Erina, gadis pekerja keras yang selalu mengedepankan gaya. Dia dijodohkan dengan seorang pengusaha sukses. Namun, apa jadinya jika sang pengusaha mempunyai pujaan hati lainnya?
Mampu kah, Erina menjalin rumah tangga dengan tantangan meluluhkan hati suaminya, agar hanya melihat dirinya seorang?
Yuk ikuti kisahnya!
Terimakasih ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka Aib
"Wah terimakasih sayang," ujar Ervin kala menerima batagor dari tangan mulus Erina.
Iya, sudah sebulan ini, Ervin mengalami ngidam parah. Bahkan, hari ini dia ingin Erina membuatnya batagor. Beruntung, Erina bisa masak. Jadi, hal itu bukan sesuatu yang menyusahkan.
"Kamu masuk aja ya, karena aku mau buka masker untuk makan." kekeh Ervin menatap batagor dengan takjub.
Dulunya, Ervin memang pernah makan batagor, akan tetapi saat dia scroll media sosial, tak sengaja lewat fyp seorang istri yang memasak untuk suami. Dan kebetulan sekali, menunya adalah batagor. Dan rasa ngidam Ervin lagi-lagi muncul.
"Cih ..." desis Erina.
Namun sebisa mungkin dia bersabar. Karena itu semua juga ulah cabang bayi yang di dalam kandungannya.
Seperti halnya pagi ini, Ervin tiba-tiba ingin makan bubur yang ada di pinggir jalan, saat dalam perjalanan pulang dari rumah mamanya. Dia melihat disana banyak antrian, dan sudah di pastikan, jika bubur disana pasti enak.
Namun, kali ini yang menjadi korbannya adalah Noah. Dia ingin Noah ikut antri dan harus menjadi pembeli pertama.
Dan sekarang disini lah, Noah. Dia berdiri disana sejak jam lima subuh, dan warungnya baru buka saat jam enam pagi.
"Maaf Pak, Bu ... Boleh gak, saya di layani pertama kalinya? Soalnya, istri saya ngidam makan bubur disini, tapi harus jadi pelanggan pertama." mohon Noah dengan berbohong.
Karena dia gak mungkin mengatakan jika anak dari atasannya ngidam, gara-gara istri hamil.
"Oo, silahkan atuh ... Monggo, jika istri hamil mah, kadang permintaannya memang di luar nalar ..." kekeh seorang ibu dengan tentengan sayur mayur di tangannya, bisa dipastikan jika ia baru saja dari pasar subuh, yang berada tidak jauh dari tempat bubur tersebut.
"Iya bu, padahal saya mau kesini jam empat tadi, eh istri saya malah baru mengizinkan saya keluar saat jam lima." kekeh Noah lagi.
"Nyatanya, memang benar ya ... Satu kebohongan menciptakan kebohongan yang lain." batin Noah.
"Nah ..." Noah menyerahkan bubur untuk Ervin. "Lain kali, tolong jangan minta aku lagi. Karena aku asisten ayahmu. Bukan kamu." ujar Noah, namun hanya bisa bertahan sampai tenggorokan, karena dia juga takut jika kata-katanya bisa di dengar oleh Ervin.
"Makasih Noah! Ini beneran kan, kamu yang pertama kalinya di layani?" tanya Ervin menyipitkan matanya.
"Ini vidio buktinya." ujar Noah seolah-olah tahu jika Ervin akan menanyakan hal itu.
"Tidak usah, lagi pula sekarang aku tidak peduli tentang hal itu." sambung Ervin.
Membuat Noah melebarkan matanya, mungkin jika asap bisa terlihat, telinga Noah akan mengeluarkannya.
...🍁🍁🍁...
Ima kembali mendatangi sebuah kafe. Dia berharap, lelaki yang sempat menolongnya tempo hari kembali datang. Nyatanya, yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba.
Baru saja, Ima hendak menyerah, lelaki tersebut muncul dari pintu masuk.
Buru-buru Ima menghampiri lelaki tersebut.
"Maaf, masih ingat aku?" tanya Ima, dengan senyuman manis.
Lelaki di depannya mengernyit dahi, seolah-olah menggali ingatannya. Namun, gelengan yang di perlihatkan membuat senyum Ima pudar.
"Aku, perempuan yang tempo hari kamu bayar, karena dompet ketinggalan." terang Ima antusias.
"Oo, iya ... Jadi?" tanya lelaki tersebut. Dia adalah Alex.
"Aku, mau membayarkannya kembali." ujar Ima.
"Tak apa, aku ikhlas." balas Alex. Kemudian memilih menduduki salah satu kursi.
Karena tidak ingin, terlalu mendesak. Akhirnya Ima memutuskan kembali ke mejanya. Dia memilih menghabiskan makanannya, dan segera pergi dari sana.
Akan tetapi, baru beberapa suap dia memakan mienya, matanya kembali fokus pada Alex dengan seorang wanita cantik, yang duduk di meja yang sama dengannya.
Di lihat dari tempat duduk Ima, Alex dan perempuan tersebut terlibat pertengkaran kecil. Terbukti, dengan Alex mendapatkan tamparan, sebelum wanita itu pergi.
Nyatanya, wanita itu adalah Clara. Clara yang mengetahui jika Alex bekerja di salah satu hotel milik Herman, meminta Alex untuk membantunya. Iya, Clara meminta Alex untuk membocorkan ataupun mencari beberapa informasi penting tentang hotel tersebut.
Dan karena Alex menolak hal tersebut, maka mendarat lah, tamparan di pipi Alex.
Ima meringis melihat bagaimana kerasnya tamparan yanh di terima Alex, terbukti dengan suara tamparan yang terdengar. Tak hanya Ima, beberapa pengunjung kafe lainnya juga meringis.
Alex melihat jelas ekspresi yang ditunjukkan Ima. Dan tanpa basa-basi, dia mendekati Ima, serta menarik paksa lengan Ima.
Jelas saja Ima memberontak, dia tidak terima dengan sikap dan perilaku kasar yang ditujukan Alex. Apalagi, Ima tahu jika perbuatan tersebut, jelas saja merusak pendiriannya.
"Lepaskan tanganmu, itu tidak pantas." ujar Ima menarik paksa tangannya dari genggaman Alex.
"Aku ingin kamu membantuku, anggap aja sebagai balas budi." ujar Alex menatap Ima.
"Aku? Maaf, ini uangmu. Dan aku menolaknya." tekan Ima.
"Aku tidak butuh uang itu, lagipula aku hanya ingin kita menemui wanita tadi. Kamu, pasti melihatnya!" seru Alex.
Karena merasa tidak enak dengan tatapan beberapa orang, akhirnya Ima setuju untuk ikut bersama dengan Alex.
Beruntung, Clara masih di parkiran dan menatap tajam ke arah Alex yang datang bersama Ima.
"Ini calon istriku, jadi kumohon, kedepannya kamu jangan pernah muncul lagi di depanku." ujar Alex merangkul tubuh Ima.
Spontan Ima mendorong tubuh Alex, karena perbuatan Alex sungguh sangat-sangat keterlaluan.
"Ini yang kamu katakan calon istri? Bahkan dia gak rela tuh, kamu sentuh." cibir Clara.
"Maaf, aku bukan tidak rela di sentuh. Tapi, aku gak mau disentuh sebelum dinikahi. Karena menurut ku, sentuhan tanpa mudarat itu dosa." tekan Ima menatap Clara dengan nyalang.
Tidak ada ketakutan di matanya.
"Cih ,,, aku tahu orang-orang seperti mu, kalian semua itu orang-orang munafik. Buktinya, banyak tuh pimpinan-pimpinan pesantren yang ..." belum selesai ucapan Clara.
Ima memotongnya. "Jangan samakan seseorang dengan orang lain. Masih banyak pimpinan-pimpinan pesantren lainnya, yang bisa mendidik murid-muridnya jadi orang yang berguna." ujar Ima dengan lantang.
Akan tetapi, Clara hanya memutar mata malas.
"Memang kamu yakin mau sama dia? Bahkan seluruh badannya sudah pernah kulihat, dan juga ku rasakan." cibir Clara meremehkan Ima.
Lagipula, sebenarnya Clara tidak terima jika Alex mendapatkan calon istri. Apalagi, dari segi kecantikan pun, Clara menang banyak dari Ima yang terlihat biasa saja.
bae2 bang ustadz, ntar kamu jodoh lho sama perempuan yg kamu blg aneh itu🤭