NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kipas Angin yang Dingin

Pagi hari dalam penginapan Angin yang Dingin

Kipas angin tua di plafon kamar penginapan sederhana mulai terasa dingin menusuk kulit. Anginnya pelan, tapi cukup membuat bulu kuduk Shadiq berdiri. Ia buka mata perlahan. Luar jendela masih gelap pekat—jam di ponsel menunjukkan pukul 04:17 waktu Korea Selatan. Kamar kecil itu sunyi, hanya suara kipas berderit dan napas pelan pria kelinci perak yang tidur di kasur sebelah.

Penginapan ini murah, di pinggiran pusat Busan—kamar sempit dengan dua kasur single yang sudah cekung, karpet tipis berbau lembab, dan kamar mandi bersama di koridor yang selalu antre. Tidak ada lampu mewah, tidak ada AC, hanya kipas angin tua yang berputar lambat. Mereka masuk lewat pintu belakang setelah lari dari penyergapan vila, bayar tunai 40.000 won tanpa identitas, dan langsung kunci pintu dengan gembok kecil.

Shadiq sudah tidak ngantuk lagi. Tubuhnya pegal karena lari semalaman, tapi pikirannya jernih—terlalu jernih. Ia duduk di tepi kasur, tangan memegang lutut, tatap kegelapan di luar jendela. Seminggu di Busan terasa seperti tahun. Vila megah hilang, tim tercerai-berai, dan sekarang ia hanya berdua dengan pria kelinci perak ini. Kalung perak berbentuk kelinci kecil di leher pria itu masih berkilau samar di bawah cahaya lampu jalan yang masuk celah gorden tipis.

Shadiq berdiri pelan, kaki telanjang menyentuh karpet dingin. Ia jalan ke jendela, buka sedikit celah gorden. Cahaya lampu jalan kuning menyusup masuk, menerangi wajahnya yang lelah. Di bawah sana, jalanan Busan sepi—hanya satu-dua taksi lewat, suara ban bergesekan dengan aspal basah. Ia batin:

*Kapan aku pulang? Sudah seminggu. Gue nggak tahu kapan bisa balik ke Jakarta.*

Pria kelinci perak terbangun karena gerakan Shadiq. Ia duduk di kasur, gosok mata, suara serak.

“Lo nggak tidur?”

Shadiq tidak menoleh.

“Gue nggak bisa. Pikiran gue nggak berhenti.”

Pria itu bangun, ambil botol air mineral dari meja kecil, minum seteguk.

“Mereka sulit dihubungi. Tim di vila… mungkin tertangkap. Ponsel mereka mati. Kita nggak tahu berapa yang lolos.”

Shadiq menoleh.

“Polisi Busan cepat. Mereka tahu lokasi vila. Mereka tahu senjata curian. Ini pasti Farhank.”

Pria kelinci perak ambil ponsel dari saku jaket, buka browser. Layar menyala terang di kegelapan kamar. Ia scroll berita online Korea. Berita utama muncul:

**“Polisi Busan Kepung Vila Mewah di Bukit Haeundae – Dugaan Pencurian Kontainer Internasional”**

Detailnya jelas:

- Kepolisian Busan mengepung vila malam tadi pukul 23:00.

- Alasan: pencurian isi kontainer kuning di pelabuhan Busan (kontainer BBC Phantom yang transit dari New York).

- Barang curian: senjata ilegal (AK custom) dan perangkat keras selundupan.

- Nilai estimasi: ratusan miliar won.

- Belum ada penangkapan besar, tapi vila dikuasai. Peti senjata ditemukan kosong (tim Kelinci Perak sudah pindah ke gudang kedua sebelum penyergapan).

Pria kelinci perak baca pelan, lalu tersenyum tipis.

“Farhank dalam bahaya besar sekarang. Dia lapor ke polisi Korea, tapi polisi nggak akan tanya dia baik-baik. Dia akan diinterogasi. Mungkin ditahan. Agung juga. Barang yang kita curi bukan barang legal. Dia yang bikin kontainer ‘hilang’ di mata polisi.”

Shadiq mengangguk, tapi wajahnya tetap cemas.

“Tapi kita juga dalam bahaya. Pencurian tetaplah pencurian. Kalau ketahuan, kita dipenjara di sini. Korea nggak main-main soal senjata ilegal.”

Pria kelinci perak diam sebentar, tatap Shadiq.

“Benar. Kita nggak bisa lama di penginapan ini. Kita harus pindah pagi ini. Dan kita harus hubungi tim di Indonesia. Minta bantuan. Minta panduan langkah selanjutnya.”

Shadiq ambil ponselnya sendiri dari meja kecil. Jari menyentuh layar. Ponsel lama itu menyala—ada missed call dari Arva kemarin sore. Nomor Arva berkedip di layar, waktu 15:42 WIB (kemarin).

Shadiq langsung termenung.

Jantungnya berdegup kencang.

Ia ingat wajah Arva di video call terakhir—mata lelah, suara tegas tapi penuh harap. Ia ingat Irva yang polos bilang “Papa kalo janji ditepati yaa”. Ia ingat kata Arva: “Kamu berubah dulu, lalu perlahan pasti aku maafin.”

Missed call itu seperti pisau.

Shadiq tatap layar lama, jari gemetar di atas tombol panggil balik.

Tapi ia tidak tekan.

Ia hanya termenung, mata basah, napas tersendat.

Pria kelinci perak lihat Shadiq diam.

“Lo baik-baik aja?”

Shadiq menggeleng pelan, suara serak.

“Arva nelpon kemarin. Gue nggak angkat.”

Pria itu diam. Ia tahu Shadiq punya keluarga di Jakarta. Ia tahu itu titik lemah Shadiq.

“Lo harus hubungi dia. Tapi hati-hati. Polisi bisa lacak ponsel. Pakai VPN atau ponsel baru.”

Shadiq mengangguk, tapi tidak gerak.

Ia tetap termenung, tatap nama Arva di layar.

Rindu, rasa bersalah, dan ketakutan bercampur jadi satu.

Ia tahu: kalau ia panggil balik, Arva akan tanya “kapan pulang”.

Dan ia tidak punya jawaban.

Malam itu berakhir dengan keheningan.

Pria kelinci perak coba hubungi tim Indonesia—sulit, sinyal lemah, nomor mati.

Shadiq tetap duduk di tepi kasur, ponsel di tangan, tatap nama Arva.

Terus termenung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!