NovelToon NovelToon
Istriku, Bidadari Yang Ku Ingkari

Istriku, Bidadari Yang Ku Ingkari

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Alya, gadis sederhana dan salehah yang dijodohkan dengan Arga, lelaki kaya raya, arogan, dan tak mengenal Tuhan.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, tapi karena perjanjian bisnis dua keluarga besar.

Bagi Arga, wanita berhijab seperti Alya hanyalah simbol kaku yang menjemukan.
Namun bagi Alya, suaminya adalah ladang ujian, tempatnya belajar sabar, ikhlas, dan tawakal.

Hingga satu hari, ketika kesabaran Alya mulai retak, Arga justru merasakan kehilangan yang tak pernah ia pahami.
Dalam perjalanan panjang penuh luka dan doa, dua hati yang bertolak belakang itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta sejati lahir bukan dari kata manis… tapi dari iman yang bertahan di tengah ujian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Jadi Kita

Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Arga memarkir mobilnya di halaman rumah. Ia menarik napas panjang, merasa entah kenapa lebih ringan dari biasanya. Hari di kantor cukup melelahkan, tapi, pulang ke rumah terasa seperti pulang ke tempat yang benar-benar menenangkannya. Bukan sekadar bangunan besar dengan dinding dingin, tapi rumah tempat di mana seseorang menunggunya dengan senyum hangat.

“Assalamu’alaikum,” sapa Arga sambil menutup pintu dan melepas jasnya.

“Wa’alaikumsalam, Mas,” suara lembut itu menyambutnya. Alya sedang menyapu lantai ruang tengah, rambutnya yang terurai lembut di bawah hijab yang setengah terikat tampak berayun setiap kali ia menggerakkan sapu. Wajahnya berseri-seri meski sedikit berkeringat.

Arga bersandar di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan aneh, perasaan hangat yang belum lama ia kenal. “Kok pulangnya sore? Katanya tadi mau agak telat karena ada meeting?” tanya Alya sambil tersenyum, menyapa Arga sambil mencium punggung tangan suaminya.

Arga meletakkan tas kerjanya di meja kecil dekat pintu, lalu berjalan mendekat. “Meeting-nya selesai lebih cepat. Lagipula, nggak ada alasan buat lama-lama di kantor.” Ia berhenti sebentar, lalu menatap Alya dengan ekspresi yang lebih lembut. “Aku kangen pulang.”

Alya menunduk cepat-cepat, pipinya memanas. “Mas bisa aja...”

Ia hendak melanjutkan menyapu, tapi tiba-tiba Arga meraih sapu di tangannya. Alya terkejut, menatap suaminya yang sekarang berdiri dengan sapu di tangan, matanya teduh tapi penuh keyakinan.

“Ayo, biar aku bantu. Kamu istirahat aja.” Suaranya tenang tapi tegas.

“Lho, nggak usah, Mas. Mas pasti capek. Tadi kan kerja seharian,” tolak Alya sambil berusaha mengambil sapunya kembali.

“Kamu juga pulang dari panti, sama-sama capek. Lagipula, kalau aku capeknya hilang kok kalau lihat kamu,” ucap Arga santai, membuat Alya spontan menahan napas dan wajahnya makin merah. “Kalau aku bantu, kerjaannya lebih cepat selesai. Habis itu kita bisa makan bareng.”

Alya menatap Arga sebentar, lalu akhirnya tersenyum kecil. “Ya sudah, kalau gitu aku masak, Mas nyapu. Tapi jangan asal nyapu ya, nanti debunya malah nyebar ke mana-mana.”

Arga pura-pura mengangguk serius. “Siap, Bu bos.”

Alya tertawa kecil sebelum berbalik menuju dapur, sementara Arga mulai menyapu lantai dengan gaya yang agak kaku. Beberapa kali Alya melirik dari dapur, menahan tawa melihat suaminya itu tampak canggung memegang sapu, namun entah kenapa, pemandangan itu terasa begitu manis.

---

Dapur dipenuhi aroma bawang tumis dan santan hangat. Alya menyiapkan sayur lodeh dan tempe goreng, makanan sederhana yang katanya disukai Arga sejak kecil. Ia masih mengenakan apron warna krem, dan beberapa helai anak rambut keluar dari hijabnya, membuatnya tampak semakin lembut.

Dari ruang tamu, terdengar suara Arga yang sedang pelan bersenandung, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. “Mas Arga nyanyi?” teriak Alya dari dapur sambil tersenyum geli.

“Biar tambah semangat nyapu,” jawab Arga dengan nada bercanda. “Kayaknya udah mulai ahli nih.”

“Nanti aku periksa hasilnya,” balas Alya cepat.

“Wah, serem banget nadanya. Takut aku,” Arga terkekeh.

Tak lama kemudian, Alya datang membawa dua piring makanan ke meja makan. “Udah, Mas. Aku tinggal goreng tempe aja.”

Arga menaruh sapu, menyeka peluh di dahinya, lalu menghampiri meja makan. “Hmm, aromanya bikin lapar. Kamu masak apa aja?”

“Sayur lodeh, sambel, sama tempe goreng,” jawab Alya.

“Pantas aja aku ngerasa lapar mendadak,” ucap Arga sambil menatap Alya lembut. “Alya, sebelum makan, kita bersih diri dulu, ya?”

Alya mengangguk cepat, sedikit gugup. “Iya, Mas. Mas duluan, aja?”

“Nggak apa-apa barengan aja,” ujar Arga santai. Tapi ucapan itu membuat jantung Alya berdetak lebih cepat.

“B-barengan? Maksud Mas?”

Arga tersenyum kecil. “Maksudku, kamu mandi di kamar, aku mandi di sebelah. Nanti habis itu makan bareng. Jangan tegang gitu, Al.”

Alya tertawa kikuk. “Kirain...” Ucapannya terputus, pipinya merah padam.

"Ya tapi kalau mau barengan, gak apa-apa juga sih." Arga menaik turunkan alisnya, menggoda Alya.

---

Beberapa menit kemudian, keduanya sudah duduk berhadapan di meja makan. Arga tampak segar dengan kaus polos abu-abu, sementara Alya memakai baju rumah longgar berwarna lembut. Suasana rumah begitu tenang, hanya terdengar suara detak jam di dinding.

“Bismillah,” ucap Alya sebelum mulai makan. Arga mengikutinya, dan mereka makan dalam suasana yang damai. Sesekali tangan mereka tak sengaja bersentuhan saat mengambil sambal atau sendok, dan setiap kali itu terjadi, Alya langsung menunduk, sementara Arga hanya tersenyum.

“Mas,” panggil Alya pelan setelah beberapa suapan.

“Hm?”

“Aku tadi ditawarin Bu Norma buat ikut bantu acara bakti sosial sama pondok pesantren. Katanya besok. Aku boleh ikut, kan?”

Arga berhenti makan sejenak, menatap Alya dengan lembut. “Acara di mana?”

“Di pondok deket panti. Katanya anak-anak panti diundang ke sana.”

Arga berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Tentu boleh. Selama kamu ditemani dan jaga diri baik-baik.”

Alya tersenyum lega. “Makasih, Mas.”

Arga memiringkan kepala. “Tapi satu syarat.”

“Syarat?”

“Besok pagi aku antar kamu ke sana. Nggak ada debat.”

Alya ingin menolak, tapi melihat wajah serius Arga, ia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya, Mas. Tapi nanti pulangnya, biar aku bareng Pak Hasan aja, ya. Kayak biasa.”

“Lihat nanti,” jawab Arga sambil tersenyum kecil. “Aku nggak yakin bisa tenang kalau kamu pulang tanpa aku.”

Kata-kata itu terdengar ringan, tapi bagi Alya, jantungnya seperti meledak. Ia tidak pernah menyangka pria seperti Arga yang dulu dikenal dingin, keras, dan tak peduli kini bisa berkata seperti itu.

---

Setelah makan malam, Alya membereskan meja, sementara Arga memanaskan air untuk teh. Mereka tampak seperti pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun bersama, padahal baru beberapa waktu belakangan ini hubungan mereka mulai hangat.

“Mas, kenapa Mas jadi rajin gitu sekarang?” goda Alya saat melihat Arga menuang teh ke dua cangkir.

“Rajin?” Arga menaikkan alis. “Aku cuma bantu. Lagian, aku juga pengen ngerasain hidup yang... normal.”

Alya menatapnya heran. “Normal?”

Arga menatap cangkir di tangannya sejenak sebelum menatap Alya lagi. “Dulu aku pikir rumah cuma tempat buat istirahat. Tapi sekarang, aku baru ngerti artinya punya rumah yang benar-benar rumah. Dan itu karena kamu, Al.”

Alya terpaku. Kata-kata itu begitu sederhana, tapi maknanya dalam. Ia tak tahu harus menjawab apa selain tersenyum lembut. “Mas berlebihan.”

Arga menggeleng pelan. “Nggak. Aku cuma jujur.”

Malam itu berlanjut dengan mereka duduk di teras, menikmati teh hangat dan langit malam. Suara jangkrik berpadu dengan aroma teh melati, dan dalam waktu yang lama, keduanya merasa damai tanpa perlu banyak bicara, tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Alya menatap Arga diam-diam. Ia ingat hari pertama mereka menikah, bagaimana semuanya terasa asing dan menakutkan. Tapi kini, pria itu duduk di sampingnya dengan tatapan yang lembut dan suara yang hangat. Ia tak tahu sejak kapan semuanya berubah. Yang ia tahu, hatinya mulai percaya, perlahan tapi pasti.

Sementara Arga menatap langit, memejamkan mata sebentar. Dalam hatinya, ia berjanji bahwa apa pun yang terjadi nanti, ia akan menjaga perempuan di sampingnya.

Bukan karena kewajiban.

Tapi karena kini, Alya adalah rumahnya.

1
Ma Em
Semoga Alya dan Arga selalu bahagia semakin cinta dan dijauhkan dari pelakor seperti si Dinda .
Ma Em
Dinda sdh nyerah saja kamu tdk akan bisa menang melawan Alya dia itu istri yg Solehah dan sangat penyabar Arga tdk akan berpaling lagi .
Ma Em
Dasar pelakor sdh tdk diajak malah maksa .
Ma Em
Bima iri tuh Arga dapetin istri yg Solehah seperti Alya .
Ma Em
Arga jgn sampai kamu tergoda lagi dgn Dinda kalau tdk ingin menyesal biarkan masa lalu jgn di ingat lagi dan lbh fokus pada istrimu Alya , karena tdk ada kesempatan dua kali kalau Alya dikecewakan pasti Alya akan pergi meninggalkan mu
Ma Em
Semoga Alya selalu bahagia bersama Arga walau akan ada ulat bulu yg akan nempel pada Arga semoga tdk akan mengganggu hubungan Arga dgn Alya serta langgeng pernikahan nya .
Rosvita Sari Sari
alya mah ngomong ceramah ngomong ceramah, malah bikin emosi
aku aja klo ngomong diceramahi emosi apalagi modelan arga 🤣🤣
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
Ma Em
Dengan kesabaran Alya dan keteguhan hatinya akhirnya Arga sadar dgn segala tingkah perlakuannya yg selalu kasar pada Alya seorang istri yg sangat baik berhati malaikat
Ma Em
Semoga Alya bisa meluluhkan hati Arga yg keras menjadi lembut dan rumah tangganya sakinah mawadah warohmah serta dipenuhi dgn kebahagiaan 🤲🤲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!