Demi biaya operasi ibunya,kiran menjual sel telurnya.Matthew salah paham dan menidurinya,padahal ia yakin mandul hendak mengalihkan hartanya pada yoris ponakan nya tapi tak di sangka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EPI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azzahra
Salah seorang anak buah yang mendengar suara pecahan vas langsung berlari menuju asal suara. Ia melihat Azzahra yang sudah kabur keluar rumah.
"Sial! Kenapa harus ketabrak sih vas bunganya," ucap Azzahra dalam hati sambil terus berlari tanpa henti.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Azzahra yang kalah cepat dari anak buah lelaki itu, berhasil digapai tangannya.
Azzahra tak mau menyerah. Ia berontak dan berusaha melepaskan diri. Dengan sekuat tenaga, ia berlari menuju jalan raya.
Sialnya, malam itu suasana sangat sepi. Tidak ada satu pun orang di jalan.
Azzahra begitu ketakutan. Sambil menangis, ia berhenti di bawah sebuah pohon untuk beristirahat.
Namun, nasib buruk masih menghantuinya. Tangannya kembali dicekal oleh anak buah lelaki itu.
"Mau ke mana, anak manis? Sini sayang, hahahahaha," ucap lelaki itu dengan nada mengejek.
"Awas! Jangan sakiti aku! Tolong pergi! Aku takut, hiks... hiks... hiks," Azzahra mulai menangis histeris.
"Hei, tenanglah. Kau aman bersamaku," ucap lelaki itu sambil mendekatinya.
Azzahra merasa terancam dan ketakutan. Ia berjalan mundur sambil merasakan tubuhnya yang gemetar.
Tiba-tiba, lelaki itu berhenti mendekat dan membuka kacamatanya.
"Pergilah. Aku tidak akan menyerahkanmu kepada bosku. Cepat lari!" bisiknya.
Azzahra terkejut. Ada secercah harapan di hatinya. Lalu, ia berlari meninggalkan lelaki itu.
Namun, sebelum pergi, Azzahra berbalik dan bertanya, "Siapa nama laki-laki yang telah membunuh ayah dan ibuku?"
"Handika Abadi. Dia seorang bos mafia yang kejam. Pergilah sebelum kau tertangkap. Ingatlah satu hal, kau harus membalas mereka. Siapa namamu?" tanya lelaki itu.
"Azzahra. Namaku Azzahra," jawab Azzahra sambil berlari kencang, meninggalkan lelaki itu.
"Ayah... Ibu... Hiks... hiks... hiks..." tangis Azzahra pecah di kesunyian malam.
"Apa yang telah terjadi? Mengapa kalian dibunuh dengan sangat kejam? Pasti sakit sekali, Ayah, Ibu. Laki-laki itu sangat jahat, tega menguliti, memotong, bahkan membakar. Dia jahat! Aku akan mencari dan membalas semuanya!"
Malam yang sunyi menjadi saksi bisu tragedi berdarah yang disaksikan langsung oleh Azzahra. Kedua orang tuanya menjadi korban pembunuhan, tanpa ia tahu apa penyebabnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa... Handika Abadi, aku akan menuntut balas atas kematian orang tuaku!" teriak Azzahra memecahkan kesunyian malam itu. Ia terus berjalan di jalan sepi, sudah sangat jauh dari rumah. Dengan langkah gontai, tiba-tiba dari kejauhan ada mobil melaju. Ia melambaikan tangan agar mobil itu berhenti. Seketika, mobil Jeep Wrangler itu berhenti di dekatnya. Seorang remaja perempuan membuka kaca mobilnya. "Maaf, ada apa ya?" tanya gadis remaja itu.
"Kak, tolong. Apakah bisa numpang sampai tengah kota saja?" kata Azzahra memohon. Wanita muda itu menoleh ke arah samping, seorang pemuda. Lalu, wanita remaja itu memandang Azzahra dari bawah hingga atas. Dari kejauhan, puluhan orang berpakaian hitam membuat Azzahra gemetar. Tiba-tiba, remaja lelaki itu membuka suara, "Naiklah," ucapnya singkat. Segera, Azzahra naik ke mobil Jeep itu. Mobil melaju.
"Apa mereka yang mengejarmu?" tanya remaja wanita itu. Air mata Azzahra masih mengalir deras. "Iya, mereka ingin membunuhku," jawab Azzahra terisak.
"Kenapa mereka ingin membunuhmu?" tanya remaja lelaki itu.
"Aku tidak tahu. Karena aku baru pulang dari asrama. Tapi saat pulang, aku mendapati kedua orang tuaku dibunuh," ucap Azzahra terisak kembali.
Mereka semua saling diam hingga mobil sampai di tengah keramaian. "Apa kamu ada keluarga di tengah kota? Kami akan mengantarmu," tanya remaja lelaki itu.
"Aku tidak tahu. Dari kecil aku tinggal di asrama sekolah hingga kini aku baru lulus dan pulang. Tapi ada kejadian yang tak kumengerti," jawab Azzahra.
Kedua remaja itu saling melihat, merasa iba pada Azzahra. "Bagaimana ini, Kak?" tanya remaja perempuan itu.
"Kita bawa ke rumah singgah saja. Tidak mungkin rumah utama. Kamu tentu tahu Papa tidak bisa menerima orang baru, apalagi tidak kenal," ucapnya sambil melajukan mobilnya hingga singgah di sebuah restoran. Remaja lelaki singgah membeli makanan dan juga singgah di supermarket terdekat. Lalu, melajukan mobilnya hingga sampai di rumah mewah dengan tembok tinggi. Segera, security yang menjaga rumah singgah membukakan pintu. Kedua remaja itu turun, lalu membuka pintu tepat di mana Azzahra duduk. Gadis itu turun mengikuti masuk.
"Reina, sebaiknya kamu pinjamkan dia baju. Jika kamu punya untuk dia," ucap Rino melihat ke Azzahra. Reina mengangguk, masuk ke sebuah kamar, lalu keluar membawa baju. "Sebaiknya kamu bersihkan diri dulu di kamar itu," ucap Reina. Azzahra mengangguk dan masuk ke kamar yang ditunjuk Reina.
Sedangkan kedua adik kakak itu duduk di sofa. "Apa kita akan tidur di sini malam ini?" tanya Reina.
"Tidak, kita akan kembali. Biarkan saja dia istirahat di sini. Besok baru kita ke sini lagi," jawab Rino.
Tak lama, Azzahra keluar sudah bersih dan tampak segar. Reina dan Rino berdiri. "Kami akan pulang. Besok pagi kami ke sini lagi. Tunggulah," ucap Reina.
"Ini makanan untukmu," kata Reina.
"Terima kasih. Siapa nama kalian?" tanya Azzahra.
"Aku Reina, dia Rino kakakku," jawab Reina.
Azzahra tersenyum. Kedua saudara itu pergi meninggalkan rumah singgah itu.