan gelarnya berubah menjadi 'Sampah'.
Ditinggalkan orang tua dan diselimuti cemoohan, ia hanya menemukan kehangatan di tempat Kepala Desa. Setiap hari adalah pertarungan melawan kata-kata meremehkan yang menusuk.
Titik balik datang di ambang keputusasaan, saat mencari obat, ia menemukan Pedang Merah misterius. Senjata kuno dengan aura aneh ini bukan hanya menjanjikan kekuatan, tetapi juga mengancam untuk merobek takdirnya.
Bagian 1: Gerbang Dimensi Harta ~ 26 Chapter
Bagian 2: Aliansi Xuan Timur vs Wilayah Asing ~ ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Bermain Bersama Yun Yuan Bagian II
Perlahan, Chen Huang menarik wajahnya dari puncak merah muda yang kini telah mengeras dan basah oleh sisa sesapannya.
Ia tidak membiarkan gairah itu mendingin, bibirnya merambat naik, menelusuri lekuk leher Yun Yuan yang jenjang dan seputih pualam.
Dengan gerakan yang penuh pemujaan, ia menyapukan lidahnya, menjilati kulit halus di sana yang memancarkan aroma harum bunga-bungaan yang memabukkan. Sentuhan basah dan hangat itu membuat Yun Yuan gemetar hebat, sebuah desahan ringan lolos dari sela bibirnya yang bergetar.
Wanita itu memegang erat kepala Chen Huang, jemari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut hitam pria itu, menjambaknya dengan tarikan yang tanpa sadar mengencang seiring dengan gelombang kenikmatan yang menyerangnya.
"Aduh... Yun Yuan, aku tidak bisa menjilatimu kalau kau terus menjambak rambutku," keluh Chen Huang pelan, suaranya teredam oleh kulit leher yang lembut.
Wajah Yun Yuan seketika memerah padam, rona malu itu menjalar hingga ke dadanya yang kini naik turun dengan liar.
"Diam, jangan mengatakan... hal-hal yang memalukan... sekarang ini!" ketusnya dengan suara yang terputus-putus.
Mengingat mereka berada di dalam privasi kamar pribadi Yun Yuan di asrama wanita yang dijaga ketat, Chen Huang memilih untuk bungkam.
Ia membayangkan jika suara gaduh ini menarik perhatian, ia akan habis diserbu oleh para kultivator wanita yang ganas.
Maka, ia mengalihkan seluruh energinya kembali pada wanita di bawahnya. Ia memagut bibir merah muda Yun Yuan sekali lagi; rasanya kenyal seperti buah matang dan semanis madu, kontras dengan kecantikan Yun Yuan yang dingin bak bidadari salju.
Nafsu Chen Huang kini membara tak terkendali. Lidahnya kembali menjelajahi rongga mulut Yun Yuan, sebuah tarian lidah yang basah dan lembut, saling membelit dalam harmoni gairah yang semakin memuncak.
Setelah beberapa saat, ia melepaskan ciumannya, menyisakan benang saliva tipis yang berkilau di bawah cahaya temaram. Chen Huang menatap wajah cantik itu dan tersenyum tipis.
"Sampai kapan kau mau melakukan ini, kenapa tidak langsung saja?" ucap Yun Yuan dengan suara yang nyaris berbisik, matanya sayu karena keinginan yang mendalam.
"Sebelumnya aku tidak bisa melakukan yang seperti ini, kurasa aku kurang puas. Jadi kali ini aku akan memuaskannya," balas Chen Huang dengan nada rendah yang penuh tekad.
Selesai berucap, tangan Chen Huang merambat turun, melewati perut yang rata dan halus, hingga jemarinya menyentuh area selangkangan Yun Yuan. Sentuhan itu seketika memicu desahan panjang yang terdengar sangat nikmat.
"Ahh~ itu—"
Dengan gerakan yang pasti namun lembut, Chen Huang mulai melepaskan kain rok yang masih membalut bagian bawah tubuh sang dewi.
Perlahan, kain itu tersingkap, menyingkap sebuah pemandangan yang mampu membuat siapapun bertekuk lutut. Gua madu itu kini terlihat nyata, kulit di sekitarnya begitu mulus bagaikan porselen tanpa cela, dengan rona merah muda segar yang memancar—bukti dari kemurnian dan perawatan yang sempurna.
Di bawah cahaya lampu, area sensitif itu tampak berkilau karena cairan bening yang mulai merembes keluar, tampak begitu ranum, basah, dan sangat mengundang.
"Aishh... sudah basah begini, Yun Yuan kau benar-benar tidak sabar yah," goda Chen Huang sambil menatap lamat-lamat keindahan di hadapannya.
"Diam. Ini memalukan," Yun Yuan memalingkan wajahnya, namun kakinya justru semakin terbuka lebar, seolah mengundang sang pria untuk masuk lebih dalam.
Kini Yun Yuan berbaring sepenuhnya tanpa daya, membiarkan Chen Huang memegangi kedua pangkal pahanya yang kokoh namun lembut. Gua surgawi yang merekah pink itu adalah tujuan utama Chen Huang. Ia mengulurkan jemarinya, menyentuh bagian paling sensitif di sana. Terasa tekstur yang basah, licin, dan lengket yang menempel di ujung jarinya.
"Ahh~" Yun Yuan melenguh, pinggulnya sedikit terangkat ke atas secara naluriah, mencari tekanan lebih pada jarinya.
"Ehem."
Chen Huang kemudian merunduk, mendekatkan wajahnya pada sumber keharuman tersebut. Ia menghirup dalam-dalam aroma khas yang wangi dan eksotis dari gua surgawi Yun Yuan.
"Harum sekali."
Tanpa ragu, ia menempelkan mulutnya di sana. Lidahnya yang hangat mulai menyusup masuk ke dalam celah yang basah, menjelajahi setiap lipatan dan sudut dengan gerakan menjilat yang ritmis, merasakan kelembutan serta panas yang terpancar dari dalam diri wanita itu.
"Ahh~ Kyaa, kau..."
Yun Yuan kehilangan kata-kata. Tubuhnya melengkung indah di atas ranjang. Chen Huang terus melanjutkan aksinya, menjilati gua surgawi itu dengan intensitas yang meningkat.
Desahan Yun Yuan kini berubah menjadi melodi surga yang memenuhi ruangan, pinggangnya bergoyang kecil mengikuti gerakan lidah Chen Huang, sementara kedua payudaranya yang besar ikut berguncang gemulai setiap kali ia merespon sentuhan tersebut.
"Ahhhh."
Meski rasa malu masih tersisa, naluri tubuh Yun Yuan berbicara lebih keras. Tangannya kini justru menekan kepala Chen Huang lebih kuat ke arah selangkangannya. Kedua kakinya yang jenjang menjepit silang kepala Chen Huang, seolah takut pria itu akan berhenti sebelum ia mencapai puncak.
"Sedikit... lagi..." pintanya dengan suara yang parau.
Meskipun Chen Huang mulai kesulitan bernapas karena tekanan paha Yun Yuan yang kuat, ia tetap bertahan, terus memanjakan gua surgawi itu dengan lidahnya yang lincah. Hingga pada satu titik, tubuh Yun Yuan menegang hebat.
"Aku keluar...!"
Dalam satu sentakan puncak kegembiraan, Yun Yuan menyemburkan air kehidupan dari gua surgawinya. Cairan bening murni yang harum itu menyemprot keluar, membasahi wajah Chen Huang secara dramatis.
Namun bukannya marah, Chen Huang justru melepaskan tawa ringan yang penuh kepuasan, mengusap wajahnya yang basah dengan sisa-sisa gairah.
Yun Yuan terkulai lemas, seluruh tenaganya seolah terkuras habis. Ia berbaring dengan napas yang memburu dan tidak teratur, dadanya naik turun dengan cepat. Di atas ranjang putih itu, ia terlihat begitu mempesona dalam keadaan murni telanjang bulat, sebuah pemandangan yang lebih indah dari lukisan manapun.
Chen Huang berniat untuk sekadar mengatur napas dan beristirahat sejenak di sampingnya, namun tanpa disangka, tangan Yun Yuan yang masih gemetar merambat turun.
Jemari wanita itu meraih celana Chen Huang, menyentuh bagian yang sudah mengeras dan berdenyut sedari tadi, menuntut gilirannya untuk dipuaskan.
"Yun Yuan?"
Suara Chen Huang pecah, bergetar di udara kamar yang kini terasa pengap oleh aroma gairah.
Di bawah sana, ia merasakan sebuah kenikmatan yang tiada tara merayapi sarafnya, sebuah sensasi yang membuat jiwanya seolah melayang keluar dari raga.
Yun Yuan, dengan jemari putih porselennya yang lentik, melingkari pusat kejantanan Chen Huang yang berdenyut kencang. Ia menatap benda kebanggaan itu dengan binar mata yang memuja, sebelum akhirnya bibir merah mudanya yang tipis menyunggingkan senyum kemenangan yang menggoda.
Tanpa ragu, sang dewi merunduk, membiarkan rambut kuning pucatnya terurai bak air terjun emas yang menyapu paha Chen Huang.
Ia membuka mulutnya yang basah, perlahan memasukkan benda vital itu ke dalam kehangatan rongga mulutnya yang sempit. Meskipun gerakannya terkadang masih tersentak dan gesekan giginya sesekali memberikan kejutan listrik yang menyentak saraf, Chen Huang hanya bisa mendongak, matanya terpejam erat menikmati pijatan lidah yang hangat.
Namun, saat magma gairah di pangkal pahanya mencapai titik didih, Chen Huang tak lagi mampu menahan diri. Ia mencengkeram kepala Yun Yuan dengan kedua tangannya, mengunci posisi wanita itu.
Dengan dorongan yang dalam, ia memaksa kejantanannya masuk hingga menyentuh pangkal tenggorokan Yun Yuan, menciptakan sensasi sesak yang memabukkan sekaligus menyiksa bagi sang dewi.
"Eummmmm...!"
Suara erangan teredam itu pecah bersamaan dengan semburan cairan putih yang kental dan panas di dalam mulut Yun Yuan.
Begitu dahsyatnya pelepasan itu hingga butiran air mata bening mengalir dari sudut mata Yun Yuan yang terpejam rapat. Dengan pengabdian yang luar biasa, ia menelan setiap tetes cairan kehidupan itu, membiarkan rasa hangatnya mengalir di tenggorokannya sebelum akhirnya Chen Huang melepaskan cengkeramannya yang kuat.
"Huhh... ahn... huh..."
Yun Yuan terkulai, jatuh terkapar di atas ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat. Napasnya memburu, tidak teratur, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh api nafsu mereka. Ia tidak pernah menyangka bahwa memuaskan dahaga pria akan sedemikian menguras tenaga dan batinnya.
Namun, Chen Huang tidak memberinya waktu untuk benar-benar pulih. Di tengah kelelahan itu, tangan Chen Huang merambat naik, menangkup dua gundukan salju yang indah di dada Yun Yuan.
Ia meremas kedua bola lembut itu dengan penuh damba, merasakan kenyalnya daging yang seputih susu itu bergoyang gemulai di bawah telapak tangannya.
"Ah..."
Jemari Chen Huang mulai memilin puting merah muda yang kini tegak menantang, memijatnya dengan presisi yang hati-hati namun penuh tuntutan. Setiap pijatan kecil itu mengirimkan gelombang kenikmatan baru yang membuat Yun Yuan kembali melengkungkan punggungnya di atas sprei.
Tangan Chen Huang yang lain meluncur turun, meraba paha mulus Yun Yuan yang terasa seperti sutra yang baru saja dipanaskan, menjelajahi setiap jengkal kulit pualam itu dengan belaian yang memabukkan.
Setelah merasa cukup puas, ia melepaskan sentuhannya sejenak dan meletakkan tangannya di leher jenjang Yun Yuan.
Wajahnya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan, membiarkan aroma harum khas Yun Yuan—perpaduan antara melati dan sisa-isa gairah—memenuhi indra penciumannya.
Ia mengendus-endus di sana, membiarkan napasnya yang panas menerpa kulit sensitif Yun Yuan, membuat sang dewi menunjukkan ekspresi malu yang amat menggoda.
"Kau..."
Belum sempat kata-kata itu lolos dari bibirnya, Chen Huang langsung membungkam Yun Yuan dengan ciuman yang jauh lebih agresif.
Lidahnya menyeruak masuk, menjelajahi setiap sudut rongga mulut yang basah dan hangat dengan gerakan yang menuntut. Kali ini, Yun Yuan benar-benar kesulitan, ia terengah-engah di bawah dominasi lidah Chen Huang yang menari dengan liar.
Ciuman itu terlepas sesaat, menyisakan benang saliva tipis yang berkilau di antara bibir mereka.
"Ahh... kau—eummm."
Sekali lagi, Chen Huang tak memberinya celah untuk menghirup udara. Ia kembali memagut bibir manis itu, membiarkan kedua bibir mereka saling beradu dalam kebasahan yang intim.
Tangannya yang bebas kini menyelinap ke bawah perut yang rata, mencapai selangkangan Yun Yuan yang masih berdenyut. Dengan satu gerakan yang pasti, ia memasukkan jarinya ke dalam gua surgawi yang masih banjir oleh air kehidupan.
"Euhnmm!"
Terkejut oleh tusukan mendadak itu, tubuh Yun Yuan bergetar hebat. Secara refleks ia memukul kepala Chen Huang dengan tangannya yang lemas, namun hal itu justru membuat Chen Huang semakin erat menciumnya, mengunci seluruh protesnya dalam pagutan yang panas.
Jarinya di bawah bergerak semakin lihai, memainkan dinding-dinding hangat di dalam gua surgawi yang basah itu dengan ritme—keluar masuk yang gila.
"Eummmmnn!"
Hanya dalam beberapa saat, tubuh Yun Yuan kembali menegang. Untuk kedua kalinya, ia mencapai puncaknya. Air kehidupan murni menyembur deras dari gua surgawinya, jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Cairan harum itu menyemprot keluar, membasahi sprei putih hingga noda basah menyebar luas di ranjang mereka.
Chen Huang melepaskan ciumannya, menatap Yun Yuan yang kini benar-benar telah lumpuh oleh badai kenikmatan. Kedua tangan dan kakinya terkulai tanpa daya, matanya sayu menatap hampa ke langit-langit kamar, tak mampu lagi menggerakkan seujung kuku pun.
Mengabaikan kelemahan sang dewi, Chen Huang mengusap paha mulus itu dengan lembut. Ia tahu gua surgawi itu memerlukan waktu sejenak sebelum bisa dipacu kembali.
Maka, ia memilih untuk merunduk, mendaratkan bibirnya pada perut rata Yun Yuan yang halus dan hangat—bagian yang sedari tadi terlewatkan.
Di sana, aroma tubuh Yun Yuan bercampur dengan aroma gua surgawinya yang semakin tajam dan menyengat, menciptakan harmoni gairah yang semakin membakar ruangan.
Ia menjilati kulit perut itu dengan lidahnya yang hangat, membiarkan setiap sesapannya membuat otot-otot perut Yun Yuan berkedut halus.
"Ah..." sebuah desahan lembut, hampir tak terdengar, lolos dari bibir Yun Yuan yang kering, menandakan bahwa meskipun tubuhnya telah hancur oleh kenikmatan, api di dalam dirinya masih menyisakan bara yang siap dikobarkan kembali.