Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.
Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?
Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.
Ikuti cerita ini terus ya readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Bawa aku pulang Dam
Berbeda dengan Wiksa berbeda pula dengan Airin.
Adam dengan berlari, memburu ke kamar rawat inap Airin. Paviliun yang cukup jauh dari koridor utama, tanpa melepas seragam dinas yang di kenakan Adam menerobos beberapa pengunjung. Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan di mana Airin di rawat. Adam berusaha mengatur napasnya sesaat, menenangkan batinnya sebelum tangannya meraih gagang pintu, tetapi beberapa sapaan membuat Adam harus mengurungkan niatnya beberapa menit untuk membalas sapaan yang ditujukan padanya. "Ash ... kenapa lupa mengganti seragam," gerutunya, netranya langsung menilik baju yang di gunakan sembari menoleh ke arah lorong paviliun.
Senyumnya langsung terkembang sempurna saat melihat salah satu OB lewat tanpa berteriak Adam melambai dan berharap OB ini paham dan segera menghampiri. Dua kali tangan Adam melambai, OB ini baru sadar dengan panggilan Adam dan berlari menghampiri.
"Ya, Bos," jawabnya hormat setelah mendekat.
"Lepas seragam kamu," titahnya aneh.
"Tapi Bos ...." OB ini menatap heran dan takut.
"Ash ... lepas dulu!" titah Adam tidak sabar.
Tanpa banyak bicara OB ini langsung melepas bajunya dengan tatapan sedih memegang bajunya erat.
"Sini, berikan," pintanya tidak sabar.
OB ini hanya menggeleng, menolak dengan pandangan takut. "Bos ... apa, saya?" tanyanya takut dengan wajah menunduk.
"Berikan, saja." Adam sibuk mencari dompetnya dan mengeluarkan uang berwarna merah.
"Pak ... bukan begitu Bos," jawabnya enggan sembari mencium baju yang ada di tangannya berulang kali.
"Lepas! Atau ...." Adam sembari melotot.
"Siap Pak!" serunya takut, "eh ... maaf, tetapi baju saya bau keringat," jawabnya malu.
Adam hanya menggeleng, menarik begitu saja baju OB dan melepas bajunya. "Bawa ini," titahnya tergesa menyerahkan baju dinas miliknya dan beserta uang berwarna merah, "tolong taruh di ruangan saya," titahnya pelan.
"Apa? Bos, mau di ambilkan baju atau kaos?" tanya OB untuk memastikan.
"Ash ... enggak usah! Kebetulan saya tidak membawa cadangan baju," timpalnya tidak sabar dan hanya memberi isyarat agar OB ini segera pergi.
"Baik, Bos," jawab OB ini senang dan mencium uang berwarna merah, menepuk di jidatnya beberapa kali dengan wajah senang.
"Terima kasih Bos," ujarnya sebelum pergi.
Selepas kepergian OB, Adam tersenyum melihat baju yang ada di tangannya, mengangkatnya sedikit mendekat mencium baju OB yang di pegangnya. Adam termenung sesaat seakan menimbang sesuatu dalam benaknya, tetapi kembali Adam menggeleng dan langsung memakai baju OB. "Ash ...." Adam hanya bisa menggaruk kepalanya, kembali menilik baju yang di kenakan, tidak urung bibirnya tersenyum untuk menertawakan dirinya sendiri.
Mendorong pintu perlahan, Adam mengintip untuk memastikan jika penghuni kamar ini dalam keadaan baik-baik saja.
Akakn tetapi, Adam langsung menyengitkan dahinya, saat melihat Airin terbaring dengan wajah pucat, satu hal yang Adam tuju adalah perut Airin. Netra Adam semakin membola saat melihat kondisi Airin, melangkah mendekat untuk memastikan jika yang di lihatnya saat ini benar adanya. "Airin ...." Adam lirih seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Memilih duduk dengan tenang meskipun kabar yang di dengarnya sungguh mengejutkan. Untuk beberapa saat Adam hanya bisa menunggu hingga sang empunya terbangun dari mimpi indahnya. Adam memilih menggulir ponselnya, menilik beberapa WA yang masuk. "Huuufff ... semua kejadian ini tidak masuk akal, tetapi ...." Adam meletakkan begitu saja ponselnya saat melhat Airin mulai mengerjapkan netaranya, tangannya perlahan terulur memegang kepalanya.
Perlahan manik matanya mulai terbuka, memindai sesaat ruangan di mana dia berada, hingga tatapannya lurus pada bayangan yang duduk tidak jauh dari ranjangnya.
"Dam ...." Airin menyapa lirih saat sadar siapa yang duduk di depannya.
"Istirahat Airin," titah Adam berdiri mendekat bibirnya tersenyum lega.
"Dam ...." Airin langsung bangun dari tidurnya, "Dam, bawa Airin pulang," tangisnya kencang langsung memeluk tubuh Adam dan menangis sejadi-jadinya. Adam langsung membeku, untuk pertama kali Airin memeluknya tanpa ragu, menumpahkan semua kesedihan yang di rasakan.
"Bawa, Airin pulang Dam, Ibu mertuaku menolak bayi ini. Dia tidak mengakui anak dalam kandunganku Dam," cerita Airin tergugu tanpa melepas pelukannya. Adam masih membeku, tubuhnya serasa kaku dan bingung harus melakukan apa, sementara Airin terus menangis di dadanya.
"A- irin," ujarnya terbata, perlahan tangannya bergerak mengusap punggung Airin takut.
"Menangislah jika itu bisa menghilangkan kesedihan kamu dan jangan sungkan, aku bisa menjadi bahu untukmu bersandar," kata Adam di luar batasnya.
Cukup lama Airin menangis dalam pelukan Adam, hingga Airin perlahan melerai pelukannya, Airin spontan memegang perutnya, seakan sadar dengan kejadian yang baru di alaminya.
"Anakku, bayiku ...." Airin dengan suara serak, menatap Adam bingung.
"Airin, tenang. Bayimu ...." Adam menggeleng menatap Airin ragu.
"Dam ... jangan bergurau!" teriak Airin tidak percaya.
"Airin, dengar dulu! Bayimu baik-baik saja, coba pegang yang benar," timpal Adam lirih.
Airin kembali memegang perutnya. "Dam ...." Airin langsung memeluk Adam untuk yang kedua kalinya tanpa sungkan, "maaf, tetapi bisa kamu membawaku pulang sekarang?" tanya Airin memohon.
Adam hanya menghela napas, saat ini ada dua hal yang tengah menyerbu kalbunya tentang detak jantungnya dan permintaan Airin. "Besok, aku usahakan," jawab Adam akhirnya, meskipun dirinya harus menerobos prosedur demi wanita yang saat ini mampu meruntuhkan kalbunya.
Mendengar jawaban Adam, Airin sedikit merasa tenang, melerai pelukannya dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
Airin langsung mengusap perutnya, menatap Adam lega, tetapi tatapannya sesaat berubah.
"Dam, Ibu mertuaku?" tanyanya cemas.
Adam menatap Airin bimbang, sesaat memorinya mundur beberapa menit ke belakang. "Ibunya Wiksa?" tanya Adam mencoba untuk meyakinkan asumsinya.
"Aku, akan mencari tahu," jawabnya singkat dengan napas berat.
Airin mengangguk dan tangannya kembali mengusap perutnya, tetapi netranya kini terbang entah kemana.
"Airin, apa? Kamu mau menceritakan kejadian ini?" tanya Adam hati-hati.
Airin menunduk, tanpa menatap Adam. "Semua salah Airin," sesalnya tiba-tiba.
Airin perlahan mulai mencetitakan apa yang terjadi setelah kepergian Adam, kedatangan Pak RT beserta istrinya dan kedatangan sang ibu mertuanya semua Airin ceritakan secara gamblang. "Dam ... Airin sangat menyesal," ucapnya ulang tangannya sudah meremat ujung selimut yang dia gunakan.
"Apa? Aku salah?" tanya Airin takut.
"Kamu, tidak salah. Kejadian hari ini sedang di usut oleh aparat dan ...." Adam memilih untuk diam, saat ini Adam tidak ingin Airin tahu jika Wiksa juga berada di rumah sakit yang sama.
"Apa? Ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Adam hati-hati.
"Bawa, Airin pulang Dam hanya itu yang saat ini Airin mau," netranya kembali mengembun, saat ini ada satu sikap yang bisa Adam lihat dari gerak tubuh Airin, perasaan kesal, benci dan sakit hati atas penolakan sang ibu mertua membuatnya semakin ingin pergi menjauh meskipun tersirat penyesalan dari kecelakaan yang terjadi hari ini.
"Istirahat Airin. Aku akan ke luar sebentar," pamit Adam pelan.
Airin mengangguk pasrah, mengikis netranya dengan senyum yang sulit diartikan, kemudian memilih memindahkan posisi tubuhnya membelakangi Adam. Air mata yang di tahannya akhirnya luruh juga menangis dalam diam dengan semua penyesalan dalam hatinya.
Melihat sikap Airin, Adam hanya bisa menatap Airin iba. Menatap tubuh yang terguncang pelan tanpa harus bisa berbuat apa-apa. Ke luar dari ruang rawat inap Airin, Adam memilih berdiri di depan pintu, mengambil udara segar sepuas-puasnya, menyegarkan rongga dadanya yang terasa sesak sejak mendengar kecelakaan yang Airin alami.
'Apa? Aku sudah gila, sebegitu mengkhawatirkan Airin, wanita yang notabene masih berstatus istri orang, atau ....' Adam membantin gusar.
Angin menjelang petang seakan membawa kabar tersendiri untuknya, hembusan angin segar menerpa wajahnya dengan lembut, menyapu setiap inci wajahnya mesra. "Huuufff ... semoga semua berjalan dengan baik," lirihnya kakinya mengayun menuju ruangan yang diyakininya bisa memberikan informasi seakurat mungkin tentang kondisi Airin dan juga Ibu Wiksa.
Memasuki ruangan khusus, Adam langsung di sambut hangat oleh beberapa Perawat, mereka menjawab dengan hormat setiap pertanyaan yang Adam ajukan, hingga lima belas menit lamanya Adam baru menyelesaikan sesi tanya jawab yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Adam hanya bisaa menghela napas sesaat netranya menatap bimbang.
"Apa? Keputusan ini tepat?" tanyanya bimbang kemudian meninggalkan ruangan.