NovelToon NovelToon
High School Bad Boy

High School Bad Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Badboy / Berondong / Tamat
Popularitas:414.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Magnifica

Paris, 2021.

Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.

Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.

Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.

Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.

Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.

Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Oh Mon Dieu (Ya Tuhan).

LA COUPOLE D'ARGENT BAR, PUTEAUX.

Adrienne melambai pada Wulan yang baru saja turun dari taxi. Wanita berambut pendek itu berdiri di samping tiang lampu bercat hijau yang ada di depan bar.

Wulan mencium pipi Adrienne sekilas, lalu keduanya masuk ke dalam bar yang mulai ramai oleh pengunjung itu.

"Une bouteille de Jack Daniel's, s'il vous plait (satu botol Jack Daniels, tolong)," ucap Adrienne pada seorang bartender seraya menarik kursi di depan meja bar.

"Mau tambah cola, lemon, apple cider atau jus cranberry?" tawar Sang Bartender.

"Non, non, murni saja."

Satu botol whiskey langsung disajikan di hadapan Adrienne dan Wulan. Bartender dengan cekatan membuka penutup botolnya dan menuangkan tuangan pertama pada dua sloki dan mendorong gelas kecil itu masing-masing pada kedua wanita itu.

"Uufh ...." lenguh Wulan begitu cairan kuning kecokelatan itu mengalir melewati tenggorokannya. "Aku memang butuh ini," kekehnya ketika dirasakannya tubuhnya mulai menghangat.

"Moi aussi (aku juga)," timpal Adrienne sembari meneguk gelas slokinya. Ketika ekspresi wajahnya terlihat kesulitan menelan cairan itu, kedua wanita itu terbahak.

Begitu gelas kosong, Adrienne mengisinya lagi dan lagi. Hingga beberapa menit acara minum mereka diisi dengan obrolan-obrolan hangat kesana-kemari, sesekali diselingi dengan tawa mereka yang berderai.

"Ah, aku stress," ujar Adrienne sembari mengunyah kacang panggang yang disajikan oleh bartender beberapa saat lalu. "Mon mari (suamiku), akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaannya. Dia sering sekali menginap di luar kota. Dengan alasan untuk pekerjaan."

"Memang masalahnya apa?" tanya Wulan sembari mencomot segenggam kacang panggang.

"Masalahnya aku curiga dia punya wanita lain."

Wulan mencebik. "Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" tanyanya dengan mulut yang sibuk mengunyah kacang.

"Aku memeriksa ponselnya. Ada nama aneh di daftar kontaknya. Marie-Ange ... aku tidak ingat ada temanku atau teman suamiku bernama Marie-Ange." Adrienne menuang gelas slokinya. Lalu meneguknya.

"Mungkin saja dia kolega suamimu," sahut Wulan.

"Je sais pas (aku tidak tahu), Wulan ... entah kenapa aku merasa curiga dengan nama itu." Adrienne mengedikkan bahunya. "Bukankah firasat seorang isteri itu kuat?"

Wulan tersenyum tipis. Ia seperti kembali terlempar ke masa lalu mendengar perkataan Adrienne. Saat ia membuka ponsel milik Pierre dan menemukan nama Emelie di sana.

"Mungkin sebaiknya kau tanyakan pada suamimu siapa Marie-Ange ini," ujar Wulan disambut dengan anggukan kepala Adrienne. Lalu meneguk gelas slokinya.

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Adrienne. "Dengan Damien," kikiknya. "Sepertinya dia benar-benar menyukaimu."

Wulan menghembuskan napas kasar. "Aku tidak tertarik padanya."

"Bukankah dia tampan?" kekeh Adrienne.

Wulan mendesis. "Entahlah." Ia memandang lurus ke arah rak yang terisi oleh botol-botol minuman beralkohol.

Adrienne menyenggol bahu Wulan tiba-tiba. "Jangan-jangan kau sudah punya pacar?"

Wulan terbahak. "Tidak."

Bibir Adrienne mencebik. Ia menuangkan whiskey ke gelas sloki Wulan. "Kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Maximilian, bukan?" tanyanya tiba-tiba membuat dada Wulan berdegup kencang.

Wulan meneguk whiskeynya dan terkekeh, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Aku tidak buta, Wulan. Aku sering melihat Max mendekatimu di sekolah. Dan bahasa tubuh kalian berbeda. Tidak seperti Guru dan murid."

"Tidak seperti yang kau pikirkan, Adrienne. Aku hanya memosisikan diriku sebagai Guru yang bersedia mendengarkan keluh kesah siswanya," sangkal Wulan.

Adrienne menghela nafas pelan. "Kuharap begitu. Aku sudah pernah memperingatkanmu, Wulan."

Wulan mengambil slokinya lalu meneguknya. Kemudian menuang whiskeynya, dan meneguknya lagi. Terlihat jelas ia mulai merasa gelisah. Bayangan Max yang sekarang tengah berada di dalam apartemennya terlintas.

Sedang apa anak itu?

Ia melirik jam di pergelangan lengannya. Pukul delapan malam. Wulan menoleh pada Adrienne yang kini sepertinya telah tenggelam dalam buaian whiskeynya.

"Ca va, Dames (kalian baik-baik saja, nyonya-nyonya)?" sapa Sang Bartender yang melihat Wulan tengah memijit keningnya dan Adrienne yang terdiam sembari memilin gelas slokinya.

"Owh, oui, oui, ca va, merci," sahut Wulan. Sang Bartender tersenyum kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.

"Adrienne, sepertinya aku harus pulang," ujar Wulan sembari meletakkan selembar seratus euro di atas meja.

"Trés vite (cepat sekali)," sahut Adrienne.

"Oui, je suis fatigué (iya aku capek)." Wulan beranjak dari duduknya dan mengecup pipi Adrienne sekilas. Sebelum berlalu, ia melambai pada bartender lalu melangkah keluar.

Di luar, ia disambut oleh udara dingin yang menusuk. Ia merapikan syal di lehernya dan berjalan menuju ke pinggir jalan.

"Taxi!"

***

Wulan membuka pintu apartemennya pelan. Ruang tamu tampak remang. Hanya diterangi cahaya yang menyeruak dari luar jendela. Tangannya meraba saklar lampu yang ada di dekat tempatnya biasa menggantung mantel.

"Max?" panggilnya ketika lampu menyala dan tak mendapati pemuda itu di sana. Namun ia melihat tas ranselnya masih tergeletak di atas sofa.

Ia memeriksa dapur, namun Max tidak ada di sana. Langkahnya pun pelan menuju kamarnya.

Wulan tertegun sejenak ketika mendapati Max tengah tertidur di atas ranjang, berbalut selimut tebal yang menutupi tubuhnya di sebatas pinggang. Ia menelan ludahnya.

Dipandanginya bocah bengal itu lekat. Rambut panjangnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Cukup lama ia menelusuri wajah tampan Max mulai dari mata, rahang yang kokoh, bibirnya yang bersemu merah, lehernya, lalu dadanya yang telanjang.

Wulan pun terkekeh. Bagaimana bisa ia membiarkan saja Max berada di atas ranjangnya. Bahkan kini otaknya mulai liar membayangkan hal-hal yang sudah lama tak pernah ia lakukan.

Kapan terakhir kalinya ia melakukannya dengan Pierre. Ia bahkan tak mengingat tepatnya. Ia hampir lupa rasanya disentuh oleh tangan kokoh seorang pria. Oh, badannya terasa sedikit melayang. Mungkin karena pengaruh alkohol. Atau karena otaknya yang sedang berkelana.

Wulan melepas syal dan mantelnya dan melemparnya ke lantai. Kini ia hanya mengenakan kaos tipis dan leggingnya saja.

Ia naik ke atas ranjang dan duduk bersimpuh di dekat kaki Max. Tangannya ragu-ragu ingin menarik selimut yang membalut tubuh itu.

"Miss."

Wulan tersentak. Ia segera beringsut menuju ke tepian ranjang. Berpura-pura mencari mantel yang sesaat lalu ia lemparkan ke lantai.

"Maaf aku pinjam tempat tidurmu. Tadi aku mengantuk sekali." Max menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

Wulan berdehem sekali. "Ya, karena sekarang kau sudah bangun, apa kau mau pergi?" tanya Wulan sembari berpura-pura sibuk melipat mantelnya.

"Kau mau aku pergi, Miss?"

"Aku sedikit ... mabuk," ujar Wulan sembari memutar jari telunjuknya di samping kepalanya.

Max tersenyum lebar. Ia mendekat pelan pada Wulan yang masih duduk di tepian ranjang.

Tanpa meminta izin pada Wulan, ia meraih bahunya dan mendorongnya pelan hingga punggung Wulan menyentuh permukaan ranjang.

"Jangan, Max ...." Wulan berucap lirih ketika dirasakannya sentuhan bibir Max menyapu lehernya. Menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut.

Oh, Wulan sangat benci ini. Selalu bergumul dengan rasa ingin pasrah menerima perlakuan anak bengal ini ataukah harus menghentikannya.

Napasnya memburu. Otaknya sepertinya mulai tidak bisa berpikir dengan benar. Ia bahkan tak kuasa menolak ketika tangan Max bergerak membuka pelan kaos yang membalut tubuhnya.

Gerakan pelan tangan Max yang me remas dadanya membuat tubuhnya seakan memiliki otak sendiri dan bereaksi dengan sendirinya. Mengge linjang.

Ia tak sanggup menerima godaan ini. Pertahanannya runtuh sudah. Ia menjambak rambut Max dan melahap bibir pemuda itu dengan rakus. Dahaganya harus ia tuntaskan malam ini.

Ia tak peduli lagi siapa dirinya dan siapa Max. Alkohol sama sekali tidak membantunya untuk berpikir dengan jernih. Ia rindu belaian seorang pria.

Ia rindu belaian seorang Pierre.

"Pierre?" Wulan terkesiap ketika nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Seperti menyeruak keluar dari alam bawah sadarnya. Membuat Max menarik tubuhnya dari atas Wulan dan berdiri memandang tak percaya ke arahnya.

"Aku permisi, Miss," ujarnya sembari menyambar pakaiannya yang ada di atas nakas lalu segera mengenakkannya.

"Max ...."

Max tak menghiraukan panggilan lirih Wulan yang masih terlentang di atas tempat tidur. Ia berjalan keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.

Wulan menghembuskan napasnya kasar. Ia meremas wajahnya berkali-kali. Lalu memukul-mukul dahi dengan kepalan tangannya.

Antara lega dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu.

"Mon Dieu (ya tuhan) ...."

***

***

***

1
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Qin one
reaksi alami masyarakat indo klo liat bule, pasti pada heran,gemes, pingin foto🤣
Qin one
Kecewa
Qin one
Buruk
Qin one
wanita klo sedang marah bisa lebih liar dari singa🤣
Qin one
anak kecil ini bikin candu😜
Kham Diyah
slh satu autor kesayangn 😍😍kak septia
Dewa Qin
fiuuuuuh...akhirnya max-wulan menikah,happy ending meski rintangannya juga gak gampang.
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
Dewa Qin
max,semakin kesini q semakin mencintaimu❤️❤️
Dewa Qin
kasian kamu max
Dewa Qin
kereeeen👍👍👍👍👍
Dewa Qin
oalah...jadi max udah tau kelakuan damien,makanya dia pura2 menanyakan sesuatu pada wulan agar wulan tak terjerat bujuk rayu damien yg jelas2 masih berhubungan dengan nadya.adik angkatnya
Dewa Qin
wiiih ngadepi murid kayak mereka bisa2 sebulan langsung serangan jantung
Dewa Qin
baru bab awal,tp udah ada magnetnya buat baca lebih jauh.thanks kak,udah rekom novel ini,ben-mia tamat magrib td.sekarang lanjut ke wulandari.let's start the advanture
Rafa Retha
samawa ya...Max + Wulan
Rafa Retha
max....😘
Rafa Retha
kuapok koen Joelene...
modyaaarrrrr😡😡😡
Elly Prianti
aku sangat suka karya dari lady magnifica
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍
Cicik Iswanto
aku pembaca baru untuk novelmu....aku mencoba menyelami nya ...
Elya Dewi
👌👌👌👌👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!