Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Kabur
Attar condong ke depan, mencoba meraih tangan Livia di atas meja, namun Livia segera menariknya menjauh. "Liv, aku mohon. Aku sudah kehilangan Mama. Jangan biarkan aku kehilangan kamu juga. Aku akan melakukan apa pun, aku akan pindah kota, aku akan meninggalkan karierku jika itu bisa membuatmu memaafkanku!"
"Kamu kehilangan Mama karena perbuatanmu sendiri, Attar," ucap Livia, menatap langsung ke mata suaminya. "Dan kamu kehilangan aku di detik kamu menyentuh Sheila. Jangan gunakan air matamu untuk memanipulasiku lagi. Itu sudah tidak mempan."
Attar jatuh terduduk kembali ke kursinya, bahunya merosot. Di ruang sempit itu, ia menyadari bahwa tembok yang dibangun Livia jauh lebih kokoh daripada bangunan mana pun yang pernah ia rancang.
****
Di saat yang sama, di belahan Jakarta yang lain, suasana jauh dari kata tenang. Di bangsal isolasi Rumah Sakit Jiwa Grogol, suara tawa melengking memecah keheningan koridor steril tersebut.
Sheila Nandhita sedang berada dalam puncak episode maniknya. Ia duduk bersimpuh di lantai sel yang empuk, mengenakan baju pasien berwarna putih yang sudah kotor karena ia menolak untuk mandi.
Dokter Kusno, seorang psikiater senior dengan kacamata tebal, masuk ke dalam sel diikuti oleh dua orang perawat, Suster Rima dan Suster Ayu.
"Sheila, ayo minum obatnya dulu. Ini supaya kamu merasa lebih tenang," ucap Dokter Kusno dengan suara kebapakan, mencoba mendekat.
Sheila mendongak. Wajahnya yang dulu cantik kini tampak mengerikan. Air mata tumpah ruah membasahi pipinya, namun bibirnya menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan giginya. Cairan bening—ingus—mengalir dari hidungnya tanpa ia pedulikan, menetes ke dagu dan bajunya.
"Tenang? Hahahaha! Dokter, apa dokter tahu bagaimana rasanya menjadi api?" suara Sheila melengking, lalu tiba-tiba berubah menjadi bisikan parau. "Aku adalah api yang membakar keluarga Pangestu. Aku yang menang! Hahahaha!"
"Sheila, tenanglah..." Suster Rima mencoba memegang bahunya.
"JANGAN SENTUH AKU!" teriak Sheila histeris. Dengan kekuatan yang meledak-ledak, ia mendorong Suster Rima hingga jatuh menabrak dinding. Sheila menerjang Dokter Kusno, jemarinya yang kurus mencoba mencakar wajah sang dokter.
"Iblis! Kalian semua iblis yang mau menjauhkan aku dari Attar!" jeritnya.
****
Suster Ayu segera berteriak memanggil bantuan. "Keamanan! Kode Merah di bangsal Melati!"
Sheila lepas kontrol sepenuhnya. Ia mulai membenturkan kepalanya ke lantai sambil terus tertawa dan menangis secara bersamaan. Suaranya memenuhi seluruh lorong rumah sakit jiwa, memicu pasien-pasien lain untuk ikut berteriak, menciptakan orkestra kegilaan yang memekakkan telinga.
"Attar! Livia harus mati! Dia mencuri pria milikku!" Sheila meraung, tangannya memukul-mukul dadanya sendiri. Ingus dan air matanya bercampur aduk di wajahnya, menciptakan pemandangan yang begitu memilukan sekaligus menjijikkan bagi siapa pun yang melihatnya.
Dokter Kusno terpaksa memberikan instruksi untuk melakukan fiksasi fisik. "Siapkan suntikan penenang dosis tinggi! Cepat!"
Butuh empat orang petugas keamanan untuk menahan tubuh Sheila yang meronta-ronta seperti hewan liar. Saat jarum suntik menembus kulit lengannya, Sheila memberikan satu tatapan terakhir yang penuh kebencian ke arah jendela, seolah ia bisa melihat Livia yang sedang berada di pengadilan.
"Hah... hah... kalian tidak akan pernah bahagia..." gumamnya sebelum matanya perlahan terpejam, meninggalkan ruangan yang kini berantakan dengan noda dan sisa-sisa histeria.
****
Kembali di Pengadilan Agama, Livia keluar dari ruang mediasi dengan napas lega. Hakim akhirnya menyetujui untuk melanjutkan sidang ke pokok perkara karena mediasi dinyatakan gagal total.
Attar mengikuti dari belakang, ia melihat Livia berjalan berdampingan dengan Ayub. Rasa cemburu membakar hatinya, namun ia sadar ia tidak punya hak bahkan untuk sekadar menyapa.
"Terima kasih sudah menemaniku, Ayub," ucap Livia saat mereka sampai di parkiran.
"Selalu, Mbak. Ini baru langkah awal untuk hidup baru Mbak Livia," jawab Ayub.
Livia menatap langit biru di atas Jakarta. Ia tahu perjuangannya belum selesai. Sheila masih menjadi ancaman meski di balik jeruji rumah sakit jiwa, dan Attar masih akan terus membayanginya. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Livia merasa ia memegang kendali atas kemudinya sendiri.
Di kejauhan, Attar berdiri di samping mobilnya, melihat mobil Livia melaju pergi. Ia meremas berkas di tangannya, menyadari bahwa duka yang paling dalam bukanlah kematian, melainkan hidup dalam penyesalan yang tak berujung.
****
Malam di Rumah Sakit Jiwa Grogol biasanya hanya diisi oleh suara dengung pendingin ruangan dan langkah kaki petugas jaga yang berpatroli. Namun, di Bangsal Melati, keheningan itu hanyalah sebuah topeng bagi badai yang tengah dipersiapkan oleh Sheila Nandhita.
Sheila duduk diam di sudut ranjangnya. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini awut-awutan, namun matanya—mata yang berkilat dengan kecerdasan yang sakit—tetap terjaga. Ia telah memperhatikan jadwal Suster Ayu. Ia tahu bahwa setiap pukul sepuluh malam, Suster Ayu akan masuk membawa nampan berisi susu hangat dan obat penenang dosis malam.
Klik.
Suara kunci pintu terbuka. Suster Ayu masuk dengan senyum ramah yang biasanya menenangkan pasien. "Sheila, waktunya minum susu supaya tidurnya nyenyak," ucapnya lembut.
Saat Suster Ayu membungkuk untuk meletakkan nampan di meja kecil, Sheila bergerak. Bukan gerakan seorang pasien yang linglung, melainkan terkaman seekor predator. Dengan kekuatan yang tidak terduga, Sheila mendorong Suster Ayu hingga wanita itu jatuh tersungkur dan kepalanya membentur pinggiran ranjang besi.
"Aduh!" Suster Ayu merintih kesakitan, nampannya terpelanting membasahi lantai dengan susu putih yang kini tampak seperti bercak darah dalam remang cahaya.
Sheila tidak membuang waktu. Ia melompat turun dari ranjang, melewati tubuh perawat itu, dan berlari keluar menuju koridor. "Hahahaha! Bebas! Akhirnya aku bebas!" tawanya melengking, memecah kesunyian malam rumah sakit.
****
Dua orang satpam di ujung lorong tersentak. "Pasien kabur! Cegat di blok B!" teriak salah satunya melalui handy-talky.
Sheila berlari secepat kilat, kakinya yang telanjang menghantam lantai porselen yang dingin. Ia melihat jalan buntu di depan, namun ada sebuah jendela besar yang terbuka di lantai dua itu untuk sirkulasi udara. Tanpa keraguan, tanpa rasa takut akan ketinggian, Sheila melompat ke ambang jendela.
"Sheila, jangan! Berhenti!" teriak satpam yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
Sheila menoleh, wajahnya diterangi lampu taman dari luar. Air mata kegilaan mengalir di pipinya, namun bibirnya menyeringai lebar. Ingusnya mengalir lagi, namun ia justru menjilat bibirnya dengan tatapan liar. "Kalian tidak akan bisa mengurung api! Hahahaha!"
Dengan tawa histeris yang memekakkan telinga, Sheila melompat keluar. Tubuhnya menghantam rimbunnya semak-semak besar di bawah, lalu dengan lincah ia berguling dan terus berlari menembus pagar pembatas yang sedang diperbaiki. Para satpam yang mencapai jendela hanya bisa melihat bayangan putih menghilang di kegelapan malam Jakarta.