NovelToon NovelToon
BANGKITNYA GADIS YANG TERTINDAS

BANGKITNYA GADIS YANG TERTINDAS

Status: tamat
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Sagitarius-74

Gadis, sejak kecil hidup dalam bayang-bayang kesengsaraan di rumah keluarga angkatnya yang kaya. Dia dianggap sebagai anak pembawa sial dan diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu. Puncaknya, ia dijebak dan difitnah atas pencurian uang yang tidak pernah ia lakukan oleh Elena dan ibu angkatnya, Nyonya Isabella. Gadis tak hanya kehilangan nama baiknya, tetapi juga dicampakkan ke penjara dalam keadaan hancur, menyaksikan masa depannya direnggut paksa.
Bertahun-tahun berlalu, Gadis menghilang dari Jakarta, ditempa oleh kerasnya kehidupan dan didukung oleh sosok misterius yang melihat potensi di dalam dirinya. Ia kembali dengan identitas baru—Alena.. Sosok yang pintar dan sukses.. Alena kembali untuk membalas perbuatan keluarga angkatnya yang pernah menyakitinya. Tapi siapa sangka misinya itu mulai goyah ketika seseorang yang mencintainya ternyata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius-74, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BANTUAN DARI BAPAK KEPALA MISTERIUS UNTUK GADIS

Setelah selesai membaca, Ferdo merasa dunianya runtuh. Air mata mengalir deras dari matanya, menetes ke kertas surat yang sudah basah. Dia menangis dengan suara terisak-isak, tidak perduli jika orang lain melihatnya.

“Kenapa… kenapa kamu harus menulis seperi ini, Gadis?” teriaknya, tangannya menggenggam surat itu dengan kuat. “Aku masih mencintaimu! Dan akan selalu mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpamu!”

Seorang sipir mendekatinya, menepuk bahunya dengan lembut. “Pak Ferdo, tenang saja.. Jangan terlalu bersedih."

Ferdo hanya menggelengkan kepala, tidak bisa berkata apa-apa. Dia melipatnya dengan hati yang hancur, menyimpannya di dalam kantong jasnya. Dia berdiri, langkahnya seakan tak bertenaga. Ia berjalan pelan menuju gerbang keluar.

Di jalan pulang, dia tidak melihat apa-apa selain wajah Gadis dan kata-kata di surat itu. Dia berbicara sendiri di dalam mobil. “Gadis, aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan mengikuti permintaanmu. Aku akan mencarimu, walau kamu pergi kemana kemanapun juga."

Ketika mobilnya tiba di rumah, Elena sudah menunggu didepan pintu. Dia mengenakan baju yang cantik, dengan bunga di rambutnya. Dia melihat wajah Ferdo yang memerah dan basah karena air mata, dan segera mendekatinya.

“Ferdo, apa yang terjadi?” tanyanya, tangannya menyentuh lengan Ferdo.

“Kamu menangis? Kamu pergi ke mana?” Elena kembali bertanya.

Ferdo hanya menggelengkan kepala, tidak bisa berkata apa-apa. Dia masuk kedalam rumah, menuju kamar tidur, dan memalingkan wajah dari Elena.

“Ferdo, bicaralah padaku!” pinta Elena, menangis. “Aku adalah istrimu sekarang, kan? Kamu harus memberitahu aku apa yang terjadi.”

Ferdo berbalik menghadapnya, matanya sembab. “Elena, maaf. Aku tidak bisa mencintaimu. Hatiku hanya untuk Gadis. Pernikahan ini, hanya karena mama memaksaku. Aku tidak mau hidup seperti ini.”

Elena tak bisa menahan tangis, ia menangis di pundak Ferdo. “Ferdo, apa yang aku harus lakukan? Aku mencintaimu. Aku mau hidup bersamamu.”

“Maaf, Elena. Aku tidak bisa memberi apa-apa padamu. Kamu harus mencari kebahagiaanmu sendiri," jawab Ferdo.

Lalu dia pergi ke meja di sudut ruangan, di mana ada foto Luna, dengan wajah yang mirip sekali dengan Gadis. Dia mengambil foto itu, memandangnya dengan penuh cinta.

“Aku akan menjagamu, Luna,” bisiknya, air mata kembali menetes. “Aku akan menjadi papa yang baik untukmu, seperti yang mamamu minta. Tapi papa juga akan mencari mamamu jika suatu saat nanti dia pergi, walau itu butuh waktu sepanjang hidup.”

Tetapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa melupakan Gadis. Dia akan selalu mencintainya, selalu merindukannya, selalu merasa bahwa hati nya tertinggal di batas tembok lapas yang memisahkan mereka.

Pagi itu terasa hangat, sinar matahari yang masih lembut merembes melalui celah-celah jeruji jendela lapas.

Gadis duduk di sudut selnya, memegang kain lap yang kusam sambil menatap lantai berdebu. Suasana hari itu agak berbeda dari biasanya. Bunyi bicara para napi terasa lebih pelan, ada kecemasan tersembunyi diantara mereka.

Beberapa petugas sipir berjalan dengan langkah yang lebih teratur, seolah menunggu kedatangan seseorang yang penting.

“Wah, hari ini ada apa ya? Semua orang terasa aneh,” gumam Siti, teman selnya yang selalu menyebalkan, sambil menyikat rambutnya dengan gaya yang sombong.

Gadis hanya menggelengkan kepala tanpa mengangkat muka. Dia sudah terbiasa dengan sikap Siti yang selalu menindasnya. Menyita makanan, mencuri barang-barang kecilnya, bahkan menyebarkan berita bohong yang buruk tentang dia diantara napi.

Tidak lama kemudian, bunyi lonceng pintu gerbang lapas bergema. Semua napi yang ada di lapangan olahraga segera berdiri rapi, diikuti oleh mereka yang ada di koridor.

Gadis berdiri perlahan, ikut mengikuti aliran orang ke arah lapangan. Disana, berdiri seorang pria tua dengan rambut yang sebagian sudah putih, wajah berkerut, dan mata yang terlihat dingin seperti batu es.

Dia mengenakan seragam sipir yang rapi, dengan lambang pangkat yang menunjukkan dia adalah kepala sipir baru.

“Ini Bapak Kepala Sipir yang baru, perhatikan sikapmu semua!” teriak salah satu petugas.

Gadis menatap wajah pria itu dengan seksama. Hatinya tiba-tiba berdebar kencang, dada terasa sesak. Wajahnya… sungguh mirip! Bentuk alis, mata yang sedikit menyipit, dan garis raut di pipinya. Semua itu mengingatkan dia pada Ferdo..

Gadis berusaha menoleh kesamping, tidak mau pria itu melihat dia menangis, tapi air mata sudah mulai menggenangi matanya.

“Dia terlihat angkuh banget ya, nggak mau ngomong apa-apa,” bisik Siti di sebelahnya. “Pasti tipe orang yang kejam.”

Gadis tidak menjawab. Dia hanya berharap pria itu tidak melihat kemiripan itu, atau setidaknya tidak memperhatikannya.

Tapi seolah ada ikatan tak terlihat, mata pria tua itu tepat menyasar pada dirinya. Momen itu terasa begitu lama, hingga Gadis merasa harus menundukkan kepala.

Sejak hari itu, kehidupan Gadis di lapas sedikit berubah. Tiap kali dia berada di lapangan olahraga, dia selalu merasakan pandangan yang mengawasi dirinya.

Kadang-kadang, ketika Siti mulai menindasnya, seperti ketika dia mencoba merebut mangkuk nasi Gadis, tiba-tiba ada tangan yang menahan pergerakan Siti.

“Cukup, Siti,” suara pria tua itu terdengar, dingin tapi tegas. “Jangan ganggu temenmu! Ngeti kamu! Mulai detik ini dan seterusnya, tak boleh ada yang menganggu Gadis, kecuali jika dia mau berurusan denganku!"

Siti terkejut, tidak berani melawan. Dia hanya mengangguk dan mundur, memaki-maki Gadis dengan tatapan.

Gadis mengangkat kepala, melihat pria itu yang sudah berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Hatinya terasa hangat, sesuatu yang jarang dia rasakan selama satu tahun berada di lapas karena tuduhan pencurian uang milik Nyonya Isabella dan Tuan Antonio yang tidak dia lakukan.

"Ya Tuhan, ternyata dia sangat perhatian padaku.. Aku seakan menemukan sosok seorang ayah yang belum pernah aku rasakan," pikir Gadis, merasa terharu pada nasibnya sendiri.

Hari-hari berlalu, dan perhatian kepala sipir itu semakin terasa. Kadang-kadang, dia akan menyisipkan makanan tambahan di mangkuk Gadis ketika tidak ada yang melihat.

Atau ketika Gadis kesulitan dengan tugas kerja di lapas, dia akan memberikan petunjuk yang tersembunyi. Bahkan, ketika beberapa napi lain mencoba mengganggunya karena merasa dia terlalu lemah, kepala sipir itu selalu muncul tepat waktu untuk melindunginya.

“Kenapa Bapak selalu menolongku?” tanya Gadis suatu hari ketika mereka bertemu di koridor yang sepi. Pria itu berhenti, menatapnya dengan mata yang sekarang terlihat tidak lagi sepenuhnya dingin.

“Tidak ada alasan khusus,” jawabnya dengan suara yang pelan. “Hanya melakukan tugasku menjaga ketertiban.”

Tapi Gadis tahu, itu bukan semata-mata tugasnya. Ada sesuatu di mata pria itu yang membuatnya merasa tenang, seperti dia sudah mengenalnya lama sekali.

Dia ingin bertanya lebih lanjut, tentang namanya, tentang dari mana dia berasal, tapi dia takut membuatnya marah. Pria itu selalu merahasiakan identitasnya. Para petugas hanya memanggilnya “Bapak Kepala” dan tidak pernah menyebut namanya.

“Terima kasih,” ucap Gadis dengan suara yang gemetar. “Tanpa Bapak kepala, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku disini.”

Pria itu hanya mengangguk dan berjalan pergi. Tapi dibalik wajahnya yang dingin, Gadis melihat sesuatu yang tertekan, seolah dia menyembunyikan rahasia yang berat.

Seiring waktu, tak ada lagi napi yang berani macam-macam pada Gadis. Mereka tahu bahwa dia diproteksi oleh kepala sipir yang misterius itu.

Siti pun mulai menjauhinya, meskipun masih sering memberikan tatapan membenci. Gadis merasa lebih tenang, meskipun dia masih terjebak di dalam tembok lapas dengan tuduhan yang dia yakini tidak benar.

Dia tidak pernah mencuri uang Nyonya Isabella dan Tuan Antonio. Uang itu hanya jebakan semata dari nyonya Isabella untuk Gadis, agar ia dipenjara.

Hari berganti menjadi minggu, Minggu berganti menjadi bulan, bulan berganti menjadi tahun.. Tak terasa akhirnya Gadis sudah menghabiskan waktu tiga tahun lamanya di lapas, dan harapan dia untuk dibebaskan semakin memudar. Hingga suatu pagi, seorang petugas sipir mendatangi selnya.

“Gadis, kamu dipanggil ke ruang kepala sipir!” katanya.

Gadis merasa jantungnya berdebar kencang. "Apa yang terjadi? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?" pikir Gadis, dia berdiri perlahan dan mengikuti petugas itu ke ruang yang terletak di bagian paling dalam lapas.

Di sana, Bapak kepala sipir itu duduk di meja, bersama seorang pria yang mengenakan jas hitam, tampaknya seorang pengacara.

“Masuk, Gadis,” ucap kepala sipir itu dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.

Gadis masuk dan duduk di kursi yang disediakan. Dia menatap pengacara, lalu kembali ke pria tua itu.

“Siapa dia, Pak?” tanya Gadis, gugup.

“Dia Pak Rizky, pengacara yang akan membantumu,” jawab kepala sipir itu. “Kami telah menemukan bukti yang membuktikan bahwa kamu tidak bersalah atas tuduhan pencurian uang Nyonya Isabella dan Tuan Antonio.”

Gadis merasa tubuhnya kaku. Bukti? Bagaimana bisa? Dia telah mencoba membuktikan kebenarannya selama tiga tahun, tapi tidak ada yang mau mendengarkan.

“Bukti apa, Pak?” tanya dia dengan suara yang gemetar.

“Kita menemukan rekaman CCTV dari rumah Nyonya Isabella. Rekaman itu menunjukkan bahwa kamu memang diberi uang itu olehnya, dia sengaja menjebakmu," jelas Bapak kepala.

Gadis merasa air mata mulai membanjiri matanya. Akhirnya! Kebenaran terungkap. Dia menatap kepala sipir itu, yang sekarang melihatnya dengan mata yang penuh belas kasihan dan terasa teduh di hati Gadis.

“Apakah Bapak kepala yang menemukan bukti itu?” tanya Gadis. Walau ia malu untuk bertanya, tapi dia memaksakan diri bertanya, karena penasaran.

Pria itu mengangguk. “Aku tahu kamu tidak bersalah, Gadis. Dari pertama kali aku melihatmu, aku tahu itu.”

“Mengapa? Mengapa Bapak kepala begitu yakin?”

Pria itu terdiam sebentar, seolah memikirkan apakah dia harus memberitahu rahasianya. Akhirnya, dia menghela nafas panjang, sebelum dia mengatakan sesuatu yang akan membuat Gadis tak percaya akan rahasia besar yang Nyonya Isabella tutup-tutupi selama ini..

"Karena aku... Aku.." Bapak kepala terdiam..

"Karena aku.. aku apa, Pak?" Gadis penasaran.

"Karena aku adalah.."

1
Tie's_74
Haloo.. Minta dukungan untuk ceritaku yang ke 2 ya .. Makasih 😁🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!