Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga
Aku terbangun dengan keringat yang membanjiri kening ku, ada rasa kurang nyaman di perutku tapi masih aman. Tidak ada mual yang berlebihan lagi.
Kulihat disebelah ku sudah tidak ada kak Ivan. Entah sekarang dia ada dimana. Kusentuh iPhone ku, ternyata masih jam setengah lima pagi, aku masih bisa melanjutkan tidurku.
"Adit bangun! Shubuh dulu, habis shubuh tidur lagi nggak apa-apa." Teriakan milik kak Ivan yang cukup kencang diluar pintu kamar ini cukup membuat mataku kembali terbuka lebar.
Ya!
Sholat!
Aku hampir melupakan fakta bahwa kak Ivan termasuk laki-laki Sholih yang tidak pernah meninggalkan kewajiban ini.
Teringat semalam sebelum kepulangan kami dari rumah sakit, Kak Ivan mengajak kami semua untuk sholat isya dulu di masjid rumah sakit. Dia beralasan apartemen nya terlalu sempit jika digunakan untuk sholat berjamaah. Mama yang kutahu jarang sekali menjalankan kewajiban ini sampai dibuat kaget dan sedikit berat mengikuti ajakan tersebut, meski akhirnya beliau tetap mengikuti nya.
"Iya kak." Dengan suara serak khas orang bangun tidur aku menanggapinya segera, ku teguk beberapa Mili air dalam Tumbler ku sebelum beranjak menuju pemilik panggilan itu.
Kukira kami akan sholat berjamaah di kamar ini, tapi selesai berwudhu ternyata kak Ivan mengajakku masuk ke dalam lift menuju basement apartemen ini yang ternyata ada masjid lumayan besar.
Selesai sholat, aku yang berniat keluar di tahan oleh kak Ivan.
"Jangan balik dulu, ada baca dzikir pagi dan kajian dulu disini. Kita ikut, sekalian sarapan bareng juga nanti."
Aku hanya menurut dan tanpa mengubah posisi kami masing-masing, aku melihat imam yang tadi memimpin sholat naik ke atas mimbar. Aku memperhatikan nya dengan seksama sampai mataku terpaku menatap seseorang yang duduk tepat dihadapan mimbar tersebut.
Om Hendry?!
Kenapa dia ada disini juga?!
Jangan sampai aku terlihat olehnya dan info aku ada disini malah akan di ketahui Ferdy. Mungkin selama kajian om Hendry tidak akan mengetahui keberadaan ku karena pastinya semua yang ada disini akan dengan sangat takzim mengikuti dan mendengarkan sang imam.
Tapi bagaimana kalau kita bertemu di sesi sarapan bersama?!
Aku harus bisa mencari alasan kembali ke kamar sebelum kajian ini selesai.
Pembahasan kajian yang disampaikan oleh pak imam terkait tadabur surat al fatihah, tidak masuk sama sekali kedalam otakku. Otakku masih berfikir keras bagaimana cara meninggalkan majelis ini segera sebelum berakhir.
Hampir 30 menit, akhirnya pak imam mengucapkan salam akhir. Aku menunggu momen ini yang menurutku paling tepat untuk segera mohon izin ke kak Ivan.
"Kak, Adit nggak ikut sarapan disini ya." Aku berbisik kecil padanya.
"Lho, kenapa?" Kak Ivan membalas bisikan ku dengan bisikan juga.
"Mau ke toilet, kebelet." Ucapku memberi alasan.
"Kalau cuma kebelet, tinggal ke toilet yang ada di sini aja Dit. Nggak usah balik dulu ke kamar."
Hmmm...
Sepertinya alasanku salah kali ini.
"I-iya kak, aku izin ke toilet dulu." Ucapku akhirnya setelah menjeda cukup lama respon yang akan kuucapkan.
Dengan membungkuk permisi kepada setiap jamaah yang kulewati, akhirnya aku bisa sampai di pelataran masjid ini. Meskipun hanya di basement, tapi udara di sini tidak terasa panas sama sekali. Entah ada AC sebesar apa atau seberapa banyak yang mampu mengusir hawa panas yang biasanya ada di setiap basement.
Aroma khas masakan tercium di Indra penciumanku saat aku mulai mencari sandalku di rak depan masjid ini. Kulihat ada meja panjang yang diatas nya sudah tertata makanan di depan teras masjid ini. Ada rasa takjub yang hadir di hatiku, terniat sekali masjid ini mengadakan sarapan bersama. Kali ini sudah bisa dipastikan, jika aku mengikuti acara sarapan seperti ini, om Hendry pasti akan menyadari bahwa aku ada disini.
Setelah menemukan sandal milikku, segera kulangkahkan kaki menuju lift dan mulai naik menuju kamar kak Ivan. Aku bisa membuat alasan nantinya jika kak Ivan menegurku karena balik ke kamar duluan.
Sampai di depan pintu kamar Kak ivan, aku mematung menyadari bahwa aku tidak memegang kunci.
Bisa-bisa nya aku melupakan hal penting semacam ini.
Kuputuskan untuk kembali turun ke basement dan meminta kunci padanya.
Aku melangkah pelan keluar dari lift, ku lihat halaman masjid sudah dipenuhi orang-orang yang antri mengambil sarapan. Aku masih berdiri diam di depan lift sambil memperhatikan kerumunan disana. Kucoba mencari keberadaan kak Ivan diantara orang-orang tersebut.
Sial!!!
Kak Ivan ternyata sedang berdua dengan om Hendry. Ya, tidak mengherankan memang kalau mereka berdua saling mengenal. Mereka sama-sama dokter, dan jika dilihat-lihat sepertinya mereka pun seumuran. Bisa jadi mereka pun ternyata satu almamater. Apalagi mungkin saja om Hendry tinggal di apartemen ini juga.
Aku mengedarkan pandangan dan menemukan bangku kosong di koridor seberang masjid itu, kuputuskan untuk duduk disana sambil menunggu.
"Adit!" Langkah ku terhenti saat kudengar sebuah panggilan dari arah masjid, aku bahkan belum sampai ke bangku itu, kenapa keberadaan ku justru diketahui terlebih dahulu?!
Aku berpura-pura menoleh dan mencari sumber suara. Kulihat kak Ivan melambaikan tangan ke arahku disana. Dengan berat hati, kulangkahkan kaki ini mendekatinya.
"Dari mana? Toilet bukannya ada disitu ya?!" Kak Ivan bertanya heran sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan arah datang ku tadi.
"Jalan-jalan bentar kak, tadi keliling." Jawabku memberi alasan.
"Adit ya? Sudah sehat?!" Om Hendry yang menyadari keberadaanku pun ikut menyapa.
"Lo kenal?!" Kak ivan bertanya heran padanya.
"Temen Ferdy yang gue ceritain kemaren. Pasien dengan keluhan aneh yang bikin gue sampai minta bantuan Lo buat ikut nanganin." Kak Ivan hanya mengangguk - angguk seakan paham apa yang terjadi.
"Dia sepupu gue." Ucapan kak Ivan kali ini membuatku sedikit kaget.
Sepupu?
Ya, mungkin sebagai bentuk pengalihan agar tidak ada pertanyaan lebih detail nantinya.
"Pagi om, Alhamdulillah Adit udah sehat. Om Hendry apa kabar?" Aku berkata sopan ikut menyapanya.
"Om?!" Kali ini kak Ivan menyela langsung ucapanku dan selanjutnya tawa renyahnya terdengar.
"Aduh.. duh.. gue harusnya nggak ketawa kenceng-kenceng nih. Jadi perih lagi." Kak Ivan masih saja tertawa di sela ucapannya.
"Lo udah tua juga ya, sampai dipanggil om."
"Apaan si, dia ngikutin Ferdy. Jadi manggil gue om." Sedikit kesal om Hendry menanggapinya. Aku masih terdiam berusaha menahan tawa, meski sebenarnya aku tidak ingin ikut tertawa. Tapi sepertinya teori bahwa tertawa itu menular benar adanya. Aku sampai tidak bisa untuk berusaha acuh kali ini.
Selanjutnya kami disibukkan menghabiskan makanan masing-masing. Kak Ivan hanya makan sedikit nasi dan kuah opor saja. Sementara om Hendry, kulihat memakan porsi lengkap nasi lauk dan opor ayam yang sudah disediakan. Dan aku sendiri mengambil sedikit nasi dengan telor dadar dan kutambah sedikit kuah opor untuk membuat menu ku ini sedikit basah.
Beberapa suapan yang berhasil kumakan segera terhenti saat kak Ivan tiba-tiba menutup mulutnya dan berjalan tergesa menuju toilet.
Kenapa?
Apakah seharusnya dia belum diperbolehkan makan yang sedikit berat seperti ini?
Ingin segera aku menyusulnya, tapi om Hendry menahan ku.
"Nggak apa-apa. Kamu lanjutin aja makannya."
"Hmm.. om,, kemaren kak Ivan baru banget operasi usus buntu. Apa seharusnya nggak boleh makan ini?" Aku berusaha menggali informasi darinya yang sesama dokter, pasti om Hendry sangat tahu jawabannya.
"Nggak ada hubungannya ko Dit, makanan ini lumayan lembut untuknya jadi seharusnya tidak ada masalah. Tapi ada santan. Tadi om udah peringatin, tapi katanya mau latihan biar perutnya terbiasa." Jawaban dari om Hendry masih membuatku bingung.
"Maksudnya,,, kak Ivan nggak boleh makan santan?" Aku bertanya memastikan hipotesaku ini.
"Lebih tepatnya nggak bisa. Dari dulu si, lebih ke semacam trauma gitu." Aku mengangguk meskipun belum sepenuhnya mengerti.
Tidak berselang lama kak Ivan kembali dengan wajah basahnya.
"Gimana? Lo oke?" Om Hendry bertanya, cukup mewakili yang ingin ku tanyakan juga.
"Aman. Lo bantu habisin bagian gue hen. Gue kayaknya nggak bisa lagi."
"Siap!" Aku cukup tercengang sekarang, sedekat itu kah persahabatan mereka sampai bisa saling menghabiskan makanan masing-masing. Aku dan Ferdy memang sering satu piring berdua, tapi belum pernah sekalipun baik aku maupun Ferdy meminta untuk menghabiskan makanan sisa yang kami makan sbelumnya.
Kami menghabiskan makanan segera, dan berjalan beriringan menuju lift. Ternyata kamar om Hendry ada di lantai yang sama dengan kak Ivan, bahkan berseberangan. Selain bersahabat mereka pun ternyata bertetangga.
Hmmm,,,
Sungguh fakta menarik yang cukup bisa menggagalkan rencanaku untuk kabur dari ferdy.
semangatt juga kak 💪