Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7_Diselamatkan sang miliader
"Aku pergi..." ucap Rani lirih. Wajahnya dipenuhi kepedihan, sementara kedua matanya yang sembap menatap Arga untuk terakhir kalinya.
Arga menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Bagus!" bentaknya sinis. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan, sementara sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa iba.
"Jangan pernah kembali lagi!" hardiknya lantang. Wajahnya mengeras, sementara rahangnya tampak menegang.
Rani menggigit bibir bawahnya.
"Aku tidak akan memohon." ucapnya pelan. Suaranya bergetar, sementara air mata kembali mengalir di pipinya.
Arga tertawa mengejek.
"Memangnya siapa yang mau menahanmu?" tanyanya sinis. Alisnya terangkat, sementara tatapannya dipenuhi penghinaan.
Salah seorang polisi menghela napas panjang.
"Ibu, apakah ada keluarga yang bisa dihubungi?" tanyanya lembut. Wajahnya dipenuhi rasa prihatin, sementara suaranya terdengar menenangkan.
Rani menggeleng pelan.
"Tidak ada." jawabnya lirih. Senyumnya terasa pahit, sementara pandangannya mulai kosong.
Polisi itu kembali bertanya.
"Tempat tinggal lain?" tanyanya hati-hati. Alisnya sedikit berkerut, sementara ia berharap mendapat jawaban.
Rani kembali menggeleng.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa." ucapnya pelan. Napasnya terdengar berat, sementara kedua tangannya menggenggam erat tali tas besar yang berada di bahunya.
Suasana mendadak hening. Beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian itu ikut menundukkan kepala.
Seorang ibu paruh baya mengusap sudut matanya.
"Ya Allah... kasihan sekali." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa iba.
Rani menarik koper kain besarnya ke depan pintu.
Ia memandang kontrakan kecil itu. Rumah yang selama bertahun-tahun ia bersihkan. Rumah yang ia rawat. Rumah yang ia anggap sebagai tempat pulang.
Kini...Tidak lagi menjadi miliknya.
Rani menarik napas panjang.
"Terima kasih..." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan, sementara air matanya kembali jatuh.
Arga mendengus kasar.
"Cepat pergi!" bentaknya kesal. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun penyesalan.
Rani tidak menjawab.
Dengan langkah pelan ia berjalan meninggalkan kontrakan itu. Tas besar menggantung di bahunya.Langkahnya terasa berat.
Semakin jauh. Semakin sepi.
Malam mulai larut. Lampu-lampu jalan hanya menerangi trotoar dengan cahaya redup. Angin malam bertiup dingin.
Rani memeluk tubuhnya sendiri.
"Harus ke mana aku sekarang...?" bisiknya lirih. Wajahnya tampak kebingungan, sementara kedua matanya terus memandang lurus tanpa tujuan.
Tak ada seorang pun yang bisa ia datangi. Tak ada rumah yang bisa ia tuju.
Ponselnya berdering. Rani melihat nama yang muncul di layar.
"Ibu."
Tangannya bergetar. Perlahan ia menekan tombol tolak.
"Aku belum sanggup..." bisiknya pelan. Air matanya kembali menetes, sementara dadanya terasa sesak.
Ia terus berjalan. Satu kilometer, dua kilometer. Kakinya mulai terasa nyeri. Perutnya yang sejak siang belum terisi mulai melilit. Pandangannya perlahan berkunang-kunang.
"Ya Allah..." bisiknya lemah. Wajahnya semakin pucat, sementara napasnya mulai tersengal.
Langkahnya mulai sempoyongan. Tas besar di bahunya terasa semakin berat.
Bruk!
Tas itu akhirnya terjatuh ke trotoar.
Rani mencoba mengangkatnya. Namun tubuhnya sudah terlalu lemah.
"Ayo..." ucapnya lirih kepada dirinya sendiri. Wajahnya dipenuhi tekad, sementara kedua tangannya gemetar hebat.
Ia kembali berdiri.
Baru beberapa langkah...Pandangannya mendadak gelap.
"Kepalaku..." bisiknya pelan. Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Tubuh Rani ambruk di pinggir jalan. Tas besarnya terlempar beberapa meter.
Hujan rintik-rintik mulai turun. Air hujan membasahi wajahnya yang pucat. Beberapa kendaraan melintas. Namun tidak ada satu pun yang berhenti.
Beberapa menit kemudian...
Sorot lampu sebuah mobil hitam mewah perlahan mendekat. Mobil itu melambat. Lalu berhenti tepat di samping tubuh Rani.
Di dalam mobil...
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun menatap keluar melalui kaca depan.
"Ada orang tergeletak." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa heran, sementara alisnya berkerut.
Pria yang duduk di kursi penumpang depan segera menoleh.
"Sepertinya seorang perempuan." jawabnya serius. Tatapannya tertuju ke arah tubuh Rani yang basah kuyup.
Sang pengemudi menghela napas.
"Pak Adrian..." ucapnya hati-hati. Wajahnya tampak ragu. "Bagaimana?"
Pria yang dipanggil Adrian membuka pintu mobil.
"Kita lihat dulu." ucapnya tenang. Sorot matanya dipenuhi kepedulian.
Pengemudi ikut turun. Mereka berdua menghampiri Rani.
"Bu..." panggil Adrian pelan. Wajahnya terlihat cemas, sementara ia berjongkok di samping tubuh Rani.
Tidak ada jawaban.
"Bu, bisa dengar saya?" tanyanya lagi. Tangannya menyentuh pelan bahu Rani untuk memastikan kondisinya.
Rani tetap tidak bergerak.
Pengemudi langsung memeriksa napasnya.
"Pak..." ucapnya lega. Wajahnya sedikit mengendur. "Masih bernapas."
Adrian mengangguk pelan.
"Denyut nadinya?" tanyanya serius. Tatapannya tidak lepas dari wajah Rani.
"Lemah, Pak." jawab Pengemudi
Adrian memperhatikan wajah Rani beberapa saat. Pipinya masih tampak merah seperti bekas tamparan. Pergelangan tangannya juga terlihat membiru.
Rahang Adrian perlahan mengeras.
"Dia baru saja mengalami kekerasan." ucapnya pelan. Wajahnya berubah serius, sementara sorot matanya dipenuhi kemarahan yang tertahan.
Pengemudi mengangguk.
"Sepertinya begitu, Pak." jawab Pengemudi menganggukkan kepala.
Adrian berdiri.
"Kita tidak bisa meninggalkannya di sini." ucapnya tegas. Nada suaranya mantap, sementara tatapannya penuh keputusan.
"Tapi, Pak..." ucap pengemudi ragu. Alisnya berkerut. "Bagaimana kalau nanti ada masalah?"
Adrian menggeleng pelan.
"Aku tidak peduli." jawabnya tegas. Wajahnya tetap tenang. "Kalau kita pergi begitu saja, bisa jadi nyawanya tidak tertolong."
Pengemudi akhirnya mengangguk.
"Baik, Pak." jawab Pengemudi tegas.
Dengan sangat hati-hati...Mereka mengangkat tubuh Rani. Adrian melepas jas mahal yang dikenakannya. Ia menyelimuti tubuh Rani agar tidak semakin kedinginan.
"Pelan-pelan." ucap Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi perhatian, sementara kedua tangannya menopang tubuh Rani dengan hati-hati.
Beberapa saat kemudian...
Mobil hitam itu melaju meninggalkan jalan yang sepi.
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Mobil memasuki halaman sebuah rumah mewah bergaya klasik. Gerbang besi terbuka perlahan. Lampu taman menyala terang.
Beberapa pelayan yang melihat mobil itu segera berlari menghampiri.
"Pak Adrian!" seru seorang pelayan terkejut. Matanya membelalak, sementara langkahnya semakin cepat.
"Siapkan kamar tamu." perintah Adrian tegas. Wajahnya tetap tenang, namun nada suaranya tidak bisa dibantah. "Dan segera hubungi dokter keluarga."
"Baik, Pak!" jawab para pelayan serempak. Wajah mereka tampak panik, sementara mereka segera berlari menjalankan perintah.
Tanpa seorang pun menyadari...Malam itu menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan Rani.
Karena pria yang menyelamatkannya ternyata bukan orang biasa.
Ia adalah Adrian Wijaya.
Seorang pengusaha sukses yang dikenal dingin, tertutup, dan belum pernah membawa seorang wanita ke rumahnya selama bertahun-tahun.