Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Mentari langsung berlari menyusuri koridor rumah sakit begitu mendengar kabar yang menimpa suaminya. Kepanikan membuatnya tak lagi memedulikan alas kaki yang ia kenakan,bahkan entah sejak kapan sandal itu terlepas.
Napasnya tersengal-sengal saat ia tiba di depan ruang operasi. Langkahnya terhenti, lututnya hampir goyah.
Di sana tampak Riko dan Mario berdiri dengan wajah gelisah, bolak-balik menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.
“Nyonya,” sapa Riko begitu melihat Mentari.
Wanita itu segera menghampiri, matanya memerah, suaranya bergetar.
“Bagaimana keadaan suamiku? Dia baik-baik saja, kan?”
Riko menelan ludah, lalu berusaha menenangkan.
“Tenanglah, Nyonya. Tuan Langit kuat. Kami yakin beliau pasti bisa bertahan.”
Ponsel di saku Riko tiba-tiba berdering nyaring. Dengan sigap ia merogoh saku, lalu menggeser tombol hijau. Setelah memberi isyarat singkat, ia berpamitan pada Mentari.
Kabar kecelakaan yang menimpa Langit membuat Riko semakin sibuk. Panggilan demi panggilan dari para investor dan relasi bisnis terus berdatangan, menuntut penjelasan dan kepastian.
“Ini,” ucap Mario pelan sambil menyodorkan sapu tangan pada Mentari.
Wanita itu menoleh sekilas, lalu menerimanya.
“Terima kasih,” jawabnya lirih.
Tangannya menggenggam sapu tangan itu erat, namun pandangannya tak pernah beralih dari pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat seolah di balik pintu itu terletak seluruh hidupnya yang kini bergantung pada satu keputusan takdir.
Pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius, langkahnya mantap namun sorot matanya menyimpan kekhawatiran.
Mentari spontan berdiri.
“Dok… bagaimana suami saya?”
Dokter itu menarik napas sejenak sebelum berbicara.
“Kondisi Tuan Langit saat ini sangat kritis.Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi ada perdarahan di kepala yang cukup serius.Selain itu kakinya yang juga mengalami cedera.
Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar. Dunia Mentari seakan berputar.
“A-apa maksud dokter… kritis?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
Kakinya mendadak lemas. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat. Sapu tangan yang tadi ia genggam terlepas dan jatuh ke lantai.
“Mentari!” seru Mario panik.
Tubuh wanita itu oleng, nyaris ambruk jika saja Mario tidak sigap menopangnya.Pada akhirnya Mentari tak sadarkan diri.
*
Mentari berlari di bawah langit yang gelap, langkahnya tergesa, napasnya tersengal saat berusaha mengejar sosok Langit yang berjalan menjauh darinya.
“Mas, tunggu aku… kamu mau ke mana?” teriaknya dengan suara parau.
Tubuh Langit hanya tampak dari belakang. Punggungnya disorot cahaya samar dari kejauhan, namun ia sama sekali tak menoleh,seolah tak mendengar panggilan Mentari yang semakin putus asa.
“Mas… jangan tinggalin aku. Mas, berhenti…”
Langkah Mentari mulai limbung. Kakinya tak lagi sanggup berlari. Hingga akhirnya ia jatuh tersungkur ke tanah.
Barulah Langit berhenti.
“Mas, jangan tinggalin aku,” isak Mentari sambil berusaha bangkit.
Langit menoleh perlahan. Wajahnya teduh, namun sorot matanya terasa begitu jauh.
“Tari, kamu harus kuat. Jaga anak kita baik-baik.”
Kalimat itu menghantam jantung Mentari.
“Enggak, Mas… aku nggak mau!” jeritnya.
Namun bayangan Langit kembali melangkah maju. Semakin jauh, semakin kabur, hingga akhirnya menghilang ditelan gelap.
“Mas… jangan tinggalin aku… Mas Langit!” teriak Mentari sekuat tenaga.
Mentari tersentak bangun.
Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Keringat membasahi dahi dan wajahnya, seolah mimpi itu terasa terlalu nyata.
“Tari, kamu sudah bangun?” suara Mario terdengar tiba-tiba.
Mentari menoleh, matanya menyapu ruangan. Cahaya lampu putih, aroma obat, dan suara alat medis menyadarkannya,ia berada di ruang perawatan. Itu hanya mimpi… mimpi buruk.
“Mas Langit mana?” tanyanya cepat, suaranya gemetar.
Mario terdiam. Rahangnya mengeras, sorot matanya ragu.
“Langit… dia...” ucapnya tertahan, seakan kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
"Dia baik-baik saja, kan?” suara Mentari bergetar hebat. “Suamiku nggak akan ninggalin aku, kan? Katakan!”
Tangannya mencengkeram lengan Mario dengan kasar, seolah hanya itu yang menahannya tetap berdiri.
“Tari, tenanglah,” jawab Mario berusaha menurunkan emosi.
“Enggak!” Mentari menggeleng keras. “Bagaimana aku bisa tenang? Papa-nya Mina sedang tidak baik-baik saja! Bagaimana aku harus menjelaskan ini pada putri kami?”
Air matanya jatuh tanpa kendali. “Katakan suamiku baik-baik saja, kan? Katakan!” teriaknya, kali ini nyaris histeris.
“Mentarii, tenanglah!” Mario refleks meninggikan suara. “Kamu tidak boleh memikirkan dia saja,pikirkan tentang Lili juga!"
Kata itu jatuh seperti petir.
Mentari langsung terdiam. Tubuhnya kaku, napasnya tertahan.
“Apa?” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.
Mario tersadar akan ucapannya. Wajahnya seketika pucat.
“Maaf… aku..."
Namun Mentari sudah menatapnya dengan sorot mata berbeda. Bukan panik,melainkan sadar.Tubuhnya perlahan menjauh.
“Tari…” Mario melangkah mendekat.
“Berhenti di situ! Jangan mendekat!” bentak Mentari.
Dengan tangan gemetar namun tekad yang kuat, ia turun dari ranjang. Sekali tarik, selang infus yang menancap di tangannya tercabut begitu saja.
“Mentari, jangan!” seru Mario panik.
Namun wanita itu tak peduli. Yang ia inginkan hanya satu,bertemu dengan Langit. Hanya pria itu. Dan ada satu alasan lain yang tak kalah kuat: ia tak ingin berada di ruangan yang sama dengan Mario. Tidak setelah apa yang ia dengar.
Dengan langkah tergesa, Mentari berlari ke arah pintu. Tepat saat ia hendak membukanya, seseorang lebih dulu membuka dari luar.
Langkah Mentari langsung terhenti.
Wajahnya seketika menunjukkan kelegaan begitu melihat Riko berdiri di hadapannya.
“Ko… bagaimana suamiku?” tanyanya cepat, suaranya penuh harap.
“Nyonya, Tuan...” Riko menggantungkan kalimatnya.
“Dia baik-baik saja, kan?” potong Mentari, matanya berbinar, seakan berharap jawaban itu akan menyelamatkan dunianya.
Riko terdiam. Kepalanya tertunduk, rahangnya mengeras, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
“Dia koma,” ucap Riko akhirnya, lirih namun jelas. “Dan kata dokter… kemungkinan untuk beliau sadar kembali sangat kecil.”
Kalimat itu menghantam Mentari tanpa ampun.
Tubuhnya mendadak kehilangan tenaga. Lututnya melemas, dan tubuhnya merosot begitu saja seakan seluruh kekuatannya ikut runtuh bersama harapan yang baru saja ia genggam.
“Tidak…” bisiknya gemetar. “Itu bohong.”
Matanya berkaca-kaca, menatap Riko dengan tatapan tak percaya.
“Langit nggak mungkin ninggalin aku. Dia nggak mungkin ninggalin Mina…” ucapnya terputus, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
“Nyonya,” suara Riko terdengar lembut namun tegas, mencoba menarik Mentari kembali ke kenyataan.
“Istirahatlah. Anda harus tetap kuat demi Tuan Langit. Beliau membutuhkan Anda untuk mendukungnya.”
Mentari menggeleng keras. Matanya dipenuhi ketakutan yang nyata.
“Ko, tolong antar aku pulang. Aku harus melindungi Mina.”
“Tapi, Nyonya… kondisi Anda masih perlu dirawat,” jawab Riko khawatir.
“Enggak, Ko,” potong Mentari cepat. “Aku harus pulang, aku harus menjemput Mina.”
Suaranya bergetar, wajahnya pucat. Tatapannya sempat melirik Mario dan ketakutannya semakin nyata.
“Aku nggak mau kehilangan Mina. Ayo, Ko… antar aku pulang.”
Riko terdiam, menyadari ketakutan Mentari bukan hanya soal Langit.
“Aku nggak akan biarkan dia dekat-dekat dengan Mina,” ucap Mentari dalam hati.
“Enggak… Mina itu putriku. Putriku dan Langit.”
Bersambung...
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏