Elena
"Pria itu unik. Suka menyalahkan tapi menerima saat disalahkan."
Elena menemukan sosok pria pingsan dan membawanya pulang ke rumah. Salahkah dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kesal
Aini mengajak Revan keluar hanya sekedar untuk mengobrol. Tak lebih. Dada Elena terasa panas melihat Revan dan Aini begitu dekat. Ada yang menyayat-nyayat di hati. Rasanya seperti ditikam pisau, atau digaplok kuali besi. Pokoknya sakit.
Elena benci dengan perasaan dongkol yang bercokol dalam dadanya. Ia berusaha membuang jauh rasa itu. Tapi kekesalan tetap membuncah. Sebenarnya apa alasan dari kekesalannya itu? Ia butuh waktu untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
Elena bergegas meninggalkan dinding tempatnya bersandar ketika seorang bidan berdehem melihat tingkah lakunya yang sedang mengintip. Cepat-cepat ia masuk ke kamar Salva. Bocah kecil itu masih tidur pulas.
Elena berjalan hilir mudik. Kepalanya dipenuhi bayangan Revan yang duduk berduaan dengan Aini. Kenapa sih ia segeram itu melihat kedekatan Revan dengan Aini? Ada apa dengannya? Revan nyebelin. Dasar cowok gampangan.
Ia menjatuhkan tubuh di lantai dan duduk dengan kaki selonjor. Mendadak bingung dengan rasa jengkel yang merasuk di dalam dirinya. Ia seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Yang ia tahu, Revan adalah pelindung baginya. Dan ia sangat membutuhkan pelindung seperti Revan. Ia tidak ingin pelindung itu berpaling darinya karena Revan harus membagi perhatian dengan orang lain. Aini.
Elena sadar tidak seharusnya seegois itu. Mengharap Revan hanya perduli padanya dan adiknya saja. Tapi siapa yang tahu, bahwa keegoisan itu muncul dari dasar hati yang paling dalam. Keegoisan itu baru kali pertama dalam hidupnya. Bagaimana ia bisa memahami situasi batinnya?
Pintu terbuka.
Elena menengadah. Melihat yang masuk. Revan berdiri di ambang pintu dan tersenyum cerah.
Elena menyeringai menatap Revan dengan sorot mata tajam. Hah… cerah sekali muka Revan. Dia sedang kasmaran, baru saja menerima perhatian khusus dari perempuan berjilbab itu. Hati Elena semakin dongkol.
“Hai…!!” Revan menepuk paha Elena. Lalu duduk di lantai tepat di samping Elena. “Salva belum bangun?”
Elena memalingkan muka. “Liat aja ndiri. Ngapain mesti nanya?” ungkapnya ketus.
Revan menatap Salva yang tidur pulas di ranjang. Kemudian pandangannya kembali ke wajah Elena yang hanya terlihat separuh. Mata Revan sampai membulat memperhatikan wajah tegang yang kesal itu. Tak pernah Revan melihat Elena berekspresi semasam itu. Kemarahan gadis itu benar-benar membuncah.
“Hei… Lo kenapa?” heran Revan melihat perubahan sikap Elena.
Elena tak menjawab. Dan memang tak perlu dijawab. Jelas-jelas wajahnya masam, itu namanya sedang kesal. Kenapa mesti bertanya?
“Elena!” panggil Revan sambil menggeser duduk hingga merapat.
“Jauh sana!” Elena mendorong lengan Revan dengan siku tangannnya, membuat tubuh Revan terhuyung minggir. Namun Revan berusaha untuk bertahan. Ia kembali pada posisi semula dan malah semakin merapat pada Elena. “Gue salah apa?”
Elena tersentak dan baru menyadari bahwa kekesalannya tidak beralasan. Ya Revan benar, apa salah Revan? Apa alasannya marah? Pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa tak seharusnya ia menampilkan kemarahan itu. Sikapnya itu tentu menimbulkan pertanyaan. Dan ia terbukti tidak bisa menjawab. Apakah ia harus bilang bahwa ia tidak mau jika Revan dekat dengan perempuan lain? Atau karena dia sedang merasa terancam melihat kedekatan Revan dengan Aini? Atau ia sedang cemburu? Atau… Atau apa? Tak akan mungkin Elena menjelaskan apa yang terjadi dengan hatinya. Ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya searogan itu.
“Elena, apanya yang salah sama gue?” Revan menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Elena dan memaksa wajah itu menghadap ke wajahnya. Mereka bertatapan.
TBC
kan revan hampir dirampok crita'a