Raska adalah siswa paling tampan sekaligus pangeran sekolah yang disukai banyak gadis. Tapi bagi Elvara, gadis gendut yang cuek dan hanya fokus belajar, Raska bukan siapa-siapa. Justru karena sikap Elvara itu, teman-teman Raska meledek bahwa “gelar pangeran sekolah” miliknya tidak berarti apa-apa jika masih ada satu siswi yang tidak mengaguminya. Raska terjebak taruhan: ia harus membuat Elvara jatuh hati.
Awalnya semua terasa hanya permainan, sampai perhatian Raska pada Elvara berubah menjadi nyata. Saat Elvara diledek sebagai “putri kodok”, Raska berdiri membelanya.
Namun di malam kelulusan, sebuah insiden yang dipicu adik tiri Raska mengubah segalanya. Raska dan Elvara kehilangan kendali, dan hubungan itu meninggalkan luka yang tidak pernah mereka inginkan.
Bagaimana hubungan mereka setelah malam itu?
Yuk, ikuti ceritanya! Happy reading! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Menahan Diri
Raska duduk di bawah pohon belakang sekolah, satu kancing kemejanya terlepas. Pena berputar pelan di jemarinya, tapi kertas di pangkuannya kosong. Tatapannya jauh. Terlalu jauh untuk sekadar memikirkan soal ujian.
Langkah kaki mendekat.
Gayus muncul lebih dulu dengan sebungkus kacang, disusul Asep dan Vicky yang masing-masing menggenggam es teh plastik.
“Ini air lo, Bro.”
Asep melempar botol air mineral.
Refleks Raska cepat. Botol itu langsung tertangkap satu tangan tanpa ia menoleh.
“Oh ya,” sambung Vicky santai, menusuk sedotan. “Tadi kami ketemu Vara. Katanya hari ini dia belum bisa belajar bareng.”
Raska akhirnya menoleh.
Gerakannya pelan, tapi perubahan di wajahnya kentara. Rahangnya mengeras. Tatapannya meredup setengah detik, cukup lama untuk ditangkap Gayus.
“Lo kenapa?” tanya Gayus, berhenti mengunyah.
Ia menyipitkan mata, sok analitis. “Secara visual, ekspresi muka lo berubah drastis setelah dengar nama Elvara.”
Raska menghela napas panjang. Napas yang berat.
Tatapannya kembali lurus ke depan, seolah tembok sekolah di hadapannya bisa ia tembus.
“…Gue kemarin nembak dia.”
Detik berikutnya, kekacauan kecil terjadi.
“UHUK—UHUK—APA?!”
Asep tersedak es tehnya, batuk keras sampai mukanya memerah.
“Serius?!”
Vicky ikut tersedak, menepuk dada sendiri.
Gayus malah salah masuk. Kacang nyasar. Ia terbatuk pelan sambil menutup mulut, lalu menarik napas panjang, menenangkan diri.
“Lo… nembak Elvara?” Asep melongo. “Gasekil?"
Raska mengangguk tipis. Tanpa ekspresi. Justru itu yang bikin suasana makin berat.
“Terus?” Vicky mencondongkan badan. “Diterima?”
Raska menggeleng pelan.
“Ditolak?” tanya Gayus.
“Bukan," jawab Raska.
Asep mengacak rambutnya sendiri. “Hah?! Terus apa dong?! Ditolak nggak. Diterima juga nggak.”
Hening jatuh.
Vicky mengernyit. “Lo… digantung.”
Gayus duduk di sebelah Raska, menyandarkan punggung ke batang pohon. Nada suaranya turun, lebih tenang.
“Secara logika,” katanya pelan, “dia ngasih waktu. Buat lo, dan buat dirinya.”
Raska tak menoleh, tapi mendengarkan.
“Pangeran sekolah kayak lo tiba-tiba nembak dia,” lanjut Gayus. “Wajar kalau dia ragu. Dia perlu yakin lo beneran suka… bukan sekadar impuls, kasihan, atau—”
Vicky menyambar, tajam tapi jujur, “…atau karena taruhan.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada dugaan mereka.
Raska tak bereaksi seketika. Ia menunduk. Pena di tangannya berhenti berputar.
“Waktu taruhan emang tinggal sebentar,” ucapnya akhirnya, datar. “Tapi itu bukan yang utama.”
Asep dan Vicky terdiam. Gayus menunggu.
“Gue ngerasa… nyaman sama dia.” Nada Raska rendah, hampir tak terdengar. “Tenang. Nggak harus jadi siapa-siapa.”
Ia mengangkat wajah sedikit. Mata hitamnya kosong, tapi jujur.
“Itu yang penting.”
Tak ada yang menertawakan. Tak ada yang menyela.
Asep menggaruk tengkuknya pelan. “Wah… ini bahaya, sih.”
Vicky mendesah. “Bro, kalo cewek kayak dia minta waktu, itu bukan nolak. Itu seleksi.”
Gayus mengangguk kecil. “Dan secara psikologis… orang yang minta waktu, biasanya justru paling serius.”
Raska menutup mata sebentar. Bukan karena lega. Tapi karena untuk pertama kalinya, perasaannya benar-benar terbuka. Dan itu lebih menakutkan daripada ditolak.
Di bawah pohon itu, tak ada sorak. Tak ada candaan. Hanya empat anak laki-laki yang sama-sama sadar:
Kali ini, Raska tidak sedang bermain. Ia sedang mempertaruhkan hatinya sendiri.
***
Jam sekolah sudah usai, tapi Asep, Vicky, dan Gayus masih nongkrong di belakang sekolah, duduk melingkar sambil menghabiskan batagor yang mulai dingin.
Asep mengunyah pelan, lalu menggeleng tak percaya. “Gue gak nyangka bakal ada hari di mana Raska nembak… Gasekil.”
Vicky tersenyum kecil. “Gue juga. Lebih gak nyangka lagi dia beneran jatuh cinta.”
Gayus menyandarkan punggung, nada suaranya tenang seperti biasa. “Secara ilmiah, tanda-tandanya sudah kelihatan sejak awal. Raska gak pernah berubah jadi versi manis palsu waktu dekat sama Elvara. Dia tetap dingin. Tetap jujur.”
Asep berhenti mengunyah. “Iya… dan Elvara juga gak pernah jual mahal atau baper lebay.”
“Itu justru yang bikin Raska nyaman,” lanjut Gayus. “Dia gak dituntut apa-apa. Gak dimanipulasi. Buat orang dengan trauma seperti Raska, rasa aman itu segalanya.”
Asep menghela napas panjang. “Terus… perlu gak sih kita bilang ke Elvara soal trauma Raska?”
Vicky langsung mengangkat tangan. “Jangan. Kalau Raska tahu, dia bakal ngerasa direndahin. Harga dirinya bisa hancur.”
Gayus mengangguk setuju. “Secara psikologis, kalau Elvara tahu sekarang, reaksinya bisa jadi kasihan atau sungkan. Itu bukan cinta yang sehat.”
Asep menunduk, lalu mengangguk pelan. “Berarti… kita diem.”
“Kita jaga,” kata Vicky singkat.
Gayus menambahkan pelan, “Secara spiritual, jodoh gak bisa dipaksa. Tugas kita cuma satu, jadi tempat aman. Sisanya biar waktu yang jawab.”
Asep tersenyum tipis. “Berat juga jadi sahabat pangeran sekolah.”
Vicky terkekeh. “Tapi worth it.”
***
Hari berganti.
Di bawah pohon belakang sekolah yang sama, Raska dan trio komentator kembali berkumpul. Bayangan dedaunan menari pelan di atas buku-buku terbuka.
Tak lama kemudian, Elvara datang.
Ia berhenti sejenak, lalu duduk di sebelah Raska seperti biasa. Tanpa basa-basi, tanpa senyum. Tangannya langsung membuka bungkus keripik, bunyinya renyah memecah keheningan.
Raska melirik sekilas. Hanya sepersekian detik. Lalu kembali menatap bukunya.
Tidak ada sapaan. Tidak ada kalimat lanjutan.
Hening itu tipis, tapi terasa.
Angin berembus pelan, menggoyang dedaunan di atas kepala mereka. Salah satunya lepas, melayang malas… lalu jatuh tepat di rambut Elvara.
Raska melihatnya.
Refleks. Tangannya terangkat, sudah hampir menyentuh kepala Elvara. Gerakan spontan yang bahkan tak sempat ia pikirkan. Jarak jari-jarinya tinggal beberapa senti dari daun cokelat itu.
Lalu ia berhenti.
Tangan itu menggantung di udara sepersekian detik, sebelum perlahan ditarik kembali.
Elvara menoleh. “Ada apa?”
Trio komentator yang sedang membuka buku ikut mendongak serempak. Mata mereka bolak-balik, menangkap gerakan setengah jadi itu dengan sangat jelas.
“Ada daun di kepala lo,” ucap Raska akhirnya. Suaranya datar. Terlalu datar.
Ia menurunkan tangannya sepenuhnya. Jari-jarinya mengepal di atas paha, seolah menahan sesuatu yang tadi hampir keluar tanpa izin.
“Oh.” Elvara mengangkat tangan, meraba rambutnya. Ujung jarinya menemukan daun itu. Ia menurunkannya begitu saja, lalu meletakkannya di tanah.
"Biasanya… dia yang langsung ambil," batinnya singkat. Wajahnya tetap datar. Tak ada komentar. Tak ada reaksi lanjutan.
Asep melirik Vicky. Vicky melirik Gayus. Gayus menghela napas pelan yang terdengar seperti, iya, gue juga lihat.
Tak ada yang bicara. Hening kembali merayap, lebih tebal dari sebelumnya.
Raska menunduk ke bukunya, tapi fokusnya tercecer. Elvara mengunyah keripiknya lagi, bunyinya "krauk" terdengar terlalu keras di tengah diam yang canggung.
Vicky yang menangkap suasana itu langsung berdehem, sengaja memecah jarak tak kasatmata di antara mereka.
“Hari ini matematika duluan, ya.”
Asep cepat mengangguk. “Setuju. Kalau matematika belakangan, memori gue udah penuh duluan. Otak gue RAM-nya kecil.”
Gayus menimpali sambil membuka bukunya. “Secara ilmiah, otak manusia bekerja lebih optimal saat belum kelelahan kognitif. Jadi keputusan ini tepat.”
“Ngomongnya jangan kayak dosen, Yus,” gumam Asep.
Elvara mengambil buku matematikanya. “Oke,” katanya singkat, datar.
Raska ikut membuka bukunya. Ia kembali melirik Elvara sekilas. Kali ini lebih lama, lalu segera mengalihkan pandangan, seolah takut ketahuan memerhatikan.
Baru beberapa menit mereka mulai fokus, Asep mendecak pelan. “Lah… ada anomali lagi.”
Semua tahu maksudnya tanpa perlu menoleh.
Bella datang dengan langkah percaya diri, senyum lebar yang terlalu terang untuk suasana belajar. Ia berhenti di dekat mereka, tepat di sisi Raska.
“Hai! Hari ini belajar apa?” tanyanya ceria.
“Matematika. Halaman seratus sembilan puluh tujuh,” jawab Gayus datar, bahkan tanpa mengangkat kepala.
Bella mengangguk, lalu melirik Raska. Ia hendak duduk di sebelahnya.
Namun sebelum ia sempat menurunkan tubuh--
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
makasih kan nana atas karya-karya lanjut ke sesok 2...💪💪💪