Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Shela masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengganti seragamnya dengan pakaian rumah. Perutnya terasa perih karena menahan lapar sedari tadi, ia harus segera mengisi perutnya dengan nasi. Mengingat dia udah melewatkan jam makan siang di sekolah tadi, jadi ia harus segera mengisi perutnya.
Shela menghela napasnya begitu merasakan tenaganya yang semakin berkurang, tubuhnya merasa lemas,juga suhu tubuhnya terasa semakin panas. Ia bukan wanita bodoh yang akan diam saja ketika membutuhkan sesuatu. Ia juga tidak mau tersiksa karena kelaparan.
Shela mungkin sudah kelewatan pada dirinya sendiri karena tidak menjaga pola makan yang benar. Tapi itu bukan sengaja, ia memang sedang tidak nafsu untuk memakan apapun.
Mungkin jika detik ini nyawanya diambil karena alasan kelaparan atau apapun dia tidak masalah. Tapi untuk menanggung derita atau sakit yang dia rasakan jujur saja ia tidak mampu.
Perlahan Shela melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, tujuannya adalah menuju dapur. Ketika berada diambang pintu ia memastikan jika tidak ada siapapun di luar, ia malas bertemu keluarganya dan berakhir berdebat. Shela tidak punya tenaga untuk itu.
Setelah memastikan tak ada siapapun, Shela benar-benar keluar dari kamar, dia berjalan dengan hati-hati terutama ketika menuruni tangga, ia melangkah perlahan sambil berpegangan karena takut terjatuh dari tangga, apalagi kepalanya terasa sakit dan pandangannya sudah berkunang-kunang.
Ketika sampai di anak tangga terakhir, Shela bernapas lega karena rumah benar-benar sepi, tak ada satu orang pun penghuni rumah di ruangan itu. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makan siang untuk tuan mereka. Shela belum siap untuk berdebat dengan papah dan juga para kakaknya yang menyebalkan itu.
Shela mendekati salah satu asisten rumah tangga yang sedang menata makanan di meja makan.
"Bi?" suara Shela bergetar sedikit, membuyarkan kesibukan asisten rumah tangganya itu. Wanita tersebut berbalik dengan raut keheranan yang tiba-tiba berubah menjadi khawatir saat menyaksikan wajah Shela yang pucat pasi.
"Eh, Neng Shela, ada apa? Neng sakit?" tanyanya, suara gemetar menggambarkan kecemasannya.
Shela hanya menggeleng lemah, senyumannya serupa kilau rembulan yang pudar. "Shela gak apa-apa, Bi. Cuma... Shela mau minta tolong anterin makanan makan malam ke kamar Shela nanti ya?" pinta Shela dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Asisten itu mengangguk cepat, mata sayu penuh kepatuhan. "Tentu, Neng. bibi akan bawa makanannya ke atas."
Menganggukkan kepala pelan, Shela membalas dengan senyum yang lebih lemah dari sebelumnya. "Terima kasih, Bi. Shela ke atas dulu," ujarnya, buru-buru menjauh sebelum lebih banyak pertanyaan terlontar. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kelelahan yang mendalam, membawa misteri yang belum terpecahkan.
Shela kembali melangkah menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya, ia memegang perutnya yang terasa perih. Sesekali Shela meringis karena pergerakannya semakin membuat perutnya terasa sakit.
Sagara keluar dari kamarnya yang tak jauh dari kamar Shela. Begitu akan menuruni tangga, Sagara menghentikan langkahnya begitu melihat Shela berjalan dengan kepala menunduk dan sebelah tangannya memegangi perut. Sebelah tangan yang lain Shela gunakan untuk berpegangan pada pengangan tangga.
Sagara memang sempat mengira jika adiknya situ sedang tidak sehat, terlihat dari cara bicaranya yang terdengar lemah dari biasanya. Ingin rasanya Sagara menghampiri dan memeluk Shela yang sedang menahan sakit itu. Atau mungkin sekedar memapah gadis itu sampai ke kamarnya.
Tapi Sagara takut Shela akan marah dan semakin membencinya karena berani menyentuh gadis itu. Semenjak perubahan sikap Shela, hatinya merasa tersentil. Sesuatu yang ada dalam dirinya menyuruhnya untuk bersikap bagaimana kakak pada umumnya yang melindungi dan menyayangi adiknya.
Hati Sagara teras sangat sakit begitu Shela menjauhinya, mengapa di saat Shela sudah membencinya ia baru sadar kesalahannya? Kenapa baru sekarang dia merasakan penyesalan atas apa yang dia lakukan pada Shela?
Sedari dulu Sagara tidak pernah memperlakukan Shela dengan baik, bahkan menganggap gadis itu sebagai adiknya pun sepertinya tidak. Dia selalu mengacuhkan Shela menganggap Shela bebagai orang lain yang selalu menganggu hidupnya. Sagara juga tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan pada Shela dulu, ia juga bahkan tidak pernah perduli pada Shela.
Tapi sekarang Shela selalu menghantuinya dengan rasa bersalah yang teramat dalam,jujur saja Sagara sangat membenci situasi yang seperti ini.
Shela terus berjalan tanpa mengetahui keberadaan Sagara yang sedari tadi terus memperhatikannya. Singgung rasa sakit di tubuhnya membuatnya tidak fokus.
Ketika berapa anak tangga lagi yang tersisa Shela sekuat tenaga menahan rasa perih di perutnya juga sakit pada di kepalanya.' tahan Shela sebentar lagi sampai kamar.' ucapnya dalam hati. Saat berada di anak tangga terakhir Shela menghentikan langkahnya, rasa pusing yang menderanya benar-benar tak bisa Shela tahan lagi.
Shela tidak bisa menguasai tubuhnya hingga ia tubuhnya limbung ke belakang dan hendak terjatuh. Shela sudah pasrah jika tubuhnya terjatuh ke bawah, namun semua tangan kekar menahan tubuhnya lalu mendekap dirinya.
Shela yang masih tersadar berusaha melepaskan diri dari dekapan Anggara .
"Lepas," ujar Shela lemah sambil berusaha menggerakkan tubuhnya supaya terlepas.
Anggara melepaskan tubuh anshela dan memegang kedua bahu adiknya itu sambil menatap Shela dengan raut khawatir.
"Lo gak kenapa-kenapa?" tanya Anggara terdengar panik membuat Shela mendongak dan memusatkan tatapannya pada laki-laki di depannya.
Shela menatap Anggara, orang yang telah menolongnya. Ia sedikit tidak menyangka jika laki-laki itu mau menolongnya, belum lagi wajahnya yang terlihat khawatir.
Sebelumnya Anggara keluar dari kamar dan berniat untuk menuju ke meja makan, begitu akan menuju tangga dia melihat adiknya Sagara diam sambil memandangi sesuatu. Ia berjalan hendak menghampiri Sagara,, tapi atensinya beralih pada Shela yang terlihat akan jatuh ke belakang.
Melihat itu Anggara segera berlari dan langsung menahan tubuh adiknya itu dan membawanya ke dalam dekapannya. Jantungnya berdebar kencang, takut jika ia tidak berhasil menangkap tubuh adiknya, karena telah sedetik saja mungkin akan membuat ia menyesal seumur hidup.
Sadar mematung begitu melihat kejadian itu. Tadinya ia berniat untuk menghampiri Shela tapi kakaknya sudah terlebih dahulu menghampiri adiknya itu.
Tiba-tiba pikirannya teringat akan sesuatu. Dulu, Shela pernah menampar Flora ketika gadis itu bermain di rumahnya. Tak lama ketika mereka bermain di kolam renang, kaki Shela tiba-tiba merasa kram, ia meminta tolong pada kakak-kakaknya namun tak ada yang merespon. Mereka malah asik bercanda dengan Flora dan teman-teman Dika.
Saat itu Shela hanya pasrah saja ketika tubuhnya mulai tenggelam, kakinya masih merasa kram. Begitu penglihatannya mulai mengabur ia lihat seseorang menceburkan diri dan menolongnya yang pada saat itu mulai tidak sadarkan diri karena kehabisan nafas.
Meski begitu Shela tau orang yang menolongnya itu bukanlah kakak-kakaknya melainkan salah satu dari teman Dika, entah siapa sampai saat ini Shela tidak tau.
Shela melepaskan tangan kakaknya yang masih memegang bahunya, ia mencoba menetralkan wajahnya agar terlihat baik-baik saja.
"Gue baik-baik saja, gak perlu berpura-pura peduli. Anggap saja gue ini sedang mencari perhatian," ucap Shela dengan nada sinis yang mengejutkan Anggara. Matanya memandang Shela seakan tak percaya gadis itu benar-benar berkata demikian.
"Lo kenapa, sih? Gue ini sedang berusaha membantu, kok malah lo balas dengan kata-kata seperti itu?" suara Anggara meninggi, penuh kebingungan dan kekecewaan.
"Lo tanya kenapa gue berkata seperti ini?" Shela mengangkat sebelah alisnya, sikapnya penuh tantangan. Anggara terdiam, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan meluncur dari mulut adiknya itu.
"Lo lupa, ya? Saat gue tenggelam dan memohon bantuan sama lo dan yang lainnya, lo lupa saat gue ditampar oleh papah, saat gue terlambat dan meminta tumpangan lo. Apa yang lo lakuin saat itu?" suara Shela merendah, lembut tapi menyakitkan, saat ia menatap mata kakaknya langsung.
Anggara membeku, terpaku mendengar perkataan Shela. Memori itu kembali melayang di benaknya, saat-saat ketika Shela meminta pertolongannya dan dia hanya mengabaikannya. Sakit dan penyesalan menghantui dirinya, menyadari betapa dia telah mengkhianati kepercayaan adiknya sendiri.
" Inget apa yang lo lakuin? Lo gak pernah merespon permintaan tolong gue atau bahkan sekedar menatap gue juga engga. Lo bahkan malah bilang kalau gue cuma cari perhatian," ujar Shela sambil tersenyum pedih.
"Sekarang lo gak usah berlagak sok khawatir sama gue, anggap aja gue lagi cari perhatian mau gimana keadaan gue," setelah mengatakan itu Shela melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
Shela sempat Sagara yang hanya diam mematung di dekat kamarnya. Shela hanya melirik sekilas kakaknya itu lalu melewatinya begitu saja.
Sagara menunduk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Sungguh perkataan Shela sangat menamparnya dan membuat harinya merasa perih. Tatapan dan senyuman Shela tadi mengisyaratkan banyak kesakitan yang selama ini gadis itu pendam sendirian.
Sagara menghela napasnya dan menghampiri kakaknya, ia menepuk bahu kakaknya itu dengan pelan. Anggara menoleh ke arah adiknya,lalu tersenyum tipis.
"Ayo ke bawah kak, pasti papah udah nunggu," ujar Sagara.Keduanya lalu berjalan menuju ke arah meja makan.