“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Naira? Penasaran ingin tahu cerita selengkapnya? Kalau begitu yuk ikuti segera kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F A N A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Bukk!
Bokong itu mengapit cukup kuat menyentak tepat disamping Naira. Cukup membuat gadis muda itu tersentak, ditengah keasyikannya menatap ke arah layar yang saat ini sedang menampilkan adegan keke rasan juga horor itu.
Tangan digenggam. Membuat Naira sungguh tak berkutik ditempatnya. Hanya diam mematung sembari menahan nafas yang berdesakan di dalam dada.
Naira memaling. Ingin melihat wujud dari sosok tak beratitude yang barusan berhasil mencuri atensinya. Ingin menyerukan kekesalan, tapi bibir malah terkatup rapat saat melihat iras samping dari pria bertopi yang ada disampingnya.
Pria itu ada di sini? Bagaimana bisa?!
Deg!
Degupan jantung berpacu seiring warna pucat menghiasi iras cantik gadis muda itu. Ingin mengerling ke samping bahkan sama sekali tidak bisa. Hanya mampu menunduk sembari menelan kasar ludahnya.
‘Kenapa ia bisa ada di sini? Apa ia membuntutiku?’
Lalu secarik kertas pria itu sodorkan. Langsung dibaca oleh Naira. ‘Kau benar, aku mengikutimu. Karena kau sudah sah menjadi istriku, maka aku harus memastikan kelakuan apa saja yang kau lakukan dibelakangku.’
Glek!
Saliva itu kembali tertelan sangat kasar. Sementara Ikhsan yang ada disampingnya sepertinya masih asyik dengan tontonannya?
Cekikikan terdengar. Berasal dari sosok berbaju putih yang sedang melayang pada tontonan layar lebar tersebut. Benar-benar mengusik bulu Roma. Tapi bagi Naira, ketakutan itu bukan berasal dari apa yang dipertontonkan oleh film tersebut, melainkan sebaliknya.
Boy semakin menggenggam erat buku-buku tangan gadis mudanya itu. Merengkuh popcorn yang ada di tangannya, membuat Ikhsan tak lagi bisa menggapai, lantas berpaling ke arah Naira.
“Habis?” lontar pria muda itu belum sadar apa yang saat ini sedang terjadi dengan kekasihnya. Lalu lekas ditanggapi anggukan oleh Naira yang membuat Ikhsan menghela nafas.
“Sejak kapan kamu jadi rakus seperti ini?” lontarnya langsung ditanggapi delikan mata gadis muda itu. Namun sesaat langsung ditanggapi senyuman oleh pria muda tersebut.
“Tidak usah merasa bersalah. Barusan aku cuma bercanda. Aku senang kamu menghabiskannya, kita bisa beli lagi. Kau mau??” lontar Ikhsan cukup membuat Boy geram lantas mencengkeram buku tangan Naira sebelum akhirnya bangkit meninggalkannya.
Kening Ikhsan mengerut. Pergerakan Boy cukup membuat ia curiga. Terlebih barusan ia melihat saat lelaki itu melepaskan tangan Naira, membuatnya cemburu.
“Apa barusan ia mengganggumu?” tanya Ikhsan. Naira reflek menggeleng. “Tapi barusan aku lihat dia memegang tang,—”
“Wanitanya di cu lik! Lihatlah, lelaki itu tidak mengetahuinya sehingga kini ia kehilangan jejak kekasihnya.” Naira menunjuk ke arah layar. Mencoba mengalihkan perhatian Ikhsan.
Cukup berhasil mengingat kini Ikhsan yang segera mengalihkan pandangannya ke arah layar. Kembali menonton kisah horor yang ada di depannya.
Naira mengembuskan napas lega. Akhirnya Boy pergi tanpa membuat masalah. Meskipun ia ragu akan kedepannya, disaat nanti kembali menginjakkan kaki dikediaman keluarga William's—yang berkemungkinan akan disidang?
Ah... Naira menyingkirkan ragam pemikiran itu dari benaknya. Fokusnya kini harus benar-benar kepada Ikhsan. Setidaknya saat ini kencan mereka bisa kembali berjalan lancar. Sementara konsekuensi nanti pikirkan nanti saja.
“Apa kau merasa senang, Nai?” pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Ikhsan. Cukup membuat gadis muda itu terkejut. Lalu menjawab dengan anggukan.
Ikhsan menatap sepasang netra Naira lamat. Sebelum akhirnya tiba-tiba saja wajah pria muda itu semakin maju dekat ke arah wajah Naira. Cukup membuat gadis itu tertegun. Lalu ketika hampir sampai,—