Enam Tahun yang lalu,Bagaskara seorang CEO muda yang tampan menjalin kasih dengan seorang perempuan bernama Indah karyawan disebuah Butik.
Aryo Hadiningrat yang tak lain adalah Ayah dari Bagaskara menentang hubungan mereka,kisah asmara Bagas dan Indah yang berlangsung Enam Bulan itu menghasilkan benih yang berumur "8"Minggu,karena tidak direstui itulah mereka menikah diam-diam yang disaksikan oleh Kakek,Adik dan "2"sahabatnya.Saat melahirkan bodyguard Aryo membawa pergi Bagas dan bayinya,namun yang tidak mereka ketahui adalah bayi itu kembar.
Saat usia anak itu 3 Tahun Indah di bunuh oleh Aryo dirumahnya saat tengah malam.
"Apakah nanti saudara kembar itu akan bisa bertemu?
"Apakah nanti pembunuhan demi pembunuhan yang sudah terjadi akan terungkap?
Simak dan pantau terus Novel aku ya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Batalnya Kerjasama
Aryo dan Melisa menuju sebuah Apartemen disanalah mereka akan tinggal. Aryo telah melakukan operasi untuk memancungkan hidung nya dan juga mengoperasi kulitnya agar terlihat muda. Nama nya juga telah diganti agar siapapun tidak mengenalinya, juga sang asisten penampilan dirubah agar terlihat berbeda dan lebih muda semua Aryo lakukan agar polisi dan siapapun tidak mengenalinya. Aryo terbukti menjadi tersangka utama dan sekarang menjadi buronan kepolisian, semua bukti mengarah kepadanya dan juga anak buah dari Aryo akhirnya mengakui setelah intrograsi yang dilakukan anggota kepolisian yang cukup menguras tenaga karena orang Aryo ini cukup setia, perlu membolak-balik an pertanyaan agar mereka mengaku.
Malam Harinya Zavier dan Sakti serta beberapa anggota polisi sampai di Negara tersebut, mereka saat ini sedang berada disebuah Hotel dengan ruangan yang luas dan beberapa kasur king size, malam ini belum ada apapun yang mereka lakukan fikiran mereka hanya tidur saja karena sudah capek perjalanan, dan besok pagi baru pergi kerumah yang dimaksud tapi sebelumnya Zavier akan buat janji bertemu dulu sambil menyusun strategi.
"Huaaap, akhirnya sampai Aku mau istirahat dulu." Sakti menguap dan langsung merebahkan diri di ranjang.
"Aku juga lah."
''He'emb."
Yang lainnya juga sama mereka langsung merebahkan diri diranjang lalu tidur. Tapi tidak dengan Zavier, Ia yang kepikiran soal Thalia sehingga masih terjaga sampai tengah malam. Zavier duduk di kursi dekat jendela dengan gelisah mengedarkan pandangannya ke arah luar.
"Sial! Aku yang menyuruhnya datang Aku pula yang dibuat gelisah tau gitu nggak Aku suruh dia buat datang tapi....kalau Dia nggak datang Zayn nggak bisa tenang, arrrghhh." Geram Zavier sampai mengacak-acak rambutnya.
"Tuuuut-tuuuuut-tuuuuuut." Zavier menelfon.
"Adaaaa apaaa Zavierrrr, Kamu nggak tahu ini sudah larut, huaaaap." Akbar mengangkat telfon dengan malas.
"Apa Thalia masih tidur bersama Zayn!?" Tanya Zavier singkat.
"Kamu ganggu Aku selarut ini hanya untuk bertanya itu!" Jawab Akbar sedikit berteriak dengan mata yang membelalak.
"Cepat jawab bangsat!" Zavier malah mengumpat.
"Dia sudah pulang dari tadi siang saat Zayn terlelap." Ujar Akbar lalu duduk ditepi ranjang sambil bernafas dengan berat.
"Syukurlah kalau begitu Aku bisa tidur sekarang." Zavier lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Dasar! Sikembar menyebalkan nggak yang ini nggak yang itu." Akbar berkata dengan kesal karena waktu istirahat nya terganggu Ia lalu membanting badannya diatas ranjang yang empuk.
Thalia memang sudah kembali ke Hotel dan meneruskan sisa pekerjaan nya yang tertunda lalu sore Harinya pulang kerumah. Zavier saat melihat cctv tersebut lima menit sebelum Thalia terbangun dan beranjak pulang. Zavier yang sudah lega segera berganti baju dan segera tidur Ia mengurai sedikit senyum kemudian memejamkan matanya.
****************
Keesokan Paginya, Zayn yang sudah sembuh dari sakit giginya memulai Hari dengan semua berkas di hotel lalu menandatanganinya semua berkas yang sudah Akbar pilih kemarin tidak jadi dibawa pulang karena Zavier pergi untuk waktu yang agak lama sehingga biar Zayn saja yang menandatangani nya toh juga sama tanda tangannya perbedaanya tipis sekali. Sudah sejak lamanya Zayn duduk dimeja kerja dengan setumpuk berkas disamping nya semuanya butuh di cek dan persetujuan nya.
"Akhirnyaaa...selesai juga, Kruuuk.." Ucap Zayn dan kemudian memegangi perutnya yang berbunyi.
"Oia Aku lupa sejak pagi Aku belum makan apapun." Zayn lalu beranjak keluar ruangan.
Zayn berjalan menyusuri koridor lalu turun ke lantai bawah, pas melewati ruangan cleaning service Ia teringat dengan Thalia lalu Ia berjalan berniat untuk masuk, saat mendekat terdengar suara sedang mengobrol.
"Ada yang bisa dibantu bos." Melihat Zayn semua langsung kicep.
"Um..eh enggak-enggak." Ucap Zayn sekenanya Ia mengedarkan pandangan keseluruhan ruangan lalu melangkah keluar karena tidak ada sosok Thalia yang Ia cari.
"Kemana Dia ya? Masa jam istirahat begini masih kerja." Ucap Zayn dalam hati.
"Kruuuk-kruuk, aduh iya makan." Zayn memegangi perutnya lalu teringat bahwa tujuannya adalah ke restoran yang ada dihotel tersebut.
Zayn berjalan masuk ke restoran yang ada di Hotel tersebut banyak pasang mata yang melihatnya dengan kagum terutama kaum hawa, Hari ini Zayn berpenampilan kasual sehingga terlihat seperti seorang turis yang menginap. Zayn berjalan ke area makanan lalu mengambil sebuah nampan dan meletakkan nasi goreng ke piringnya saat itu pelayan yang tahu bahwa itu bosnya mendekat dengan niat ingin membawakan nampannya namun ditolak oleh Zayn. Bersamaan juga saat itu ada seorang laki-laki yang sedikit sombong dan angkuh juga mengambil nasi goreng.
"Biar saya bawakan Tuan?" Ucap salah satu pelayan.
"Nggak usah biar tak bawa sendiri saja." Tolak Zayn dengan pelan.
"Oh, baiklah." Pelayan tersebut lalu berbalik tapi kemudian langkahnya terhenti.
"Mau kemana kamu, cepat kemari dan bawakan nampanku isikan ini dan juga itu lalu bawakan ke meja yang disana, buruan!" Laki-laki tersebut berbicara dengan nada yang angkuh sambil menunjuk.
"Baiklah." Pelayan tersebut melihat Zayn lalu mengiyakan.
Pelayan itu mengikuti laki-laki tersebut menunjuk semua makanan yang diinginkan lalu segera duduk. Zayn dengan tenang mengambil buah dan minuman yang Ia inginkan dengan santai lalu duduk di sebelah laki-laki dan istrinya tersebut.
"Sudah Kamu bawa semua kan berkasnya." Tanya istri dari laki-laki tersebut dengan mulut penuh.
"Sudah, Aku yakin Pak Zavier pasti mau bekerja sama dengan ku hahaha." Berkata dengan percaya diri berlebih.
"Hahaha... Hotel kecil Kita pasti terkenal nantinya, hemb Aku nggak sabar nanti banyak yang menginap dan juga banyak uang kita yang masuk tapi...katanya Dia itu orang nya sangat dingin dan juga galak Kita harus hati-hati." Berkata dengan pelan.
"Aku nggak peduli buktinya saja Ia mau bertemu untuk menandatangani berkas ini, tinggal tanda tangan saja maka Hotel kecil Kita akan mempunyai nama, nggak sia-sia Kita sering mengadakan santunan sekaligus mengundangnya agar Ia merespon meskipun yang datang hanya kaki tangannya." Laki-laki tersebut berkata dengan yakin.
"Masing-masing amplop berisikan uang dupuluh ribu dan nasi kotak berisi ayam sama sambel aja sudah bisa memancing perhatiannya ya Suamiku memang pintar.'' Berkata sambil mengacungkan jempolnya.
"Hahaha." Istri laki-laki itu tertawa lepas.
"Jadi mereka orang yang seperti ini, bodohnya Aku." Zayn meruntuki dirinya sendiri dalam hati nya.
Lalu, beberapa saat kemudian terlihat seorang wanita yang sedari tadi ingin Zayn temui, Thalia dengan pakaian cleaning service nya sedang membersihkan meja. Zayn kemudian mengangkat tangannya.keatas dan melambai memberi kode kepada pelayan yang tadi dan pelayan tersebut segera menghampiri.
''Suruh Thalia membuatkan Aku kopi dan bawakan kesini." Ucap Zayn pelan.
"Baik Tuan." Sambil mengangguk.
Pelayan itu lalu menghampiri Thalia dan memperhatikan Zayn yang sedang duduk kemudian segera membuat secangkir kopi. Zayn menunggu dengan seulas senyum tipis. Beberapa pelayan ada yang memandangi Thalia dengan perasaan yang tidak suka karena merasa Ia bekerja cukup lama tapi malah Thalia yang ditunjuk.
"Kenapa Harus Dia sih seorang cleaning service juga." Pelayan A berbicara dengan nada sinis sambil melirik kearah Thalia.
"Iya, Sok cantik." Pelayan B juga sinis dengan mata melirik.
Thalia sebenarnya mendengar percakapan mereka namun diacuhkan lalu segera berjalan mengantarkan kopi yang diminta Zayn. Ketika akan sampai dimeja Zayn Laki-laki tadi berdiri dan ingin mengambil kopi diatas nampan yang dipegang Thalia.
"Eh, mau dikemanakan kopi itu!? Sini buat Aku saja." Berkata dengan sedikit berteriak Ia berdiri.
"Maaf, ini kopi miliknya." Thalia berkata sambil menunjuk kearah Zayn.
"Kamu berani membantah, Saya adukan Kamu sama CEO Hotel ini, pegawai rendahan saja belagu." Istri Laki-laki itu berkata dengan sengit.
"Mana." Mengambil kopi dengan paksa.
"Kalau mau pesan sendiri, ini punyaku." Zayn merebut segelas kopi ditangan laki-laki tersebut dan menyeruput nya dengan santai.
"Kamu! Aku adukan Kamu sama Tuan Akbar." laki-laki tersebut berteriak sambil menunjuk sambil mengeluarkan handphone nya.
"Adukan saja Honey, biar Dia tahu rasa, Kamu juga." Sambil mendorong Thalia.
"Aduh!" Jatuh terduduk dilantai.
"Thalia!" Zayn berteriak dan membantu Thalia berdiri.
"Kok bisa sih kalian masuk ke Hotel ini dasar orang rendahan." Ejek laki-laki tersebut.
"CEO nya mana sih? Katanya mau bertemu disini, ugh! Kok lama sekali." Istrinya menggerutu.
Akbar yang menerima telepon dari laki-laki tersebut segera menghampiri.
"Itu Tuan Akbar." Istri itu menunjuk.
"Hehehe..habis kalian Tuan mereka..." Berjalan menghampiri dan seketika ucapannya terhenti.
"Bos!" Akbar menyapa Zayn dengan sedikit membungkuk tanda memberi hormat.
"Hah! Bos!?" Laki-laki dan Istrinya terkejut.
"Batalkan kerja sama dengan Hotel milik nya, dan masukkan kedalam daftar merah, Thalia Saya tunggu diruangan ku dan buat ulang kopiku." Zayn segera pergi.
"Baik." Akbar dan Thalia menjawab serempak.
"Tap-tapi..." Istri dan laki-laki tersebut memohon.
"Bawa mereka keluar dan jangan biarkan dua orang ini masuk." Ujar Akbar.