Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 - Kekecewaan Mila
"Apa yang kalian bicarakan?" suara Oma Soimah menggelegar, memotong keheningan malam dan yang mengejutkan semua orang.
Oma Soimah melangkah keluar dengan sangat tegas. Fildan dan Faul langsung berdiri, wajah mereka memucat seketika.
"Jadi selama ini kalian merencanakan masa depan Mila dan Valen hanya berdasarkan janji masa lalu kalian?" tanya Oma dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Kalian pikir cucu saya adalah barang yang bisa kalian pertukarkan hanya karena sebuah janji lama?"
"Bukan begitu, Bu... kami pikir mereka cocok," bela Papa Fildan terbata-bata.
"Diam, Fildan!" potong Oma tajam. "Cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama yang sedang bernostalgia. Saya sangat tidak setuju jika kedekatan mereka selama ini hanya karena kalian menyetir mereka dari belakang!"
Mila melangkah maju dengan mata berkaca-kaca, nampan di tangannya sedikit bergetar. "Ayah... jadi semua ini... hanya karena perjodohan?"
"Jadi, Kak Valen baik sama aku karena perintah Om Fildan?" lanjut Mila.
Valen ikut mendekat, menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya dan kecewa.
Mila menolah pada, Valen. "Dan... Kak Valen udah tau ini semua? Kenapa gak bilang dari awal? Kenapa pas udah sejauh ini kamu pun masih diam, Kak?" imbuh Mila kembali
Sementara itu, yang lainnya hanya bisa menunduk dalam, merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal ini.
Valen mencoba meraih tangan Mila. "Mil, aku benar-benar nggak tahu soal ini—"
Mila menepisnya dengan pelan namun menyakitkan. "Cukup, Kak. Aku butuh waktu."
Mila berlari menuju kamarnya, melihat itu April, Tasya dan Mutia berlari menyusul
Di tengah suasana yang mendadak kacau, Valen mengambil napas panjang. Valen beralih menatap Oma Soimah, "Oma... Papa... Om Faul," suara Valen terdengar berat namun tegas. "Saya benar-benar tidak tahu soal janji perjodohan ini. Dan jujur, saya sangat kecewa. Tapi satu hal yang perlu Oma tahu."
Valen melirik Keytar-nya di dalam, lalu kembali menatap Oma. "Semua melodi yang saya mainkan untuk Mila, semua jam yang saya habiskan untuk membimbingnya, itu bukan karena perintah Papa. Saya memilih Mila karena saya memang menginginkannya, bukan karena janji masa lalu kalian yang tidak saya ketahui."
"Tante Selfi, Tante Dewi, Tante Lesti, Om Billar, entah mama saya di rumah tau atau tidak, jujur saya memang sama sekali tidak tau tentang keputusan yang papa buat dengan om Faul, Robi, Lo percaya gue kan? Gue kalau ada apa-apa juga pasti cerita ke Lo," lanjut Valen.
Bunda Selfi mendekat mengusap punggung Valen menenangkan, "Nak, Valen... Kami semua tau kalau kamu sama sekali buta dengan perjodohan ini, jangan begini, bunda sedih."
"Tante juga tau, Valen, kamu anak yang seperti apa, Tante juga tau yang kamu lakukan pada Mila selama ini tulus," ucap Tante Dewi.
Tante Lesti hanya bisa menangis dalam pelukan Billar, suaminya. Dia merasa sedih, ikut terluka hatinya melihat keponakannya di posisi saat ini.
Oma Soimah menatap Valen dengan tatapan menyelidik. "Sudahlah, cukup. Valen, besok adalah sidang akhirmu. Buktikan kamu bisa lulus karena kemampuanmu sendiri, bukan karena embel-embel nama besar keluargamu. Jika kamu lulus dengan terhormat, barulah Oma akan melihatmu sebagai laki-laki dewasa yang punya hak untuk memilih, bukan sebagai pion dari janji ayahmu."
Malam itu berakhir dengan keheningan yang menyakitkan. Valen harus pulang dengan beban pikiran yang luar biasa tepat di malam sebelum hari penentuan kelulusannya.
Valen berlalu pergi meninggalkan papanya yang masih mematung di sana. Robi berlalu pergi berniat mengantarkan Valen pulang. Dan di jalan Robi minta maaf pada Valen dan menjelaskan semuanya yang Robi tau.
Sementara di ruang tengah, Oma kembali buka suara, "Sudahlah, semua istirahat, lupakan perjodohan konyol ini."
Oma menarik lembut Lesti dari pelukan Billar menuju ruang keluarga. Di sana bunda Selfi, Tante Dewi mengikuti langkah Oma dan Lesti. Sedangkan Ayah Faul membawa Papa Fildan dan Om Billar menuju ruang kerja.
Di kamar Mila, tampak Mila sedang nangis sesegukan.
"Mil, udah... Jangan nangis gini, gue ikutan sedih," ucap Mutia.
"Mutia, kenapa gue tau pas gue udah kecintaan sama kak Valen, Mut," lirih Mila.
"Mil, kita mau minta maaf, sebenernya kami udah tau, tapi kami disuruh papa Faul menutupi semua ini, waktunya belum tepat katanya," ujar April penuh penyesalan.
"Nunggu waktu tepat pas aku udah kecintaan gini lebih sakit rasanya tau, Kak," balas Mila.
Mila tak lama menghapus air matanya, kemudian kembali mengeluarkan suaranya, "Udahlah, Kak April, Kak Tasya, Mutia, kalian istirahat aja. Mila butuh waktu sendirian."
Mereka mengangguk dan segera pergi meninggalkan Mila sendiri, memberinya waktu.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️