NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Malam yang Seharusnya Tak Pernah Ada

Aroma disinfektan itu seolah sudah menjadi bagian dari komposisi oksigen di ruangan ini. Tajam, dingin, dan menyengat. Nadinta menatap langit-langit kamar rawat inap kelas tiga yang mulai mengelupas catnya, menghitung noda kecokelatan di sana hanya untuk mengalihkan rasa nyeri yang merambat dari perut bawah hingga ke punggungnya.

Sudah tiga bulan sejak vonis itu jatuh seperti palu hakim yang tak berhati nurani: Kanker serviks, stadium lanjut.

Pintu kamar terbuka dengan derit engsel yang menyakitkan telinga. Seorang perawat bertubuh gempal masuk, wajahnya datar, seolah Nadinta hanyalah sekumpulan data medis di papan tulis, bukan manusia yang sedang sekarat.

"Tensi agak rendah hari ini, Bu Nadinta," gumam perawat itu sambil mencatat di papan klip tanpa menatap matanya. "Obat peredanya sudah masuk lewat infus. Tolong jangan banyak bergerak dulu."

Nadinta hanya mengangguk lemah. Bibirnya terlalu kering bahkan untuk sekadar tersenyum sopan. "Suster... suami saya... apa ada telepon?"

Perawat itu menggeleng singkat, lalu berbalik pergi. "Belum ada. Istirahat saja."

Pintu tertutup kembali, meninggalkan Nadinta dalam keheningan yang mencekik. Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Pintu kembali terbuka perlahan. Kali ini, sosok yang muncul bukan berseragam putih, melainkan mengenakan blus kerja rapi dengan wajah cemas yang tertahan.

Karina. Juniornya di divisi pemasaran.

"Mbak Nadin?" Karina menyapa ragu, seolah takut suaranya akan memecahkan tubuh Nadinta yang kini tinggal tulang berbalut kulit pucat.

Nadinta memaksakan sudut bibirnya naik. "Masuk, Rin. Jangan berdiri di situ kayak patung."

Karina melangkah masuk, meletakkan keranjang buah kecil di meja nakas yang sudah penuh dengan botol obat. Gadis itu duduk di kursi besi di samping ranjang, matanya menyapu penampilan Nadinta dengan sorot iba yang tak bisa disembunyikan. Nadinta membencinya. Dia benci dikasihani.

"Maaf baru sempat jenguk, Mbak. Kantor lagi... gila banget," ujar Karina, tangannya meremas tali tasnya gelisah.

"Tim marketing gimana?" tanya Nadinta. Suaranya serak, tapi otoritas sebagai mantan ketua tim masih tersisa di sana. "Proyek peluncuran produk kosmetik baru itu lancar, kan?"

Karina menggigit bibir bawahnya, ragu. "Itu dia masalahnya, Mbak. Sejak Mbak nggak ada, semuanya berantakan. Klien utama kita, Bu Martha, membatalkan kontrak kemarin."

Mata Nadinta membelalak. "Apa? Tapi konsepnya sudah matang sebelum aku masuk sini. Arga bilang dia yang akan handle sementara."

"Pak Arga..." Karina memutus kalimatnya, menunduk. "Pak Arga jarang masuk kantor, Mbak. Dia bilang sibuk mengurus pengobatan Mbak Nadin ke luar kota, jadi meeting sering diwakilkan ke anak magang. Klien marah besar."

Dada Nadinta terasa sesak, bukan karena sel kanker yang menggerogoti, tapi karena gumpalan kecurigaan yang tiba-tiba menyumbat kerongkongannya. "Arga bilang... dia sibuk mengurusku?"

"Iya," Karina mengangguk polos. "Setiap kali kami mau hubungi Mbak buat tanya solusi, Pak Arga selalu melarang. Katanya, Mbak Nadin kondisi kritis, nggak boleh stres, hp disita dokter. Makanya saya nekat ke sini diam-diam pas jam istirahat. Kami butuh Mbak Nadin, asli."

Nadinta terdiam. Tangannya yang tertusuk jarum infus mengepal perlahan. Ponselnya tidak pernah disita. Dia memegangnya setiap hari, menunggu, berharap suaminya menelepon sekadar menanyakan, 'Sudah makan?' atau 'Masih sakit?'.

Jadi, selama ini Arga menjadikan penyakitnya sebagai tameng untuk ketidakbecusannya mengurus perusahaan? Atau ada hal lain?

"Mbak Nadin?" panggil Karina pelan.

"Nggak apa-apa, Rin," Nadinta berbohong, menelan rasa pahit di lidahnya. "Makasih infonya. Nanti... nanti aku coba bicara sama Arga."

Setelah sepuluh menit berbasa-basi kaku, Karina pamit pulang karena jam istirahat kantor usai. Sepeninggal Karina, ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Nadinta meraih ponselnya yang tergeletak dingin di bawah bantal. Layarnya retak sedikit di ujung kanan, tapi masih berfungsi. Jemarinya yang gemetar menekan kontak bernama 'Suamiku'.

Tuut... Tuut...

Panggilan tersambung. Nadinta menahan napas, berharap mendengar suara bariton yang dulu selalu menenangkannya.

Tuut... Tuut...

Tidak ada jawaban.

Dia mencoba lagi. Sekali lagi. Hingga lima kali.

Pada percobaan keenam, panggilannya ditolak.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos dari sudut matanya, jatuh membasahi bantal yang berbau apek. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kemarahan yang mulai membakar sisa-sisa tenaga di tubuhnya.

Dia harus keluar dari sini. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dua hari.

Sudah dua kali matahari terbit dan tenggelam sejak kedatangan Karina, namun pintu kamar rawat inap itu tak sekalipun menampilkan wajah Arga. Pesan-pesan Nadinta berakhir menjadi sampah digital; terkirim, terbaca, namun tak pernah terbalas.

Rasa curiga yang awalnya hanya benih kecil kini telah tumbuh menjadi hutan berduri di dalam kepala Nadinta. Dia tidak bisa lagi berdiam diri menunggu kematian datang menjemputnya di atas kasur apek ini.

Sore itu, memanfaatkan keramaian jam besuk, Nadinta melakukan hal gila. Dengan tangan gemetar, dia mencabut selang infus yang menancap di punggung tangannya. Darah segar merembes keluar, menetes ke lantai keramik putih, namun rasa perih itu tak sebanding dengan gemuruh di dadanya.

Dia mengenakan cardigan rajut abu-abu—satu-satunya pakaian layak yang tersisa di lemari pasien—untuk menutupi piyama rumah sakitnya yang tipis. Dengan langkah tertatih, dia menyelinap keluar, membaur di antara rombongan keluarga pasien yang baru datang.

Udara luar menyambutnya dengan tamparan angin basah. Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu pekat, seolah ikut berduka atas nasibnya.

Nadinta berjalan menyusuri trotoar di depan rumah sakit. Kakinya terasa seperti kapas yang dibebani timah. Napasnya memburu hanya setelah sepuluh langkah. Pandangannya mulai berkunang-kunang ketika sebuah taksi biru tua melambat di sampingnya.

Kaca jendela turun perlahan. Seorang sopir paruh baya dengan topi usang melongok keluar. Wajahnya guratan lelah, namun matanya memancarkan kekhawatiran tulus.

"Mbak? Mbak nggak apa-apa?" tanya sopir itu, suaranya bersaing dengan deru kendaraan lain. "Muka Mbak pucat banget. Mau ke mana?"

Nadinta berhenti, bersandar pada tiang lampu jalan agar tidak ambruk. "Saya... saya mau pulang, Pak," jawabnya lirih.

Sopir itu mematikan tanda 'full booked' di dasbornya, lalu bergegas turun dan membukakan pintu belakang. "Ayo masuk dulu, Mbak. Di luar anginnya jahat. Nanti pingsan."

Nadinta tidak punya tenaga untuk menolak. Dia menghempaskan tubuhnya ke jok belakang yang berbau pewangi jeruk sintetik. Aroma yang biasanya membuatnya mual, tapi kali ini terasa seperti perlindungan.

"Ke mana tujuannya, Mbak?" sopir itu bertanya sambil melirik lewat kaca spion tengah.

"Rusunawa Cempaka, Blok B," jawab Nadinta pendek.

Hening sejenak. Hanya suara wiper kaca depan yang berdecit menghapus rintik hujan yang mulai turun.

"Mbak... kabur dari rumah sakit ya?" Sopir itu bertanya hati-hati, seolah takut menyinggung. Dia melirik sekilas gelang identitas pasien yang lupa Nadinta lepas di pergelangan tangannya.

Nadinta refleks menarik lengan bajunya menutupi gelang itu. Dia membuang muka ke arah jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berlari mundur. "Suami saya tidak datang menjemput, Pak. Padahal saya sudah boleh pulang."

Kebohongan itu meluncur begitu saja. Pahit.

"Ya ampun," sopir itu mendecakkan lidah prihatin. "Tega bener suaminya. Harusnya istri sakit itu dijagain, bukan dibiarin pulang sendiri naik taksi. Sabar ya, Mbak. Orang sekarang emang kadang suka lupa sama amanah."

Kalimat sederhana dari orang asing itu justru menohok hati Nadinta lebih dalam daripada jarum suntik manapun. Seorang sopir taksi yang tidak mengenalnya saja paham konsep tanggung jawab suami, lalu kenapa Arga—laki-laki yang bersumpah di depan Tuhan untuk menjaganya dalam sakit dan sehat—justru menghilang?

"Pak, tolong agak cepat ya," pinta Nadinta, mengalihkan pembicaraan. Matanya mulai terasa panas lagi.

"Siap, Mbak."

Taksi itu membelah kemacetan sore, membawa Nadinta meninggalkan area rumah sakit yang megah menuju pinggiran kota yang kumuh.

Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan sebuah kompleks rumah susun yang cat dindingnya sudah mengelupas dimakan jamur dan cuaca. Ini adalah tempat tinggal mereka selama dua tahun terakhir. Arga bersikeras mereka harus pindah ke sini dan menjual rumah lama mereka dengan alasan biaya pengobatan Nadinta yang membengkak.

Nadinta percaya begitu saja waktu itu. Dia rela hidup susah asalkan bisa sembuh dan menua bersama Arga. Tapi melihat gedung suram ini sekarang, keraguan itu kembali menyengat.

"Sudah sampai, Mbak," ujar sopir itu.

Nadinta meraba saku cardigan-nya, baru sadar dia tidak membawa dompet. Wajahnya memucat. "Pak... maaf, saya lupa bawa dompet. Boleh saya naik dulu ambil uang? Suami saya ada di unit 304."

Sopir itu menatapnya lewat spion, lalu tersenyum maklum. Dia menggeleng pelan. "Nggak usah, Mbak. Nggak apa-apa. Anggap aja sedekah saya biar Mbak cepet sembuh. Muka Mbak kelihatan capek banget soalnya. Udah, sana istirahat."

Nadinta terpaku. Di dunia yang terasa begitu kejam hari ini, kebaikan kecil ini terasa seperti mukjizat. "Terima kasih banyak, Pak. Semoga rezeki Bapak lancar."

"Aamiin. Hati-hati, Mbak."

Nadinta turun dari taksi. Angin sore menerpa wajahnya, membawa aroma got dan masakan gosong dari unit-unit rusun. Dia mendongak, menatap jendela unitnya di lantai tiga. Tirainya tertutup rapat.

Langkahnya berat saat menaiki anak tangga beton yang curam itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena olahraga, tapi karena firasat buruk yang mendadak mencekik lehernya.

Dia sampai di depan pintu unit 304. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang menyisakan pandangan ke dalam. Dan dari celah itu, terdengar suara tawa.

Tawa wanita.

Tawa yang sangat dia kenal.

Tawa itu renyah, ringan, dan penuh kemenangan. Jenis tawa yang dulu selalu membuat hari-hari Nadinta terasa lebih cerah karena itu milik Maya, sahabat terbaiknya sejak kuliah.

Namun hari ini, tawa itu terdengar seperti sayatan pisau di gendang telinga Nadinta.

Dengan tangan gemetar hebat, Nadinta mendorong pintu kayu lapuk itu perlahan. Engselnya yang berkarat tidak berdecit, seolah takdir pun ingin Nadinta menyaksikan apa yang ada di dalamnya tanpa peringatan.

Pemandangan di ruang tamu sempit itu membuat darah Nadinta membeku.

Di atas sofa beige usang yang mereka beli di pasar loak setahun lalu, Arga duduk bersandar santai. Kemeja kerjanya terbuka kancing atasnya, lengannya merangkul bahu Maya yang duduk menempel di sampingnya. Di atas meja kopi yang penuh noda kopi, berserakan kertas-kertas dokumen.

Bukan dokumen kerja. Itu polis asuransi. Polis asuransi jiwa atas nama Nadinta.

"Gila ya, Ga," suara Maya terdengar geli sambil menunjuk angka di salah satu kertas. "Kalau dia lewat bulan ini, kita bisa dapet dua kali lipat dari klaim kematian dini. Rumah di Pondok Indah yang kita taksir kemarin itu bisa langsung DP lunas."

Arga tertawa kecil, mengecup puncak kepala Maya. "Sabar, May. Dokter bilang organnya udah rusak parah. Paling lama dua minggu lagi. Kita tinggal tunggu waktu. Lagipula, dia bodoh. Dia nggak pernah curiga kenapa obatnya nggak pernah bikin dia membaik."

Dunia Nadinta runtuh. Lantai di bawah kakinya seolah lenyap, digantikan oleh jurang gelap tanpa dasar.

"Arga...?"

Suara Nadinta keluar seperti bisikan hantu. Pecah dan parau.

Dua sosok di sofa itu tersentak. Kepala mereka menoleh serentak ke arah pintu. Wajah Arga yang semula penuh senyum santai langsung berubah menjadi pualam dingin. Tidak ada rasa bersalah, hanya keterkejutan sesaat yang segera berganti menjadi kejengkelan.

Maya, di sisi lain, tidak repot-repot menjauhkan tubuhnya dari Arga. Dia justru menatap Nadinta dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan menilai, seolah melihat serangga menjijikkan yang masuk ke rumah bersihnya.

"Loh? Kok pulang?" Arga berdiri, nadanya bukan bertanya, tapi menuduh. "Siapa yang izinin kamu keluar RS? Kamu mau bikin repot lagi?"

Nadinta melangkah masuk, kakinya lemas tapi amarah menahannya tetap berdiri tegak. Dia menatap tumpukan polis asuransi di meja, lalu beralih ke wajah suaminya.

"Uang asuransi..." Nadinta menunjuk kertas-kertas itu dengan jari telunjuk yang kurus kering. "Kamu bilang... asuransinya ditolak. Kamu bilang kita nggak punya biaya buat kemoterapi lanjutan. Kamu jual rumah kita, kamu pindahkan kita ke tempat kumuh ini... padahal uangnya ada?"

Arga mendengus kasar, menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi. "Nadin, Nadin. Selalu aja dramatis. Uang itu cair, emang. Tapi buat apa dibuang ke badan kamu yang udah rusak itu? Itu investasi bodoh."

"Investasi bodoh?" Nadinta mengulang kata-kata itu tak percaya. Air mata mulai mengalir deras tanpa isak. "Aku istrimu, Mas. Aku sakit!"

"Dan kamu beban!" bentak Arga tiba-tiba, membuat Nadinta tersentak mundur. "Dua tahun, Nadin! Dua tahun aku harus pura-pura jadi suami siaga, bolak-balik RS, nyium bau obat dari badan kamu, dengerin rengekan kamu soal sakit ini-itu. Aku capek! Aku berhak bahagia!"

"Bahagia sama dia?" Nadinta menoleh tajam pada Maya yang kini sudah berdiri sambil melipat tangan di dada. "Maya... kamu sahabatku. Kita kenal udah lama. Kenapa?"

Maya tersenyum miring, senyum yang sama sekali asing bagi Nadinta. Dia berjalan mendekat, aroma parfum mahalnya, yang Nadinta tahu harganya jutaan, dibeli entah pakai uang siapa, menusuk hidung.

"Sahabat?" cibir Maya. "Kamu salah paham, Nad. Aku nggak pernah nganggep kamu sahabat."

Maya melirik Arga, lalu kembali menatap Nadinta dengan tatapan merendahkan. "Dan liat kamu sekarang. Kurus, jelek, botak, penyakitan. Arga itu laki-laki normal, Nad. Dia butuh wanita sungguhan, bukan mayat hidup kayak kamu."

Kalimat itu menampar Nadinta lebih keras dari pukulan fisik. Maya, wanita yang selalu memeluknya saat dia menangis pasca kemo pertama, ternyata menyimpan racun sepekat ini.

"Kalian berdua iblis," desis Nadinta. Tangannya mengepal hingga kuku-kukunya memutih. "Aku nggak bakal biarin ini. Uang asuransi itu hakku. Aku yang bayar premi selama ini dari gajiku!"

Nadinta berbalik, menyambar salah satu dokumen di meja. "Aku bakal lapor polisi. Penggelapan dana, penelantaran istri... kalian pikir aku bodoh hukum?"

"Jangan macem-macem, Nad!" seru Arga panik. Dia melangkah cepat menghadang Nadinta.

"Minggir!" teriak Nadinta, mendorong dada Arga sekuat tenaga sisa yang dia miliki. Arga terhuyung sedikit, kaget dengan perlawanan tiba-tiba dari istrinya yang biasanya penurut.

Nadinta memanfaatkan celah itu untuk berlari keluar pintu, menuju koridor yang gelap. Dia harus pergi. Dia harus mencari bantuan.

"Kejar dia, Sayang!" teriak Maya melengking dari belakang. "Kalau dia lapor polisi, habis kita semua! Rencana kita berantakan!"

Suara langkah kaki berat terdengar mengejar di belakangnya. Nadinta memacu kakinya yang sakit, air mata mengaburkan pandangannya. Koridor itu terasa memanjang tanpa ujung, seperti mimpi buruk yang tidak berkesudahan.

Dia tidak tahu, ujung koridor itu bukanlah jalan keluar, melainkan awal dari akhir hidupnya.

Napas Nadinta terasa seperti parutan kaca di tenggorokannya. Dia berlari menyusuri koridor sempit lantai tiga yang remang-remang, namun tubuhnya yang digerogoti penyakit mengkhianatinya. Langkahnya goyah, pandangannya berbayang.

"Berhenti, Nadinta!"

Teriakan Arga menggema di lorong sepi itu, memantul di dinding-dinding beton yang dingin.

Tepat di ujung koridor, di bibir tangga darurat yang curam dan gelap, sebuah tangan kekar mencengkeram lengan kurus Nadinta. Sentakan itu begitu kuat hingga tubuh ringkihnya terpelanting, menghantam pagar pembatas besi setinggi pinggang yang sudah berkarat.

"Lepaskan aku!" Nadinta menjerit parau, berusaha mencakar tangan suaminya. Tapi tenaganya tak lebih besar dari tenaga seekor kucing sakit.

"Kamu mau lapor polisi? Hah?" Arga mencengkeram kedua bahu Nadinta, mengguncangnya kasar. Wajah tampan itu kini merah padam karena panik dan amarah. "Sadar diri, Nad! Kamu itu cuma tinggal nunggu mati!"

"Dasar, Brengs*k!" Nadinta meludahi wajah Arga. "Kamu yang bakal mati, Mas!"

Arga terperangah. Ludah itu seolah membakar egonya. Dalam kemarahan buta, dia mendorong Nadinta ke belakang.

Nadinta terhuyung. Tumitnya tersangkut di bibir tangga. Tubuhnya melayang ke belakang, kehilangan keseimbangan.

Refleks, tangan Arga menyambar pergelangan tangan Nadinta.

Waktu seolah berhenti.

Nadinta tergantung di udara, tubuhnya menggantung di atas anak-anak tangga beton yang curam. Hanya cengkeraman tangan Arga di pergelangan tangannya yang menahannya dari jatuh ke lantai dasar.

Arga menatap ke bawah, matanya membelalak ngeri. Napasnya memburu. Ada keraguan di sana. Naluri manusianya masih bekerja—dia tidak ingin membunuh, dia hanya ingin Nadinta diam.

"Tolong..." bisik Nadinta, naluri bertahan hidupnya mengambil alih rasa bencinya sesaat. "Tolong tarik aku..."

Arga mengeratkan pegangannya, otot-otot lengannya menegang untuk menarik Nadinta kembali ke atas.

Namun, langkah kaki lain terdengar mendekat.

Tap. Tap. Tap.

Maya muncul dari balik punggung Arga. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Dia menatap Nadinta yang menggelantung tak berdaya, lalu menatap Arga yang sedang berjuang dengan hati nuraninya.

"Tarik dia, Maya!" Arga mendesis, keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Bantu aku tarik dia!"

Maya tidak bergerak. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Nadinta. Senyum tipis terukir di bibir merahnya.

"Kalau dia naik lagi," ucap Maya pelan, suaranya dingin menusuk tulang, "dia akan lapor polisi. Kita akan dipenjara, Sayang. Uang itu hilang. Masa depan kita hancur."

"Maya! Dia bisa mati!" bentak Arga.

"Dia memang sudah sekarat, Sayang. Kita hanya mempercepat takdirnya."

Maya mengulurkan tangannya yang terawat rapi. Bukan untuk meraih Nadinta.

Jari-jari lentik Maya menyentuh jari-jari Arga yang mencengkeram pergelangan tangan Nadinta. Dengan perlahan namun pasti, Maya mengelupas satu per satu jari suaminya dari tangan Nadinta.

"Jangan..." Nadinta memohon, matanya membelalak menatap kekejaman murni di wajah sahabatnya.

"Selamat tinggal, Nadinta," bisik Maya.

Dengan satu sentakan kuat, Maya melepaskan jari terakhir Arga.

"Nadin!" Arga berteriak, tapi terlambat.

Tubuh Nadinta terlepas. Gravitasi menariknya dengan kasar.

Dunia berputar. Langit-langit beton, wajah Arga yang ketakutan, wajah Maya yang tersenyum dingin, semuanya berbaur menjadi satu pusaran warna.

BRAK!

Punggungnya menghantam anak tangga pertama.

KRAK!

Kepalanya membentur beton di anak tangga berikutnya.

Tubuhnya berguling-guling tanpa ampun menuruni puluhan anak tangga curam itu, seperti boneka rusak yang dibuang pemiliknya. Rasa sakit yang luar biasa meledak di sekujur tubuhnya, sebelum akhirnya menghilang digantikan rasa baal yang menyelimuti.

Nadinta mendarat di lantai dasar dengan posisi yang tidak wajar. Darah segar mulai menggenang di sekitar kepalanya, meresap ke lantai semen yang kotor.

Pandangannya kabur, menggelap dengan cepat. Dia tidak bisa lagi merasakan tangan atau kakinya. Suara teriakan Arga di lantai atas terdengar seperti dengungan jauh di bawah air.

Di samping wajahnya, tergeletak ponselnya yang retak layarnya. Benda itu ikut jatuh bersamanya tadi.

Di sisa kesadarannya yang terakhir, di antara tarikan napasnya yang terputus-putus, layar ponsel itu tiba-tiba menyala. Cahayanya menyilaukan mata Nadinta yang mulai redup.

Satu notifikasi pesan masuk.

Pengirim: Unknown

Mata Nadinta menyipit, berusaha memfokuskan pandangan untuk terakhir kalinya.

Isi pesan itu singkat. Hanya satu kalimat, namun seolah membawa kekuatan magis yang menggetarkan jiwanya yang sedang melayang pergi.

"Aku ingin setelah ini, kamu bisa menjalani kehidupanmu dengan baik."

Air mata terakhir menetes dari sudut mata Nadinta, bercampur dengan darah.

Sebuah janji? Atau sebuah kutukan?

Dia tidak sempat bertanya. Kegelapan total menelannya bulat-bulat, membawa serta rasa sakit, benci, dan dendam yang belum tuntas itu ke dalam tidur panjang...

...sebelum dia terbangun lagi.

BAB 1 SELESAI

1
Afriyeni
ckckck, otakmu brilian sekali nindi,, kamu pintar menggiring si Arga masuk lubang dan terjerat hutang 🤦
Afriyeni
Nindita, kamu licik banget ya. Hebat, kamu bisa berubah pintar dalam seketika 🤭
Afriyeni
hooekk.. Nindita pasti capek nih pura pura lebay dekat si Arga 😅
Blueberry Solenne
makin bangkrut si Arga
sjulerjn29
alesan ah km Rudi bilang aja gk ada ide kan?🤣
Blueberry Solenne
males banget nemu orang kek gini, sok ngatur si maya
sjulerjn29
bukan divisi kita...itu mah demi hidup mati km kali Rudi
sjulerjn29
kebayang baunya ihh..pasti langsung auto pingsan 🤭🤣
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!